Tahun 2011, Mas Tio masih anak muda dari Indramayu yang hidupnya serabutan—kerja apa saja yang penting bisa makan. Suatu hari pamannya yang merantau di Bojonegoro menelepon dan menawarkan pekerjaan di pabrik pengolahan kulit sapi kering, yang di Jawa sering disebut krecek. Mas Tio mengiyakan, tapi ia tak punya ongkos. Pamannya mentransfer uang perjalanan, dan berangkatlah…
ANAK JIN DIADOPSI, JURAGAN AYAM MENDADAK MILIARAN: KISAH BONEKA ARWAH YANG BERUJUNG PETAKA
Mas Sugi bercerita, tahun 2018 ia sempat tinggal di Bali dan dikenal sebagai terapis sekaligus herbalis. Suatu hari ia dihubungi temannya—sebut saja Yanto—yang terdengar panik karena keluarganya jatuh sakit berkepanjangan, sudah bolak-balik medis maupun “orang pintar” tapi tetap buntu. Mas Sugi akhirnya berangkat, menempuh perjalanan panjang, dan diminta tinggal di rumah Yanto karena sudah dianggap…
BERKEDOK HAJI: MUDIK DIKASIH THR RP1,5 JUTA… TERNYATA BUAT JADI TUMBAL PESUGIHAN MONYET
Mas Roni masih mengingat tahun 2011 sebagai titik ketika hidupnya nyaris selesai. Waktu itu ia baru saja kehilangan pekerjaan di pabrik mebel tempatnya bekerja lebih dari setahun. Order sepi, perusahaan mengurangi tenaga kerja, dan ia termasuk yang harus angkat kaki. Pesangon yang ia terima tidak seberapa—cukup untuk bertahan beberapa bulan—lalu habis perlahan tanpa ampun. Tiga…
TAGIHAN 5 KARTU KREDIT, JALAN PINTAS UANG GAIB, DAN “TULANG WANGI”
Mas Edhi mengalami fase paling kalut di tahun 2007, ketika ia bekerja di bidang perhotelan dan merasa gajinya selalu kurang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia ingin membahagiakan istri dan anak, ingin bisa “seperti orang lain” yang kelihatannya lebih leluasa, tapi penghasilan rutinnya tidak pernah benar-benar mengejar. Saat itulah ia mulai tergoda kartu kredit. Awalnya…
UTANG PROYEK RP15 MILIAR “DITAWARI LUNAS” OLEH RATU LAUT KIDUL: MAS AWANG HAMPIR TERTIPU RITUAL AYAM JANTAN
Mas Awang awalnya hanya karyawan biasa di sebuah perusahaan kontraktor dan developer. Ia mulai dari bagian logistik, lalu karena dinilai loyal dan rapi, ia dipercaya naik jadi pengawas lapangan. Hubungannya dengan pimpinan—Pak Bram (samaran)—bukan sekadar atasan-bawahan; Mas Awang sudah dianggap seperti keluarga, bahkan kebutuhan sekolah anak dan urusan rumahnya banyak terbantu dari perusahaan itu. Masalah…
