Sejak pertama kali roda mobil rental itu meninggalkan Cirebon malam-malam, Mas Rudi cuma punya satu niat: bekerja. Ini order pertamanya sebagai sopir di usaha rental milik pamannya, dan konsumennya adalah teman sekolah sendiri—Topan—yang terdengar sangat serius saat memesan.
Topan bilang ingin pulang sebentar ke Brebes, ke kampung istrinya, Indah. Dua hari saja, sekalian menjenguk suasana lama. Tarif waktu itu masih murah, Mas Rudi ingat betul: empat ratus ribu untuk dua hari berikut sopir. Buat Mas Rudi yang baru lulus sekolah dan sedang semangat cari pengalaman, itu terasa seperti awal yang bagus.
Saat Mas Rudi menjemput ke kontrakan Topan, ada hal yang langsung mengganjal. Topan minta dibantu packing, dan di dalam kamar bukan cuma baju dan perlengkapan biasa—ada barang-barang yang bikin dahi berkerut: kelapa, jajanan pasar, kain putih seperti kafan, kain batik, cerutu, sampai ayam cemani hidup di kandang kecil. Topan menutupi dengan alasan “adat kampung” dan Mas Rudi memilih diam, karena ini teman sendiri.
Mereka berangkat sekitar jam delapan malam. Obrolan di jalan awalnya normal, sampai kira-kira dua jam kemudian mereka masuk ke wilayah yang makin sepi. Rumah-rumah warga mulai jarang, lampu jalan makin hilang, dan jalur yang mereka lewati berubah menjadi setapak di antara hutan bambu—tanpa rambu, tanpa patokan yang meyakinkan.
Akhirnya mobil berhenti di depan sebuah gubuk tua yang berdiri sendirian, persis di dekat pohon beringin besar dengan akar menggantung. Dindingnya anyaman bambu, atap genteng berlumut, penerangan cuma lampu cempor. Tak ada tetangga, tak ada suara kendaraan, yang ada hanya hutan dan rasa “asing” yang menempel di kulit.
Mas Rudi sempat minta izin buang air di belakang. Ia berjalan memakai senter HP, menuju jamban sederhana beberapa meter dari gubuk. Di situ ia mendengar kikikan perempuan dari dekat telinganya—jelas, dekat, dan tidak masuk akal. Ia menahan takut sambil berulang kali berucap “punten” dalam hati, lalu cepat-cepat kembali.
Di dalam gubuk, Topan dan Indah ternyata sedang berbicara dengan seorang kakek berkopyah/blangkon yang dipanggil Mbah Haji. Mas Rudi dikenalkan dengan kalimat yang makin membuatnya kebingungan: Mbah Haji mengatakan dirinya akan menjadi “penghulu”, dan ritual akan dimulai besok setelah magrib. Kata “ritual” di tempat terpencil seperti itu terdengar lebih dingin daripada angin malam.
Begitu Mbah Haji masuk kamar, Mas Rudi akhirnya mendesak Topan untuk jujur. Di balai depan gubuk, Topan mengaku: Indah mengajak ke desa ini karena di tempatnya, pesugihan pernikahan gaib dianggap lumrah. Indah percaya ritual itu “aman”, cukup mandi kembang, ada ijab kabul, lalu muncul uang mahar—bahkan katanya besar—dan setelahnya bisa pulang membawa rezeki instan.
Mas Rudi langsung menolak dalam hati. Ia mempertanyakan akal sehat: “Masa kamu mau menikahkan istri kamu sama dedemit?” Tapi Topan menenangkannya dengan cara yang justru membuat Mas Rudi terjebak: Topan bilang ia sengaja menyewa Mas Rudi karena Mas Rudi temannya—tidak akan meninggalkan mereka di tengah hutan. Ditambah iming-iming, kalau berhasil “senang bareng”.
Keesokan siang, persiapan dimulai. Ayam cemani disembelih, darahnya ditaruh di mangkuk, sesajen disusun rapi di atas tampah dan meja. Ada baskom besar yang ditutup kain putih—tempat mahar, kata Topan. Semua ditata seperti panggung, dan Mas Rudi hanya membantu sambil kepala penuh tanda tanya.
Menjelang magrib mereka melakukan mandi kembang di belakang jamban. Di momen itulah Mas Rudi merasakan kejanggalan paling sunyi: dari sejak masuk wilayah itu, ia tidak mendengar azan sama sekali—subuh tak terdengar, magrib pun tak terdengar—seolah desa itu berada di bawah “selimut” yang menutup suara ibadah. Heningnya terasa tidak wajar, seperti sengaja diciptakan.
Malam tiba. Mereka duduk menghadap meja lesehan. Kursi sebelah kanan Indah dikosongkan—katanya untuk “pengantin pria”. Mbah Haji berpesan: apa pun yang terasa nanti, jangan kabur. Kalau lari, bahayanya justru lebih besar. Pesan itu membuat Mas Rudi memilih menunduk dan membaca apa pun yang ia hafal, sementara perutnya mulai mual tanpa sebab.
Ketika mantra-mantra dilantunkan, angin mendadak menerpa kuat sampai beberapa lampu cempor redup dan mati. Bersamaan dengan itu muncul bau singkong bakar bercampur anyir—dua aroma yang seharusnya tidak hadir di ruangan sekecil itu. Dalam remang, Mas Rudi melihat Indah menjabat tangan Mbah Haji sambil mengucap kata yang diminta.
Lalu sesuatu muncul di sisi kanan Indah: sosok tinggi besar berbulu, tegap seperti manusia, dan auranya menekan napas. Mas Rudi ingin pingsan, tapi ia teringat pesan “jangan kabur”. Ia menahan diri sekuat-kuatnya, berharap ini cepat selesai.
Setelah prosesi ijab kabul selesai, Indah dibawa masuk kamar bersama Mbah Haji. Mbah Haji kembali berpesan: kalau ada suara apa pun dari dalam, jangan digubris—itu bagian dari “malam pertama” ritual. Mas Rudi dan Topan ditinggal di luar, dengan rasa takut yang tidak punya tempat untuk ditaruh.
Beberapa menit kemudian, Topan mendekati baskom yang ditutup kain putih. Saat kain dibuka, benar saja—uang pecahan seratus ribu menumpuk banyak, sampai seperti memenuhi wadah besar. Topan kalap, memasukkannya ke tas.
Namun dari dalam kamar, Indah menjerit: ia menangis, menolak, dan berulang kali bilang ia tidak mau “mengandung anak setan”. Topan yang semula sibuk uang, akhirnya naluri suaminya muncul. Ia mendobrak pintu kamar.
Mas Rudi sempat melihat Mbah Haji dalam kondisi yang membuat darahnya dingin: matanya merah menyala, sikapnya bukan seperti kakek biasa, dan suasana kamar terasa berat. Topan memilih menarik Indah keluar, lalu mereka bertiga kabur membawa uang itu, meninggalkan gubuk di tengah hutan seolah baru saja menyalakan api di tempat yang tak seharusnya disentuh.
Di perjalanan pulang, mobil seperti dipukul dari luar. Lalu tiba-tiba terasa seperti “ditindih”, suspensi turun-naik, mesin mati hidup lagi seolah ada yang memainkan dari atas. Setelah mobil kembali menyala, Mas Rudi tancap gas tanpa menoleh. Indah menangis terus, Topan tetap sok yakin: katanya makhluk begitu tak akan mengejar sampai Cirebon.
Malam itu mereka menginap di kontrakan Topan karena mobil rusak dan bengkel sudah tutup. Mas Rudi tidur di ruang tamu, tapi ia bermimpi jelas: ia berada di depan gubuk, sosok berbulu itu muncul, menudingnya, lalu memanggul Indah dan membawanya naik ke pohon beringin sampai lenyap.
Pagi harinya, Topan membangunkan Mas Rudi dengan wajah panik: Indah hilang. Bukan cuma Indah—tas berisi uang pun ikut raib. Pintu rumah terkunci, barang Indah banyak tertinggal, tapi orangnya lenyap seperti ditelan udara.
Dengan putus asa mereka kembali ke hutan itu. Kali ini jalan terasa memutar-mutar—gubuknya seperti disembunyikan. Sampai akhirnya mereka melihat sosok perempuan berjalan pelan memakai kemben, mirip Indah. Mereka mengejar, tapi langkah mereka terasa berat seperti lari di dalam air. Perempuan itu seolah menuntun… sampai gubuk itu muncul kembali di hadapan mereka.
Begitu masuk, gubuk kosong. Tak ada Indah, tak ada Mbah Haji. Topan marah, berteriak menantang, memaki makhluk yang ia anggap mencuri istrinya. Saat itu pintu depan mendadak membanting sendiri, suara gedoran balasan muncul dari luar, dan suasana berubah seperti perang yang tak kelihatan.
Mas Rudi dan Topan sempat keluar, lalu tubuh mereka mendadak kaku—tak bisa bergerak, tak bisa bicara—persis seperti mimpi. Sosok berbulu itu muncul lagi, memanggul Indah, menuding mereka sambil mengucap bahasa yang tidak dipahami. Mbah Haji ikut muncul dalam wujud yang menyeramkan, marah dan melontarkan kutukan: mereka dianggap serakah, sombong, dan harus “merasakan akibatnya”.
Mas Rudi pingsan. Ketika sadar, ia sudah berada dekat mobil, pagi hari, seolah semua kejadian semalam hanya mimpi—padahal rasa takutnya masih menempel di kulit. Mereka pulang ke Cirebon membawa Topan yang sudah mulai linglung, lalu mendatangi orang tua Topan untuk meminta pertolongan.
Beberapa hari kemudian, Topan dibawa ke beberapa kiai untuk diruqyah. Hasilnya pahit: katanya Topan sudah terlanjur masuk jalan syirik, menantang, dan ritualnya tidak diselesaikan sesuai syarat. Sejak itu Topan makin jatuh, pikirannya rusak, hidup seperti orang kehilangan arah—hingga akhirnya dirawat di rehabilitasi kejiwaan. Indah sendiri tak pernah ditemukan lagi, seolah benar-benar “dibawa” ke alam yang tidak bisa dijangkau logika.
Mas Rudi mengaku trauma panjang. Ia sempat mimpi-mimpi Indah minta tolong, dan sampai bertahun-tahun bau singkong bakar seperti masih menempel pada mobil yang dulu dipakai ke sana. Ia memilih satu cara untuk bertahan: menjauh dari rasa penasaran, memperbanyak pengajian, dan menutup pintu yang pernah kebuka malam itu.
Kisah ini meninggalkan pelajaran yang keras: jangan tergoda kaya instan, jangan menganggap ritual gelap sebagai jalan keluar, dan jangan menantang sesuatu yang kita sendiri tidak paham aturannya. Sekali melangkah ke wilayah itu, yang hilang bisa bukan cuma uang atau kewarasan—tapi juga orang yang kita sayangi, lenyap tanpa kabar, tanpa jejak, dan tanpa bisa dipulangkan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.