Laut selalu menjanjikan penghasilan besar bagi mereka yang berani. Namun bagi Mas Jul, lautan justru menjadi saksi bisu sebuah praktik gelap yang merenggut nyawa manusia. Apa yang awalnya ia kira sebagai pekerjaan biasa, berubah menjadi mimpi buruk yang tak akan pernah ia lupakan.
Mas Jul berangkat ke laut setelah lama menganggur. Tawaran menjadi ABK kapal cumi datang melalui temannya, disertai iming-iming uang kasbon jutaan rupiah. Tanpa banyak pertimbangan, ia menerima ajakan itu demi membantu ekonomi keluarga.
Sesampainya di pelabuhan, Mas Jul menyadari kejanggalan pertama. Dari kasbon yang dijanjikan jutaan rupiah, ia hanya menerima sebagian kecil. Alasannya beragam: potongan makan, mes, dan perlengkapan. Namun ia tak punya pilihan selain tetap berangkat.
Kapal cumi yang ia naiki tergolong besar dan dikenal selalu pulang membawa hasil melimpah. Tekong dan awak lama tampak tenang, seolah sudah terbiasa menghadapi laut lepas. Namun di balik ketenangan itu, tersimpan rahasia yang tak pernah diucapkan.
Sejak hari-hari awal melaut, Mas Jul mulai merasakan hal aneh. Bau dupa dan kemenyan kerap tercium di malam hari, terutama menjelang tengah malam. Beberapa awak lama tampak melakukan ritual kecil tanpa banyak bicara.
Di titik laut tertentu, kapal selalu berhenti lebih lama. Tekong memberi perintah khusus, seolah mengikuti jadwal yang tak tertulis. Mas Jul mendengar percakapan samar antara tekong dan bos kapal tentang “menyalakan” sesuatu sebelum memancing.
Penampakan mulai muncul satu per satu. Sosok makhluk laut bermata tajam, bertaring, dan berambut panjang terlihat mendekati kapal. Sebagian awak menganggapnya biasa, seolah sudah sering melihatnya.
Mas Jul menyaksikan langsung makhluk menyerupai buncul—hantu laut yang dikenal nelayan pesisir—muncul dari air saat ia memancing. Tangannya gemetar, napasnya sesak, namun tekong hanya menyuruhnya diam dan terus bekerja.
Puncak kejadian terjadi pada bulan ketiga pelayaran. Seorang ABK bernama Rizki mendadak bengong, tubuhnya dingin, seolah kehilangan kesadaran. Meski sempat siuman, sorot matanya kosong, seperti bukan dirinya sendiri.
Tak lama berselang, seorang ABK lain tercebur ke laut. Saat semua panik berusaha menolong, Rizki ikut terjun membantu. Namun di saat itulah tragedi terjadi—sebuah sosok menyerupai ratu laut muncul di permukaan air.
Makhluk itu bertubuh perempuan, bermahkota, membawa tombak, dan memiliki aura menekan. Di depan mata semua ABK, sosok tersebut menarik Rizki ke dasar laut. Teriakan, tarikan tali, dan usaha penyelamatan tak mampu melawannya.
Tali penyelamat putus. Rizki lenyap ditelan laut. Suasana kapal berubah kacau. Tak ada yang berani berbicara keras, seolah semua sadar bahwa mereka baru saja menyaksikan sebuah tumbal diambil.
Beberapa jam kemudian, tubuh Rizki muncul mengambang. Namun kondisinya mengenaskan—tubuhnya terpotong rapi, seolah disayat benda tajam. Bukan dimakan binatang laut, melainkan diambil secara tidak wajar.
Mayat Rizki dimasukkan ke dalam plastik dan disimpan di freezer kapal. Perlakuan dingin itu membuat Mas Jul sadar bahwa kematian ini bukan kecelakaan biasa. Ada sesuatu yang ingin ditutupi.
Saat orang tua Rizki datang bersama seorang ustaz, kebenaran perlahan terungkap. Di dalam kapal ditemukan kotak kecil berisi boneka ritual dan perlengkapan sesajen. Ustaz menyatakan kapal tersebut menjalankan pesugihan dengan tumbal manusia.
Menurut ustaz, uang kasbon besar yang diberikan kepada ABK baru adalah bagian dari ritual. Nama-nama tertentu telah “dipilih”, dan Rizki adalah salah satu yang masuk hitungan tumbal laut.
Bos kapal menghilang setelah kejadian itu. Tanpa banyak penjelasan, ia hanya memberi uang ongkos pulang kepada ABK yang tersisa. Kapal dibiarkan kembali melaut, seolah tak ada nyawa yang hilang.
Mas Jul memilih pulang dan tak pernah kembali ke laut. Trauma yang ia alami jauh lebih berat daripada janji penghasilan besar. Ia memilih hidup sederhana membantu orang tua, daripada mempertaruhkan nyawa.
Beberapa bulan setelah kejadian, Mas Jul mendapat kabar bahwa kapal tersebut tenggelam diterjang badai di titik laut yang sama. Banyak yang meyakini, pesugihan itu akhirnya menagih bayaran lebih besar.
Kisah ini menjadi peringatan keras bahwa di balik hasil laut yang melimpah, bisa tersembunyi praktik gelap yang menjadikan manusia sebagai tumbal. Uang besar dan kasbon instan tak pernah gratis—selalu ada nyawa yang harus dibayar di belakangnya.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.