Pak Agun tidak pernah merasa dirinya orang jahat. Ia hanya merasa hidupnya selalu berada di posisi paling rendah—bukan karena tak mau berusaha, melainkan karena apa pun yang ia lakukan, selalu ada yang menganggapnya tak layak dihargai. Tahun 2008 menjadi titik ketika semuanya pecah. Bukan soal utang, bukan pula soal kelaparan. Ini soal gengsi yang diinjak-injak, harga diri yang digilas di depan keluarga sendiri.
Sejak menikah, Pak Agun hidup di antara dua dunia: rumah tangganya dan keluarga besar sang istri. Di sana, ia bukan menantu yang dipeluk, melainkan bahan olok-olok. Kakak-kakak iparnya sebagian PNS, hidupnya dianggap mapan. Sementara Pak Agun kerja serabutan—kadang ada, kadang tidak. Dalam ukuran mereka, itu cukup untuk melabeli seseorang “tidak berguna”.
Kalimat-kalimat hinaan menumpuk seperti paku kecil yang ditancapkan pelan-pelan. Diucapkan di depan wajah, dibicarakan di belakang, ditertawakan di tongkrongan keluarga. Dan Pak Agun menelan semuanya, sampai suatu hari ia memilih pergi. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa berubah—bisa kaya, bisa punya mobil, bisa punya rumah besar—bukan untuk pamer, tapi supaya mulut-mulut itu berhenti.
Di tengah kegelisahan, datang tawaran kerja ke Palembang dari seorang tetangga. Katanya ada kerja borongan di perkebunan, upahnya besar. Pak Agun dijanjikan uang titipan untuk keluarga sebelum berangkat. Ia menerima, karena pikirnya ini kesempatan untuk bangkit. Ia berangkat bersama rombongan puluhan orang, menempuh perjalanan panjang, sampai akhirnya bekerja membuka lahan—tebas-tebas semak, bikin jalur, hidup di tenda, makan seadanya.
Di sana ia baru sadar semuanya tidak seperti yang dijanjikan. Upah yang disebut per meter ternyata per hektar. Hitungan akhirnya membuat Pak Agun terpukul: bekerja berbulan-bulan, pulangnya nyaris tak membawa apa-apa. Ia merasa dipermainkan. Tapi ia sudah terlanjur jauh. Ia bertahan sampai kontrak selesai dan pulang dengan sisa uang yang lebih mirip ongkos kembali, bukan hasil jerih payah.
Saat sampai Jawa dan mencoba menghubungi rumah, yang menjawab adalah istrinya—dengan nada yang membuat dada Pak Agun runtuh. Ia disuruh tidak pulang ke Majalengka. “Percuma,” kurang lebih begitu. Pak Agun menuruti, pulang ke Cirebon dulu. Namun setelah beberapa hari, ia tetap nekat ke rumah istri, ingin memastikan semuanya baik-baik saja.
Yang ia temukan justru luka yang lebih tajam dari semua hinaan keluarga. Istrinya pulang dibonceng lelaki lain. Istrinya menolak dipeluk, menolak diajak bicara, bahkan menampakkan tanda-tanda perselingkuhan yang jelas di tubuhnya. Di saat Pak Agun mencoba bertahan, kakak iparnya datang, ikut menyulut api: menertawakan, menyepelekan, dan mengulang kalimat yang selama ini menghancurkannya—bahwa punya suami seperti dia tidak ada untungnya.
Malam itu Pak Agun meledak. Emosi membuatnya gelap. Ia menampar istrinya, lalu kabur, meninggalkan anak-anak yang melihat semuanya. Setelah itu ia seperti manusia tanpa rumah. Ia kembali ke Cirebon dalam kondisi mental runtuh—melamun, tidak tidur, dan merasa hidupnya sudah tidak punya jalan pulang.
Di titik terendah itulah Abah Sangari—nama samaran seorang tokoh yang dikenal “paham jalan lain”—mengajak Pak Agun ngobrol. Abah Sangari mengaku tahu Pak Agun sedang punya masalah besar. Lalu ia menawarkan sesuatu yang terdengar seperti harapan terakhir: mengubah nasib dengan cara cepat, tapi harus dirahasiakan. Empat mata. Tidak boleh ada yang tahu, apalagi tetangga.
Pak Agun yang sudah dipenuhi dendam dan luka harga diri, langsung menyambar tawaran itu. Ia bahkan melontarkan kalimat yang mengerikan: ia siap menumbalkan anak-anaknya kalau perlu. Bukan karena tidak sayang, tapi karena pikirannya sudah tertutup amarah—ia ingin membuktikan kepada keluarga istrinya bahwa ia bisa “sugih”, bisa kaya, bisa berdiri di atas mereka.
Mereka dibawa ke Majalengka, bertemu seorang kuncen. Ritual pertama dimulai di area makam. Pak Agun ditinggalkan sendirian malam-malam, dengan perlengkapan sederhana dan arahan untuk menjalani laku. Di tengah angin yang menggila, ia melihat pertanda-pertanda ganjil: suara cecak yang makin keras, lalu sosok kucing yang membesar… berubah menjadi macan hitam besar yang menatapnya.
Ritual berlanjut malam berikutnya. Kali ini penampakan lebih dekat, lebih jelas: pocong berputar-putar mengitari, lalu menghilang digantikan suara yang menghantam dari sisi lain. Sesuatu menerobos tembok seperti bayangan yang menabrak kenyataan—seekor babi besar muncul, di punggungnya ada kain merah. Babi itu berputar, mendekat, lalu buang kotoran tepat di hadapan Pak Agun sebelum lenyap lagi menembus dinding.
Ketika Pak Agun menceritakan itu, sang kuncen malah tampak seperti sudah menunggu. Ia berkata datar: itu tandanya jalan “ngepet” terbuka. Pak Agun ditanya: mau atau tidak jadi babi ngepet? Dan di situlah nurani Pak Agun tersisa sedikit. Ia ingin uang, tapi ia tidak sanggup membayangkan dirinya berubah jadi babi dan menjalani hidup sebagai pencuri di malam hari. Ia menolak. Ritual pertama dinyatakan gagal. Pak Agun pulang membawa kekecewaan dan sisa uang seadanya.
Namun Abah Sangari tidak berhenti. Ia mengantar Pak Agun ke kuncen lain, tempat lain, laku lain. Kali ini lokasinya lebih menyeramkan: pegunungan Cikalahang, jalur menuju tempat ritual dipenuhi jurang. Pak Agun diingatkan keras: jangan panik, jangan lari, karena satu langkah salah bisa langsung jatuh dan tamat.
Di sana, ritual dilakukan lagi. Angin datang seperti puting beliung. Suara burung hantu dan gagak bersahutan. Lalu bau wangi muncul mendadak, disusul penampakan perempuan yang bergerak tanpa kepala, berputar-putar mengitari Pak Agun seperti sedang “mengukur” nyalinya. Setelah itu muncul suara kereta kencana—gemerincing, roda, denting—tapi tanpa kusir.
Yang membuat Pak Agun nyaris hilang akal, di atas kereta itu ia melihat anak perempuannya. Anak itu menatap tanpa ekspresi, seperti tidak mengenal ayahnya sendiri. Pak Agun merasa itu tanda tumbal sudah diambil. Dan setelah kereta lewat, datanglah “hadiah”: uang berhamburan, menumpuk, terasa banyak, membuat Pak Agun refleks bersyukur—ia menyebut “Alhamdulillah” berkali-kali sambil membayangkan hinaan keluarga akan dibungkam.
Detik berikutnya, semuanya runtuh. Uang itu berubah jadi kelaras—daun pisang kering. Yang barusan tampak sebagai kekayaan, mendadak jadi sampah. Pak Agun lemas, seperti dijatuhkan dari langit ke tanah berlumpur. Ia pulang dengan tangan gemetar, membawa daun-daun kering itu sebagai bukti bahwa ia baru saja dipermainkan oleh sesuatu yang tak terlihat.
Gangguan tidak berhenti setelah ia pulang. Tubuh Pak Agun mendadak kaku. Ia lumpuh total selama berbulan-bulan. Malam hari lidahnya sering tergigit sendiri sampai harus dibuka paksa. Keluarga membawanya ke dokter—tidak ada penyakit. Mencoba pengobatan doa—tak ada perubahan. Keputusasaan makin tebal, sampai akhirnya mereka memanggil Abah Sangari.
Abah Sangari datang seperti tidak tahu apa-apa, lalu memberi air yang dibacakan, mengusap kaki Pak Agun, dan perlahan tubuh Pak Agun membaik. Setelah beberapa kali terapi, ia pulih. Barulah Abah Sangari mengaku bahwa Pak Agun bukan terkena batu biasa, melainkan “batu gaib” yang dilempar setelah ritual, seolah ada pihak yang menagih atau menghukum.
Pak Agun selamat—anak-anaknya pun selamat. Namun harga yang dibayar bukan kecil. Rasa bersalah menempel, trauma tertinggal, dan hidupnya seperti terkena imbas panjang: kerja terasa lebih seret, langkah terasa lebih berat, dan kepercayaan dirinya retak permanen. Yang lebih menyakitkan, keluarga besar yang dulu menghina… tetap menghina. Seolah semua luka itu tidak pernah dianggap.
Di ujung kisahnya, Pak Agun mengaku sadar. Ia tidak mau mengulang. Ia paham, jalan gelap tidak pernah benar-benar memberi solusi—yang ia berikan hanya ilusi, lalu hukuman. Pak Agun hanya ingin dihargai, tapi saat ia mengejar harga diri lewat pesugihan, yang ia temukan justru kehancuran yang nyaris menyeret anak-anaknya sendiri.
Dan dari semua hal yang ia lihat—macan hitam, pocong, babi berkain merah, kereta kencana, uang yang berubah jadi kelaras—satu pelajaran paling pahit tetap sama: kekayaan yang datang dari pintu kegelapan tidak pernah benar-benar menjadi milik manusia. Ia hanya dipamerkan sebentar, lalu ditarik lagi… meninggalkan penyesalan yang panjang dan rasa malu yang lebih dalam dari kemiskinan itu sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.