Tahun 2008, Mas Nasim sedang nganggur di Cirebon ketika temannya—Jono—menelpon dan menawarkan kerja di Bekasi. Katanya cuma warung nasi goreng, kerja bantu-bantu, lumayan buat isi perut. Mas Nasim ikut berangkat tanpa banyak tanya, karena yang ia butuhkan saat itu sederhana: kerja dulu, urusan lain belakangan. Sesampainya di Bekasi, Mas Nasim baru tahu warung ini bukan…
BAKSO LARIS DI LERENG ARJUNO, TAPI DIBAYAR NYAWA: PENGAKUAN PELAKU PESUGIHAN YANG KATANYA SUDAH MENELAN 30 TUMBAL
Ada jenis kesuksesan yang dari luar terlihat seperti kerja keras yang akhirnya berbuah. Tapi kalau kamu duduk berhadapan dengan Kang Ade, mendengar suaranya yang datar dan matanya yang seperti menyimpan sisa-sisa takut, kamu akan paham: ada rezeki yang datang bukan karena tangan yang rajin, melainkan karena perjanjian yang diam-diam mengikat di tempat paling sunyi. Kang…
VIRAL SEKAMPUNG GERUDUK PELAKU PESUGIHAN MONYET: RITUAL GUNUNG KAWI PAK HAJI JURAGAN BERAS YANG BERUJUNG TERUSIR DARI DESA
Tahun 2012, Bu Dewi baru saja menutup satu bab hidupnya. Ia resign dari perusahaan retail besar di Cirebon karena ingin fokus keluarga. Tak ada pesangon besar, hanya “uang tanda terima kasih” yang ia simpan rapi—dan dari uang itulah ide usaha kecil muncul di meja makan: jualan teh manis kemasan. Pilihannya terdengar sederhana, bahkan terlalu sederhana…
WARUNG GHAIB DI TENGAH SAWAH, JIN QORIN, DAN SANTET “SAMBAR NYAWA”: TEROR YANG MENGIKUTI SOPIR AMBULANS INI SAMPAI RUMAH
Malam selalu punya cara sendiri untuk mengubah jalan raya jadi lorong panjang yang terasa tidak berujung. Dan bagi Mas Syarif, sejak tahun 2011 ketika ia bekerja sebagai sopir ambulans jenazah di sebuah yayasan kemanusiaan di Kota Cirebon, gelap bukan cuma soal minimnya lampu—melainkan soal hal-hal yang kadang ikut menumpang, tanpa izin, tanpa suara. Ia masuk…
PESUGIHAN “KELAS INTERNASIONAL”: PENGAKUAN MANTAN PENGIKUT SEKTE CODEX GIGAS, TEROR DOXING, HINGGA TITIK BALIK MASUK ISLAM
Mas Arka menyebut apa yang ia jalani dulu bukan sekadar “komunitas” atau tongkrongan anak muda yang suka debat agama. Baginya, itu sudah seperti pesugihan—hanya saja bentuknya versi luar negeri, dengan kasta yang berbeda: rapi, mahal, terstruktur, dan terasa punya jaringan yang panjang. Ia masuk bukan karena ingin jadi “pemuja”, melainkan karena tergiur sesuatu yang paling…