Teh Rita tumbuh di kampung yang jauh dari keramaian, tempat rumah-rumah masih sederhana dan akses ke pasar pun terasa seperti perjalanan jauh. Dulu keluarganya sempat punya warisan, tapi habis perlahan karena tak ada penghasilan yang benar-benar menetap.
Ayah Teh Rita punya dua istri. Ibu Teh Rita adalah istri kedua—dan yang paling sering menanggung beban. Karena ayah jarang bekerja dan lebih banyak tinggal bersama istri pertama, ibu Teh Rita harus menghidupi tiga anak dengan cara apa saja: jadi buruh cuci, jualan kecil-kecilan, kerja serabutan yang kadang cukup untuk makan hari ini, tapi besok belum tentu ada.
Miskin bukan cuma soal perut. Di kampung, kemiskinan sering datang bersama hinaan. Rumah mereka disebut seperti “kandang ayam”, jendelanya masih gedek tua, lantainya sederhana, dan itu jadi bahan ejekan yang paling menusuk—terutama buat si kakak laki-laki, yang saat remaja mulai merasa harga dirinya dipatahkan berkali-kali.
Teh Rita masih bisa menelan hinaan dengan sabar, tapi kakaknya tidak. Kakaknya makin sering pergi, jarang pulang, dan kalau pulang pun hanya sebentar. Bukan karena ia tak sayang keluarga—sesekali ia tetap memberi beras atau uang—namun terlihat jelas, ia malu pada kemiskinan yang seperti menempel di rumah itu.
Teh Rita justru merantau sejak usia 12 tahun. Ia bekerja mengasuh anak, jadi ART, apa saja yang halal dan bisa membantu ibu. Sedikit demi sedikit, ia bisa mengirim uang, membelikan kebutuhan, dan memberi ibu napas untuk bertahan.
Luka berikutnya datang saat ayah meninggal mendadak setelah salat subuh, tanpa riwayat sakit. Keluarga makin tercerai: Teh Rita menikah, adiknya merantau, ibu sering sendirian, dan kakaknya makin sulit ditangkap arah hidupnya—kadang menikah, cerai, lalu muncul lagi dengan keputusan-keputusan yang terasa tergesa.
Tahun 2016, Teh Rita mulai melihat perubahan aneh pada kakaknya. Kakaknya meminta pinjam uang dengan alasan “teman ngajak pesugihan uang gaib”, katanya tanpa tumbal, cuma “pinjam uang” yang nanti harus dikembalikan dalam jangka waktu tertentu. Teh Rita menolak keras. Ia lebih memilih kerja ngepel rumah orang daripada ikut jalan instan yang gelap.
Sejak perdebatan itu, kakaknya seperti terbakar. Nada bicara kasar, matanya sering merah, dan ia seperti makin yakin dengan jalannya sendiri. Bahkan ketika menikah lagi pun, ia enggan melibatkan keluarga—seolah ada hidup baru yang tidak ingin dibagi, tidak ingin disentuh siapa pun.
Beberapa tahun berlalu, Teh Rita kaget melihat kabar: kakaknya pindah ke rumah yang jauh lebih bagus, seperti rumah elite, perabotnya mendadak lengkap, ada barang-barang mewah, sampai hiburan seperti PS. Perubahan itu terlalu cepat untuk ukuran orang yang dulu kesulitan beli kasur.
Di waktu yang sama, ibu Teh Rita mulai sering jatuh dan sakit-sakitan. Teh Rita pulang untuk merawat, dan sejak itu gangguan-gangguan kecil tapi mengusik mulai muncul: gelas meledak sendiri, gelas retak tanpa sebab, pecah saat dicuci seperti ada yang “mengetuk” dari sisi yang tak terlihat.
Saat Teh Rita harus kembali merantau demi nafkah, ibu dipindah-pindah. Yang paling menyakitkan, ibu sempat ditaruh di area dekat kamar mandi, padahal ada kamar kosong. Teh Rita menahan marah, tapi ia juga tahu: keluarganya sudah tidak utuh seperti dulu, dan sakit ibu seperti membuka borok yang selama ini ditutup.
Puncaknya datang ketika ibu drop. Teh Rita pulang dengan perjalanan yang dipenuhi hambatan—kendaraan bermasalah, seolah ada yang menahan. Saat tiba, ibu sudah tidak sadar. Tubuhnya bengkak, perutnya bergerak aneh seperti “mendidih”, dan tak lama kemudian ibu meninggal di depan mata Teh Rita, disusul keluarnya buih darah dan kotoran yang membuat suasana makin mencekam.
Anehnya, setelah kematian itu, kakaknya tidak memberi biaya pemakaman, selametan, atau sekadar patungan kecil. Semuanya seperti ditinggalkan di pundak Teh Rita. Dan di situlah curiga mulai berubah jadi ketakutan: kenapa setelah ibu meninggal, kakaknya justru cepat sekali naik kelas?
Empat bulan setelah ibu wafat, kakaknya membeli mobil. Teh Rita melihatnya dari unggahan, dan walau mobil itu bukan yang paling mahal, tetap terasa janggal: baru kehilangan ibu, tapi tiba-tiba mampu beli kendaraan, rumah, dan hidup serba cepat—sementara semasa ibu sakit, sikap kakaknya begitu dingin.
Setelah itu mimpi buruk datang. Anak Teh Rita bermimpi melihat neneknya berada di tempat seperti gua penuh duri dan darah, meminta air kelapa muda. Teh Rita sendiri mimpi melihat ibunya berada di seberang sungai, mengangkat batu bolak-balik, lalu tenggelam tanpa mampu diselamatkan—mimpi yang terasa seperti isyarat bahwa kepergian ibu tidak “wajar”.
Karena tak tahan, Teh Rita mencari orang pintar. Dalam salah satu proses, ada sosok yang masuk ke tubuh seseorang dan bicara dengan suara galak. Dari situ Teh Rita menanyakan hal yang paling ia takutkan: benarkah kakaknya melakukan pesugihan siluman monyet putih dari Gunung Galunggung? Jawabannya tegas: iya.
Teh Rita juga bertanya tentang tumbal. Jawabannya membuat dadanya runtuh: tumbalnya dari keluarga sendiri, jalurnya dari pihak laki-laki—dan ibu Teh Rita disebut sebagai tumbal yang sudah “diambil”. Bahkan dikatakan, setelah ibu, target berikutnya bisa mengarah ke saudara kandung—kakak atau adik.
Teh Rita memilih menjaga jarak, menjaga diri, dan terus mencari cara menenangkan ruh ibunya. Ia disarankan sedekah, dan setelah itu ia bermimpi ibunya “pulang”, seperti diantar dari arah jauh, lalu membuat makanan di rumah—mimpi yang memberi sedikit lega, seolah ada titik terang bahwa ibunya mulai tenang.
Sementara itu, nasib kakaknya berjalan seperti jam pasir yang diputar. Kekayaannya mulai habis: rumah kredit tak sanggup dibayar dan dikembalikan, mobil dijual, barang-barang lenyap satu per satu. Lalu kakaknya sakit—kurusnya bukan kurus biasa, tapi seperti habis “dimakan dari dalam”, namun anehnya sulit sekali meninggal.
Saat kakaknya kritis di rumah sakit, Teh Rita merasa ini adalah fase “ditagih janji”. Ia menghubungi guru ngaji/abah gurunya untuk minta bantuan pemutusan. Abahnya menyuruh menyiapkan air, “disyariatkan” dari jarak jauh, lalu air itu diminumkan ke kakaknya.
Reaksinya cepat: kakaknya muntah, lalu setelah diazan dan dikomati, napasnya berhenti seperti orang tertidur. Teh Rita menganggap itu pertolongan—setidaknya penderitaan “enggak mati enggak hidup” itu berhenti—meski ada pihak yang justru marah karena merasa kematian itu “dipercepat”.
Ada satu detail yang menancap di kepala Teh Rita. Saat kakaknya kritis, Teh Rita sempat memotret. Di foto itu, terlihat seperti bayangan berbentuk monyet—kuping, kepala, sampai badan—berdiri di depan ranjang, seakan menunggu penagihan terakhir. Tidak lama, HP yang menyimpan foto itu rusak mendadak, seperti ada yang tak suka jejaknya disimpan.
Setelah kakaknya meninggal, Teh Rita masih didatangi dalam mimpi: kakaknya menangis minta maaf dan minta tolong karena merasa disiksa. Ada pula mimpi-mimpi aneh meminta uang seratus ribu, meminta dibelikan pisang—simbol-simbol yang membuat Teh Rita takut salah langkah, takut membuka jalur yang sudah susah payah ia tutup.
Di ujung cerita, Teh Rita tidak bicara soal dendam. Ia bicara soal pelajaran yang pahit: rezeki instan yang gelap itu tidak pernah benar-benar jadi milik kita—karena pada akhirnya, ia akan menagih balik. Kadang menagihnya lewat harta, kadang lewat kesehatan, kadang lewat keluarga sendiri—dan saat tagihan datang, yang tersisa cuma penyesalan, sementara yang paling suci—seorang ibu—sudah keburu jadi korban.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.