Teh Tata pernah berada di puncak hidupnya. Tahun 2017, namanya dikenal di beberapa job MC off air, wedding, sekaligus siaran di radio yang cukup besar di Bandung. Hari-harinya padat, uang mengalir, dan orang-orang memandangnya sebagai sosok yang sedang “naik”. Sampai satu peristiwa kecil mengubah semuanya: ia jatuh cinta pada laki-laki yang ternyata sudah beristri.
Awalnya hubungan itu terasa seperti masa paling manis. Teh Tata percaya penuh, karena laki-laki itu mengaku bujangan. Tapi suatu hari, seorang teman memperingatkan: pria itu sudah punya istri. Teh Tata menepis, menganggap itu sekadar omongan. Sampai akhirnya kebenaran datang sendiri—istri sah pria itu mendatangi kontrakannya, marah, menghina, dan menuduh Teh Tata sebagai perusak rumah tangga.
Pertengkaran pecah. Teh Tata menahan diri agar tak terjadi kekerasan, memilih jalan “beresin baik-baik” meski hatinya hancur. Pada akhirnya, si pria pulang pada istrinya, hubungan mereka putus, dan Teh Tata mencoba melanjutkan hidup seolah semuanya bisa selesai begitu saja.
Masalahnya, luka itu tidak berhenti di situ. Teh Tata menyadari ia telat haid. Tes kehamilan menunjukkan hasil positif. Dalam kondisi mental yang sudah goyah karena drama dan tekanan kerja, kabar itu seperti palu. Ia hamil, sendirian, dan takut. Ia belum sempat menata langkah, ketika satu demi satu pintu rezekinya ditutup.
Di radio, rumor menyebar—bukan rumor biasa, tapi semacam “pembunuhan karakter”. Si pria menjelek-jelekkan Teh Tata, menuduhnya perempuan tidak benar, membuat nama Teh Tata seolah jadi ancaman bagi citra tempat ia bekerja. Job off air mulai hilang pelan-pelan, lalu ia diberhentikan. Dalam waktu singkat, Teh Tata kehilangan penghasilan, kehilangan nama baik, dan kehilangan pegangan.
Stresnya bertambah karena ia merasa menjadi tulang punggung keluarga. Ia memikirkan ibunya, adik-adiknya, dan keadaan rumah. Teh Tata akhirnya menghubungi saudara di Tulungagung—Mas Gilang—dan memutuskan pulang untuk menenangkan diri sekaligus mencari jalan keluar.
Di Tulungagung, Teh Tata menumpahkan semuanya. Mas Gilang mendengar sampai tuntas, lalu bertanya satu hal yang terdengar seperti kunci sekaligus pintu neraka: Teh Tata mau bagaimana? Dalam kondisi terpojok, Teh Tata menjawab jujur—ia ingin kaya lagi. Ia ingin punya uang. Ia ingin semuanya stabil kembali, secepat mungkin.
Mas Gilang menawarkan “jalan” yang tidak biasa: pesugihan. Namanya Pesugihan Nyai Roro Kembang Sore, dilakukan di sekitar Gunung Bolo. Teh Tata tidak banyak berpikir. Dalam kepalanya hanya satu: kalau dampaknya hanya ke dirinya, ia siap. Asal keluarganya aman.
Mereka sowan dulu ke kuncen Gunung Bolo. Setelah waktu dan hari ditentukan—Kamis malam Jumat—Teh Tata diarahkan menemui orang pintar yang akan memandu ritual, seorang sesepuh yang dalam cerita ini kita sebut Mbah Bejo. Sejak awal, Mbah Bejo menegaskan: ritual ini ada risikonya, dan risikonya bukan main-main.
Syaratnya terdengar seperti syarat ritual pada umumnya: sesajen, kembang, wewangian, serta sekol wangi dan sekolanget. Nilainya pun tidak besar—ratusan ribu. Tapi inti sesungguhnya bukan pada sesajen. Intinya ada pada tindakan yang harus dilakukan Teh Tata: berhubungan badan dengan laki-laki yang tidak ia kenal sama sekali—tanpa nama, tanpa riwayat, bahkan tanpa wajah yang benar-benar ingin ia ingat.
Ritual itu dilakukan di hadapan Mbah Bejo, dan bukan hanya Mbah Bejo yang “menyaksikan”. Ada sosok lain yang juga hadir sebagai “pemilik perjanjian”. Ketika mantra dibacakan, Teh Tata mendengar suara gamelan Jawa mengalun begitu jelas, seperti datang dari ruang yang berbeda. Pada momen itu, ia melihat siluet ular besar di jendela, lalu kabut menyeruak masuk seperti asap pembakaran.
Kabut itu berubah menjadi sosok perempuan yang nyaris mustahil dijelaskan dengan kata-kata. Wujudnya cantik, memakai kemben, berhiaskan aksen emas, selendang berkilau, gelang, dan mahkota seperti tokoh kolosal. Di dahinya ada permata merah. Di sekitarnya, seperti ada dayang-dayang yang berdiri patuh. Sosok itulah yang disebut Nyai Roro Kembang Sore.
Teh Tata dipaksa menelan malu dan takut, menjalankan ritual yang paling vulgar dalam hidupnya—dan semuanya harus sampai puncak, seolah itu “tanda sah” di mata yang tak kasat. Teh Tata merasa dirinya bukan manusia yang sedang memilih, melainkan barang yang sedang ditukar.
Setelah selesai, Nyai itu menyatakan ritual berhasil. Hadiahnya diberikan langsung: satu kantong koin emas kuno, keping-kepingan dengan serutan khas, jumlahnya segenggam besar—puluhan keping. Koin itu terasa dingin di tangan, tetapi kebahagiaan Teh Tata saat itu tidak pernah utuh. Ada perasaan aneh, seperti kehilangan sesuatu bahkan sebelum benar-benar kehilangan.
Mbah Bejo lalu memberi pantangan keras: Teh Tata harus pulang langsung ke tujuan, tidak boleh mampir, tidak boleh turun saat transit, tidak boleh menjejak tempat lain sebelum sampai. Teh Tata memilih pulang ke Cirebon, ke rumah ibunya, karena ia tidak punya tempat di Bandung. Koin emas disimpan di lemari. Ia mandi “bebersih” memakai air yang diberikan Mbah Bejo, seperti menutup ritual dan menghapus jejak kotor yang menempel.
Di rumah itu, harga pesugihan mulai ditagih. Teh Tata mengalami keguguran. Tanpa rasa sakit yang dramatis, janin itu keluar begitu saja saat ia mandi—darah banyak, tubuh lemas, dan ia baru sadar perjanjian itu memang menukar sesuatu yang hidup. Janin yang sudah memasuki usia tiga bulan—yang menurutnya sudah bernyawa—lenyap sebagai pembayaran.
Teh Tata membungkus janin itu dalam kain, memasukkannya ke plastik hitam, dan menyimpannya. Di saat yang sama, ia membuka lemari untuk mengambil baju—dan mendapati sesuatu yang membuat pikirannya berhenti: koin emas itu tidak ada. Yang ada justru uang kertas berantakan, jatuh-jatuhan dari lemari, campuran pecahan lima puluh dan seratus ribu.
Teh Tata menghitung dengan tangan gemetar. Totalnya sekitar satu setengah miliar rupiah. Uang itu seperti muncul begitu saja, tanpa transfer, tanpa catatan, tanpa jejak. Ia berdiri di antara dua perasaan yang bertabrakan: lega karena ekonomi tiba-tiba stabil, dan hancur karena kehilangan yang tidak bisa diganti dengan angka berapa pun.
Dengan uang itu, Teh Tata mencoba membangun hidup baru di Bandung. Ia membeli rumah cash, membeli mobil, belanja perabotan tanpa banyak pikir, seperti orang yang baru dilepas dari rasa takut—lalu menebusnya dengan foya-foya. Ia juga kembali ke radio untuk klarifikasi, dan anehnya, pintu yang dulu tertutup perlahan terbuka lagi. Job kembali datang, namanya pulih, hidupnya seolah normal.
Namun pesugihan tidak berhenti pada satu malam. Mas Gilang mengingatkan: ada ritual lanjutan yang wajib dilakukan. Setiap Jumat Pon, Teh Tata harus kembali ke Tulungagung, membawa sesajen seperti awal, lalu menjalani ritual di makam Nyai—dengan laku yang jauh lebih menjijikkan: makan kambing mentah yang disiapkan khusus sebagai “jamuan” perjanjian.
Teh Tata mulai sadar, ini bukan “hadiah”, tapi sistem yang mengikat. Dan ikatan itu bukan hanya pada tubuh, melainkan pada ibadah dan hati. Setiap kali Teh Tata berniat salat malam, tiba-tiba badan demam, tenggorokan radang, atau muncul gangguan yang membuatnya batal. Bahkan ketika ia berniat sedekah memakai uang hasil pesugihan, tubuhnya bereaksi—seperti ada yang melarang uang itu keluar untuk kebaikan.
Seiring waktu, Teh Tata hidup dalam dua dunia: dunia yang terlihat—rumah, mobil, pekerjaan, uang; dan dunia yang tersembunyi—pantangan, ritual, penagihan, serta rasa bersalah yang tak pernah benar-benar hilang. Ia pernah berbisik pada plastik hitam yang ia simpan: meminta maaf pada janin yang tak sempat ia lahirkan, karena ia memilih jalan pintas demi menyelamatkan hidup dan keluarganya.
Kisah Teh Tata menjadi pengingat bahwa “duit unlimited” selalu punya sisi lain yang tidak ditampilkan. Ada harga yang tidak ditulis di awal, ada pembayaran yang tidak bisa ditawar, dan ada kehilangan yang membuat seseorang kaya di luar—namun runtuh di dalam. Karena ketika rezeki dipaksa datang dari pintu yang salah, yang pertama kali hilang biasanya bukan uang… melainkan bagian paling manusiawi dari diri kita sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.