Tahun 2008, Mas Nasim sedang nganggur di Cirebon ketika temannya—Jono—menelpon dan menawarkan kerja di Bekasi. Katanya cuma warung nasi goreng, kerja bantu-bantu, lumayan buat isi perut. Mas Nasim ikut berangkat tanpa banyak tanya, karena yang ia butuhkan saat itu sederhana: kerja dulu, urusan lain belakangan.
Sesampainya di Bekasi, Mas Nasim baru tahu warung ini bukan warung biasa. Bentuknya semi resto: masaknya masih ala gerobak, tapi ada tempat makan yang rapi, desain interiornya enak dipandang, dan lokasinya strategis dekat keramaian. Warungnya ramai sejak siang—buka sekitar jam 10, tutup jam 9 malam—dan yang ia tempati adalah cabang ke-enam dari jaringan warung yang sudah punya banyak titik.
Sistemnya juga tertata: bahan baku di-drop dari warung induk, cabang tinggal masak dan jual. Karyawannya dirolling antar cabang supaya tidak bosan, dan Mas Nasim yang baru masuk sering kebagian tugas serabutan—nyuci, beres-beres, ngelayanin pembeli, sampai disuruh ambil bahan yang tertinggal di induk.
Suatu hari, telur untuk masak kelupaan. Mas Jaka—kepala cabang—nyuruh Mas Nasim ikut Jono ke warung induk sekalian biar hafal lokasi. Di jalan, Jono sempat berpesan, “Nanti kalau sampai induk jangan kaget.” Mas Nasim mengira maksudnya bos galak. Tapi yang ia temui justru perempuan paruh baya yang bicaranya lembut, menasihati agar Mas Nasim “betah-betah kerja” dan “jangan aneh-aneh.” Sikapnya bertolak belakang dari warning Jono—dan itu anehnya justru bikin Mas Nasim makin penasaran.
Hari-hari berjalan, Mas Nasim merasa nyaman. Capek iya, tapi suasananya enak. Namun perlahan, ada detail-detail yang mengganggu: ia kadang mencium aroma tidak sedap seperti bau kematian, muncul tanpa sebab jelas. Sesekali juga ada bayangan sekelebat, seperti melintas cepat di tepi pandangan—bukan sekali dua kali, tapi cukup sering untuk membuat tubuh mengingat, meski mulut masih bisa menyangkal.
Ia pernah menanyakan hal itu ke Mas Jaka. Jawabannya selalu sama: “Pikiranmu aja. Kamu capek.” Mas Nasim mencoba menuruti, fokus kerja, menutup rasa curiga dengan lelah yang ditumpuk tiap hari.
Sampai satu malam menjelang tutup, sekitar jam sembilan lebih, Mas Nasim, Mas Jaka, dan Jono yang sedang beberes di belakang warung mendengar suara minta tolong. Awalnya samar, lalu makin keras, berkali-kali, seperti ada seseorang kehabisan napas dan kehabisan waktu. Mereka berputar mencari sumber suara, sampai akhirnya sadar: ada pintu tersembunyi di balik lemari rak penyimpanan—pintu yang menempel ke rumah besar di belakang warung, rumah yang selama ini mereka kira kosong.
Begitu pintu dibuka, mereka menemukan seorang ibu-ibu yang panik. Ibu itu hanya mengulang kata “tolong” sambil menggiring mereka masuk. Di dalam rumah, ada seorang perempuan sekitar 30-an yang berteriak-teriak seperti kesurupan—matanya melotot, rambut menutup wajah, tangannya mencakar tubuh sendiri. Mas Nasim mendekat… dan dadanya seperti jatuh: ia mengenali wajah itu. Perempuan itu Katrina—cinta sesaat yang pernah hadir di hidup Mas Nasim bertahun-tahun lalu.
Anehnya, ketika Mas Nasim memegang tangan Katrina, teriakannya mereda. Seperti ada sesuatu yang menahan napas, lalu pelan-pelan melepas. Dari pengasuhnya—Bu Siti—Mas Nasim baru paham: Katrina kini tinggal di rumah belakang warung karena menjadi istri simpanan Pak Ronald, suami dari Bu Jessica, pemilik jaringan warung nasi goreng itu.
Katrina mengaku hidupnya tidak karuan. Ia sering merasa dikejar makhluk yang sama—sosok yang menghantui saat tidur, mandi, bahkan ketika ia hanya diam. Ia meminta Mas Nasim menemani, karena setiap kali Mas Nasim ada, rasa takutnya seperti turun. Mas Nasim ragu—ia bekerja untuk nafkah keluarga—tapi karena kondisi Katrina makin kacau, ia akhirnya bersedia menemani sebatas “menjaga” di ruang tamu.
Suatu hari Pak Ronald datang, memergoki keberadaan Mas Nasim di rumah itu. Bukannya marah besar, Pak Ronald justru mengizinkan—dengan syarat Mas Nasim tidak berinteraksi terlalu intens dengan Katrina. Namun suasana tetap janggal. Mas Nasim merasa keberadaannya membuat udara tegang, seperti ada sesuatu yang tidak suka ia terlalu dekat dengan rahasia rumah itu.
Lalu malam itu, semuanya meledak. Bu Jessica datang mengamuk, memaki, menyebut perselingkuhan, dan mengancam Katrina dengan nada yang terdengar “bukan Bu Jessica.” Katrina malah menunjuk sesuatu di atas dan di belakang Bu Jessica—sosok yang katanya seperti gorila bermuka merah, berambut panjang, berkuku tajam, menempel seperti bayangan yang punya nyawa. Pak Ronald justru tidak melindungi siapa pun; ia diam, lalu pergi mengikuti istrinya—meninggalkan Katrina dalam ketakutan yang makin menjadi.
Di saat itulah Katrina membuka rahasia yang selama ini disimpannya: Bu Jessica menjalankan pesugihan. Media utamanya bukan jimat biasa, melainkan air mandi bekas jenazah tumbal—air yang diteteskan ke bumbu nasi goreng. Hasilnya membuat rasa jadi “luar biasa enak,” pelanggan balik lagi tanpa sadar, dan usaha berkembang pesat sampai bercabang-cabang.
Lebih gelap lagi, kata Katrina, pesugihan itu kategori “sak jeroning pagar”: tumbalnya kerabat sendiri. Orang tua Katrina diambil, bahkan janin yang pernah ia kandung pun lenyap—menjadi bagian dari harga yang dibayar Bu Jessica. Sejak itu Katrina hidup hanya dengan satu api: dendam. Ia mendekati Pak Ronald bukan karena cinta, tapi karena ingin menghancurkan Bu Jessica dari dalam, pelan-pelan, sampai rasa sakitnya “terbayar.”
Bu Siti menyadari dendam Katrina terlalu besar untuk ditanggung sendirian. Mereka membawa Katrina ke Bogor menemui Abah Jandi, orang tua spiritual yang diminta membantu. Katrina diminta mandi di sumur tertentu dengan tata cara khusus. Sementara Mas Nasim disuruh wudu, lalu semedi di pendopo kecil. Di tengah semedinya, Mas Nasim melihat ular menghadapnya—di atas kepala ular itu ada mustika merah menyala, seperti ditawarkan untuk diambil. Mas Nasim mengambilnya, dan ular itu lenyap begitu saja. Abah Jandi datang seperti sudah tahu, lalu menegaskan: Mas Nasim harus mendampingi Katrina.
Malam itu juga mereka kembali ke Bekasi. Katrina berubah—takutnya hilang, kepercayaan dirinya meledak, sorot matanya hanya berisi tekad. Ia berkata, Mas Nasim akan melihat sendiri “eksekusinya.”
Saat mereka mendatangi rumah Bu Jessica, Bu Jessica seperti sudah menunggu, tertawa, seolah Katrina datang untuk menyerahkan diri. Dan benar saja, Mas Nasim melihat sosok yang selama ini cuma diceritakan Katrina—seperti bayangan gorila merah yang menempel di belakang Bu Jessica, geram dan siap menerkam.
Katrina mencari satu benda: botol kendi kecil yang memanjang, disimpan di kamar pribadi Bu Jessica. Ia seolah tahu letaknya. Meski dihalangi, Katrina menerobos dengan tenaga yang membuat Mas Nasim tercekat—seperti ada sesuatu yang mendorongnya dari belakang. Begitu kendi itu berhasil dipegang, Katrina membantingnya sampai pecah. Airnya muncrat, baunya bacin—bau yang tidak manusiawi, seperti sisa-sisa kematian yang dipaksa jadi bumbu.
Bu Jessica mengamuk makin liar. Gerakannya disebut-sebut mirip dengan sosok di belakangnya. Ada geraman yang menggema, seperti makhluk yang kehilangan sumber makanannya. Tapi Katrina tidak gentar. Ia justru menantang, seolah menyadari dirinya kini target tumbal—namun “bekal” dari ritual Bogor membuatnya sulit disentuh.
Katrina pergi tanpa menoleh. Ia bilang misinya selesai: tinggal menunggu kehancuran Bu Jessica. Mas Nasim pulang ke kontrakan dengan kepala penuh kabut—takut, bingung, tapi juga seperti baru saja melihat pintu rahasia dunia yang tak seharusnya dibuka.
Esoknya warung tetap buka. Tapi yang terjadi malah heboh. Pelanggan yang biasanya memuji rasa nasi goreng mendadak marah: katanya baunya busuk, rasanya pahit, bikin mual. Ada yang muntah-muntah setelah makan. Banyak yang pergi tanpa bayar karena emosi. Karyawan kelimpungan, dan Mas Nasim hanya bisa mengintip dari jauh—takut diseret ke pusaran masalah yang terasa sudah kelewat besar.
Tak lama, kabar buruk menyusul seperti domino. Bu Jessica ngamuk di rumah, teriak-teriak seperti orang kehilangan akal, lalu ambruk dalam kondisi seperti sakaratul maut—dan akhirnya meninggal tanpa sakit yang jelas. Pak Ronald jadi linglung seperti orang kosong. Warung induk kacau, cabang-cabang ikut ambruk, pelanggan hilang, dan jaringan usaha yang semula terlihat kokoh runtuh dalam waktu singkat.
Mas Nasim memilih kabur. Ia takut bukan hanya pada manusia, tapi pada sisa amarah yang mungkin belum selesai. Belakangan ia mendengar anak Bu Jessica—Toni—mencari Katrina untuk balas dendam, bahkan menjanjikan hadiah bagi siapa pun yang memberi informasi. Mas Nasim dan Jono sempat berhadapan dengan Toni, diteriaki, diintimidasi, lalu mereka memutuskan pulang: Mas Nasim ke Cirebon, Jono ke Cilacap, membawa trauma yang tidak bisa diceritakan utuh pada siapa pun di rumah.
Kisah ini menyisakan satu ironi yang menusuk: rasa “enak luar biasa” yang dulu bikin warung itu ramai, ternyata berasal dari sesuatu yang paling busuk—air ritual yang diteteskan ke bumbu, menumpang di wajan, menempel di nasi, lalu masuk ke mulut orang-orang yang tidak tahu apa-apa.
Dan ketika kendi itu pecah, seolah seluruh kebohongan ikut pecah bersamaan—rasa berubah, pelanggan muntah, usaha runtuh, nyawa hilang, dan dendam pindah tangan. Yang tersisa hanya pelajaran pahit: jika rezeki dipaksa lewat jalan gelap, cepat atau lambat, kegelapan itu akan menagih dengan cara yang tidak pernah adil.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.