Bu Yanti menyimpan kisah yang jarang ia buka, bahkan kepada orang terdekat. Kisah yang dimulai dari cinta yang tampak rapi di permukaan, tapi ternyata cuma pintu masuk menuju hidup yang penuh pukulan, pelarian, dan keputusan-keputusan nekat yang diambil demi satu alasan: tiga anaknya harus tetap makan.
Semua bermula setelah ia lulus SMA pada 1994. Di rumahnya, keluarga sedang mengurus urusan ahli waris, lalu muncul seorang pria bernama Pak Lili—orang kejaksaan yang membantu pengurusan surat-surat tanpa meminta imbalan. Awalnya keluarga merasa berutang budi. Pria itu juga sering datang, membawa perhatian, membawa sikap manis, dan akhirnya melamar Bu Yanti dengan status “duda”.
Bu Yanti yang masih muda menerima lamaran itu. Ia berpikir, mungkin inilah jalannya membangun rumah tangga yang lebih baik dari kerumitan keluarganya sendiri. Namun setelah menikah, kenyataan datang seperti tamparan: Pak Lili ternyata sudah punya tiga istri. Bu Yanti bukan pasangan pertama—ia istri keempat. Lebih menyakitkan lagi, istri-istri lain itu diperlakukan layaknya barang yang bisa “diantar-jemput”.
Sejak itulah hidup Bu Yanti berubah jadi rangkaian ketakutan. Ia dipukul untuk kesalahan kecil, dimaki untuk hal sepele, dan diperlakukan seperti pembantu. Saat hamil, ia memang tak lagi “dipaksa” seperti tiga istri lain, tapi kekerasan rumah tangga justru makin menjadi. Ia bertahan—bukan karena kuat, melainkan karena ia tak ingin orang tuanya kepikiran dan karena ia berharap suaminya berubah.
Harapan itu tidak pernah datang. Hingga suatu malam, pertengkaran meledak di depan orang lain, dan Bu Yanti akhirnya kabur ke rumah orang tuanya. Namun bahkan di sana ia tak aman. Suaminya datang membawa ancaman, membuat Bu Yanti terpaksa pulang kembali—bukan sebagai istri, tapi sebagai sandera.
Ia kabur lagi, kali ini lebih jauh, sampai ke sebuah pesantren. Ia mencoba bertahan, mengajar, menenangkan diri. Tapi suaminya kembali muncul dalam keadaan mabuk, membuat tempat itu pun jadi tidak aman. Bu Yanti memilih pulang ke Cirebon, menyewa kontrakan sederhana, dan berusaha memulai hidup dari nol.
Ia mencoba jualan batagor, tapi sepi. Hari-hari berjalan dengan cemas, sampai ada kerabat menawarkan “petunjuk”: kalau Bu Yanti mau, ia akan diantar ke Luwung untuk iktikaf di pemakaman—bukan ritual yang aneh-aneh, hanya tirakat, meminta jalan rezeki dan keselamatan.
Malam itu Bu Yanti benar-benar tidur di area pemakaman. Saat lampu mati, ketakutan mulai merambat. Ia mendengar tawa perempuan dari arah beringin besar, melihat sosok putih seperti pocong, lalu wujud itu berubah menjadi makhluk tinggi besar berbulu tebal. Bu Yanti berusaha tetap wirid, memegang tasbih erat-erat, menahan diri agar tidak lari.
Di tengah ketakutan itu, ia melihat sesuatu yang lebih mengusik: pintu besi kuning mengkilat seolah terbuka sendiri. Di baliknya seperti ada “kamar” penuh uang dan perhiasan berceceran. Sosok besar itu menawarkan, menyuruhnya mengambil. Tapi Bu Yanti menolak—bukan karena ia tak butuh uang, melainkan karena ia takut ada harga yang harus dibayar, dan ia langsung teringat anak-anaknya.
Pagi harinya, kuncen malah menyebut Bu Yanti “bodoh” karena menolak harta itu. Namun Bu Yanti tetap pulang. Ia belum paham, penolakannya malam itu justru menjadi satu-satunya keputusan paling waras di tengah keterpurukan yang membuat pikirannya hampir tumbang.
Di Cirebon, ia kembali mencari cara. Ia sempat tertipu oleh keluarga sendiri—modal usaha diberikan, tapi berkali-kali alasan dibuat agar uangnya tak kembali. Saat ia hampir benar-benar jatuh, datang tawaran lain: diajak ke Semarang untuk “dijodohkan” dengan bangsa jin—katanya jin muslim, dan katanya “tanpa tumbal anak”.
Bu Yanti ragu. Tapi hidupnya sudah terlanjur babak belur. Ia menjual barang seadanya untuk ongkos, menyisakan uang kecil, dan berangkat ke Semarang. Yang ia temui bukan makam seperti Luwung, melainkan kuil tua yang dipenuhi patung-patung besar. Kuncen meminta uang untuk membeli perlengkapan—hio, bunga setaman, buah-buahan, jajanan manis, sampai tumpeng kecil dengan telur kampung.
Malam ritual tiba. Kuncen memegang tangan Bu Yanti, memintanya menutup mata, lalu membaca mantra. Saat diminta membuka mata, Bu Yanti merasa berada di tempat asing: suasananya mendung pekat, tidak terang dan tidak gelap. Ia melihat banyak sosok yang membuatnya ingin mundur—ada nenek bermata menyala, ada wujud berkepala kuda, ada yang tubuhnya seperti harimau. Ia terus berjalan sampai akhirnya bertemu sosok laki-laki berjubah putih, tinggi, tampak “rapi” dan tidak menyeramkan.
Sosok itu memperkenalkan diri sebagai Jalal, mengaku muslim, lalu mengajak Bu Yanti berkenalan. Sesuai arahan kuncen, Bu Yanti menyambutnya. Detik berikutnya ia tersadar—ia kembali duduk di hadapan kuncen, tangan masih dipegang. Kuncen mengatakan, itulah jodohnya.
Ritual dilanjutkan ke tahap “pembuktian”. Bu Yanti meminta bukti sederhana: ia menuang air ke gelas—gelas itu bergerak sendiri, miring tanpa menumpahkan air. Bunga setaman pun seperti terangkat dan “mengarah” kepadanya, membuatnya makin yakin bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar sugesti.
Bu Yanti kemudian “dinikahkan” secara gaib. Kuncen berpesan, sepulangnya ia harus menyiapkan kamar bersih, wangi, dan pada malam tertentu anak-anak tidak boleh masuk kamar itu. Bu Yanti pulang dengan kepala penuh kebingungan, campur takut, campur berharap.
Yang terjadi setelah itu semakin aneh. Di rumah, barang-barang suka hilang lalu kembali ketika Bu Yanti “berbicara” seolah ada seseorang di dekatnya. Kadang terdengar bunyi piring-sendok beradu sendiri saat ia mengaji. Tetangga mengira Bu Yanti stres dan sering bicara sendiri, padahal ia merasa sedang berusaha “berkomunikasi” dengan sesuatu yang tak terlihat.
Lalu, bagian yang membuat orang ternganga: usaha Bu Yanti mendadak melesat. Ia membuka mie ayam, bakso, lalu pelanggan datang seperti banjir—bahkan sebelum sebulan, ia kewalahan. Ia merekrut karyawan, membuka cabang sampai empat titik (Kuningan, Sumber, Kasepuhan, Indramayu). Dalam hitungan cepat, ia merasakan hidup yang sebelumnya gelap mendadak terang—seolah pintu rezeki dibukakan paksa.
Namun rezeki yang datang terlalu deras sering membawa bayangan. Bu Yanti justru merasa kosong: ia punya “suami” tapi seperti tidak punya. Ia tak nyaman dengan gangguan-gangguan halus yang terus muncul. Akhirnya ia kembali ke Semarang, meminta cara untuk mengakhiri ikatan itu.
Kuncen menyanggupi. Ada proses pemutusan dengan lawe—benang atau kain putih yang dipegang bersama lalu digunting di tengah, sebagai simbol putusnya hubungan. Bu Yanti pulang dengan keyakinan semuanya selesai. Ia bahkan membeli rumah, memulai katering, mencoba membangun hidup “normal”.
Tapi setelah ikatan itu diputus, usaha-usahanya pelan-pelan runtuh. Cabang satu per satu sepi lalu tutup. Warung ikut meredup. Pada masa itulah, musibah besar datang: anaknya mengalami kecelakaan parah. Satu anak meninggal, satu lagi harus menjalani operasi berkali-kali sampai wajahnya dipenuhi pen. Bu Yanti menjual rumah, menghabiskan tabungan, melakukan apa pun demi menyelamatkan yang masih hidup.
Ia mencoba menikah lagi dengan laki-laki dari Surabaya—berharap hidupnya benar-benar beralih ke jalan biasa. Namun rumah tangganya kembali diganggu: suaminya merasa didatangi sosok putih seperti perempuan tanpa wajah, bahkan beberapa kali merasa tercekik. Suami itu akhirnya pergi tanpa kabar, meninggalkan Bu Yanti dengan beban yang makin berat.
Di titik paling lelah, Bu Yanti memilih kembali ke jalan yang lebih terang: ia iktikaf di masjid besar, bertemu kiai yang membantunya puasa dan doa untuk memutus sisa-sisa gangguan. Ia bahkan “memanggil” secara batin agar sosok gaib itu datang ke masjid—untuk membuktikan apakah benar ia muslim atau sekadar tipu daya. Setelah rangkaian itu, gangguan mereda.
Tapi bekasnya tidak langsung hilang. Anak gadisnya sempat mengalami gangguan menjelang magrib: kamar digedor-gedor, ada suara menyindir tanpa wujud. Bu Yanti memilih pindah rumah. Setelah itu barulah suasana benar-benar tenang.
Hari ini Bu Yanti mengaku hidupnya pas-pasan, kadang sakit saat baru mulai kerja, dan rezekinya tidak semudah dulu. Tapi ia lebih memilih itu daripada kembali pada “jalan pintas” yang pernah membuatnya merasa kaya sekaligus kehilangan terlalu banyak.
Dari kisah Bu Yanti, satu pesan paling pahit jadi jelas: ketika seseorang memaksa rezeki lewat pintu yang tidak semestinya, yang datang bukan cuma uang—tapi juga ikatan, tuntutan, dan rangkaian kejadian yang sering baru terasa ketika semuanya sudah terlanjur dalam. Dan pada akhirnya, “jamin kaya” itu tidak pernah benar-benar gratis.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.