Mas Arka mengira hidupnya hanya sedang berada di fase “pencarian”. Tahun 2016, ia kuliah di Jogja kota yang ramai oleh diskusi, komunitas, dan orang-orang yang gemar membedah gagasan sampai ke akar. Di kepala Mas Arka, dunia terasa seperti papan catur yang bisa dijelaskan lewat logika. Ia pun memilih satu posisi: ateis, tak percaya Tuhan, tak percaya ritual, tak percaya batas-batas moral yang menurutnya hanya warisan ketakutan.
Mas Arka bukan tipe anak muda yang tiba-tiba berandalan. Ia pembaca. Ia mengejar buku-buku filsafat, teori sosial, dan segala macam “isme” yang membuatnya merasa lebih bebas. Sampai suatu sore, di toko buku tua, ia menemukan buku bersampul hitam—lambangnya salib terbalik, ada kalimat asing yang terasa seperti provokasi, dan isinya penuh narasi perlawanan terhadap agama.
Karena penasaran, ia membeli buku itu. Ia membacanya di kosan, pelan-pelan, sambil menerjemahkan halaman-halaman yang banyak memakai bahasa Inggris. Semakin dibaca, semakin ada sensasi aneh: bukan takut, tapi seperti ditarik. Ada rasa “keren” yang berbahaya—rasa bahwa ia sedang memegang sesuatu yang terlarang, sesuatu yang membuatnya merasa lebih “tahu” dari orang lain.
Mas Arka mencari asal-usul buku itu. Dari pencarian itu, ia menemukan nama yang disebut-sebut sebagai akar: Codex Gigas yang oleh beberapa orang dikaitkan dengan “kitab iblis” dan dunia okultisme. Nama itu menempel di kepalanya, seperti kata sandi yang membuka pintu baru: pintu yang awalnya cuma ia dekati dengan rasa ingin tahu, bukan niat untuk tenggelam.
Di kampus, ada diskusi lintas iman tentang teologi dan ketuhanan. Mas Arka datang bukan untuk belajar percaya, melainkan untuk “melawan”. Ia berdebat keras, menyudutkan peserta lain, dan berlagak paling bebas. Saat diskusi bubar, seseorang menyapanya—seorang kakak tingkat bernama Rangga (nama disamarkan). Rangga tersenyum seperti orang menemukan rekrutan yang cocok.
Rangga mengajak Mas Arka ngobrol di kantin. Ia memuji keberanian Mas Arka, lalu melempar umpan: ada teman-temannya yang “sepemikiran”, orang-orang yang tidak percaya agama, orang-orang yang menganggap moral hanyalah batas buatan. Mas Arka merasa menemukan komunitas. Ia mengiyakan ajakan pertemuan berikutnya, tanpa curiga bahwa itu bukan sekadar tongkrongan biasa.
Beberapa hari kemudian, Mas Arka datang ke sebuah kafe. Ia mengaku sedang bokek, tapi Rangga menenangkan: semuanya ditanggung. Tak lama, datang tiga orang lain—dua di antaranya turun dari supercar yang membuat Mas Arka membeku sebentar, satu lagi datang membawa Harley yang mengundang tatapan orang-orang. Di titik itu, Mas Arka merasa dirinya terlalu kecil berada di meja yang sama.
Mereka memperkenalkan diri, berbasa-basi, lalu mulai membahas hal yang Mas Arka suka: ketuhanan, penolakan agama, dan kebanggaan menjadi “orang yang tak bisa diatur doktrin”. Saat Mas Arka menyebut buku sampul hitam yang ia baca, ekspresi mereka berubah—seperti orang yang menemukan kode yang sama. Mereka bilang punya bacaan yang lebih lengkap.
Lalu tawaran itu datang: liburan ke luar negeri. Gratis. Tiket, penginapan, semuanya ditanggung. Mas Arka hanya diminta “bawa badan”. Bagi anak muda yang hidup pas-pasan, tawaran itu terdengar seperti pintu keberuntungan—dan Mas Arka, yang terbiasa menertawakan kewaspadaan, masuk tanpa rem.
Sebulan kemudian, Rangga menjemputnya. Mas Arka tidak diberi tahu destinasi. Ia hanya dibawa ke bandara, lalu naik pesawat yang terasa bukan pesawat biasa. Di dalamnya cuma mereka. Setelah mendarat di sebuah pulau yang bandara dan suasananya sepi, mereka dijemput limusin berlapis kaca gelap—gelap yang membuat Mas Arka tak bisa melihat keluar, tak tahu ia dibawa ke mana.
Perjalanan itu berakhir di sebuah mansion besar. Halnya luas, kursi-kursi tersusun seperti ruang ibadah, tangga menjulur ke banyak kamar, pelayan dan penjaga berdiri seperti sudah menunggu. Mas Arka mulai curiga, tapi anehnya pikirannya seperti tumpul—seolah semua pertanyaan ditidurkan.
Malam itu, Mas Arka diminta berganti pakaian serba hitam. Ia menuruti. Lalu Rangga membawanya ke hall utama. Ketika pintu dibuka, suasana berubah drastis: ramai, penuh orang, banyak yang memakai tudung. Ada patung kepala kambing, ada patung yang disebut-sebut menyerupai Baphomet, ada altar, dan aroma dupa yang tidak biasa—bau yang justru membuat Mas Arka merasa tenang, terlalu tenang untuk ukuran situasi yang semestinya membuatnya kabur.
Seorang figur yang disebut “imam besar” memulai upacara dengan bahasa Inggris. Mas Arka dipanggil ke depan, diperkenalkan sebagai “saudara baru”. Ia diberi kitab yang lebih tebal, lebih lengkap, penuh simbol-simbol dan istilah yang membuatnya merasa sedang memegang rahasia dunia. Di antara kerumunan itu, Mas Arka melihat wajah-wajah asing—campuran orang lokal dan orang luar, beberapa tampak seperti tokoh penting yang biasa hanya muncul di layar berita.
Setelah acara, ada semacam perjamuan. Orang-orang membicarakan bisnis, pengaruh, jaringan, seolah sekte itu bukan sekadar kumpulan orang aneh, melainkan klub kekuasaan yang rapi. Mas Arka—mahasiswa biasa—hanya bisa duduk, terpana, dan perlahan terbuai oleh satu ide paling mematikan: kalau aku ikut mereka, aku bisa punya hidup yang tidak bisa disentuh orang lain.
Saat pulang, Mas Arka merasa linglung seperti habis jetlag. Tapi di situlah pengikat pertama bekerja: sebuah nomor tak dikenal menghubunginya, mengaku salah satu pengusaha yang hadir di perjamuan. Mas Arka diminta nomor rekening, lalu uang ditransfer begitu saja—jutaan rupiah sebagai “hadiah”. Tidak ada kerja, tidak ada keringat, hanya perasaan melayang yang membuatnya menganggap semua ini “berkah” versi dirinya.
Uang itu mengubah ritme hidupnya. Mas Arka mulai dugem, foya-foya, merasa dunia ada di telapak tangan. Rangga hanya tertawa dan membiarkan, seolah itu bagian dari proses: membuat seseorang kecanduan rasa berkuasa sebelum ia benar-benar terikat.
Tak lama, Mas Arka dipanggil lagi. Polanya sama: perjalanan, penjemputan, tempat yang megah tapi sunyi, dan aura yang membuat akal sehat seperti disisihkan ke pojok ruangan. Kali ini, Mas Arka dibawa ke bangunan tua seperti kastil atau gereja tua—lampunya merah temaram, ornamen-ornamennya penuh simbol, dan orang-orang bertudung kembali melingkar.
Di sana, Mas Arka menjalani prosesi yang ia sendiri sulit jelaskan secara runtut. Ia hanya ingat satu hal: ada momen ketika sosok pemimpin itu terasa “berubah” di matanya—lebih besar, lebih menekan, dan suaranya seperti bukan suara manusia. Ada kalimat yang terus terngiang di kepala Mas Arka: larangan “mengikuti cahaya”, peringatan agar tetap berada dalam “pelukan kegelapan”. Dan setelah prosesi itu, Mas Arka diberi sebuah kalung bersimbol tertentu—tanda keanggotaan yang harus disembunyikan dari dunia luar.
Hadiah berikutnya datang lagi: uang puluhan juta, perjalanan selalu ditanggung, dan akses ke “orang-orang besar” terasa makin dekat. Mas Arka mengaku mulai sering bermimpi lorong gelap dengan sosok bertanduk di ujungnya—anehnya bukan menakutkan, melainkan terasa seperti “akrab”, seperti teman yang menyambut. Di titik itu, bahaya tidak lagi datang dalam bentuk ketakutan, tapi dalam bentuk kenyamanan palsu.
Lalu muncul “tugas”. Mas Arka diminta membuat kedok agar aliran uang terlihat masuk akal—membangun usaha kecil, membuka kedai kopi, supaya semua transfer dan “hadiah” bisa terlihat wajar di mata orang. Mas Arka menuruti, bukan karena ia paham, tapi karena ia sudah telanjur menikmati hidup yang tiba-tiba terasa mahal.
Dari situ, pergaulannya berubah. Ia mengaku mulai berinteraksi dengan orang-orang yang bicara tentang kekayaan, perempuan, dan kekuasaan seolah itu menu biasa. Di kepalanya, sekte itu menjanjikan apa pun yang ia mau—asal ia tidak “membelot”, tidak kembali pada nilai-nilai yang mereka sebut sebagai “cahaya”.
Namun makin dalam Mas Arka berjalan, makin ia merasakan sisi lain: rasa terancam. Ia menyadari, begitu seseorang masuk, keluar bukan soal kemauan lagi—tapi soal keselamatan. Ia juga melihat bagaimana beberapa anggota tampak seperti manusia yang kosong, tatapannya mati, hidupnya mewah tapi tidak benar-benar hidup.
Mas Arka menutup kisahnya dengan satu pengakuan yang pahit: ia masuk karena penasaran, tapi tetap bertahan karena ketagihan. Dan ketagihan itu bukan cuma pada uang—melainkan pada sensasi “dipilih”, sensasi punya akses ke sesuatu yang orang lain bahkan tidak tahu pintunya.
Pada akhirnya, Mas Arka menyebut kemewahan itu hanya panggung. Lamborghini, Harley, mansion, pesta, transfer uang—semuanya seperti umpan untuk membuat seseorang menukar akal sehatnya pelan-pelan. Dan ketika seseorang sudah menggantungkan hidup pada umpan itu, sekte tak perlu lagi membujuk—cukup menekan, cukup mengingatkan bahwa ada sesuatu yang “menunggu” jika ia mencoba lari.
Kisah ini bukan sekadar cerita tentang orang yang tersesat. Ini cerita tentang bagaimana rasa ingin tahu bisa dimanfaatkan, bagaimana luka batin dan kebutuhan bisa dijadikan celah, dan bagaimana “kaya mendadak” sering datang bersama harga yang tidak pernah disebut di awal. Karena di beberapa pintu, begitu kamu masuk… yang sulit bukan bertahan—melainkan menemukan jalan pulang tanpa kehilangan diri sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.