Bu Imah lahir dari keluarga sederhana, tumbuh dalam hidup yang dari kecil sampai besar rasanya tidak pernah benar-benar lapang. Ia sempat percaya, pernikahan akan jadi pintu bahagia—hidup lebih enak, kebutuhan tercukupi, dan ada sandaran. Tapi yang ia terima justru sebaliknya: penderitaan yang seperti tidak ada habisnya. Suaminya tidak bekerja dan memaksa Bu Imah banting tulang….
“PESUGIHAN NON-TUMBAL”: PENGUSAHA BAKSO & KONTRAKTOR INI DITOLONG IBU RATU KIDUL, UTANGNYA LUNAS TANPA PERJANJIAN
Tahun 2002, Kang Saleh sedang begadang menyelesaikan naskah company profile di rumahnya di Jakarta. Pukul setengah dua malam, saat mata sudah berat dan ruang tamu tinggal remang lampu, ia melihat sekelebat bayangan putih bolak-balik di depan jendela. Ia mengira kucing. Tapi ketika lampu dipadamkan dan pintu ditutup, tiga sosok muncul jelas di belakang pintu: satu…
VIRAL DAN BLAK-BLAKAN: PENGANTIN “TUMBAL” JIN LAUT PUNGGUNGNYA BERSISIK, MATANYA HIJAU
Bu Dian sudah puluhan kali menangani rias pengantin. Ia hafal pola: calon pengantin biasanya deg-degan, tangan dingin, kadang mual, kadang menangis. Tapi kisah tahun 2019 ini berbeda. Bukan sekadar gugup—melainkan seolah ada sesuatu yang hidup di balik kulit sang pengantin, menunggu waktunya menunjukkan wujud. Semua bermula dari telepon seorang teman di Jawa Tengah—sebut saja Neng…
SATU KELUARGA, ENAM NYAWA: MBAK INTAN MEMBONGKAR PESUGIHAN “COBEK AYAM” YANG MENELAN ANAK, JANIN, DAN SUAMI
Mbak Intan baru benar-benar berani bercerita setelah semuanya terasa terlalu pahit untuk dipendam sendirian. Kejadiannya bermula jauh sebelum teror itu menampakkan wajahnya—tahun 2014, saat ia masih 19 tahun dan memutuskan merantau ke Jakarta bersama temannya demi mencari kerja. Ia jadi SPG freelance, pindah-pindah event, hidup pas-pasan tapi setidaknya ada penghasilan untuk bertahan. Dua tahun kemudian,…
TUJUH NYAWA, KERANDA TERBANG, DAN LAMPOR DI PETERNAKAN AYAM: PENGAKUAN TEH UPI YANG MENGGUNCANG SATU DESA
Teh Upi masih ingat betul, tahun 2022 itu seharusnya jadi masa biasa—kuliah, pulang-pergi, lalu sesekali main ke rumah saudara saat ada waktu. Tapi semua berubah ketika ia pulang kuliah menjelang siang dan mendapati ponsel ibunya berdering terus-menerus. Yang menelpon bukan orang jauh: neneknya sendiri, suaranya pecah, menangis, dan menyampaikan kabar yang membuat tubuh Teh Upi…
