Tahun 2013, Teh Sarah sedang ada di fase hidup yang “nggak ada rem”—tiap malam open table di pub Jakarta, sawer ke siapa saja, dan uang berputar seperti tidak punya habisnya. Dari luar orang melihatnya sebagai pelanggan VVIP yang selalu disambut, tapi di balik hingar-bingar itu, Teh Sarah menyimpan satu kenyataan: dunia malam itu bukan cuma soal musik dan minuman, tapi juga soal persaingan, iri hati, dan “jalan gelap” yang dianggap lumrah.
Karena terlalu sering datang, Teh Sarah jadi dekat dengan para LC dan pekerja hiburan di sana. Mereka ramah, cepat akrab, dan banyak yang “nempel” karena Teh Sarah dikenal royal. Di tengah keramaian itu, Teh Sarah berkenalan dengan seorang LC senior yang paling mencolok: sebut saja Putri—sosok “diamond”, kelas tertinggi di tempat itu, dan disebut-sebut ketua gengnya.
Putri bukan cuma cantik, tapi pintar bikin orang nyaman. Cara bicaranya halus, pembawaannya santai, dan ia tahu persis kapan harus tertawa, kapan harus menenangkan. Bahkan Teh Sarah yang sama-sama perempuan pun mengakui, Putri itu punya aura yang bikin orang betah—apalagi laki-laki yang datang dengan dompet tebal dan ego yang minta disanjung.
Tapi ada satu malam yang bikin Teh Sarah heran. Putri yang biasanya “gacor”—bolak-balik dibooking—mendadak terlihat sepi. Ia cuma sebentar dibawa tamu, lalu balik lagi dan duduk lama tanpa pelanggan. Teh Sarah sempat menganggap itu kebetulan, sampai beberapa hari berikutnya kejadian yang sama terulang.
Pada suatu sore, Putri datang dengan wajah kusam dan nada yang berbeda. Ia curhat pelan: beberapa minggu terakhir ia sepi, nyaris tidak ada yang booking, padahal biasanya uang jutaan per malam. Putri merasa seperti ada yang “ngerjain”, dan kecurigaannya mengarah ke orang terdekat dalam gengnya sendiri—seorang teman bernama Yulis.
Teh Sarah yang pernah merasakan jatuh-bangunnya dunia malam, refleks menolong. Ia sempat menawarkan bantuan uang untuk kebutuhan Putri—setidaknya agar Putri tidak tercekik biaya apartemen dan kebutuhan harian. Tapi yang Putri takutkan bukan sekadar uang, melainkan rasa seperti “ditarik turun” oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Beberapa malam kemudian, Teh Sarah melihat Putri berada di satu sudut bersama sekelompok tamu yang mulai kasar. Ada momen ketika Putri seperti dipaksa minum, dicekoki, bahkan disudutkan sampai seperti pelecehan. Teh Sarah naik pitam, maju, dan terjadilah keributan. Putri akhirnya dibawa pulang supaya selamat, tapi setelah malam itu, Teh Sarah justru jarang sekali melihat Putri muncul lagi.
Kecurigaan Teh Sarah semakin kuat. Ia mendatangi apartemen Putri—dan di sanalah ia melihat Putri tergeletak lemas, pucat, badan ngilu seperti ditusuk-tusuk, sulit bahkan untuk memegang ponsel. Putri mengaku sudah ke dokter, tapi hanya dibilang demam, sementara yang ia rasakan jauh lebih berat dan “tidak normal”.
Putri lalu meminta Teh Sarah menghubungi saudaranya di kampung, Mas Suryo. Malam itu juga, Mas Suryo datang membawa orang pintar—sebut saja Mbah Walid. Di kamar apartemen, proses penyembuhan dilakukan, dan barulah terbongkar: Putri kena kiriman santet “sebadan-badan”, dan pelakunya diduga kuat adalah orang dekat yang iri—yang ciri-cirinya mengarah pada Yulis.
Putri tidak cuma ingin sembuh. Ia ingin “balik lagi”, ingin merebut posisinya, ingin membalas rasa diinjak-injak. Dari situlah muncul rencana yang lebih gelap: Putri akan melakukan ritual pesugihan—bukan di tempat biasa, melainkan di jalur kaki Gunung Merapi, dengan kuncen setempat yang dikenal bisa “membuka perjanjian”.
Persiapan dilakukan cepat. Ada kembang tujuh rupa, buah-buahan, kopi, tumpeng dengan ayam cemani, bahkan kepala kambing yang dibungkus karung. Tapi yang paling aneh adalah sebuah peti kayu kecil—semacam kotak perhiasan—yang harus dibuat oleh Putri sendiri dari campuran tiga jenis pohon: randu, beringin, dan asem jawa.
Malam itu mereka berangkat: Teh Sarah, Putri, Mas Suryo, dan Mbah Walid. Perjalanan terasa ekstrem—masuk jalur setapak gelap, rumah kuncen terpencil tanpa tetangga, hutan seperti menelan suara. Di sana mereka bertemu kuncen bernama Mbah Sukmo. Setelah sampai, Mbah Walid justru pamit pulang—seolah ada aturan: yang boleh lanjut cuma Putri dan “pendamping” tertentu.
Ritualnya tidak dilakukan di rumah utama, melainkan di bangunan lain di belakang—ruang tanah beralas tikar, atapnya bolong-bolong, dan udara di dalamnya terasa lembap serta berat. Putri diminta ganti pakaian seperti pengantin dan duduk di depan sesajen. Ia juga diberi syarat: jangan membuka mata, apa pun yang terjadi harus diikuti.
Saat Mbah Sukmo masuk ke ruang kecil, Putri dibiarkan sendirian. Dari cerita Putri setelahnya, ia mendengar geraman, lalu merasakan kehadiran makhluk besar yang mendekat. Malam itu, Putri mengalami kejadian yang membuatnya yakin “perjanjiannya diterima”—sebuah pertemuan gaib yang ia gambarkan sebagai puncak kenikmatan sekaligus rasa takut yang bercampur jadi satu.
Setelah itu, Mbah Sukmo keluar lagi dan menyuruh Putri membuka mata. Dari atap yang bolong, Putri melihat sosok perempuan yang luar biasa cantik turun seperti bayangan cahaya. Putri disuruh meminum air tertentu, dan setelah itu, sosok perempuan itu disebut “masuk” ke dalam tubuh Putri—sebagai bagian dari perjanjian pengasihan: membuat Putri kembali laku, lebih memikat, lebih “menarik” siapa pun yang memandang.
Ritual dianggap berhasil jika peti kayu yang dibawa pulang berisi “tanda”. Dan benar saja: ketika mereka kembali ke apartemen, peti itu dibuka—isinya emas batangan. Putri menangis, teriak-teriak, dan percaya bahwa hidupnya sudah “diisi ulang”: bukan cuma wajahnya yang kembali bercahaya, tapi juga pintu rezeki yang seolah dibukakan paksa.
Hari-hari setelahnya, Putri benar-benar berubah. Ia tampak jauh lebih cantik dari sebelumnya, auranya menyala, dan ia kembali jadi primadona. Ia bergerak dari satu meja ke meja lain tanpa henti—bukan lagi “menunggu dibooking”, tapi seperti magnet yang didatangi sendiri oleh para tamu.
Yang paling mengejutkan, Putri mulai punya pelanggan kelas kakap—orang yang disebutnya salah satu “orang terbesar di Indonesia”. Dari situlah cerita “pejabat dan konglomerat ngantri” muncul: Putri jadi semacam rahasia mahal, perempuan yang disimpan, dijaga, dan diburu karena efek pengasihan yang membuat laki-laki seperti kehilangan logika.
Putri bahkan memakai “bibit” emas itu untuk mengubah dirinya lebih jauh: operasi ini-itu, perawatan, sampai ia merasa dirinya naik kelas berkali-kali lipat. Tapi Teh Sarah mulai curiga: tidak mungkin semua ini tanpa harga. Dan benar—Putri akhirnya mengaku ada konsekuensi mengerikan: setiap tahun harus ada tumbal.
Tumbalnya bukan barang, melainkan manusia—laki-laki yang pernah “dekat” dengannya, yang pernah merasakan tubuhnya, yang pernah tergila-gila lalu memberi uang besar. Kematian mereka acak: ada yang kecelakaan, ada yang mendadak sakit, ada yang jantung. Putri sadar dan sengaja menjaga pola itu—bahkan diam-diam mencari laki-laki lain untuk “dijadikan jatah”, supaya target tumbal tidak jatuh pada satu orang yang masih ia butuhkan.
Lalu datang tahun 2018. Putri pulang kampung membawa mobil baru, baju-baju lebaran, sembako, perhiasan—niatnya pamer, menunjukkan pada tetangga bahwa ia sudah sukses. Tapi ia lupa satu pantangan paling fatal dalam perjanjian itu: Putri tidak boleh bersuci, tidak boleh wudu, tidak boleh melakukan ritual-ritual ibadah tertentu.
Karena terlalu ingin terlihat “paling kinclong” saat Lebaran, Putri ikut salat Id. Begitu pulang, ia langsung pingsan. Tubuhnya panas seperti melepuh, merah seperti tersiram air panas, dan ia tidak sadar-sadar. Orang tuanya panik, melihat riwayat panggilan di ponselnya, lalu menghubungi Teh Sarah karena nama itulah yang paling sering tertera.
Teh Sarah datang, dan benar: Putri tergeletak seperti bukan Putri yang ia kenal. Cantik yang kemarin seperti hilang dalam sehari. Putri tidak meninggal cepat—ia malah “menggantung” berbulan-bulan, makin kurus seperti tengkorak hidup. Lebih menyakitkan lagi, pelanggan kakapnya justru lepas tangan, seolah pengaruh pengasihan itu putus begitu pantangan dilanggar.
Keluarga lalu mencari ustaz dan melakukan serangkaian pembersihan: tawasul berhari-hari, sedekah subuh, tahlilan, sampai akhirnya “yang menempel” bisa ditarik keluar. Tapi kenyataannya pahit: Putri sebenarnya sudah tidak ada, yang bertahan hanyalah sesuatu yang bersemayam dalam tubuh itu—dan ketika akhirnya lepas, Putri benar-benar pergi.
Saat Teh Sarah membantu membereskan barang-barang Putri, ia sempat membuka peti kayu itu sekali lagi. Emasnya sudah tidak ada. Yang tersisa hanya serbuk-serbuk kering seperti daun, sementara harta Putri habis untuk berobat, dijual satu demi satu, lenyap tanpa sempat dinikmati dengan tenang.
Kisah Putri jadi pelajaran yang menampar: cantik, laku, uang, dan kuasa bisa datang terlalu cepat—tapi ketika sumbernya salah, semuanya runtuh dengan cara yang lebih kejam. Dan Teh Sarah menutup ceritanya dengan kalimat yang terasa seperti peringatan untuk siapa pun yang tergoda jalan pintas: “Buat apa lima tahun ‘di atas’, kalau ujungnya satu kesalahan kecil bisa membuka pintu kutukan besar—dan semua yang indah itu diambil balik, sampai tak bersisa.”
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.