Teh Tata mengira ia sudah melewati fase paling gelap ketika uang miliaran pertama kali “muncul” di hidupnya. Ia sempat merasa menang—rumah kebeli, mobil ada, pekerjaan lancar, dunia seolah bertekuk lutut. Tapi ada satu hal yang selalu mengejar dari belakang: perjanjian itu bukan hadiah, melainkan jadwal. Dan jadwalnya tidak bisa ditawar—setiap Jumat Pon, ia wajib naik ke Gunung Bolo, ziarah ke makam Nyai Roro Kembang Sore, lalu menjalankan ritual yang membuatnya muak bahkan saat mengingatnya.
Setiap bulan, ia harus punya alasan yang rapi. Kepada orang-orang, ia bilang pulang ke Cirebon untuk menjenguk ibunya, mengantar uang, melepas rindu. Dan memang ia benar-benar pulang—tapi hanya sebentar. Setelah itu ia lanjut ke titik yang ia rahasiakan dari siapa pun: tempat ritual yang sepi, dingin, dan rasanya seperti selalu ada mata yang menunggu.
Di makam Nyai, Teh Tata bukan satu-satunya yang datang. Ia melihat banyak perempuan menaruh bedak, lipstik, parfum—bukan untuk pesugihan, melainkan pengasihan. Mereka datang untuk “dipandang”, untuk “dipilih”, untuk memikat. Sementara Teh Tata datang membawa hal yang jauh lebih berat: kewajiban yang kalau dilanggar, bukan cuma uang yang lenyap, tapi nyawa yang ditarik sebagai pengganti.
Begitu ritual selesai, uang di tempat penyimpanan rahasianya bertambah. Tidak selalu melonjak dalam semalam, tapi bertahap—minggu demi minggu, sedikit demi sedikit, seperti ada tangan tak terlihat yang menambahkan rezeki secara rutin. Dan seperti kebanyakan orang yang tiba-tiba punya banyak uang, Teh Tata pun sempat larut: hura-hura, dunia malam, traktir teman, healing dadakan, hidup serasa tanpa batas.
Di masa itulah ia bertemu Rama—musisi yang membuatnya merasa “normal” lagi. Mereka menikah cepat, seolah hidup sedang memberi kesempatan baru. Rama bukan cuma pasangan, tapi partner: saling lempar job, saling bantu karier. Teh Tata bahkan sempat merasakan ketenangan yang sudah lama hilang.
Masalahnya, ketenangan itu berdiri di atas rahasia. Teh Tata tidak jujur soal pesugihan. Rama tahu Teh Tata punya uang, tapi Teh Tata menutupinya dengan cerita deposit bank, sisa tabungan, dan pekerjaan “makelar” yang terdengar masuk akal. Ia bahkan menyimpan uang di tempat rahasia di bawah lantai dekat ranjang—tempat yang Rama tidak pernah tahu.
Bulan-bulan awal, kebohongan itu berjalan mulus. Sampai Rama mulai curiga: kenapa setiap bulan Teh Tata pergi dua–tiga hari, dan Rama tidak pernah boleh ikut? Teh Tata selalu punya alasan: Rama butuh istirahat, jadwal Rama bentrok, Teh Tata cuma mau bertemu ibu sebentar. Rama akhirnya percaya, karena yang tampak di permukaan memang rapi.
Lalu datang Jumat Pon yang mengubah semuanya. Teh Tata sedang kelelahan karena job menumpuk. Rama punya job luar kota dan membangunkannya dini hari agar Teh Tata tidak telat kereta. Tapi Teh Tata terlalu capek—ia tertidur lagi, bangun siang, dan ketika sadar, waktu sudah tidak mungkin mengejar ritual.
Mas Gilang—orang yang selama ini menjadi penghubung—menelepon berkali-kali. Teh Tata akhirnya pasrah. Ia sudah tahu hukumannya: kalau sesajen dan ritual sampai terlewat, ada nyawa yang akan diambil. Ia hanya berharap jangan orang yang ia sayang.
Sore menjelang magrib, kabar duka itu datang seperti petir: Rama kecelakaan. Teh Tata mendengar detailnya dengan tubuh gemetar—tabrakan dengan truk, mobil ringsek parah, dan Rama tidak tertolong. Di saat orang lain melihat itu sebagai musibah, Teh Tata mendengar bunyi lain di kepalanya: “ini tagihan.”
Hari-hari setelah Rama pergi, Teh Tata menjalani hidup seperti orang kosong. Uang masih bertambah, tapi tidak lagi terasa sebagai kemenangan. Dulu setiap kenaikan uang berarti rencana liburan, nongkrong, dan tawa berdua. Kini, setiap uang bertambah justru terasa seperti pengingat bahwa ada sesuatu yang telah dibayar terlalu mahal.
Seminggu setelah kematian Rama, Teh Tata kembali ke Gunung Bolo. Ia mengulang ritual “awal” seperti yang disarankan Mbah Bejo—seolah menutup pelanggaran dengan mengulang titik start. Di sana, tanda-tanda kemunculan Nyai masih sama: suara gamelan, desis, kabut, siluet. Teh Tata menjalani semuanya sambil menahan rasa bersalah yang tidak bisa ia taruh di mana pun.
Teh Tata mencoba melupakan Rama dengan cara yang salah: kembali ke dunia malam, pulang pagi, memaksa hidup bergerak agar duka tertinggal di belakang. Di tengah pelarian itu, ia didekati Mas Yuda—orang radio yang sabar, yang mengerti Teh Tata belum benar-benar pulih. Mereka pacaran, lalu menikah. Teh Tata mengakui pada dirinya sendiri: ia berjalan, tapi hatinya masih ada yang tertinggal.
Beberapa bulan menikah, Teh Tata hamil dan punya anak perempuan. Untuk sesaat, ia merasa hidup memberinya alasan baru untuk bertahan. Ia tetap menjalankan ritual bulanan—tetap dengan alasan “menjenguk mama”—kini sambil menata peran sebagai ibu dan istri.
Namun tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda yang tidak wajar. Setelah keguguran di usia kandungan lima bulan, kesehatannya merosot: rahim sering bermasalah, rambut rontok parah, badan gampang drop. Dokter menyebut asam lambung dan stres, tapi Teh Tata merasa ada “faktor lain” yang menekan dari belakang, terutama karena ia sudah masuk tahun keenam menuju akhir perjanjian.
Tekanan rumah tangga pun ikut berubah. Teh Tata merasa Mas Yuda makin kasar, mudah marah, dan sering meledak untuk kesalahan kecil—seolah emosi di rumah itu dipancing agar Teh Tata semakin rapuh. Dan di tengah kondisi fisik yang jatuh-bangun, Teh Tata kembali melakukan kesalahan fatal: ia dirawat di rumah sakit menjelang Jumat Pon, tidak bisa bergerak, dan akhirnya lalai lagi menjalankan ritual.
Kali ini yang ditagih bukan lagi orang yang jauh. Dari rumah, ART menelepon: Mas Yuda jatuh di kamar mandi, tidak sadar, dan ketika dibawa ke UGD… sudah tidak ada. Semua terlihat “masuk akal” bagi orang luar—kecelakaan rumah tangga. Tapi Teh Tata tahu itu terjadi tepat di hari yang sama ketika kewajiban ritualnya bolong.
Setelah kematian Mas Yuda, teror datang lebih dekat. Teh Tata merasa melihat sekelebat bayangan di jendela, mendengar desisan ular, bahkan merasakan seolah ada sesuatu yang menguntit dari kamar mandi. Tubuhnya makin kurus, kulitnya mengeriput, dan hidupnya seperti ditarik menuju titik akhir yang sudah digaris.
Teh Tata mencoba ritual ulang meski kondisi fisiknya hancur. Ada momen tubuhnya terasa sedikit “segar” setelah ritual, seolah diberi nafas pinjaman. Tapi teror tidak berhenti. Uang yang dulu bertambah kini mulai menyusut, aset satu per satu dijual untuk biaya berobat, dan ia semakin sulit bepergian untuk memenuhi kewajiban bulanan.
Menjelang akhir kontrak, Teh Tata drop habis-habisan. Ia masuk rumah sakit dalam kondisi kritis dan divonis kanker stadium akhir. Dalam fase tidak sadar itu, ia mengalami pengalaman yang terasa lebih nyata dari mimpi: seperti berada di tempat siksaan, mendengar jeritan, dan bertemu Rama. Di sana pula ia mendengar suara anak kecil memanggil “Mama”—mengaku sebagai janin yang dulu keguguran, dan memohon agar Teh Tata pulang karena masih ada anak yang membutuhkan.
Dalam pengalaman itu, Teh Tata berjanji: ia akan tobat, tidak akan membuat perjanjian lagi dengan makhluk apa pun. Dan ketika ia akhirnya sadar, ia terkejut melihat kamar rumah sakitnya penuh orang mengaji—ibu-ibu ustazah dan seorang ustaz yang dipanggil Ustaz Saleh. Mereka bukan dipanggil Teh Tata, melainkan datang karena ikhtiar orang-orang yang ingin menyelamatkannya.
Ustaz itu menyampaikan hal yang membuat keluarga Teh Tata syok: ini bukan sekadar sakit medis, ada perjanjian gaib yang menempel. Tapi justru karena kontraknya sudah mendekati selesai dan doa banyak orang menguat, perjanjian itu bisa diputus. Teh Tata percaya ia selamat bukan karena kuat sendiri, melainkan karena doa ibunya, doa banyak orang, dan “pertolongan” yang datang lewat anak yang bahkan tak sempat lahir.
Setelah itu, hidup Teh Tata tidak langsung indah. Harta dari pesugihan habis—banyak dijual untuk berobat, dan sebagian lenyap bersama musibah lain: rumahnya di Bandung kebakaran. Yang tersisa justru pelajaran paling pahit: uang yang datang cepat bisa hilang lebih cepat, dan yang hilang bukan cuma angka, tapi nyawa serta ketenangan.
Hari ini Teh Tata memilih membangun ulang hidupnya pelan-pelan. Ia mulai memperbaiki ibadah, menjauhi dunia malam, bekerja apa pun yang halal meski hasilnya tidak sebesar dulu. Karena setelah semua yang terjadi, Teh Tata akhirnya paham: bukan uang yang paling mahal… melainkan satu malam tenang tanpa rasa ditagih.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.