Mas Arka menyebut apa yang ia jalani dulu bukan sekadar “komunitas” atau tongkrongan anak muda yang suka debat agama. Baginya, itu sudah seperti pesugihan—hanya saja bentuknya versi luar negeri, dengan kasta yang berbeda: rapi, mahal, terstruktur, dan terasa punya jaringan yang panjang. Ia masuk bukan karena ingin jadi “pemuja”, melainkan karena tergiur sesuatu yang paling sering menjebak manusia: uang besar tanpa kerja yang masuk akal.
Kisahnya berlanjut dari fase ketika ia sudah ikut ritual dan melihat sesuatu yang membuat nuraninya retak. Ia masih ingat momen di ritual sebelumnya: suasana altar, pengorbanan, dan sosok “imam besar” yang ia lihat berubah wujud menjadi figur tinggi besar berkepala kambing dengan aura mencekam—seolah ingin menegaskan satu kalimat: menjauhlah dari cahaya. Dari situ, pulang ke rutinitas pun rasanya tidak pernah benar-benar pulang.
Setelah ritual itu, gangguan tidak berhenti di tempat acara saja. Di kehidupan sehari-hari, Mas Arka mengaku beberapa kali melihat bayangan tinggi bertanduk muncul sekilas, seperti berdiri di sudut pandang matanya, lalu menyeringai. Bukan menakuti untuk membuatnya lari—tapi menakuti untuk mengingatkan bahwa ia “masih diawasi”. Dan itu membuatnya gelisah, tidak nyaman, serta mulai mempertanyakan: sebenarnya apa yang sedang ia lakukan?
Di tengah gelisah itu, ia bermimpi didatangi sosok yang berbeda dari teror-teror sebelumnya. Sosok itu seperti bangsawan Jawa: berwibawa, tegas, tapi terasa menenangkan. Meski Mas Arka tidak bisa bahasa Jawa, ia mengerti maknanya. Kalimatnya singkat dan menghantam: “Nak, kamu sudah terlalu jauh. Ayo balik.” Mas Arka menafsirkan sosok itu sebagai semacam teguran—entah dari leluhur atau “peringatan” yang datang lewat jalur yang ia tidak pahami.
Sejak mimpi itu, keyakinan Mas Arka mulai goyah. Ia mengaku sadar, selama ini ia bukan benar-benar “percaya setan”—ia hanya mengejar duit. Tetapi ketika ia teringat orang-orang yang dijadikan tumbal, sesuatu di dalam dirinya tersentuh: ini bukan sekadar salah langkah, ini salah jalan. Ia pun mulai mencari celah untuk kabur pelan-pelan.
Strateginya sederhana tapi berisiko: mengurangi “setoran” dan menolak beberapa pengiriman dengan alasan apa pun. Biasanya ia bisa rutin, sekarang ia bolong-bolong, kadang sebulan tidak mengirim apa-apa. Ia berharap, karena pola sekte itu tidak selalu menuntut tiap bulan, akan ada ruang untuk menghilang tanpa memicu kejaran. Tapi yang terjadi justru kebalikannya.
Teror digital datang. Pesan ancaman bermunculan dari WhatsApp, media sosial, hingga email—nomornya gonta-ganti seperti pinjol, tapi nadanya jauh lebih dingin. Mas Arka bukan hanya diancam dirinya, tapi juga keluarga. Yang membuatnya makin panik, mereka bisa melakukan doxing: tahu alamat keluarga, tahu detail yang Mas Arka merasa tidak pernah ia bagikan. Dari situ, ia paham: ini bukan permainan anak nongkrong. Ini jaringan yang bisa melacak.
Dalam ketakutan, Mas Arka mengambil keputusan ekstrem. Ia “membuang” identitas: HP, kartu, ATM—segala sesuatu yang bisa ditelusuri. Ia hanya mengambil uang secukupnya untuk kabur, bukan karena uangnya sedikit, tetapi karena ia takut transaksi besar memancing pelacakan. Ia sadar itu keputusan egois karena ia tidak memikirkan keselamatan keluarga dulu—yang ia pikirkan hanya satu: bagaimana caranya putus dari lingkaran itu.
Mas Arka kabur ke Bandung, hidup sebagai “orang lain”. Ia ganti nama, ganti nomor, memulai kerja apa pun: part-time barista, waiter, serabutan. Tetapi rasa dikejar itu masih ada. Ia sering merasa ada kendaraan yang menguntit dari belakang, menjaga jarak, mengikuti pola laju yang sama—seolah sedang menguji apakah ia panik atau tidak. Karena tidak kuat, ia pindah kos berkali-kali, lalu akhirnya kabur lagi ke Jakarta.
Di Jakarta, hidupnya perlahan lebih stabil. Ia dapat kerja full-time di coffee shop dan mulai membangun pertemanan baru—dengan identitas samaran. Gangguan berupa “rasa diikuti” masih sesekali muncul, tapi tidak sesering dulu. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya efek trauma karena diteror berbulan-bulan.
Lalu datang peristiwa yang jadi titik balik paling keras dalam hidupnya. Suatu hari setelah kerja yang melelahkan—Mas Arka mengaku punya riwayat jantung—ia tiba-tiba blackout. Dalam ketidaksadaran itu, ia merasa masuk ke ruang gelap hampa, lalu “dipindahkan” ke alam lain yang ia sebut seperti neraka: tempat luas dengan berbagai bentuk penyiksaan yang membuatnya gemetar. Sosok-sosok algojo yang ia lihat terasa mirip monster merah bersayap—lebih mengerikan daripada gambaran film.
Setelah itu, ia merasa berpindah lagi ke ruang putih yang sangat terang dan menenangkan. Ia seperti dibisikkan untuk menuju satu cahaya yang lebih terang. Ia berjalan, lalu berlari, tapi cahaya itu terasa makin jauh—seolah ia diuji: mau menuju “pulang” atau tidak. Dan tepat ketika ia seolah mencapai cahaya itu, ia terbangun… di rumah sakit.
Yang membuatnya syok, menurut temannya, Mas Arka tidak sadar bukan sebentar—melainkan sekitar tiga minggu. Denyutnya sempat nyaris tidak ada, napasnya tipis, dan ia dibawa ke rumah sakit dalam keadaan gawat. Mas Arka sendiri merasa pengalaman itu hanya seperti beberapa jam. Ketimpangan waktu itu membuatnya ngerasa: apa yang ia lihat bukan mimpi biasa.
Temannya yang paling dekat—Deni—mendengar cerita itu dan menyarankan Mas Arka ikut ke majelis teman-temannya. Mas Arka datang bukan langsung ingin “jadi baik”, tapi ingin paham: apa arti semua yang ia alami. Di majelis itu, ia melihat hal yang jarang ia temukan di hidupnya selama terjerat sekte: keteduhan, kebersamaan, sekolah gratis untuk anak, sedekah untuk warga, orang-orang yang saling bantu tanpa pamrih. Ada rasa malu yang pelan-pelan naik, karena ia membandingkan itu dengan masa lalunya yang gelap.
Beberapa bulan ia bolak-balik, sampai akhirnya ia menceritakan semuanya kepada seorang ustaz. Ia meminta satu hal: jangan dihakimi. Ia mengaku melakukan banyak dosa, termasuk keterlibatan dalam ritual yang membuat orang lain jadi korban. Ustaz itu terkejut, tapi ia menenangkan Mas Arka: selama mau tobat, pintu ampunan tetap ada. Pada momen itu, Mas Arka merasakan sesuatu yang ia tidak pernah rasakan selama mengejar uang: ingin pulang, sungguhan pulang.
Mas Arka pun mengucapkan syahadat dengan dipandu. Ia belajar wudu, lalu salat—meski awalnya hanya bisa mengikuti gerakan. Dalam doanya, ia menangis minta ampun dan mengakui kebersihan yang ia cari selama ini ternyata bukan di rekening, tapi di dada yang tenang. Dan justru setelah itu, barulah ia teringat keluarganya: orang tua, saudara, rumah yang ia tinggalkan tanpa kabar.
Ia pulang kampung. Ia menemukan keluarganya dalam keadaan aman—sesuatu yang membuatnya makin yakin ada kuasa yang melindungi, karena secara logika, ia merasa keluarganya seharusnya bisa dijadikan alat tekan. Ibunya menangis, bertanya ia ke mana saja. Mas Arka tidak membuka semua detail, tapi ia mengakui ia sempat hidup dalam teror. Bagi Mas Arka, pulang itu seperti diselamatkan untuk kedua kalinya.
Setelah ia benar-benar menjauh dan membangun hidup baru, Mas Arka mendengar kabar samar tentang orang-orang yang dulu mengenalkannya ke sekte: ada yang bangkrut, ada yang jatuh. Ia tidak menjadikannya bahan dendam—lebih seperti peringatan bahwa lingkaran itu pada akhirnya memakan pengikutnya sendiri. Ia juga menegaskan, di dalam jaringan seperti itu ada banyak orang “besar”: pengusaha, pejabat, bahkan selebritas—namun ia menyebutnya sebagai tanda, bukan sebagai daftar untuk diburu.
Bagi Mas Arka, ini semua adalah contoh pesugihan dengan wajah modern: bukan lagi kemenyan di persimpangan, tapi sistem yang memainkan uang, akses, ketakutan, dan kontrol. Ujungnya tetap sama—mengikat manusia pada kegelapan demi duniawi.
Ia menutup kesaksiannya dengan satu pesan yang pahit tapi jujur: jangan pernah merasa aman hanya karena bentuknya “internasional” dan terlihat berkelas. Sebab ketika seseorang sudah menukar nurani dengan kemewahan, yang hilang bukan cuma iman—tapi identitas, keluarga, dan rasa damai yang paling dasar.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.