Tidak ada yang bisa menebak bahwa hidup seorang gadis SMA bernama Mbak Mona akan berubah drastis hanya karena ia merasa tidak punya teman. Tahun 2015, ketika ia baru masuk kelas 1 SMA, hidupnya penuh tekanan sosial. Ia aktif dalam Paskibra dan OSIS, namun justru karena itu ia dijauhi teman sekelas yang menuduhnya bergosip, padahal ia bahkan tidak punya nomor kontak mereka. Di balik kesibukannya sebagai remaja berprestasi, ia menyimpan luka kesepian yang membuatnya rentan menerima ajakan apa pun yang mengarah pada perhatian dan penerimaan.
Ajakan itu datang dari seorang teman lama, Indah sama-sama kesepian, sama-sama merasa ditolak lingkungan. Indah mengatakan bahwa ada “komunitas” yang bisa memberi teman, memberi solusi, bahkan memberi uang jika dibutuhkan. Sebuah tawaran yang terdengar seperti geng pertemanan biasa, tetapi ternyata jauh lebih gelap dari itu.
Suatu sore, mereka berdua naik motor menuju sebuah rumah mewah berwarna putih. Dari luar tidak ada yang mencurigakan. Ruang tamu tampak biasa: ada drum band, gitar, kursi, dan televisi. Namun ketika Mbak Mona memasuki pintu kedua, semua berubah. Ruangan itu gelap, tak ada cahaya, tak ada jendela, hanya enam meja berjajar. Dan di atas lima meja, lima perempuan sedang melakukan hubungan seksual dengan makhluk halus yang wujudnya hanya berupa kain hitam membentuk sosok manusia. Di satu meja lain, seorang lelaki melakukan hal serupa dengan “perempuan” berwujud kain.
Pemandangan itu membuat Mbak Mona membeku. Namun Indah menariknya ke pintu ketiga, tempat pemimpin sekte menunggu. Di ruangan itu, pemimpin hanya tersenyum dan meminta “syarat bergabung”: darah dari ujung telunjuk Mbak Mona. Telunjuknya ditusuk jarum dan darahnya ditampung dalam wadah hitam penuh darah anggota lain. Di dinding, terpampang simbol bintang dan kepala banteng lambang yang bukan b erasal dari agama mana pun.
Mbak Mona ingin keluar. Ia merasa ilfeel, jijik, dan takut. Ia menarik Indah, memaksa pulang. Tetapi meski pergi, dalam hati Mbak Mona tetap tersimpan kebingungan: apa sebenarnya tempat itu? Dan mengapa Indah mengatakan bahwa “apapun yang kamu mau akan dikabulkan”?
Dari situlah awal sebuah pintu gelap terbuka. Mbak Mona tidak kembali ke sekte itu. Ia fokus pada sekolah, menjadi senior terhormat, kuliah dengan prestasi gemilang, bahkan menjadi ketua KPUM. Hidupnya normal, hingga tahun 2024 datang membawa badai yang menghantam seluruh hidupnya.
Ibunya jatuh sakit misterius. Tubuhnya membengkak, kedua kaki tak bisa digerakkan, bicara meracau, dan luka menganga di mata kaki menjadi lubang menghitam. Tidak ada dokter yang mampu menjelaskan. Mbak Mona merawat ibunya sendirian, menarik kursi roda keliling kota tanpa uang, tanpa kendaraan, hanya mengandalkan kasih sayang seorang anak tunggal kepada satu-satunya orang yang ia punya.
Ketika keputusasaan mencapai puncaknya, Mbak Mona bermimpi bertemu seorang pria tampan berjubah putih. Pria itu menawarkan jalan pintas: “Ikut aku, apa pun yang kamu mau akan kuberi. Ibumu akan sembuh.” Mbak Mona, yang sedang hancur secara mental dan fisik, berkata, “Aku hanya ingin ibu sembuh.” Esok paginya, ibunya benar-benar tampak membaik. Dokter mengizinkan pulang. Inilah titik dimana Mbak Mona mulai percaya bahwa ada kekuatan di luar nalar yang menjangkau dirinya.
Kemudian ia mengenal komunitas lain sekte baru yang berbeda dari sekte pertama, jauh lebih halus, lebih lembut, lebih terstruktur. Doa mereka berupa nyanyian, tetapi mengarah pada makhluk, bukan Tuhan. Setiap kali Mbak Mona pulang dari pertemuan komunitas itu, ibunya membaik, berjalan lagi, bicara lagi, bahkan tertawa. Kekuatan penyembuhan itu membuat Mbak Mona ketagihan. Ia tidak peduli apapun, selama ibunya bertahan hidup.
Namun ibunya curiga. Ketika Mbak Mona akhirnya jujur bahwa ia bergabung dalam komunitas tersebut, ibunya menangis dan berkata, “Itu musyrik, Nok. Itu bukan doa Islam.” Tetapi Mbak Mona, yang hanyut dalam harapan semu, tetap melanjutkan pertemuan rahasia setiap Selasa malam Rabu.
Hingga suatu hari ibu Mbak Mona berkata:
“Kalau kamu yakin itu bikin Ibu sembuh total, Ibu izinkan.”
Restu yang diucapkan dalam keputusasaan itu justru menjadi pertanda buruk. Karena hari itu pula kondisi ibunya merosot cepat. Lubang di kaki yang tadinya satu menjadi dua. Tangan terkunci. Mata berkabut. Nafas melemah. Dalam satu malam saja, ibu Mbak Mona berubah dari membaik menjadi tampak seperti orang yang dipanggil “pulang”.
Pada puncaknya, ibunya berkata sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri:
“Nok… Ibu pulang hari Selasa…”
Dan benar. Hari Selasa itu, setelah Mbak Mona kembali dari wawancara kerja dan sempat menyuapi ibunya, tatapan sang ibu menjadi kosong. Bibirnya mulai berbuih. Mbak Mona menurunkan ibunya dari kursi roda ke karpet. Dalam hitungan menit, ibunya meninggal di pangkuan Mbak Mona, hanya beberapa jam setelah meminta air keramat “air cis” dari Masjid Agung.
Tangis Mbak Mona pecah seperti anak kecil kehilangan dunia. Ia memohon agar ibunya bangun, berjanji akan kembali ke jalan Islam, akan salat, akan ngaji, akan puasa tetapi ibunya tidak bangun lagi. Biaya pemakaman pun tidak ada. Saudara membantu ala kadarnya. Dan malam itu, ibunya dikuburkan setelah isya.
Namun teror tidak berhenti di pemakaman. Keesokan harinya, makam ibunya tampak dicakar sesuatu. Seminggu kemudian, makam itu benar-benar hancur total, papan kepala dan kaki terlempar jauh, tanah seperti diaduk oleh kekuatan tak terlihat. Banyak yang bertanya, apa ini perbuatan manusia? Atau balasan dari makhluk yang pernah “memberi kesembuhan palsu”?
Setelah pemakaman, Mbak Mona memutuskan keluar dari komunitas itu. Tetapi keluar dari sekte tidak semudah keluar dari organisasi biasa. Ada gangguan, ada rasa takut, dan ada mimpi-mimpi buruk. Namun ia tetap kuat. Ia memutus semuanya, menikah dengan laki-laki yang selama ibunya sakit selalu setia, dan kini sedang mengandung lima bulan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.