Mas Rully awalnya cuma niat menjalankan kegiatan Jumat Berkah bareng komunitasnya. Mereka patungan, bikin makanan sebanyak mungkin, lalu keliling membagikan ke warga yang membutuhkan. Niatnya sederhana: berbagi, pulang, lalu tidur tenang.
Di salah satu desa yang mereka datangi, Mas Rully mampir ke sebuah toko kelontong kecil yang mirip warung Madura. Di situ ada seorang perempuan paruh baya melayani, sementara di depan toko ada bapak-bapak jualan barang pecah belah seperti gayung dan ember. Mas Rully menyerahkan bingkisan, lalu pamit.
Bapak itu ternyata memperhatikan Mas Rully lebih lama. Ia mendekat, salaman, dan tiba-tiba bertanya apakah boleh main ke rumah Mas Rully karena ingin menawarkan sebuah keris. Mas Rully mengiyakan tanpa banyak prasangka—dia memang dikenal kolektor barang antik.
Dua hari kemudian, bapak itu datang benar-benar membawa “buntelan” kain putih. Yang bikin Mas Rully heran, si bapak tidak datang sendiri, tapi membawa anak perempuannya. Anak itu berjilbab hitam, duduk menunduk, nyaris tidak bicara, dan sejak mereka masuk rumah Mas Rully, ada bau amis menyengat yang terasa bahkan dari jarak satu meter.
Si bapak memperkenalkan diri sebagai Pak Andi, sementara anaknya bernama Iin, usianya sudah menginjak sekitar empat puluh tahun. Pak Andi bilang, Iin sulit sekali dapat jodoh—bukan karena kurang cantik, tapi orang-orang selalu menjauh tanpa alasan jelas. Mereka mencurigai ada “sesuatu” yang menempel, entah dari keris, entah dari masa lalu keluarga.
Mas Rully membuka buntelan itu dan melihat keris panjang dengan pamor yang menurutnya tidak sembarangan. Pak Andi ingin “menghibahkan” keris itu, bukan menjual, tapi dengan satu catatan: ia benar-benar butuh pertolongan untuk menyelamatkan anaknya. Dari nada suaranya, Mas Rully bisa merasakan ini bukan sekadar urusan benda pusaka.
Ketika Mas Rully menyinggung soal “ada rahasia yang disembunyikan”, reaksi Iin berubah. Ia tiba-tiba mengangkat wajah dan menatap Mas Rully seperti orang yang sudah menahan beban bertahun-tahun. Dengan suara pelan, Iin bilang ia tahu semua yang pernah dilakukan ibunya—hal yang selama ini membuat keluarga mereka kaya mendadak, tapi sekaligus meninggalkan kutukan yang menetes ke dirinya.
Iin bercerita, ibunya dulu dikenal sebagai “bekas lurah”. Setelah jabatan selesai dan usaha keluarga—pabrik tahu—mulai bangkrut, ekonomi mereka ambruk. Dalam kepepet, ibunya nekat pergi mencari jalan gaib demi uang, bahkan sempat bilang hal mengerikan: apa pun akan ia lakukan asal anaknya bisa bahagia.
Perjalanan itu membawa ibunya ke sebuah gua yang dipercaya orang sebagai tempat pesugihan. Ada juru kunci yang mengingatkan konsekuensi berat, tapi ibunya tetap bersikeras. Dari situlah “perjanjian” dimulai—yang membuat ibunya, pada waktu-waktu tertentu, berubah wujud menjadi kuntilanak untuk mencari “makanan”, lalu pulang dan mendapati uang muncul memenuhi kamar ritual.
Sebagai anak SMP, Iin dulu melihat sendiri perubahan itu dengan mata kepala sendiri. Ia melihat ibunya memakai kain putih, lalu pergi lewat pintu belakang dan menghilang dalam gelap. Ia juga melihat ibunya pulang dengan tawa hampa, lalu membangunkan Iin untuk menunjukkan satu kamar penuh uang—seolah ingin membuktikan bahwa semua itu “berhasil”.
Sejak saat itu, hidup keluarga mereka berubah drastis. Pabrik yang tadinya mati seperti “hidup lagi”, barang-barang mewah mulai datang, dan tetangga kampung mulai curiga: dari mana sumbernya? Namun kecurigaan warga cuma jadi bisik-bisik, karena tak ada yang berani menuduh secara terang-terangan.
Masalahnya, teror tidak berhenti sebagai cerita keluarga. Di kampung, mulai ada kejadian-kejadian yang membuat warga ketakutan, terutama tiap malam tertentu. Beberapa orang mengaku mendengar suara tawa di kegelapan, sebagian lagi bersumpah melihat sosok putih melayang di sekitar rumah yang ada ibu hamilnya.
Pada satu kejadian, rencana “mencari korban” itu gagal. Ada seorang ustaz yang menyadari ada sosok bukan manusia mendekati rumahnya saat istrinya sedang hamil besar. Ustaz itu berteriak mengusir, menyebut sosok itu kuntilanak, dan sejak malam itu warga mulai menghubung-hubungkan semuanya dengan satu nama: si “bekas lurah” yang mendadak kaya.
Warga akhirnya berkumpul. Suasananya kata Iin seperti kerumunan besar—udah kayak demo sembako—semua orang emosi, semua orang merasa keluarganya terancam. Mereka geruduk rumah ibunya, niat awalnya menanyakan baik-baik, tapi amarah yang dipendam bertahun-tahun membuat situasi cepat memanas.
Saat pintu digedor, ibunya panik dan berusaha kabur. Dalam kepanikan itu, ia sempat berubah wujud di kamar, dan momen itulah yang membuat warga merasa “pembuktian” terjadi di depan mata. Keributan pecah, dan akhirnya rumah itu dibakar.
Pak Andi dan Iin selamat karena lebih dulu kabur lewat belakang. Mereka membawa tas berisi uang dan berkas penting—sertifikat, dokumen keluarga—lalu menghilang dari desa. Sejak itu, kabar tentang nasib sang ibu simpang siur, tapi yang jelas: nama keluarga mereka sudah jadi legenda kelam di kampung itu.
Sayangnya, kutukan tidak ikut terbakar bersama rumah. Iin tumbuh dengan kondisi aneh: bau amis yang tidak hilang meski sudah pakai parfum, sulit bersosialisasi, dan merasa hidupnya seperti dikunci. Iin bahkan mengaku pernah mencoba “membeli” laki-laki demi merasakan jadi perempuan normal, tapi selalu gagal—orang itu kabur tanpa sebab jelas.
Mas Rully mendengar semuanya sampai selesai, lalu menyimpulkan satu hal penting: sumber masalahnya bukan keris. Ia justru mencurigai kain putih—kain yang pernah dipakai ibunya saat ritual—yang tanpa sadar masih disimpan dan bahkan sering dipakai Iin seperti selimut. Benda itu seperti “jembatan” yang membuat dampak perjanjian menetes ke tubuh anaknya.
Mas Rully kemudian meminta izin untuk membantu, tapi dengan syarat: keluarga harus benar-benar ridha dan siap menjalani proses pemutusan. Ia menemui gurunya, lalu mengajak Iin menjalani pembersihan di sebuah tempat keramat yang dikenal warga sebagai lokasi orang-orang mencari jodoh. Di sana, kain lama diputus, doa dibacakan, dan Iin dimandikan sampai beberapa kali—Mas Rully menyebut bau di tubuh Iin berubah bertahap, dari anyir menjadi wangi.
Setelah proses itu, Iin sempat pingsan, lalu perlahan pulih. Beberapa hari kemudian ia berpuasa sebagai bentuk syukur, lalu datang kembali mengucapkan terima kasih. Mas Rully memilih membakar kain lama itu, menutup pintu yang selama ini jadi sumber “penitisan” kutukan.
Kabar baiknya, hidup Iin berangsur normal. Ia mulai lebih segar, lebih percaya diri, dan menurut Mas Rully, auranya berubah—bukan lagi seperti orang yang tertutup kabut. Bahkan akhirnya Iin disebut sudah punya tunangan, sesuatu yang dulu terasa mustahil baginya.
Kisah ini meninggalkan pelajaran yang menusuk: rezeki yang dipaksa lewat jalan gelap sering datang bersama teror yang menular ke keluarga. Dan saat satu kampung sudah kehilangan rasa aman, kemarahan bisa meledak—membakar rumah, memutus silsilah, dan menyisakan trauma panjang. Pada akhirnya, yang paling mahal bukan uang yang memenuhi kamar, melainkan nyawa, martabat, dan hidup anak yang harus menanggung dosa orang tuanya.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.