Teh Siti tidak pernah menyangka, malam santai di sebuah warung karaoke pinggir sawah bisa menjadi pintu menuju kisah paling gelap yang pernah ia dengar. Saat itu tahun 2015. Ia sedang melepas rindu dengan teman-teman lamanya di Kabupaten Cirebon—tertawa, bernyanyi, memotret—hingga pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok laki-laki lusuh berjalan pelan di pinggir jalan.
Awalnya ia ragu. Tapi semakin sosok itu mendekat, Teh Siti merasa dadanya seperti ditarik. Itu Andi—rekan bisnis lamanya. Dulu Andi dikenal sebagai kontraktor sukses, pengusaha yang cerdas, rapi, dan punya banyak lini usaha. Orang yang mudah membantu, mudah memberi pinjaman modal, dan selalu terlihat “menang” dalam hidup.
Sekarang Andi berdiri di depannya seperti orang lain: pakaian compang-camping, sandal beda warna, tas selempang butut, wajah cekung dan mata seperti habis menangis semalam suntuk. Teh Siti memanggilnya berkali-kali, tapi Andi sempat menoleh lalu buang muka, seolah malu dilihat orang.
Teh Siti akhirnya mengajak Andi ke warung yang lebih sepi. Ia membelikan makanan, memperhatikan cara Andi melahap seperti orang yang lama tak makan layak. Dari situ Teh Siti makin yakin: sesuatu yang besar sudah menghantam hidup Andi sampai runtuh ke titik yang tidak wajar.
Pelan-pelan Andi mulai bercerita. Ia ditipu investor bodong, proyeknya berantakan, aset dijual untuk menutup lubang, rumah dan kendaraan ludes, sampai akhirnya istrinya meninggalkannya. Dalam kondisi seperti itu, Andi mengaku melakukan pesugihan—bukan sekali, bahkan sudah pernah ketipu dukun palsu yang terus meminta uang ritual tanpa hasil apa-apa.
Andi tidak meminta dikasihani. Ia meminta ditolong “dibangkitkan” dengan cara apa pun. Ia ingin kaya lagi secara instan. Teh Siti bingung. Ia tidak punya uang sebesar itu untuk menolong. Tetapi melihat Andi yang dulu pernah membantunya, ia tak tega membiarkan.
Malam itu Teh Siti mengingat seseorang bernama Edi—temannya yang akrab dengan dunia mistik dan biasa mendanai orang-orang yang ingin “ritual”. Teh Siti menghubungi Edi, menceritakan kondisi Andi dari awal sampai akhir. Edi setuju bertemu esok harinya.
Keesokan pagi, Edi datang. Andi memohon, dengan suara gemetar, meminta jalan keluar. Edi hanya memberi satu pertanyaan: “Kamu siap dengan konsekuensinya?” Andi mengangguk tanpa ragu. Ia merasa sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan.
Mereka bertiga kemudian berangkat ke wilayah Indramayu—daerah Pantura, arah Jakarta. Dari jalan raya, mereka masih harus berjalan kaki jauh melewati sawah menuju rumah seorang “Abah” yang disebut-sebut valid dan tidak banyak basa-basi.
Rumah Abah tidak terlihat menyeramkan dari luar. Sederhana, seperti rumah orang tua pada umumnya. Tetapi begitu masuk, Teh Siti merasakan tekanan yang aneh—bukan takut karena gelap, melainkan takut karena sesuatu seperti sedang memperhatikan.
Abah langsung bertanya tanpa pemanasan: “Kamu mau jalur apa?” Andi menjawab ia siap apa saja. Dan di titik itu, Teh Siti merasakan dingin menjalar ke tangan. Abah menyebut pilihan yang membuat telinga rasanya berdengung: “Mau jual anak?”
Andi tidak mundur. Ia bilang siap lahir batin. Abah lalu menggelar kain putih, menyiapkan bunga, dupa, dan menyuruh Andi mengambil anak ayam cemani dari kandang—hitam pekat tanpa corek sedikit pun. Anehnya, Andi tidak bisa menangkap anak ayam itu berjam-jam, seolah ada kekuatan yang menahan. Abah kemudian memerintahkan Andi mengambil induk yang sedang mengeram.
Induk ayam cemani itu disembelih. Darahnya ditampung. Lalu Abah menyayat tangan Andi, mencampur darah manusia dan darah ayam dalam satu wadah. Dengan darah itu, Abah menulis sesuatu di kain putih—seperti kontrak, seperti perjanjian yang ditandatangani bukan dengan tinta, melainkan dengan nyawa.
Ayam yang sudah disembelih dimasukkan ke plastik, kain putih dilipat dan disimpan. Abah memberi pesan: buang sisa ayam ke sungai yang airnya mengalir. Lalu Andi diminta mencari tempat ritual lanjutan. Edi menawarkan rumah kosong miliknya di Cirebon—rumah yang sedang mau dijual, dengan kamar yang bisa ditutup rapat tanpa celah.
Di rumah itu, kamar ritual dipenuhi kain hitam, jendela ditutup rapat, dupa dinyalakan, bunga digelar. Setiap malam jam sebelas, Andi masuk sendiri menjalankan bacaan sampai lewat tengah malam. Teh Siti dan Edi menunggu di depan pintu—menahan kantuk, menahan takut, menahan suara-suara kecil yang terkadang muncul seperti godaan.
Pada malam pertama, Andi keluar pucat. Ia mengaku didatangi tiga sosok: satu mengaku panglima utusan Dewi Lanjar—bertubuh gendut, buncit, kulit hijau, mata merah, bertaring. Yang kedua mengaku bendahara keuangan, berwujud nenek-nenek bernama Mbok Darmi. Yang ketiga disebut Den Ayu Mawar—wujudnya seperti manusia tapi bagian tubuhnya menyerupai ular. Ketiganya memberi perintah: ritual hari kedua harus memotong kambing hitam muda.
Seharian berikutnya, Teh Siti ikut Edi mencari kambing hitam muda umur enam sampai delapan bulan. Sulit, mahal, dan harus benar-benar hitam tanpa warna lain. Mereka juga mencari sesajen lain: mawar merah, mawar putih, kantil, kopi pahit dan manis, teh pahit dan manis, susu, air putih, buah-buahan tertentu—semuanya lengkap seperti “jamuan”.
Malam kedua, kambing disembelih. Darahnya ditampung, kepala disisihkan, sesajen dibawa masuk kamar. Bangkai dan sisa-sisa tertentu dibuang ke sungai mengalir sesuai pesan sebelumnya. Setelah itu, Andi masuk lagi jam sebelas, membaca sampai dini hari, sementara Teh Siti hanya bisa menunggu dengan perasaan yang makin kusut.
Di tengah proses itu, kabar paling mengerikan datang: ibu Andi meninggal. Bukan anak yang diambil, melainkan ibunya. Andi menangis pecah. Namun Abah di Indramayu hanya berkata dingin: “Sudah terjadi. Mau apa?”
Di situlah Teh Siti sadar, di dunia seperti ini, perjanjian bisa “mencari” pengganti. Anak ayam yang tak berhasil ditangkap, induk yang akhirnya disembelih—semuanya seperti simbol yang menukarkan nasib, lalu menagih korban dengan cara yang tidak akan pernah bisa dimengerti manusia biasa.
Meski berduka, Abah justru menyuruh Andi melanjutkan. Katanya, kalau mau uangnya “keluar”, Andi harus menyiapkan tujuh kardus kulkas bekas—jenis pintu dua—sebagai wadah. Teh Siti membayangkan ukurannya saja sudah merinding: kalau kardus kulkas sampai tujuh dan semuanya penuh uang, sebanyak apa yang akan datang?
Ritual diteruskan. Malam berikutnya Andi keluar dengan wajah yang berubah total—dari tangis menjadi senyum yang terlalu cepat. Ia mengatakan uangnya sudah “dohir”, sudah muncul, merah semua, basah, memenuhi tujuh kardus kulkas. Uang itu bisa dipegang. Bisa dihitung. Bisa terasa dingin di tangan.
Namun ada syarat lanjutan: Abah harus datang untuk “mengesahkan” agar uang itu bisa dipakai. Uang juga harus “disebar” terlebih dulu ke perempatan-perempatan tertentu. Aturan terus bertambah, seolah setelah pintu terbuka, ada banyak tangan yang ikut menuntut bagiannya.
Masalahnya, Abah mendadak sakit dan tak bisa datang. Andi diminta tetap ritual tiap malam sambil menunggu. Dalam situasi genting itu, Andi malah pergi dengan alasan ada keperluan. Ia meminta ongkos, berjanji akan kembali sore hari.
Andi tidak pernah kembali.
Nomornya tidak aktif. Nomor Abah pun ikut tidak aktif. Edi marah besar pada Teh Siti, menuduh ia membawa orang yang tidak beres. Yang lebih membuat semua orang ketakutan, tujuh kardus uang itu masih berada di rumah Edi—di kamar ritual yang tak berani dibuka siapa pun.
Tidak ada yang berani masuk. Bukan karena takut uangnya hilang, tapi takut aturan dilanggar dan konsekuensinya menimpa keluarga mereka. Mereka hanya bisa menunggu, sementara rasa penasaran dan ketakutan tumbuh jadi satu.
Akhirnya mereka mendatangi Abah di Indramayu untuk meminta jawaban. Setelah “dicek”, Abah mengaku Andi mencoba ritual sendiri di tempat lain—membuka portal sendiri—karena merasa sudah bisa memanggil gaib tanpa kunci utama. Dan sejak itu, segalanya menjadi rumit: uang yang sudah muncul belum jelas statusnya, kamar ritual tak berani disentuh, dan Andi hilang seperti ditelan bumi.
Teh Siti pulang dengan perasaan yang tidak pernah benar-benar pulih. Ia hanya “mengantar”, tapi ikut merasakan bagaimana jalan pintas bisa membuat manusia kehilangan segalanya—bukan cuma harta, melainkan keluarga, kewarasan, bahkan jejak dirinya sendiri.
Di atas kertas, pesugihan itu terdengar seperti kisah sukses: uang miliaran, tujuh kardus kulkas penuh. Tapi di baliknya, ada ibu yang mati mendadak, ada teman yang menghilang, ada rumah yang menjadi penjara bagi uang yang tak berani disentuh, dan ada satu pelajaran pahit yang tertinggal: ketika manusia meminta kaya lewat pintu yang salah, kadang yang keluar bukan rezeki—melainkan kutukan yang panjang dan tak selesai-selesai.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.