Bu Sekar masih ingat betul tahun 2017, saat ia mengajar di sebuah SMP swasta di Jawa Barat. Hari-hari di sekolah itu awalnya berjalan normal, sampai akhirnya sekolah mengadakan kegiatan camping tiga hari dua malam untuk para siswa. Tujuannya sederhana: melatih kemandirian, mengenalkan alam, dan mempererat kebersamaan. Tidak ada yang menyangka, kegiatan itu justru membuka pintu ke teror yang paling mengerikan dalam hidupnya.
Lokasi camping berada sekitar satu jam dari kota, sebuah bumi perkemahan luas yang dikelilingi hutan dan rumpun bambu besar. Menjelang sore, anak-anak mulai mendirikan tenda dengan riang. Suasana masih ramai dan penuh tawa, sampai tiba-tiba terdengar teriakan dari salah satu kelompok: ada monyet berkeliaran di sekitar tenda.
Awalnya semua menganggap itu hal wajar. Di dekat hutan, monyet memang sering turun. Namun anak-anak panik dan mulai melempari monyet-monyet itu dengan batu. Dalam kekacauan itu, muncul seekor monyet yang jauh lebih besar dari yang lain. Salah satu guru, refleks mengambil ranting dan memukul monyet besar tersebut. Monyet itu mengeluarkan suara keras yang membuat semua anak mundur ketakutan—lalu, beberapa detik kemudian, kawanan monyet itu lenyap begitu saja, seperti menguap ditelan rimbun.
Bu Sekar mengira semuanya selesai. Tapi saat magrib mendekat, keanehan mulai bermunculan. Seorang siswa tiba-tiba bersuara seperti monyet, garuk-garuk kepala, mencari kutu di rambut temannya, lalu meloncat-loncat tanpa sadar. Tidak berhenti di satu anak—satu tenda, lalu tenda lain. Bu Sekar menghitungnya dengan tangan gemetar: sekitar 45 siswa bertingkah seperti monyet, suaranya “uk-uk” bersahut-sahutan, seolah mereka bukan manusia yang sedang kemping, melainkan kawanan yang sedang mengamuk.
Para guru panik dan memanggil orang pintar dari warga sekitar. Orang itu datang setelah magrib, membawa sebotol air dan ranting yang dicelupkan ke dalamnya. Ia berkata tegas bahwa yang datang bukan monyet biasa, melainkan “siluman monyet” penunggu hutan yang tersinggung karena dilempari dan dipukul. Para guru diminta meraupkan air itu ke wajah siswa-siswi yang kerasukan. Perlahan, satu per satu anak terkulai lemas, napasnya turun, dan tingkah monyet itu berhenti.
Namun orang pintar itu memberi peringatan yang membuat suasana makin dingin: mereka harus pulang besok pagi. Tidak boleh menunggu sampai acara selesai. Seolah tempat itu telah “terbuka” dan tidak aman jika mereka bertahan lebih lama.
Rombongan pulang ke sekolah keesokan harinya. Anak-anak kembali ke rumah masing-masing, tetapi Bu Sekar menangkap satu hal janggal: seorang murid yang sangat dekat dengannya, Novi, terlihat melamun sepanjang perjalanan. Novi ini dikenal baik, ramah, cantik, dan sangat humble—padahal ia berasal dari keluarga super kaya. Ia selalu diantar jemput mobil mewah, tas dan sepatunya mahal, tapi sikapnya tidak sombong.
Beberapa hari setelah camping, sekolah berjalan normal. Sampai suatu Jumat, ketika murid-murid pulang lebih cepat. Semua anak sudah berhamburan keluar kelas, tinggal Novi yang masih duduk sendirian. Wajahnya pucat, matanya kosong, dan tubuhnya dingin. Bu Sekar menghampiri, mengira Novi kelelahan.
Tapi Novi tiba-tiba menangis. Bukan tangis biasa—lebih seperti ketakutan yang meledak. Ia mengulang satu kata terus-menerus: takut. Suaranya bergetar, lalu berubah bukan lagi suara Novi. Matanya melotot, tubuhnya tegang, dan ia seperti berusaha menolak sesuatu yang ingin “mengambilnya.”
Para guru memanggil seorang Abah yang biasa membantu orang kesurupan di sekitar sekolah. Saat Abah mencoba berkomunikasi, Novi mendadak berkata ia bukan Novi. Ia menyebut namanya Sinta—kakak Novi yang sudah meninggal. Pengakuan itu membuat Bu Sekar merinding. Di tengah tangisan dan jeritan, “Sinta” menyampaikan hal yang lebih mengerikan: ia meninggal karena ditumbalkan pesugihan orang tuanya. Dan ia tidak mau Novi bernasib sama.
Setelah doa dan air yang dibacakan mantra, Novi akhirnya sadar. Ia bahkan terkejut ketika ditanya tentang Sinta—karena ia memang benar punya kakak bernama Sinta yang meninggal setahun sebelumnya. Novi bercerita, kakaknya mendadak masuk kamar, lalu ditemukan meninggal tanpa tanda-tanda. Kondisinya tragis: tubuhnya hitam-hitam, mata melotot, dan dari hidung serta mulut keluar darah yang gelap.
Sejak kejadian kerasukan itu, Novi tidak masuk sekolah berhari-hari. Bu Sekar yang khawatir akhirnya datang menjenguk ke rumah Novi bersama beberapa teman sekelasnya. Rumah itu mewah, besar, bertingkat, dengan mobil-mobil berjejer di halaman. Namun begitu masuk, Bu Sekar merasakan aura yang membuat bulu kuduknya berdiri—seperti rumah yang dipoles kemewahan, tapi menyimpan sesuatu yang busuk di dalamnya.
Orang tua Novi bersikap sinis dan ketus. Mereka tidak menyambut hangat, bahkan seperti tidak suka guru datang menjenguk. Saat mereka pergi keluar kota, barulah Bu Sekar diizinkan masuk lebih jauh. Di ruang tamu, Bu Sekar melihat foto keluarga besar: Novi, Sinta, dan satu anak laki-laki yang lebih tua. Saat ditanya, Novi mengaku kakak laki-lakinya juga sudah meninggal—dan meninggalnya sama tragisnya dengan Sinta.
Di rumah itu, Bu Sekar izin ke toilet. Dalam lorong menuju toilet, ia mencium bau wewangian aneh: campuran bunga, minyak wangi, dan dupa—bau “mistis” yang tidak biasa ada di rumah orang. Ia melihat sebuah ruangan kecil, pintunya terbuka sedikit. Rasa penasaran mendorongnya melongok—dan apa yang ia lihat membuat jantungnya hampir jatuh.
Di dalam ruangan itu ada meja seperti altar. Di atasnya tergeletak kepala kambing. Dupa masih menyala. Di dinding ada lukisan-lukisan yang menyeramkan. Dan di sebelah altar, sebuah lemari kecil berisi tumpukan uang yang menggunung, bertumpuk-tumpuk seolah tanpa akhir. Bu Sekar menutup pintu pelan, kembali ke ruang tamu dengan tangan dingin.
Tak lama setelah itu, orang tua Novi pulang dan langsung menuju lorong ruangan tadi—seolah mereka sadar ada yang “terbuka” dan harus segera dikunci. Bu Sekar menahan diri, pura-pura tidak tahu apa-apa, lalu segera pamit pulang dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.
Bu Sekar melapor pada Abah. Namun Abah mengaku tidak bisa menolong banyak karena ada perjanjian gaib yang kuat. Ia hanya bisa mendoakan Novi agar tidak menjadi korban berikutnya. Bu Sekar menyuruh Novi rajin salat, berharap ada pertolongan dari langit yang mampu menembus perjanjian gelap itu.
Beberapa malam kemudian, Bu Sekar bermimpi didatangi Novi bersama sosok perempuan pucat—Sinta. Dalam mimpi itu Novi memohon tolong sambil menangis, seolah ia sudah “dijemput.” Bu Sekar terbangun dengan napas tersengal, lalu buru-buru mencoba mendatangi rumah Novi lagi, tetapi tidak ada yang membukakan pintu.
Keesokan harinya, kabar itu datang seperti pisau: Novi meninggal dunia. Bu Sekar terpukul. Ia merasa gagal menyelamatkan murid yang begitu baik dan ceria. Ia mendatangi Abah, dan Abah hanya bisa mengucap innalillahi—mengakui bahwa ia tak sanggup melawan perjanjian pesugihan itu karena nyawanya pun bisa ikut terancam.
Dari cerita Novi, tumbal itu seakan terjadi setiap tahun: kakak laki-lakinya meninggal dulu, lalu Sinta, lalu Novi. Tiga anak, habis dalam tiga tahun. Bu Sekar tidak pernah lagi berani berhubungan dengan keluarga itu. Bahkan untuk takziah pun ia tak sanggup. Trauma menancap terlalu dalam, sampai akhirnya ia memutuskan pindah mengajar.
Rumah makan milik orang tua Novi tetap berjalan, bahkan berkembang di berbagai kota di Jawa Barat. Dari luar, semuanya terlihat seperti kisah sukses: bisnis lancar, uang banyak, hidup mewah. Tapi Bu Sekar tahu, ada altar yang disembunyikan, ada kepala kambing yang jadi saksi, ada uang bertumpuk yang tidak datang dari kerja normal.
Yang paling menakutkan dari kisah ini bukan kesurupan massal 45 siswa yang bertingkah seperti monyet. Yang paling menakutkan adalah kenyataan bahwa ada orang tua yang tega menjadikan anak-anaknya sendiri sebagai pembayaran. Demi kekayaan yang terus mengalir, darah daging dianggap sekadar angka, sekadar syarat, sekadar tumbal.
Dan ketika semuanya sudah habis—ketika tawa anak terakhir padam—yang tersisa hanyalah rumah besar yang tetap berdiri, uang yang tetap berputar, dan sebuah pertanyaan yang selalu mengendap di dada Bu Sekar: kalau tiga anak saja bisa dikorbankan… lalu siapa berikutnya yang akan ditagih oleh perjanjian itu?
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.