Di pinggir jalur Pantura yang ramai oleh truk-truk besar, berdiri sebuah bengkel tua yang dari luar tampak biasa saja. Catnya pudar, bau oli menusuk, dan suara palu terdengar hampir setiap jam. Namun di balik aktivitas kasar itu, tersembunyi rahasia paling gelap yang hanya diketahui oleh beberapa orang termasuk seorang pemuda bernama Mas Febi, yang pernah bekerja di sana selama enam bulan dan hampir menjadi tumbal pesugihan.
Kisahnya bermula ketika ia sedang pulang makan siang dari aktivitas ngojol. Mamangnya datang menawarkan lowongan kerja sebagai mekanik di bengkel truk tempat ia bekerja. Karena gaji ngojol tak menentu dan kebutuhan semakin menekan, Mas Febi menerima tawaran itu dengan niat belajar dan mencari penghasilan tetap. Ia tidak pernah menduga bahwa keputusan sederhana itu akan menyeretnya masuk ke dalam lingkaran pesugihan paling keji yang pernah ia lihat.
Hari pertama kerja berjalan normal. Ia diajari oleh mamangnya dan seorang karyawan senior bernama Rizki. Hari-harinya dipenuhi oli, baut, dan mesin besar yang harus dibongkar. Tak ada kecurigaan apa pun setidaknya selama beberapa minggu pertama. Namun segalanya mulai berubah ketika bos bengkel akhirnya muncul. Orangnya ramah, kelihatannya kaya raya, dan selalu pergi keluar kota. Rumahnya mewah, mobilnya Alphard, namun bengkelnya sendiri tidak terlalu ramai. Ada yang ganjil, namun Mas Febi masih menutup mata.
Hingga suatu hari, ketika lewat di depan ruangan bos, ia mencium aroma dupa yang kuat. Dari lubang kunci, ia melihat bosnya duduk bersila, tangan terangkat seperti sedang bersemedi, dikelilingi sesajen dan dupa yang menyala. Kecurigaan itu semakin menguat ketika Mas Febi mulai melihat sosok hitam bertanduk, bermata merah menyala, berjalan santai di antara truk-truk di siang bolong. Makhluk itu hanya menatapnya sekilas sebelum menghilang ke dalam ruangan bos. Mas Febi menggigil, namun menahan diri untuk tidak panik.
Tragedi pertama terjadi ketika Rizki, rekan kerja terdekatnya, meninggal secara misterius dalam kecelakaan pagi hari. Tubuhnya ditemukan hancur, salah satu kakinya hilang, dan berita itu membuat seluruh karyawan terpukul. Namun Mas Febi lebih terpukul lagi ketika beberapa hari setelah pemakaman, ia melihat sosok Rizki di bengkel. Sosok itu muncul dalam kondisi wajah hancur, satu kaki hilang, dan meminta agar Mas Febi menemukan kakinya yang hilang. Ia juga memperingatkan Mas Febi untuk berhati-hati, seolah mengetahui sesuatu yang tidak bisa dijelaskan manusia.
Penglihatan itu muncul berulang kali sampai akhirnya sosok Rizki berdiri tepat di hadapannya, berbicara dengan suara berat dan menggema. Ketakutan itu membuat Mas Febi ingin berhenti, namun ia tidak punya pilihan. Ia menunggu waktu yang tepat sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih mengerikan terungkap.
Saat sedang mengganti kampas rem sebuah dump truk, Mas Febi menemukan kerangka kaki manusia tersangkut di antara ban ganda bagian belakang. Ia langsung melapor kepada bos. Alih-alih panik, pria itu dengan tenang mengambil tulang tersebut, menyuruh Mas Febi diam, dan meminta agar kejadian itu tidak diceritakan kepada siapa pun. Kecurigaan yang awalnya samar menjadi sangat jelas. Ada sesuatu yang tidak manusiawi terjadi di bengkel itu.
Karena tidak tahan, Mas Febi akhirnya menginterogasi sopir truk tersebut. Dengan wajah pucat dan suara bergetar, sopir mengakui bahwa ia pernah menabrak seseorang dan kabur. Orang itu adalah Rizki. Rasa bersalah membuat sopir ikut Mas Febi ke pemakaman untuk meminta maaf di depan makam Rizki. Namun kejadian itu semakin menguatkan keyakinan Mas Febi bahwa kematian Rizki tidak hanya kecelakaan tapi bagian dari ritual pesugihan yang memerlukan tumbal manusia.
Beberapa hari kemudian, Mamang Mas Febi sendiri meninggal mendadak di rumah. Tak ada gejala sakit keras, tak ada tanda apa pun. Ia hanya duduk, memejamkan mata, dan tidak bangun lagi. Mas Febi hancur, namun lebih hancur lagi ketika melihat sosok hitam bertanduk berdiri di area kuburan saat pemakaman. Sosok itu menatap ke arah liang lahat seolah memastikan “tagihan” telah dibayarkan.
Ketakutan memuncak ketika Mas Febi menyadari bahwa sosok gaib itu mulai mengikutinya hingga ke rumah. Pada suatu pagi, setelah salat Subuh, ia melihat makhluk itu berdiri di depan rumah sambil membawa bayangan tubuh Rizki yang “ditancapkan” ke cakarnya. Makhluk itu kemudian menghilang dan muncul lagi ketika Mas Febi sedang bekerja, menandakan bahwa dirinya adalah target berikutnya.
Dalam keputusasaan, Mas Febi pergi ke Abah Ulung, seorang guru spiritual yang pernah menolongnya sebelumnya. Ia menceritakan semuanya: pesugihan, penampakan, kematian Rizki, dan kematian mamangnya. Abah Ulung langsung mengonfirmasi bahwa bos bengkel itu memang menjalankan pesugihan tingkat tinggi. Bengkelnya hanyalah kedok. Uang gaji karyawan digunakan sebagai media tumbal, dan setiap kematian karyawan membuat pesugihannya semakin “kuat”.
Yang lebih mengejutkan, Mas Febi sendiri sudah ditandai sebagai tumbal berikutnya. Makhluk yang ia lihat adalah penjemput, dan jika Mas Febi menerima gajinya di bulan itu, ikatannya akan resmi. Abah Ulung segera memutuskan ikatan tersebut melalui ritual pembersihan. Mas Febi dimandikan, dibacakan doa, dan diperintahkan untuk keluar dari pekerjaan itu serta menolak seluruh gaji yang belum diterima.
Bersyukur masih hidup, Mas Febi langsung berhenti kerja pada malam itu juga dan kembali menjadi pengojek. Ia tidak mengambil sepeser pun uang gaji semuanya ia tinggalkan demi memutus hubungan dengan pesugihan itu. Seluruh tabungan yang didapat selama bekerja pun ia sedekahkan agar tidak membawa sisa-sisa energi gelap dari bengkel tersebut.
Kini ia hidup sederhana, namun jauh lebih tenang. Meski trauma masih melekat, ia bersyukur telah diselamatkan dari kematian yang sangat dekat. Bengkel itu masih berdiri seperti biasa, karyawannya berganti-ganti, dan bosnya tetap hidup mewah tanpa curiga dari siapa pun. Tapi bagi Mas Febi, tempat itu bukan bengkel melainkan gerbang pesugihan iblis yang memakan nyawa manusia sebagai imbalan kekayaan.
Ia menutup kisahnya dengan pesan sederhana jangan pernah tergiur pekerjaan yang tampak mudah dan bergaji tinggi sebelum mengetahui apa yang ada di baliknya. Kadang, sebuah pekerjaan bukan hanya menghabiskan tenaga dan waktu tapi juga nyawa.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.