Ada jenis kesuksesan yang dari luar terlihat seperti kerja keras yang akhirnya berbuah. Tapi kalau kamu duduk berhadapan dengan Kang Ade, mendengar suaranya yang datar dan matanya yang seperti menyimpan sisa-sisa takut, kamu akan paham: ada rezeki yang datang bukan karena tangan yang rajin, melainkan karena perjanjian yang diam-diam mengikat di tempat paling sunyi.
Kang Ade tumbuh dari keluarga pedagang bakso. Sejak kecil ia melihat bapaknya memikul dagangan di kampung pegunungan, lalu perlahan naik kelas: dari pikulan ke gerobak, dari numpang rumah saudara sampai bisa beli tanah sepetak dan punya rumah sendiri. Hidup mereka sederhana, tapi berjalan. Sampai kemudian, setelah Kang Ade lulus SMA sekitar 2008, sesuatu mulai berubah—pelan, tapi menghancurkan.
Di masa itu, bapaknya kenal seorang perantau lain, Kang Ade menyebutnya Mang Agus. Kedekatan mereka cepat. Sama-sama orang luar, sama-sama cari makan di tanah orang, jadi seperti keluarga baru. Mang Agus sering main ke rumah, curhat soal usaha, bahkan pernah sampai “dikasi beras” ketika ia mengeluh tak punya apa-apa. Keluarga Kang Ade menolong tanpa curiga, sampai adik Kang Ade yang masih kecil pun pernah mengalah uang jajan demi anak Mang Agus.
Lalu suatu hari, saat bapaknya mencetak bakso seperti biasa, adonan mendadak “nggak jadi.” Dicetak hancur, dicetak hancur lagi. Padahal takaran bumbu sama, daging dibeli di tempat langganan yang sama. Hari itu bakso gagal total dan mereka tidak jualan. Besoknya coba lagi, diturunkan dari 5 kilo jadi 2 kilo karena takut rugi—dan ajaibnya, kali itu jadi normal.
Masalahnya, gangguan berikutnya lebih aneh. Saat bapaknya sampai di pangkalan sore hari, panci bakso justru menguar bau bangkai. Bau itu menusuk, tapi yang bikin kepala bingung: pelanggan yang beli seperti tidak mencium apa-apa. Mereka makan biasa saja, bahkan ada yang bungkus banyak. Bapaknya yang justru ketakutan sendiri—seperti orang yang tahu ada yang salah, tapi tak paham di bagian mana letak salahnya.
Hari-hari setelah itu, dagangan merosot. Pelanggan yang biasa datang mulai bilang, “Kok sekarang nggak jualan?” Padahal mereka merasa setiap hari mangkal seperti biasa. Seolah-olah ada yang “nutupin” mata orang—membuat orang lewat tanpa melihat gerobak, tanpa mencium aroma kuah, tanpa tergerak berhenti.
Yang lebih menyeramkan lagi, beberapa kali datang orang asing memberi kalimat ganjil. Ada yang hanya numpang tanya arah, lalu mendadak nyeletuk menyuruh “banyak wirid, banyak ibadah.” Ada juga pembeli yang makan sambil bilang, “Kok gelap?” padahal lampu depan terang. Lalu ujungnya sama: menasihati agar mendekat ke Allah. Kang Ade muda waktu itu tidak paham—tapi kata-kata itu seperti pertanda yang berkali-kali ditancapkan.
Mereka sempat minta tolong ustaz kampung. Ustaz itu bilang ada “sesuatu” ditaruh di area jualan, seperti butiran garam atau pasir yang ditabur. Ia memberi air untuk dicampurkan ke panci dan dipercikkan ke sekitar pangkalan, semacam penetral. Sempat reda sebentar, tapi tidak benar-benar memulihkan. Mereka lalu mendatangi kiai di daerah lain, ritualnya mirip—dan tetap saja, usaha bapaknya makin hancur, ekonomi limbung, sampai bapaknya malas jualan.
Di saat keluarga jatuh, Kang Ade menemukan fakta yang membuat darahnya mendidih: Mang Agus—orang yang selama ini dibantu—tiba-tiba jualan bakso dekat pangkalan bapaknya. Dan larisnya bukan main. Baksonya lebih besar, lebih mahal, tapi orang ramai mendatangi. Kang Ade menelan dendam. Ia merasa dikhianati, ditusuk dari belakang oleh orang yang dulu ia anggap saudara.
Dari dendam itulah pintu gelap terbuka. Berawal dari obrolan “becanda” dengan teman, Kang Ade dapat alamat orang yang bisa memberi penglaris. Katanya jalurnya jauh, Jawa Timur. Kang Ade pinjam uang untuk ongkos dan berangkat sendirian, dengan satu niat yang ia simpan rapat: kalau bapaknya jatuh karena ulah orang, ia ingin membalas—apa pun caranya.
Perjalanan itu membawanya ke lereng Gunung Arjuno. Menjelang magrib ia sampai di sebuah rumah panggung di ujung desa, dekat hutan. Lampu rumah itu bukan listrik, melainkan semacam damar yang redup. Ia mengetuk, memberi salam, lama tak ada jawaban—sampai seseorang menyahut dari belakang, menyuruhnya masuk.
Orang itu Kang Ade sebut Mbah Karyo. Pertama kali bicara, Mbah Karyo langsung menatapnya seperti menakar keberanian: “Kamu masih muda. Ngapain ke sini?” Kang Ade menumpahkan semuanya—usaha bapaknya hancur, saingan yang diduga pelaku, dan keinginannya mendapatkan penglaris untuk membangkitkan usaha keluarga.
Mbah Karyo tidak langsung memberi. Ia justru menekankan satu hal: siap risiko atau tidak. Kang Ade, dengan jiwa muda dan dendam yang menyala, menjawab siap. Malam itu ia disuruh tidur dulu, besok disiapkan sesajen ritual.
Paginya, ruang depan sudah penuh perlengkapan—kembang, sesajen, dan satu pemandangan yang bikin perutnya mual: daging mentah di piring. Kang Ade diajari mantra untuk diucap, lalu disuruh memakan daging itu. Ia bertanya daging apa, tapi dijawab singkat: makan saja, jangan banyak tanya. Dua iris ia kunyah sekadarnya lalu telan, menahan anyir yang seperti menempel di lidah.
Kang Ade kira selesai. Ternyata belum. Menjelang malam, ia diajak ke belakang rumah, masuk jalur setapak ke dalam hutan, menuju pancuran kecil yang terbuka. Di sana ia disuruh mandi tepat di bawah aliran air sambil membaca bacaan tertentu—dan yang paling penting: diam, jangan melawan, apa pun yang datang.
Saat air dingin menghantam kepala, Kang Ade mendengar suara-suara: seperti desis, seperti tawa jauh, seperti bisik yang tak jelas. Lalu ia melihat sesuatu mendekat—wujudnya seperti manusia dari depan, tapi ketika bergerak ke samping, punggungnya seperti buaya. Sosok itu menyelinap ke balong kecil di dekat pancuran, lalu hilang. Kang Ade gemetar, pikirannya langsung liar: “Apa saya tumbalnya?”
Ketika kembali ke rumah, barulah Mbah Karyo menjelaskan pelan—seolah baru selesai menanam kail. Daging yang Kang Ade makan adalah bagian tertentu dari sapi betina. Dan mandi di pancuran itu bukan sekadar “pembersihan”, melainkan titik pengikatan janji. Perjanjian ditanam di situ, di bawah air yang mengalir, di tempat yang sunyi, di lokasi yang tak akan dicurigai siapa pun.
Aturannya kemudian dibuka satu per satu: agar dagangan laris, Kang Ade harus menjalankan ritual berkala. Ia harus mengulang konsumsi bagian tertentu dari sapi betina sebagai syarat, lalu meludahkannya ke “dandang bakso” sambil membaca mantra. Ia juga dilarang pamer. Usahanya boleh ramai, uang boleh banyak, tapi hidupnya harus tampak biasa saja—seolah rezeki itu tak pernah berlebihan.
Dan yang paling menakutkan: kontraknya panjang, di rentang 25 sampai 30 tahun. Kalau ia melanggar dan berhenti, bukan orang lain yang dibayar—melainkan dirinya sendiri yang diambil. Di awal perjanjian, Kang Ade juga mengaku sempat menyimpan niat balas dendam: ia ingin Mang Agus jadi “korban pertama.” Mbah Karyo menjanjikan, “Tiga bulan setelah kamu mulai, dia akan saya ambil.”
Kang Ade pulang, mencari modal pinjaman, mulai jualan bakso sendiri. Ia menjalankan ritual pertama, mencari bagian sapi betina yang bahkan susah didapat. Ia sampai harus “pesan diam-diam” ke penjagal, memberi uang lebih untuk menutup mulut. Semua dilakukan dengan alasan palsu: pesanan hajatan tetangga, katanya.
Lalu waktu berjalan. Tiga bulan pertama lewat—dan kabar itu datang: Mang Agus meninggal. Kang Ade mengaku merinding karena hitungannya tepat. Tak lama setelah itu, baksonya mendadak ramai. Pelanggan lama bapaknya kembali, orang baru berdatangan, dan usaha yang sempat mati pelan-pelan hidup lagi di tangan anaknya.
Setelah korban pertama, Kang Ade berkata kejadian-kejadian berikutnya jadi seperti pola yang ia kenali. Setiap beberapa bulan, ada saja musibah di sekitar jalur dagangnya—kecelakaan, orang meninggal, dan setelah itu dagangannya makin ramai. Ia tidak memilih korbannya, katanya. Semua “random.” Tapi ia mengakui, indikatornya selalu sama: kalau ada sosok hitam besar bermata merah muncul di sekitar, biasanya tak lama kemudian ada kejadian.
Ia menyebut dalam 15 tahun menjalankan ini, jumlah tumbal yang “terangkut” sudah sekitar 30 orang. Ia tidak mengenal mereka, hanya mendengar kabar dari warga atau melihat keramaian setelah insiden. Yang ia tahu hanya satu: setelah ada nyawa yang hilang, rezekinya mengalir lebih deras. Dan di situlah ia mulai menyadari betapa busuknya cara kerja perjanjian itu—rezeki seolah dibayar dengan duka orang lain.
Anehnya, hidup Kang Ade terlihat normal dari luar. Ia tetap salat, tetap punya keluarga, bahkan keluarganya tidak tahu apa yang ia lakukan. Tapi batinnya tidak pernah benar-benar tenang. Ia mengaku sulit khusyuk, pikirannya “ngambang,” dan rasa bersalah datang seperti gelombang yang naik turun—kadang ditutup kesibukan, kadang dibuka oleh bayangan kematian.
Pernah sekali ia mencoba berhenti satu bulan penuh. Hasilnya, dagangan langsung sepi. Bukan sepi biasa—sepi seperti “ditutup lagi.” Lalu sosok hitam itu sering muncul sebagai pengingat, seolah menagih ketaatan. Kang Ade menyerah dan kembali melakukan ritual, karena ia takut konsekuensi paling ujung: dirinya yang diambil sebelum kontrak selesai.
Di akhir ceritanya, Kang Ade terdengar seperti orang yang sudah lelah menang. Ia tidak merasa kaya raya. Omzetnya memang jutaan per hari, punya cabang, tapi ia bilang uang itu seperti “habis saja.” Ia juga pernah mencari cara memutus perjanjian, tapi banyak yang menyarankan satu hal yang sama: tobat dan kembali benar. Masalahnya, beberapa orang berkata perjanjian seperti ini tidak bisa “dibatalkan” begitu saja—kontraknya hanya selesai ketika masa berakhir, atau ketika yang terikat itu akhirnya ditagih.
Dan di situlah horor paling sunyi dari kisah ini: bukan tentang hutan Arjuno, bukan tentang pancuran dan sosok buaya, bukan tentang mantra dan dandang. Horornya ada pada kalimat yang diucapkan pelan oleh Kang Ade—bahwa ia menjalankan semua ini sambil menunggu, kapan giliran dirinya tiba.
Kalau ada pelajaran yang ia ingin orang lain ambil, itu sederhana: jangan pernah menukar rezeki dengan perjanjian gelap, apalagi demi dendam. Karena dendam membuatmu merasa benar, padahal yang kamu lakukan hanya menambah daftar duka—dan ketika duka itu sudah keburu panjang, kamu tidak lagi memegang kendali. Kamu hanya tinggal berjalan di jalur yang sudah kamu pilih sendiri, sambil mendengar langkah penagih dari belakang.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.