Di Cirebon tahun 2018, dunia biliar sedang panas-panasnya. Bukan sekadar hobi, tapi sudah jadi arena pembuktian—siapa yang paling jago, siapa yang paling ditakuti, siapa yang pulang bawa duit. Di tengah riuh itu, ada Mas Oji, anak muda yang awalnya cuma ikut-ikutan teman, lalu jatuh terlalu dalam sampai lupa pulang.
Semakin sering main, semakin besar taruhannya. Dari yang tadinya sekadar seru-seruan, berubah jadi judi biliar yang bikin kepala selalu panas. Mas Oji mengaku lebih sering kalah daripada menang, tapi justru kekalahan itu yang bikin dia penasaran. Ada rasa pengin “naik kasta”, pengin jadi nomor satu, pengin semua orang mengakui: dialah raja bar.
Masalahnya, ambisi itu tidak datang sendirian. Utang ikut tumbuh seperti lumut di dinding lembap. HP, motor, apa pun yang bisa dijual dan digadaikan, pelan-pelan lenyap. Mas Oji makin nekat, makin keras kepala, sampai akhirnya ada teman yang nyeletuk: “Coba ke orang pintar aja.”
Kalimat itu awalnya terdengar seperti saran iseng. Tapi ketika hidup sudah keburu hancur, saran iseng bisa terasa seperti tali penyelamat. Mas Oji pun diajak bertemu seorang “orang pintar” yang menjanjikan satu hal: bisa. Bisa jadi jago, bisa menang, tapi ada syarat.
Syarat pertamanya terdengar seperti ujian yang masih bisa ditelan logika: tirakat nyepi di tempat keramat dekat masjid selama 31 hari. Mas Oji mengangguk tanpa ragu. Ia pamit ke ibunya—bahkan sempat berbohong, bilangnya ingin cari petunjuk hidup, ingin jadi lebih baik. Ibunya berat, tapi tetap mengizinkan dengan pesan yang terus menggema di kepala: jangan macam-macam.
Hari-hari awal tirakat berjalan biasa. Lalu memasuki pertengahan, suasana mulai aneh. Ada suara tertawa seperti ibu-ibu, cekikikan yang tidak jelas sumbernya, lalu bunyi-bunyian yang membuat malam terasa terlalu ramai untuk ukuran tempat keramat. Mas Oji menahan takut, menghibur diri dengan pikiran: “Namanya juga tempat ziarah, pasti banyak hal yang lewat.”
Malam sekitar hari ke-25, gangguan itu berubah wujud. Atap seng terdengar seperti dilempar batu keras berkali-kali. Ketika Mas Oji keluar, ia melihat sosok tinggi besar hitam berdiri dekat pohon besar—matanya merah, menatap seperti benci. Detik itu, nyali Mas Oji seperti disedot habis. Ia masuk lagi, diam di pojokan, membaca apa pun yang ia bisa, menunggu pagi dengan tubuh gemetar.
Di penghujung tirakat, ada kejadian yang membuatnya yakin “lulus.” Seorang kakek berjubah putih tiba-tiba muncul, memberi beras dan nasi, lalu menghilang begitu saja. Nasi itu bahkan sempat dicari-cari—lenyap seperti diangkat angin. Mas Oji membawa pulang beras itu, lalu segera menemui orang pintar pertama. Jawabannya bikin hati Mas Oji melonjak: “Berarti kamu sudah lulus.”
Mas Oji pun kembali ke meja biliar dengan semangat baru. Tapi dunia tidak berubah seperti yang ia bayangkan. Ia tetap kalah, tetap babak belur. “Kalau aku sudah lulus, kenapa hasilnya masih nol?” Dari situ, ia merasa ini belum selesai—dan manusia yang putus asa biasanya tidak mundur, justru mencari pintu lain.
Pintu kedua datang dari teman lain yang mengenalkan Mas Oji pada seorang kuncen di daerah Kuningan. Awalnya prosesnya seperti “pembukaan”: Mas Oji diminta menginap beberapa hari di kamar, tidak boleh keluar kecuali ke kamar mandi, disuapi keyakinan bahwa sukses tinggal menunggu. Ia diminta rutin membakar kemenyan jam tertentu, menyiapkan kopi pahit, kopi manis, teh pahit, teh manis, air putih, roti tawar—ritual harian yang menggerus uang dan kewarasan.
Lalu syarat naik level: nyepi di gua, di tengah hutan, tiga hari tiga malam. Mas Oji sudah terlanjur basah. Motor digadaikan, HP digadaikan, utang makin panjang. Ia dibawa ke sebuah gua di balik batu besar. Di sana, malam-malam terasa seperti punya suara sendiri—tawa, bisik, langkah, dan sosok tinggi hitam yang muncul di mulut gua, menutup pintu seolah melarang manusia keluar.
Di malam yang paling ditakuti, “Ibu Ratu” akhirnya datang. Wujudnya ular yang ukurannya membuat kepala Mas Oji sulit menerima kenyataan: sebesar itu, diam menatap, desisnya seperti menggesek isi dada. Mas Oji menunggu sesuatu—pesan, petunjuk, hadiah—tapi yang ia dapat hanya tatapan, seakan ia sedang diperiksa.
Setelah rangkaian tirakat itu, Mas Oji sempat merasakan “bukti”: ia ikut turnamen biliar kecil-kecilan di daerah Trusmi dan mendadak juara satu. Uangnya sekitar ratusan ribu, tapi dampaknya besar—percaya dirinya meledak. Ia mengira ini jawaban. Ia merayakannya dengan mabuk bersama teman-teman, seolah kemenangan itu meterai bahwa jalannya benar.
Namun besoknya ia kembali main liar—dan kalah lagi. Seperti ada tangan yang hanya membiarkan ia menang di momen tertentu, lalu menamparnya lagi agar tidak lupa: belum selesai. Kuncen pun memanggil lagi, bilang ini “final”, dan dari mulut kuncen itulah kata paling dingin keluar: Ibu Ratu minta tumbal.
Awalnya Mas Oji mengira tumbal itu kambing, atau sesuatu yang bisa dibeli. Ternyata bukan. Kuncen menyebut tumbal yang diminta adalah orang terdekat, hubungan darah—ibu, kakak, adik. Dunia Mas Oji berhenti sebentar. Ambisinya masih besar, tapi di titik itu, naluri manusiawinya mendadak hidup: ia bisa menukar motor, bisa menukar HP, tapi menukar keluarga… rasanya seperti melempar jiwa sendiri ke jurang.
Mas Oji pulang dengan kepala penuh. Malam-malamnya dihantui mimpi buruk tentang keluarga sakit, berdarah, meninggal. Dan pagi itu seperti ada yang membuka pintu kesadaran: ia sadar ia sudah terlalu jauh. Ia menolak. Ia mundur, meski kuncen berkali-kali merayu: “Tinggal satu langkah lagi.”
Setelah mundur, hidup Mas Oji tidak langsung kembali normal. Ia merasa seperti “apes” beruntun—kerja susah, hidup seret, badan sering tidak enak, seperti ada yang masih nyangkut dan mengintai dari belakang. Ia juga merasa tertipu: uang habis, utang menumpuk, hasilnya nihil, dan ujungnya malah diminta nyawa orang rumah.
Sampai akhirnya ada teman yang menyarankan pemutusan—pembersihan hubungan gaib—agar apa yang menempel bisa dilepas. Mas Oji dibawa ke Petilasan Cimandung di Cirebon, tempat yang dikenal sebagai situs keramat dengan beberapa sumur tua. Tengah malam sekitar jam 12, ia dimandikan oleh seorang Abah, diikat dengan tali lalu “diputus” secara simbolik—digunting, dilepas, ditutup.
Dan anehnya, setelah ritual itu, Mas Oji merasa tubuhnya lebih ringan. Kepala yang semula penuh kabut, jadi agak terang. Ia mulai bisa bekerja lagi, hidupnya pelan-pelan kembali normal. Ia masih suka biliar, tapi tidak lagi seperti dulu—tidak lagi dikejar ambisi jadi raja bar, karena ia sudah paham: yang paling mahal bukan kemenangan, tapi ketenangan.
Namun kisahnya belum benar-benar berhenti di situ. Ketika ia hendak menceritakan pengalaman ini untuk sebuah syuting, ia mengaku mengalami kejanggalan seolah ada yang tidak ingin kisah ini dibuka. Pernah mendadak seperti mati suri—napas hilang, detak jantung tak terasa—keluarganya panik, mengaji, mengira ia sudah pergi. Lalu ia bangun lagi. Di kesempatan lain, baru keluar rumah untuk berangkat, HP-nya jatuh dan pecah parah—seolah ada “peringatan” supaya ia diam.
Mas Oji pada akhirnya menyimpulkan dengan cara yang sederhana: ia dulu mengejar kemenangan di meja biliar, tapi nyaris kalah sebagai manusia. Ia tidak bangga pernah masuk ke jalan itu—ia justru ingin orang lain melihat betapa tipis batas antara ambisi dan kebinasaan. Kadang yang paling menyeramkan bukan goa, bukan ular, bukan suara tawa di malam hari—melainkan momen ketika kita sadar: kita hampir menukar orang-orang yang kita sayang, hanya demi jadi nomor satu.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.