Awalnya Mas John cuma pengin hidupnya cukup. Tahun 2010, dia masih kerja sebagai sopir, sementara istrinya buka warung nasi goreng kecil di depan rumah—pinggir jalan, ada sedikit halaman, jadi enggak perlu dorong gerobak seperti pedagang lain. Omzetnya standar, tapi buat mereka itu sudah lumayan untuk nambah kebutuhan rumah tangga.
Mas John termasuk orang yang enggak neko-neko. Bahkan saat harga nasi goreng di luar sudah naik, istrinya masih bertahan jual lebih murah karena baru merintis. Mereka jalan pelan-pelan, niatnya saling bantu, bukan cari kaya mendadak.
Sampai suatu hari mobil Mas John rusak cukup parah. Dia jadi banyak waktu di rumah, bantuin istri: ngebungkus, cuci piring, ringkesin meja. Di momen “nganggur sementara” itulah, peristiwa aneh yang kelihatannya kecil justru jadi pintu masuk masalah besar.
Sore hari menjelang magrib, cuaca gerimis. Mas John kebelet buang hajat, sementara kamar mandi dipakai anaknya. Karena di kampung, dia memilih lari ke sungai yang jaraknya sekitar seratusan meter lebih dari rumah. Sambil bawa sarung dan payung, dia jongkok di tangkringan bambu yang biasa dipakai warga.
Di tengah bunyi air sungai yang sedang agak tinggi, Mas John melihat benda hanyut—seperti kotak kacamata warna biru. Dalam kepalanya, itu barang “lumayan”: kalau benar kacamata bagus, bisa dipakai nyetir. Dia kait-kait pakai kayu, dorong ke pinggir, lalu ambil dan lempar ke darat.
Kotak itu dibawa pulang, disimpan di lemari buffet, dan dilupakan begitu saja. Mas John langsung kembali bantu istrinya jualan, tanpa kepikiran untuk membuka kotak itu. Tapi malam itu juga, kejutan pertama datang—bukan berupa teror, melainkan pembeli.
Yang biasanya lima kilo nasi habis tengah malam, mendadak habis jam sembilan malam. Mas John menganggap itu rezeki: mungkin lagi hoki, mungkin lagi ramai. Ia bersyukur, ringkesin warung lebih cepat, bahkan sempat mikir, “Wah, akhirnya bisa istirahat sore-sore.”
Masalahnya, malam berikutnya bertepatan dengan malam Jumat Kliwon—hari yang biasanya istrinya libur jualan. Di malam itu, Mas John mimpi aneh: anak kecil jumlahnya bukan puluhan, tapi seperti ratusan sampai hampir seribu. Wujud mereka bukan tuyul, melainkan seperti “jurig cai” (hantu air) atau kalau istilah Cirebon disebut “janggitan”: tubuh kecil setengah meter, telinga panjang, bersiung, dan auranya bikin dada sesak.
Dalam mimpi itu, mereka teriak satu kalimat yang terus mengulang: minta “bapaknya” dikembalikan. Mas John bangun pagi bukan cuma merinding—tapi lumpuh. Tangan dan kakinya enggak bisa digerakkan. Istrinya panik, nangis, mengira suaminya kena stroke.
Tiga hari Mas John hanya bisa terbaring. Istrinya akhirnya mencari bantuan ke orang pintar. Yang bikin Mas John makin kaget, si orang pintar itu langsung menembak tepat: suaminya menemukan “kotak biru”. Istri Mas John pulang, bertanya, dan Mas John baru ingat soal kotak kacamata yang dia ambil dari sungai.
Kotak itu akhirnya dibuka. Di dalamnya ada keris kecil. Dari sinilah semuanya seperti tersambung: larisnya nasi goreng, mimpi anak-anak kecil, sampai tubuh Mas John yang mendadak “dikunci”. Orang pintar bilang, keris itu bisa membantu—tapi juga bisa mencelakai, tergantung bagaimana “maunya” si penghuni.
Mas John yang waktu itu masih tertutup oleh euforia dagangan meledak, nekat bicara “minta dibantu” untuk usaha istrinya. Malamnya, dia mimpi didatangi kakek-kakek berpenampilan jelek, seperti beruntusan dan bentol-bentol, pakai baju abu-abu. Sosok itu tidak menuntut panjang lebar—cuma mengeluarkan bunyi yang sama berulang, seolah memberi kode, seolah menandai sesuatu yang belum Mas John pahami.
Dan benar saja, setelah itu warung makin menggila. Dari lima kilo jadi delapan, lalu lima belas kilo nasi pun habis sebelum jam sepuluh malam. Omzet per malam bisa tembus satu setengah sampai dua juta—angka yang besar untuk tahun segitu. Dalam sekejap, rumah bisa direnov sedikit-sedikit, motor bisa ganti, kebutuhan terpenuhi cepat.
Namun rezeki cepat itu mulai dibarengi kejanggalan. Ada pelanggan yang beli saat magrib dengan wajah ketakutan, lalu datang lagi esoknya dan bilang dia melihat tiga anak kecil di sekitar warung: satu mengadang di jalan, satu duduk di meja, satu menatap istrinya masak—seakan “menarik” orang agar membeli nasi goreng di situ. Mas John masih bisa mengelak, masih bisa menganggap itu halusinasi orang.
Tapi teror berikutnya menyasar istrinya. Setiap tiga malam sekali, istrinya mimpi didatangi anak-anak kecil itu—minta disusui, antri seperti tidak ada habisnya. Istrinya bangun dalam kondisi lemas, makin lama makin sakit-sakitan. Dan Mas John baru sadar, ini bukan sekadar mimpi: istrinya seperti dipaksa menjalani sesuatu yang nyata.
Puncaknya, Mas John sengaja begadang untuk memastikan. Pada malam “jadwal” itu, ia melihat istrinya bergerak seperti sedang menyusui—padahal keadaan tidur. Setelahnya istrinya pucat dan payah, seperti habis diperas tenaga. Dari situ Mas John mulai mengerti: ada sesuatu yang sedang memakan mereka pelan-pelan.
Gangguan juga merembet ke anaknya. Si anak sempat melihat Mas John seperti sedang menggoreng nasi bercampur serangga, sampai protes ketakutan. Lalu muncul sosok kakek berwajah mengerikan yang memanggil anaknya dari belakang rumah. Teror mulai berani menampakkan diri, seakan tahu Mas John sudah mulai ragu dan ingin berhenti.
Mas John balik lagi ke orang pintar itu untuk minta penjelasan. Di situlah kalimat paling menampar keluar: yang disedot dari istrinya bukan “air susu”—melainkan darah. Dan kalau urusannya sudah darah, biasanya ujungnya bukan cuma sakit, tapi bisa merambat ke nyawa.
Mas John pulang dengan kepala berisik. Dalam hati ia ingin menghancurkan keris itu. Tapi begitu niat itu muncul, malamnya dia justru diteror: tubuhnya ditahan, dicekik, seperti ada banyak tangan kecil menindih, sambil ancaman diucapkan berulang. Seolah keris itu tidak terima “dibuang” begitu saja.
Dalam kebingungan, Mas John akhirnya cerita ke temannya—Mas Ujang, orang Kuningan yang paham urusan spiritual tapi tidak suka menonjol. Begitu Ujang mendatangi rumah, dia bahkan belum masuk sudah bereaksi keras, seperti merasakan tekanan yang bukan levelnya. Ujang menyuruh Mas John pergi ke “Abah”-nya, orang yang lebih mampu untuk memutus urusan itu.
Abah melihat keris kecil itu dan langsung menyimpulkan: ini bukan sekadar benda pusaka biasa—ini “aki-aki” yang punya rombongan ribuan bocah jurig cai. Abah menyuruh Mas John ikhlas melepas, karena selama benda itu dekat, keluarganya akan terus jadi ladang.
Benda itu kemudian diamankan dan diminta dibuang sejauh mungkin—bukan di sungai lagi agar tidak ditemukan orang lain, melainkan dilarung ke laut, jauh dari pemukiman. Perjalanan untuk melepasnya pun tidak mulus: barang itu terasa “berat”, seperti mengundang sial, sampai Mas John sempat mengalami insiden kecil di jalan karena pikirannya tidak fokus.
Setelah benda itu benar-benar dilepas, Mas John menjalani proses penutup agar rumahnya tidak jadi “alamat balik” bagi gangguan yang sama. Perlahan, istrinya membaik. Mimpi-mimpi menyusui itu berhenti. Suasana rumah yang sempat panas dan tegang kembali hangat, meski trauma membuat istrinya akhirnya memilih tidak jualan lagi.
Mas John mengakui, uang yang datang cepat itu juga cepat habis—yang tunai lenyap tanpa terasa. Yang tersisa hanya bekasnya: rumah yang sempat diperbaiki, dan pelajaran pahit bahwa rezeki yang dipaksa lewat jalan gelap akan selalu meminta bayaran, entah berupa darah, kesehatan, atau ketenangan.
Dan dari semua bagian cerita, yang paling menyeramkan bukan penampakan ribuan “anak kecil” itu—melainkan fakta bahwa benda seperti itu disebut “liar”, bisa hanyut, bisa ditemukan orang lain, lalu mengulang siklus yang sama: laris dulu, lalu keluarga tumbang pelan-pelan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.