Hidup Pak Rahmat tak pernah mudah. Sejak 2018, ia berkeliling dari desa ke desa menjajakan roti dengan penghasilan pas-pasan. Dalam sehari, uang yang didapat tak pernah cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga. Istrinya membantu dengan berjualan gorengan di rumah, tapi tetap saja utang menumpuk dan dapur sering kali tak berasap.
Setiap pagi, selepas mengantar istrinya ke pasar, Pak Rahmat biasa duduk di teras masjid menenangkan diri. Suatu hari, ia mendengar sekelompok bapak-bapak sedang asyik berbincang soal pesugihan. Rasa ingin tahu mengalahkan akalnya. Ia bergabung dalam percakapan yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Dari perbincangan itu, Pak Rahmat mendengar tentang Gunung Serandil, tempat orang mencari kekayaan lewat jalan gaib. Di sana, katanya, ada tiga cara pesugihan: menggulang-gulang, memelihara tuyul, atau menyembelih kambing. Semua menawarkan hasil cepat, tapi tak pernah ada yang menceritakan harga yang harus dibayar.
Pulang ke rumah, Pak Rahmat menceritakan semuanya pada istrinya. Sang istri menolak keras, mengingatkannya agar tidak bermain-main dengan jalan haram. Tapi Pak Rahmat yang terhimpit kebutuhan justru semakin nekat. Malam itu juga ia berniat mencari biaya untuk ke Gunung Serandil.
Ia meminjam uang ke teman, ke saudara, bahkan sampai berniat menjual perhiasan istrinya. Setelah semua jalan tertutup, ia akhirnya mengambil kalung emas milik istri tanpa izin. Kalung itu dijual, dan hasilnya ia gunakan untuk ongkos perjalanan menuju tempat pesugihan yang didambakan.
Perjalanan menuju Gunung Serandil terasa panjang dan menakutkan. Pak Rahmat menumpang ojek menembus jalan setapak di tengah jurang. Kabut pekat menyelimuti gunung, dan suara binatang malam seperti berbisik-bisik memanggil namanya. Di sanalah ia bertemu dengan sosok Kuncen bernama Pak Supri.
Rumah Pak Kuncen sederhana, berdinding anyaman bambu tanpa listrik. Namun, sorot matanya tajam dan dalam, membuat Pak Rahmat gemetar. Di rumah itu juga hadir seorang perempuan bernama Bu Cici, tamu lain yang konon juga datang mencari kekayaan lewat pesugihan.
Pak Kuncen menjelaskan dua jalan untuk meraih rezeki: jalan halal yang panjang dan penuh ujian, atau jalan haram yang instan tapi berisiko besar. Tanpa berpikir panjang, Pak Rahmat memilih yang kedua. Ia membayar Rp3,5 juta sebagai mahar untuk ritual penyembelihan kambing.
Malam Jumat Kliwon ditetapkan sebagai hari pelaksanaan. Pak Rahmat dan Bu Cici diminta mandi dengan air bunga tujuh rupa sebelum ritual. Keduanya diminta membuang keraguan dan meneguhkan niat, sebab sedikit saja ragu, hasilnya akan berbalik menjadi petaka.
Bu Cici menjadi orang pertama yang menjalani ritual. Saat berada di kamar gelap yang hanya diterangi lilin merah, ia mendengar suara menyeramkan dari dalam bayangan. Suara itu memintanya menyediakan kambing muda. Ia keluar dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetar hebat.
Giliran Pak Rahmat masuk. Begitu membaca mantra, lilin tiba-tiba padam. Dalam gelap, muncul wujud makhluk besar berambut keriting dengan taring panjang. Suaranya menggema di ruangan: “Hai manusia, bukankah kau ingin kaya? Mengapa kau takut?” Pak Rahmat nyaris pingsan, tapi suara itu berlanjut: “Sediakan kambing dewasa, betina.”
Pak Rahmat keluar kamar dengan napas tersengal dan keringat dingin mengucur. Ia menceritakan semuanya pada Pak Kuncen, yang hanya tersenyum. “Tenang, Pak. Itu tanda pesugihan diterima,” katanya. Namun, Pak Rahmat tak merasa tenang sedikit pun. Bayangan makhluk bertaring itu terus menghantui pikirannya.
Malam berikutnya, kambing untuk ritual telah disiapkan. Saat tengah malam tiba, Bu Cici kembali ke tempat penyembelihan di belakang rumah. Namun, tak lama kemudian terdengar jeritan memilukan. Ia berlari masuk, menangis histeris, dan bercerita bahwa kambing yang hendak ia sembelih berubah menjadi anaknya sendiri.
Suara anaknya yang memanggil “Ma, kenapa Mama mau menyembelih aku?” membuat Bu Cici nyaris gila. Ia melempar golok dan kabur dalam ketakutan. Sejak malam itu, ia tak pernah kembali. Pak Rahmat hanya terdiam, tubuhnya lemas, menyadari betapa mengerikannya jalan yang sedang ia tempuh.
Ketika Pak Rahmat bertanya tentang arti perintah “kambing dewasa betina,” Pak Kuncen menjawab tenang, “Itu istrimu, Pak.” Pak Rahmat terkejut hingga berdiri. Darahnya seolah berhenti mengalir. “Kalau begitu saya batalkan!” teriaknya. Ia menolak keras menjadikan istrinya tumbal, lalu memutuskan pulang malam itu juga.
Sepanjang perjalanan, pikirannya berkecamuk. Ia takut dimarahi istri karena menjual kalung, tapi lebih takut lagi membayangkan jika ritual itu diteruskan. Pak Rahmat sadar, jalan yang ia pilih adalah jalan setan. Ia pulang dengan rasa bersalah yang menyesakkan dada.
Sesampainya di rumah, sang istri langsung menanyakan ke mana ia pergi selama seminggu dan mengapa kalungnya dijual. Pak Rahmat akhirnya mengaku semuanya. Istrinya marah, tapi air matanya lebih banyak daripada kata-kata. Ia hanya berkata lirih, “Aku sudah bilang, jangan cari jalan haram.”
Hari-hari setelahnya tak pernah sama. Pak Rahmat merasa hidupnya tak tenang. Dagangannya selalu sepi, uang cepat habis, dan keberuntungan seperti menghindar darinya. Ia percaya semua itu adalah imbas dari niat jahatnya dulu di Gunung Serandil.
Dalam penyesalannya, Pak Rahmat sering berdoa di masjid, memohon ampun atas dosa besar yang nyaris ia lakukan. Ia sadar, keinginan untuk kaya secara instan justru menjerumuskannya pada jurang kehancuran. Kini, ia hanya berharap bisa hidup sederhana tapi tenang bersama keluarganya.
Lewat kisahnya, Pak Rahmat berpesan kepada semua orang: jangan pernah menduakan Tuhan. Tak ada kekayaan yang datang tanpa pengorbanan, dan tak ada pesugihan yang tak menuntut tumbal. Jalan instan selalu berujung petaka, dan hanya tobatlah yang bisa menuntun manusia kembali ke cahaya.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.