Mas Awang awalnya hanya karyawan biasa di sebuah perusahaan kontraktor dan developer. Ia mulai dari bagian logistik, lalu karena dinilai loyal dan rapi, ia dipercaya naik jadi pengawas lapangan. Hubungannya dengan pimpinan—Pak Bram (samaran)—bukan sekadar atasan-bawahan; Mas Awang sudah dianggap seperti keluarga, bahkan kebutuhan sekolah anak dan urusan rumahnya banyak terbantu dari perusahaan itu. Masalah…
Author: malam mencekam
ENAM KALI CARI PESUGIHAN, BARU “BERHASIL” KONTRAK UMUR: LEMARI UANG, TANDUK TIGA, DAN AKHIR YANG MENGHAPUS SEGALANYA
Mbak Nur masih ingat jelas tahun 2018, saat ia tinggal di Jakarta bersama suaminya. Di masa itu, rumahnya sering didatangi seorang teman suaminya—sebut saja Agus—yang datang hampir setiap hari, bukan untuk sekadar main, tapi untuk lari dari masalah yang menumpuk di rumahnya sendiri. Pelan-pelan Agus curhat: hidupnya kelihatan “wah”, tapi di balik itu ada utang…
TIAP MALAM JUMAT KLIWON “HARUS BAYAR JANJI”: KISAH ENOK, SPG OPTIK YANG MENIKAH GAIB DENGAN RAJA MONYET DEMI JALAN PINTAS
Ibu Rohana masih mengingat jelas tahun 2004, saat ia bekerja sebagai sales kacamata keliling kampung. Pekerjaannya berat tapi terukur: target minimal lima kacamata per bulan, dan kalau tidak tembus, gaji pun seret. Rohana termasuk yang konsisten—pelanggannya banyak, cara bicaranya luwes, dan ia sudah dianggap “senior” di kantor. Sampai suatu hari, masuklah karyawan baru yang dipanggil…
“DUIT SAYA UNLIMITED, TAPI TUMBALNYA GAK MAIN-MAIN” PENGAKUAN MAS ARKA SOAL SEKTE BAAL, RITUAL ELIT, DAN BAYARAN YANG MENGHANCURKAN NURANI
Mas Arka datang lagi ke studio dengan masker menutup wajah. Bukan gaya-gayaan—ia bilang ini soal keselamatan, juga soal beban yang sudah lama menggerogoti tidur. Ia mengaku pernah tergabung dalam sebuah organisasi elit yang tidak terdaftar, bergerak lintas negara, dan hidup dari jaringan kuasa yang rapi: uang, pengaruh, serta ketakutan. Awalnya, ia masuk bukan karena ingin…
TAK KERJA TAPI PUNYA PENTHOUSE DAN MINI COOPER: SUSUK KINASIH YANG MENGANTAR TEH CICI KE AKHIR TRAGIS
Teh Upi berangkat ke Jakarta tahun 2024 dengan niat sederhana: merantau, cari kerja, dan menyusun ulang hidup dari nol. Keluarganya menyarankan satu hal agar ia tidak tersesat di ibu kota—tinggal saja sementara di tempat Teh Cici, kerabat yang usianya tak beda jauh sehingga lebih sering dipanggil “teteh” ketimbang “tante”. Dugaan Teh Upi, tempat tinggal itu…
