Di balik aroma kuah bakso yang gurih dan antrean pembeli yang mengular, tersimpan kisah gelap yang jarang diketahui orang. Kisah ini datang dari seorang pedagang bakso yang hidupnya berubah drastis setelah memilih jalan pesugihan demi kekayaan instan.
Pada awalnya, pria yang kita sebut Kang Adi ini hanyalah penjual bakso keliling biasa. Ia merintis usahanya dari nol, mendorong gerobak dari kampung ke kampung. Penghasilannya cukup untuk makan dan menyekolahkan anak, tetapi jauh dari kata mapan.
Tekanan ekonomi dan tuntutan keluarga membuat Kang Adi merasa hidupnya stagnan. Ia ingin rumah besar, kendaraan bagus, dan status sosial yang lebih tinggi. Keinginan itulah yang perlahan membawanya ke jalur yang salah.
Suatu hari, Kang Adi bertemu seorang pelanggan yang memberinya tawaran “bumbu khusus” agar dagangannya cepat naik. Bukan bumbu dapur, melainkan jalur gaib. Ia diperkenalkan pada praktik penglarisan dan pesugihan yang banyak dilakukan pedagang lain.
Dengan iming-iming kesuksesan instan, Kang Adi akhirnya dibawa ke sebuah daerah terpencil di Sukabumi. Di sana, ia bertemu seorang juru kunci yang menjadi perantara menuju sosok gaib penghuni tempat tersebut.
Juru kunci menjelaskan bahwa pesugihan ini dijalankan melalui perjanjian dengan makhluk berwujud besar, tinggi, dan hitam kehijauan—yang dikenal sebagai Buto Ijo. Sebagai imbalan kekayaan, Kang Adi harus bersedia memberi persembahan.
Ritual dilakukan di bawah pohon asem tua pada malam tertentu. Sesajen disiapkan, mantra dibacakan, dan Kang Adi diminta bertahan sendirian hingga sosok itu datang menemuinya. Ketakutan tak lagi menjadi penghalang, karena ambisi telah menutup nurani.
Pada tengah malam, angin berputar kencang dan hujan turun deras. Dari kegelapan muncullah sosok tinggi besar berbulu dengan aura menekan. Dalam dialog batin, Kang Adi menyampaikan keinginannya: usaha bakso laris dan hidup bergelimang harta.
Buto Ijo menyanggupi permintaan itu dengan satu syarat utama: setiap tahun, tepat di bulan Suro, harus ada tumbal. “Kepala” yang dimaksud adalah nyawa manusia, siapa pun yang dikenal dan disebutkan namanya.
Tanpa ragu, Kang Adi menyetujui perjanjian itu. Sebagai tanda awal, ia diberi uang jutaan rupiah. Sejak hari itu, keajaiban terjadi. Baksonya selalu habis, bahkan uang di laci kas sering berlipat tanpa logika.
Usahanya berkembang pesat. Dari gerobak, ia membuka warung, lalu cabang-cabang baru. Rumah mewah, mobil, dan aset lain mulai ia miliki. Di mata orang, ia adalah pedagang sukses yang patut ditiru.
Namun, kesuksesan itu dibayar mahal. Setiap tumbal dilakukan melalui bakso. Korban akan memakan bakso yang telah dimantrai, lalu mengalami kecelakaan atau kematian tak lama setelahnya. Semua terlihat seperti musibah biasa.
Korban pertama adalah orang sekampung yang pernah merendahkannya. Korban berikutnya adalah teman lama yang dulu sering membully. Setiap nyawa yang melayang membuat kekayaan Kang Adi semakin bertambah.
Puncaknya, Kang Adi menumbalkan adik iparnya sendiri karena konflik keluarga. Kematian itu memicu pertengkaran hebat dengan istrinya. Rahasia pesugihan mulai terbongkar, dan rumah tangga mereka retak.
Ketika Kang Adi berniat menghentikan semua ini, juru kunci memperingatkan: perjanjian tidak bisa diputus begitu saja. Jika dihentikan sepihak, korban terdekatlah yang akan diambil.
Tak lama setelah niat itu muncul, musibah besar datang. Anak bungsu Kang Adi jatuh sakit mendadak dan meninggal dunia. Saat itulah ia sadar, perjanjian ini benar-benar kejam dan tak mengenal belas kasih.
Dilanda rasa bersalah dan ketakutan, Kang Adi mencari jalan keluar. Ia meminta bantuan orang-orang yang paham ilmu agama untuk memutus ikatan gaib tersebut. Proses tobat dan pembersihan pun dijalani dengan penuh penderitaan.
Pesugihan akhirnya terlepas, namun konsekuensinya tetap ada. Kekayaan yang dulu mengalir deras kini menjadi normal. Tidak ada lagi uang gaib, tidak ada lagi keajaiban. Yang tersisa hanyalah penyesalan.
Kang Adi memilih pergi dan memulai hidup baru secara sederhana. Usaha baksonya masih berjalan, tetapi tanpa bantuan makhluk gaib. Ia hidup dalam bayang-bayang dosa masa lalu yang tak akan pernah hilang.
Kisah ini menjadi peringatan keras bahwa kekayaan instan selalu menuntut harga yang tak sebanding. Di balik semangkuk bakso yang laris, bisa jadi ada nyawa yang menjadi tumbal. Jalan hitam mungkin menguntungkan sesaat, tetapi kehancuran adalah akhir yang tak terelakkan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.