Mas John menyimpan kisah ini sejak lama—sejak tahun 2001, saat hidupnya masih berputar di kabin truk engkel, tidur di bak belakang, dan bangun dengan mata perih demi ngejar target bos. Ia bukan preman, bukan jagoan jalanan. Ia sopir yang kebetulan sering “kesenggol” urusan mistis, seolah ada magnet yang membuat kejadian aneh datang sendiri menghampiri.
Tahun itu, Mas John baru naik pangkat dari kenek jadi sopir. Dari yang biasa bawa mobil “goprak”, ia dipercaya pegang truk yang lebih baru. Rasanya seperti menang lotre versi sopir: bangga, semangat, dan ogah banyak istirahat—baru pulang, disuruh jalan lagi, ia tarik lagi.
Rute Mas John melintang jauh: Tangerang, Semarang, Cirebon, sampai pelabuhan. Dan seperti kebanyakan sopir jarak jauh, ia punya satu kebiasaan: kalau ngantuk, menepi. Lebih baik berhenti di warung kopi daripada memaksa dan ketemu maut di jalan.
Suatu dini hari di jalur Pantura Pemalang, Mas John berhenti dekat tambal ban dan warung kopi. Di situ ia diberi peringatan aneh oleh tukang tambal ban: jangan berhenti persis di dekat pohon besar, karena mobil yang berhenti di situ sering kena kendala. Mas John menanggapi setengah percaya—di pikirannya cuma kopi dan mata yang berat.
Belum habis kopinya, keneknya, Otoy, mendadak teriak-teriak dari dalam kabin. Suaranya seperti orang dihajar, seperti tubuhnya dibanting ke dinding truk. Mas John lari ke kabin, dan ia melihat wajah Otoy benjut, pucat, serta gemetar seperti baru pulang dari perang.
Paginya, truk yang semula sehat malah susah distarter. Tukang tambal ban menyuruh Mas John membeli rokok Gudang Garam Merah, diambil dua batang, lalu “dipakai” sebagai syarat permisi. Mas John menelan anehnya kejadian itu, tapi setelah rokok dinyalakan dan si tukang tambal ban berucap permisi, truk mendadak mau hidup seolah tak pernah mogok.
Mas John mengira kejadian itu cuma episode “jalan angker” yang akan selesai begitu matahari naik. Ia salah. Perjalanan berikutnya membawa Mas John sampai ke Pekanbaru, lewat Merak–Bakauheni, bersama seorang teman sopir bernama Hendrik dan istrinya. Saat pulang kosong dari Sumatra, di Lampung, Mas John melihat sosok lelaki merangkak dari parit, tubuhnya tampak seperti berlumuran merah.
Lelaki itu memanggil Mas John dengan logat Cirebon, bahkan menyapa seolah sudah kenal: “Woi, wong Cerbon…” Karena merasa “sesama daerah”, Mas John berhenti dan menolong. Lelaki itu naik, tapi minta duduk di belakang dan menutupi dirinya dengan tumpukan baju kotor—seperti orang yang sedang sembunyi dari sesuatu.
Di kapal ferry, lelaki itu akhirnya turun dan memperkenalkan diri: Kirman. Orang Sukabumi yang pernah punya istri di Cirebon, makanya lidahnya fasih memakai bahasa Cirebon. Mas John tidak banyak tanya. Ia hanya mengantar Kirman sampai sebuah kawasan Jakarta yang sejak dulu dikenal rawan—tempat orang besar berkumpul, tempat kekuasaan sering diukur dari siapa yang paling ditakuti.
Berbulan-bulan kemudian, Mas John dapat bongkaran di kawasan yang sama. Ia melihat Kirman lagi—kali ini bukan sebagai orang terluka yang minta tolong, tapi sebagai lelaki yang dikelilingi gerombolan bertubuh besar, berkacamata, berdiri seperti pagar hidup. Kirman menyambut Mas John hangat, bahkan memastikan tak ada yang berani “jajah” truk Mas John di area itu.
Dari situlah Mas John paham: Kirman bukan orang sembarangan. Ia preman—bukan preman kecil—tapi jago yang pegang kawasan. Di dunia pergudangan, nama seperti Kirman bisa lebih ditakuti dari seragam, lebih didengar dari plang peringatan.
Suatu hari, Kirman mendatangi Mas John ke garasi dan bicara pelan: ia punya masalah dengan orang lain, dan ia butuh “ilmu” untuk balas. Bukan sekadar berani, tapi kebal. Ia ingin jadi sosok yang kalau turun tangan, orang lain langsung mundur tanpa debat.
Mas John sebenarnya enggan terlibat, tapi ia punya teman bernama Sulaiman yang tahu tempat “belajar” ilmu kedugalan di daerah gunung. Perjalanan ke sana tiga jam nanjak, dan pulangnya bisa cuma setengah jam karena turunan tajam—jalur yang membuat kepala mudah pening kalau tidak terbiasa.
Di puncak, rumahnya sunyi. Penghuninya seorang tua yang dipanggil Uyut, hidup sendirian ditemani tiga ekor anjing. Tidak ada istri, tidak ada keluarga, hanya kesunyian yang seperti sengaja dipelihara. Mas John merasakan hawa yang berbeda: bukan dingin udara gunung, tapi dingin yang seperti menempel di tulang.
Uyut menjelaskan syaratnya: Kirman harus “tapak” 21 hari. Delapan belas hari puasa biasa—tidak makan yang bernyawa. Tiga hari terakhir lebih berat: nge-blank—tidak makan, tidak minum, tidak tidur, dan tidak bicara. Setiap menjelang ritual, Kirman mandi dulu di sendang koncoran, lalu tepat jam sepuluh malam harus duduk tafakur di atas batu hitam berbentuk lingkaran, seperti altar alam yang sudah dipakai entah berapa generasi.
Mas John yang hanya mendampingi saja sudah merasa capeknya bukan main. Tapi yang lebih menyiksa bukan lelah—melainkan godaan. Hampir setiap sore, ketika Kirman mandi di pancuran, Mas John mengaku melihat perempuan-perempuan cantik muncul di atasnya, tersenyum, menggoda, seolah ingin merobek fokus dan membuat ritual gagal.
Di malam ke-13, godaan itu berubah jadi ancaman. Muncul sosok perempuan cantik bergaun sutra merah, rambut panjang, wajahnya terlalu sempurna untuk terasa manusiawi. Ia “mengajak” Mas John, dan ketika Mas John menolak dalam hati, wajah perempuan itu lumer: mata copot, kulitnya runtuh, berubah jadi tengkorak. Mas John lari tunggang-langgang mencari Uyut, dan Uyut hanya berkata singkat: jangan diladeni.
Memasuki hari ke-19 saat Kirman mulai nge-blank, Mas John melihat hal yang membuatnya sulit tidur: pundak Kirman memancarkan cahaya, dan sesuatu seperti “masuk” ke tubuh Kirman. Bukan satu, tapi berlapis. Mas John menyebutnya hewan mitologi—naga, singa bersayap, angsa bermahkota—seolah Kirman sedang dijadikan wadah untuk sesuatu yang bukan milik manusia.
Malam berikutnya, yang datang mengelilingi Kirman bukan lagi hewan, tapi sosok-sosok seperti panglima kerajaan: tinggi besar, gagah, rambut panjang, wajah tampan yang tidak manusiawi. Mereka mengitari, menatap, lalu lenyap. Dan di malam terakhir, giliran hewan buas—harimau, ular besar—mendekat. Mas John hampir lari, tapi Uyut menahannya: kalau kamu lari, Kirman bisa celaka.
Setelah 21 hari selesai, Uyut bilang masih ada satu tahap: tes. Tengah malam jam dua belas, Kirman merapal mantra, melakukan jurus, lalu memukul batu tempat ia bertapa. Mas John mendengar bunyinya seperti tulang bertemu karang—ngilu. Batu terlihat masih utuh, tapi saat Uyut mendekat dan “menciduknya”, batu itu seolah hancur jadi pasir di tangan. Lulus. Ajian itu turun: Gelap Sayuto.
Kirman pulang sebagai orang baru. Bukan cuma badannya yang lebih “tebal”, tapi auranya seperti berubah. Ketika ia kembali pegang kawasan pergudangan di Jakarta, ada cerita yang Mas John dengar dari orang-orang gudang: Kirman kalau marah tidak selalu memukul orang. Kadang cukup “jarak jauh”—sekali “plek” dari lima meter, lawan sudah ciut. Dan kalau sampai kontak fisik, benda keras pun bisa remuk seperti tak punya harga diri.
Mas John pernah datang saat terjadi bentrok antar kelompok penguasa. Ia mencari-cari Kirman, tapi Kirman tidak turun tangan. Ia hanya duduk, mengawal dari samping, dan anehnya massa yang sedang ribut mendadak minggir ketika melihatnya. Seolah nama Kirman sendiri sudah cukup jadi sirene.
Namun kesaktian selalu punya umur—bukan karena ilmunya habis, tapi karena manusia sering lengah pada satu hal: pantangan. Uyut sudah menekankan aturan keras: boleh nakal apa pun, boleh minum, boleh tawuran, tapi jangan berhubungan dengan perempuan yang bukan muhrim. Kirman, dengan hidup keras dan ego besar, akhirnya melanggar.
Sejak pelanggaran itu, Kirman sendiri mengaku tenaganya seperti dicabut. Ia keluar-masuk penjara seperti biasa, tapi kali itu rasanya beda: pulang-pulang seperti orang kehilangan isi. Ia memohon pada Mas John untuk diantar kembali ke Uyut, berharap kesaktiannya dikembalikan. Uyut menolak memberi ajian baru, menolak menambal kelalaian yang bisa membahayakan Kirman sendiri. Kesaktian yang dulu membuatnya ditakuti, runtuh seperti abu ditiup angin.
Bertahun setelahnya, Mas John mendengar kabar pahit: Kirman akhirnya meninggal, disebut karena COVID. Bagi Mas John, itu seperti penutup yang dingin—seorang yang pernah membuat satu kawasan tunduk, akhirnya tumbang oleh sesuatu yang tidak bisa ia pukul, tidak bisa ia ancam, tidak bisa ia “plek” dari jarak lima meter.
Mas John menyimpan kesimpulan yang tidak terdengar heroik, tapi terasa jujur: ajian bisa membuat batu jadi pasir, bisa membuat orang mundur tanpa bicara, tapi tidak pernah bisa membuat manusia kebal dari kesombongan. Dan ketika kesombongan mulai mengatur langkah, pantangan dianggap remeh, maka kesaktian tinggal jadi cerita—sementara penyesalan jadi rumah yang harus ditempati sendirian.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.