Tahun 2012, Mas Abdul baru lulus sekolah dan mulai cari kerja. Alhamdulillah ia keterima di sebuah minimarket yang siap menempatkan karyawan ke wilayah Cirebon raya. Doanya sederhana: semoga dapat di Kota Cirebon biar dekat rumah. Dan doanya terkabul—tapi justru dari situlah pintu kisah paling gelap dalam hidupnya terbuka.
Hari pertama kerja, ia kaget melihat satu nama yang lama hilang dari hari-harinya: Mira. Teman SMA, sekaligus mantan yang dulu putus karena masalah lama. Mereka sama-sama kaget, sama-sama kikuk, lalu pelan-pelan jadi akrab lagi. Tiga minggu berlalu, rasa yang sempat padam itu nyala kembali—CLBK yang awalnya cuma nostalgia, berubah jadi niat serius di kepala Mas Abdul.
Mira memang cerewet, tipe yang kalau tali sepatu saja salah bisa diceramahin. Tapi kali ini, ia justru lebih banyak diam. Ada perubahan kecil yang Mas Abdul rasakan: Mira gampang melamun, sorot matanya sering kosong, dan beberapa kali terlihat seperti ketakutan pada sesuatu yang tidak bisa ia sebut.
Satu minggu sebelum Mira meninggal, Mas Abdul mengalami kejadian ganjil di gang dekat rumahnya. Saat motor masuk gang, Mira tiba-tiba teriak lalu lompat turun, lari balik ke jalan sambil nangis. Ia bilang melihat sosok tinggi besar berbulu, matanya merah, tersenyum mengarah padanya. Mas Abdul mencoba menenangkan, memilih tidak jadi mampir ke rumah—mereka belok ke kosan Mira saja. Kejadian itu terjadi menjelang magrib, di waktu yang biasanya membuat suasana terasa gampang berubah.
Lalu datang hari yang menyesakkan itu. Pagi mereka sempat berdebat soal Mas Abdul yang suka begadang dan pulang malam. Dalam capek dan emosi, Mas Abdul spontan mengucap kata “putus”—bukan benar-benar niat, tapi terlanjur keluar. Mira yang biasanya bawel hanya menjawab datar, “Ya udah.” Sore itu Mira pulang sendiri… dan malamnya Mas Abdul dapat SMS kabar duka: Mira kecelakaan, tertabrak truk, meninggal di tempat.
Mas Abdul berangkat melayat. Di rumah duka suasana penuh orang, jenazah dimandikan, disalatkan, lalu malam itu juga dikuburkan. Tapi di sela-sela semua itu, Mas Abdul sempat ke belakang untuk buang air kecil, dan dari jendela ia melihat sesuatu yang membuat lututnya nyaris lepas: ular hitam raksasa melilit pohon mangga, lebarnya sampai pohon itu seperti hilang tertutup badan ular. Ular itu menoleh—dan di kepalanya ada semacam mahkota kecil. Mas Abdul lari kembali ke kerumunan, memilih diam agar tidak merusak suasana duka.
Sejak malam itu, mimpi buruk dimulai. Enam hari berturut-turut Mira datang dalam mimpi: awalnya cantik, lalu wajahnya hancur, berubah-ubah wujud jadi sesuatu yang membuat Mas Abdul terbangun berkeringat. Di mimpi yang paling membuatnya muak, ia mencium Mira, lalu bibirnya terasa lengket seperti terkena cairan oli hitam pekat. Ketika bangun, rasa jijik itu seolah masih menempel.
Temannya menyarankan datang ke tahlilan tujuh hari. Dalam perjalanan ke rumah Mira, motor Mas Abdul mati total di jalan yang sepi saat magrib. Ada bapak-bapak muncul tiba-tiba menawarkan bantuan—motor disetep sampai warung—tapi begitu Mas Abdul menoleh, orang itu hilang. Yang lebih bikin dada dingin: ternyata lokasi mogok itu persis titik kecelakaan Mira. Seolah dari awal, ada sesuatu yang sedang “mengantar” Mas Abdul ke satu tujuan.
Di rumah duka, setelah tahlilan selesai dan orang-orang pulang, bapaknya Mira—Pak Samsul—meminta Mas Abdul jangan pulang dulu. Ia mengaku sering bermimpi Mira memanggil-manggil nama Mas Abdul. Mas Abdul pun jujur: ia memang ingin serius, bahkan sempat terpikir menikahi Mira. Pak Samsul hanya mengangguk, lalu berkata, “Ikut Bapak sebentar.”
Mereka dibawa ke kuburan, tepat ke makam Mira. Di sana Pak Samsul menyampaikan maksud yang terdengar “baik” tapi rasanya ganjil: ia ingin meritualkan nikah gaib agar arwah Mira tenang. Mas Abdul yang masih diliputi rasa bersalah mengiyakan—yang ia pikir cuma satu: kalau ini membuat Mira tenang, ia rela.
Kuncen datang membawa sesajen: kembang tujuh rupa, menyan, ayam cemani yang sudah disembelih berikut darahnya. Mahar yang diminta mendadak—Mas Abdul hanya punya Rp50.000. Akad dilakukan seperti nikah biasa. Begitu kata “sah” terucap, angin besar menghantam area kuburan dan terdengar suara cekikan, membuat semua orang diam beberapa detik. Kuncen lalu memberi Mas Abdul makanan seperti buras yang dicelupkan ke darah ayam cemani, menyuruhnya makan sebagai syarat, lalu memberi pantangan: pada malam Jumat tertentu, Mas Abdul tidak boleh keluar kamar dari sore sampai pagi.
Sejak ritual itu, Mas Abdul memang tidak lagi bermimpi buruk… tapi rumahnya jadi terasa “pengap” dan panas. Ponakannya bahkan menolak masuk rumah sambil menangis, menunjuk pohon mangga dan bilang ada “Kak Mira” duduk di situ. Beberapa hari kemudian, hal aneh lain terjadi: Mas Abdul jadi sering “nemu duit” di jalan—bukan receh, tapi sampai ratusan ribu bahkan jutaan. Ia sempat mengira itu rezeki, padahal itu seperti umpan yang sengaja dilempar agar ia lupa pada asalnya.
Di tengah “keberuntungan” itu, Mas Abdul mulai dekat dengan Winda, rekan kerja. Begitu mereka jadian, Winda tiba-tiba mimpi didatangi Mira membawa bayi sambil berteriak, “Jangan ganggu suami saya!” Besoknya, ibu Winda mengalami mimpi yang sama—padahal ia tidak kenal Mira. Dari situ Mas Abdul teringat pantangan malam Jumat yang hampir ia lupakan. Malam itu ia mengurung diri di kamar, mencoba bertahan meski hawa rumah terasa tidak nyaman.
Malam Jumat itu, mimpi terburuk terjadi. Mira datang memakai gaun pengantin, dan Mas Abdul mengalami kejadian “seperti nyata” dalam mimpi—lalu Mira berubah menjadi ular besar yang melilit tubuhnya sambil tertawa. Mas Abdul terbangun tapi seperti tidak bisa bergerak, lalu jatuh sakit seminggu. Anehnya, ketika dibawa ke dokter, hasilnya normal—panas yang dirasakan ibu dan Winda tidak terbaca di alat. Seolah sakit itu hanya “ditampakkan” pada orang-orang tertentu.
Keluarga memanggil Mang Aheng, paman Mas Abdul yang paham urusan spiritual. Begitu masuk rumah, Mang Aheng langsung bilang hawanya tidak enak. Setelah tirakat sebentar, ia membuka rahasia yang membuat Mas Abdul lemas: Mas Abdul sedang “dililit ular” secara gaib. Dan yang lebih mengejutkan, Mang Aheng menyebut sumbernya: Pak Samsul, bapaknya Mira, seorang juragan tanah yang kekayaannya besar tapi disembunyikan rapat. Menurut penglihatannya, Mira bukan kecelakaan biasa—Mira adalah tumbal yang “telat disetor.” Maka Pak Samsul mencari jalan supaya tumbal berikutnya bukan anaknya lagi.
Nikah gaib itu, kata Mang Aheng, adalah jebakan. Dengan “akad” itu, Mas Abdul dianggap masuk ke lingkar keluarga, menjadi jembatan—calon tumbal pengganti. Mas Abdul hanya bisa gemetar, mencampur sedih, marah, dan rasa bersalah yang tiba-tiba terasa dimanfaatkan.
Mang Aheng memutuskan harus ada “talak gaib” untuk memutus ikatan. Dua hari kemudian ia datang membawa dua orang pendamping, meminta saksi—teman Mas Abdul yang dulu ikut ke kuburan. Ritual dilakukan di kamar: sesajen mirip, dan Mas Abdul diminta menyediakan Rp100.000 sebagai syarat, lalu setelah selesai uang itu harus dibagikan ke tujuh pengemis.
Saat talak diucapkan, lampu kamar mati total. Salah satu pendamping Mang Aheng kesurupan, mendesis seperti ular. Dalam gelap itu, Mas Abdul merasakan seperti ada kain putih menempel, dan ia melihat Mira berdiri di sampingnya—wajahnya tertutup rambut, menangis. Mang Aheng menenangkannya, meminta Mira melepas, tidak mengganggu lagi. Mira lalu hilang disertai wangi yang pekat, sementara sosok yang kesurupan sempat melontarkan ancaman agar mereka tidak “mengusik urusan” sebelum akhirnya sadar, dan lampu kembali menyala.
Mas Abdul keluar malam itu juga untuk membagikan uang ke tujuh pengemis. Aneh, pengemis seperti “menghilang” dari titik-titik yang biasa ramai, membuat mereka berputar jauh sampai akhirnya pengemis ketujuh baru ditemukan di daerah Mundu. Setelah uang terakhir diberikan, wangi itu datang lagi—seolah ada yang mengantar tanda bahwa ikatan benar-benar putus.
Dua hari setelah talak gaib, kabar mengejutkan datang: Pak Samsul meninggal karena kecelakaan—dan tragisnya, pola kecelakaannya mirip Mira, bahkan di lokasi yang sama. Setelah itu, hidup Mas Abdul perlahan normal. Mimpi buruk berhenti, sakitnya hilang, “rezeki” nemu duit mendadak juga lenyap, seolah keran umpan ditutup.
Mas Abdul menutup kisahnya dengan satu kesimpulan pahit: cinta dan rasa bersalah bisa dipakai sebagai alat untuk menjerat orang ke lingkaran pesugihan. Nikah gaib yang katanya “biar arwah tenang” ternyata hanya cara licik untuk memindahkan tumbal dari anak sendiri ke orang lain. Dan ketika manusia mulai menukar akal sehat dengan jalan pintas, yang datang bukan cuma keberuntungan—tapi juga tagihan, pelan-pelan, sampai nyawa pun bisa jadi taruhan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.