Pertengahan 2022, Teh Aliya lagi berada di fase hidup yang serba kepepet. Sekolah nggak bisa lanjut karena ekonomi, orang tua berpisah sejak ia kecil, dan ia cuma tinggal berdua dengan ibunya yang jualan makanan seadanya.
Di tengah kebingungan cari kerja—apalagi belum punya KTP—datang tawaran dari Ani, teman masa kecilnya yang satu desa. Ani bilang ada pabrik emping dekat rumahnya, kerjanya gampang: bantu goreng emping, jemur, lalu masukin ke wadah.
Keesokan paginya Ani menjemput jam setengah tujuh. Teh Aliya dibawa ketemu bos pabrik: sepasang suami istri yang dipanggil Pak Haji dan Bu Haji. Keduanya terlihat “nyantai” di depan, bahkan Bu Haji bilang Teh Aliya boleh belajar pelan-pelan, nanti dibimbing Ani.
Hari-hari awal berjalan normal. Teh Aliya kenalan dengan beberapa karyawan, termasuk Putri yang cukup akrab dan Reva yang tidak terlalu dekat. Yang bikin Teh Aliya heran justru kondisi rumah bos: besar dan terlihat kaya—mobil dua, motor dua—tapi rumahnya kotor seperti jarang disentuh.
Ada hal lain yang bikin Teh Aliya nggak nyaman sejak awal: Bu Haji sering banget garuk-garuk badan sampai terlihat seperti orang yang nggak tenang. Teh Aliya sempat mikir itu alergi biasa, sampai suatu hari ia melihat pintu kamar Bu Haji sedikit kebuka di area belakang yang dekat tempat mereka kerja.
Karena penasaran, Teh Aliya ngintip sekilas. Di dalam, Bu Haji dan Pak Haji seperti sedang membawa sesuatu yang mirip sesajen. Teh Aliya nggak berani lama-lama, langsung pergi tanpa cerita ke siapa pun—takut ketahuan, takut dianggap sok tahu.
Besoknya, Ani dipanggil masuk ke kamar Bu Haji. Saat keluar, Ani malah cengar-cengir senang: katanya dapat “bonus” karena kerja bagus. Bonusnya bukan cuma uang di amplop, tapi juga makanan seperti roti.
Yang bikin Teh Aliya merinding, Ani bilang uang itu wangi—wangi bunga yang nyegrak sampai bikin pusing. Teh Aliya sempat menganggap Ani cuma lebay, tapi Ani santai: “Yang penting duit.” Uang itu disimpan, pekerjaan lanjut seperti biasa.
Paginya Ani nggak menjemput. WA tak dibalas, telepon tak diangkat. Teh Aliya akhirnya jalan sendiri ke rumah Ani—dan mendapati rumah sudah ramai, ibunya Ani nangis. Ani meninggal mendadak saat tidur, tanpa riwayat sakit yang jelas.
Lebih ngeri lagi, ibunya Ani cerita malam sebelumnya Ani teriak-teriak ketakutan, menunjuk pojok kamar sambil nyebut nama Bu Haji. Paginya, Ani ditemukan sudah tak bernapas. Tak ada luka, tak ada tanda-tanda pertengkaran, hanya kematian yang datang terlalu tiba-tiba.
Teh Aliya sempat berniat berhenti kerja. Ia bahkan mengabari Bu Haji kalau tidak masuk. Tapi respons Bu Haji terasa dingin—sekadar “turut berduka,” tanpa terlihat benar-benar terpukul, bahkan tidak datang melayat.
Teh Aliya balik kerja, tapi suasana pabrik jadi beda. Di dekat kamar Bu Haji, Teh Aliya sering mendengar tangisan Ani—jelas, dekat, seperti berasal dari dalam. Kalimatnya sama: minta tolong, takut gelap. Kadang Teh Aliya juga melihat bayangan hitam sekelebat, bikin badan meremang tanpa bisa dijelaskan.
Beberapa bulan kemudian, kejadian itu seperti terulang. Reva dipanggil Bu Haji, lalu keluar membawa amplop bonus dan roti—jumlahnya sama, lima ratus ribu. Reva juga bilang hal yang sama: uangnya wangi.
Besoknya, kabar buruk datang lewat telepon: Reva meninggal. Lagi-lagi mendadak, lagi-lagi setelah menerima “bonus” yang sama. Bu Haji dan Pak Haji lagi-lagi tidak ikut melayat, hanya karyawan yang datang.
Sejak itu, Teh Aliya mulai curiga tapi tetap bertahan karena butuh pekerjaan. Sampai suatu hari, giliran Teh Aliya yang “dianakemaskan” dan dipanggil masuk kamar Bu Haji. Bu Haji memuji-muji Teh Aliya—cekatan, rapi—lalu memberi bonus amplop dan roti yang sama.
Saat Teh Aliya membuka amplopnya sendiri, ia baru paham sumber wangi itu: ada bunga kecil putih di sudut amplop. Anehya, Teh Aliya malah membiarkan bunga itu tetap di situ—seolah ada dorongan untuk “menyimpan” wanginya. Separuh uang ia kasih ke ibunya, separuh lagi ia taruh di kamar.
Malam itu, Teh Aliya terbangun dan melihat sosok yang membuat napasnya berhenti: monyet tinggi besar, bulunya cokelat, badannya hampir menyentuh plafon—tapi wajahnya wajah Bu Haji. Di kanan-kirinya ada makhluk-makhluk kecil yang berdiri rapat seperti pengiring.
Teh Aliya ingin teriak, ingin bergerak, tapi tubuhnya seperti dikunci. Lalu penglihatannya pindah ke tempat gelap yang asing. Di sana ada lima tubuh terbaring—dua di antaranya Teh Aliya kenali sebagai Ani dan Reva, tiga lainnya tak ia kenal. Di dekat tubuh-tubuh itu, Bu Haji dan Pak Haji terlihat mengitari sambil membawa sesajen, seolah sedang “menuntaskan” sesuatu.
Semua mendadak berubah putih, seperti lorong panjang tanpa ujung. Teh Aliya berjalan sendirian, capek, takut, dan makin panik karena lorong itu tidak selesai-selesai. Sampai akhirnya ia melihat lingkar cahaya dan masuk—lalu tersadar di kamarnya, melihat tubuhnya sendiri terbaring di kasur.
Di dunia nyata, ibunya sudah panik. Warga berkumpul, ada Pak Lebe yang biasa mengurus orang meninggal. Napas Teh Aliya sudah tidak ada—di mata mereka, Teh Aliya sudah “meninggal.” Tapi Pak Lebe bilang ini bukan waktunya; Teh Aliya seperti tersesat. Ia minta baskom air garam, didoakan, lalu air itu disiramkan ke tubuh Teh Aliya sampai Teh Aliya kejang dan akhirnya bangun lagi.
Teh Aliya baru tahu: ia “mati suri” dari pagi sampai menjelang zuhur. Dan kata Pak Lebe, Teh Aliya hampir jadi tumbal. Uang bonus itu diminta jangan dipakai—kalau bisa disedekahkan saja—karena dikhawatirkan ada “ikatannya.”
Keluarga Teh Aliya tak terima. Mereka mendatangi rumah Bu Haji, marah-marah, menuduh pesugihan dan tumbal. Bu Haji menolak dan menganggap itu fitnah—tapi Teh Aliya sudah keburu takut, dan setelah kejadian itu ia dilarang keras kembali bekerja di sana.
Dari cerita Putri—teman kerja yang masih di pabrik—Teh Aliya dengar akhir yang terasa seperti tagihan balik. Pak Haji meninggal karena kecelakaan mobil, anaknya selamat tapi cacat. Bu Haji makin temperamen, penyakit kulitnya makin parah, gudang sempat kebakaran, pelanggan mulai komplain empingnya tidak enak, usaha pelan-pelan bangkrut.
Beberapa waktu kemudian, kabarnya Bu Haji meninggal, rumahnya dijual tapi tak ada yang mau beli. Tempat itu kosong, meninggalkan rasa ngeri yang tak bisa dijelaskan, seolah pabrik emping itu pernah menjadi dapur rezeki… sekaligus pintu untuk mengantar orang ke “lorong putih” yang Teh Aliya lihat.
Dan Teh Aliya menutup kisahnya dengan satu pesan yang ia pegang sampai sekarang: kalau dapat kerja, cari tahu latar belakang tempatnya. Kalau menerima “bonus” yang terasa janggal—wangi menyengat, aturan aneh, atau sesuatu yang bikin hati nggak enak—lebih baik hati-hati. Karena kadang, yang terlihat sebagai rezeki… ternyata cuma undangan halus menuju peti yang sama.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.