Mas Nasim pertama kali singgah di Desa X, daerah Cilacap, bukan untuk mencari sensasi. Waktu itu ia sedang menumpang tinggal di rumah paman, dekat dengan Uak Mijan—sesepuh yang dikenal keras, tegas, dan “peka” terhadap hal-hal yang tak semua orang bisa lihat.
Di desa itu, ada satu nama yang sudah lama jadi bisik-bisik warga: Pak Joni. Dulu hidupnya sederhana, petani nira yang bikin gula merah dengan penghasilan pas-pasan. Anak empat masih kecil-kecil, kebutuhan rumah seperti tak ada ujungnya, sementara hasil gula kadang laku, kadang tidak.
Sampai kemudian keadaan berubah terlalu cepat untuk ukuran desa. Pak Joni mendadak jadi juragan gula—bukan lagi sekadar pembuat, tapi pengepul besar. Ia punya gudang, punya kios di pasar, bahkan mampu kirim gula ke pabrik-pabrik kecap. Orang-orang mulai sadar: ini bukan sekadar naik rezeki biasa.
Yang bikin tambah aneh, Pak Joni seperti “tidak bekerja”. Ia jarang terlihat menjalankan usaha. Yang sibuk justru istri, anak, dan karyawan. Pak Joni lebih sering keluar malam, pergi jauh dengan mobilnya—bahkan ia punya Mercedes tua yang di masa itu sudah termasuk lambang kemewahan di kampung.
Menurut informasi yang beredar dari warga, paman, sampai Uak Mijan sendiri, perubahan itu bermula dari ajakan saudara Pak Joni yang lebih dulu “menempuh jalur gelap”. Pak Joni akhirnya ikut melakukan pesugihan ke Jawa Timur, tepatnya Gunung Kawi. Jenisnya bukan pesugihan biasa—melainkan pesugihan tuyul, bahkan sepasang: laki-laki dan perempuan.
Sejak itu, usahanya melaju seperti diseret arus deras. Gudangnya penuh gula merah dari petani. Pesanan tak pernah putus. Uang seperti selalu ada, dan Pak Joni sanggup memberi pinjaman pada petani tanpa hitungan rumit—seolah ia tak takut rugi.
Belakangan, Mas Nasim paham: pinjaman itu bukan semata bantuan. Ada maksud yang lebih gelap. Ketika petani tak sanggup bayar, kabarnya bukan cuma barang yang ditarik—kadang ada anggota keluarga yang “menghilang”, ada karyawan yang “jatuh”, dan semuanya seperti masuk daftar tumbal yang tak pernah diumumkan.
Salah satu bukti paling membuat Mas Nasim merinding terjadi saat rumah paman mengadakan hajatan sunatan. Pak Joni datang membawa kado: sarung, tapi dibungkus berlapis-lapis sampai tujuh lapis. Setiap lapisnya diselipkan bunga kenanga. Aneh, rapi, dan terlalu “niat” untuk sekadar hadiah.
Uak Mijan langsung bereaksi keras. Begitu melihat bungkusan itu, ia menyuruh paman mengembalikan kado tersebut saat itu juga. Tidak ada debat panjang. “Balikin. Jangan diterima. Bahaya,” begitu intinya.
Bapak Mas Nasim mengejar Pak Joni dan mengembalikan sarung itu di jalan. Pak Joni sempat bercanda dengan nada menusuk—seolah paham warga curiga, seolah menikmati rasa takut yang tak bisa dibuktikan. Tapi kado itu tetap dikembalikan, dan malam itu Mas Nasim menangkap satu pelajaran: di desa, kadang keselamatan datang dari firasat orang tua yang kelihatannya “cerewet”, padahal sedang menahan bala.
Beberapa hari setelah itu, peristiwa yang lebih “nyata” terjadi—yang membuat kata tuyul bukan lagi sekadar gosip. Pagi hari, keponakan Mas Nasim heboh menemukan dua anak anjing lucu di belakang rumah, dimasukkan ke keranjang bambu. Anak-anak kampung berkumpul, gemas, ingin memelihara.
Mas Nasim merasakan ada yang janggal. Ia membangunkan Uak Mijan. Begitu melihat “anak anjing” itu, Uak Mijan langsung menyuruh Mas Nasim menunggu saja. “Nanti ada yang datang ngambil,” katanya singkat—seolah sudah membaca akhir cerita.
Benar saja, tak lama kemudian Pak Joni datang dengan motor. Ia tidak masuk lewat depan, langsung ke belakang. Tanpa banyak basa-basi, ia bilang ingin mengambil “anak anjing” itu. Dan yang paling mengganggu adalah respons si “anak anjing”: patuhnya bukan patuh hewan pada orang asing, melainkan seperti anak kecil yang pulang ke orang tuanya—manja, merengek pelan, lalu menurut.
Setelah Pak Joni pergi, Uak Mijan menatap Mas Nasim dan berkata dingin: itu bukan anak anjing. Itu tuyul yang kesiangan pulang, lalu berkamuflase karena tak sanggup bertahan dalam wujud aslinya ketika matahari sudah tinggi. Penyebabnya terdengar konyol sekaligus ngeri—tuyul itu keasyikan main kepiting yang digantung warga di belakang rumah, sampai lupa waktu.
Uak Mijan bahkan memberi ramalan yang kemudian terbukti sore harinya: akan banyak warga kehilangan uang. Dan benar, ibu-ibu kampung berkumpul, heboh soal duit raib dari rumah masing-masing. Nominalnya macam-macam—ada yang lima puluh ribu, ada yang ratusan, ada yang lebih besar—hilangnya pun tanpa jejak.
Tidak ada yang berani nuduh terang-terangan. Tapi arah bisik-bisik selalu menuju satu nama: Pak Joni. Dalam amarah yang tak bisa diluapkan, warga hanya bisa menggerutu. Mereka merasa dirampok, tapi tak punya bukti. Mereka yakin, tapi tak bisa menuntut. Akhirnya rasa takut tumbuh jadi kebiasaan: uang disembunyikan, pintu digembok, tapi tetap saja ada yang hilang.
Sementara di rumah Pak Joni, anak-anaknya tumbuh dengan garis yang berbeda. Dua anak laki-laki—Robert dan Dino—menikmati gaya hidup. Dua anak perempuan—Mawar dan Melati—justru memilih sederhana, aktif ngaji, aktif kegiatan masjid, seperti menolak menikmati hasil yang mereka tahu asalnya.
Kabar tragis pertama datang: Robert kecelakaan tunggal, menabrak pohon dalam kondisi ngebut, meninggal di tempat dengan kondisi mengenaskan. Warga berbisik lebih tajam—sebagian menyebut itu tumbal, sebagian menganggap takdir. Tapi yang jelas, duka di keluarga Pak Joni terasa seperti bagian dari “harga” yang suatu hari pasti ditagih.
Di balik itu, karyawan Pak Joni selalu berganti-ganti. Ada yang keluar karena takut. Ada yang katanya “hilang arah”. Ada pula yang disebut-sebut ikut jadi korban. Rumah besar dan gudang gula yang terlihat sukses justru seperti tempat yang membuat orang tak betah berlama-lama.
Mawar dan Melati akhirnya mendekati Mas Nasim. Mereka mengaku tertekan oleh bully, candaan pahit, dan bisik-bisik yang tak berhenti. Mereka tidak tahan melihat keluarga sendiri jadi simbol ketakutan kampung. Dengan suara gemetar, mereka bertanya: adakah cara menghentikan orang tua mereka?
Mas Nasim membawa mereka ke Uak Mijan. Tapi Uak Mijan menolak ikut campur. Alasannya jelas: ikatan pesugihan bukan mainan, dan siapa pun yang mencoba memutus bisa ikut terseret. Namun Uak Mijan memberi alamat seorang kiai/abah yang mungkin bisa membantu—bukan untuk “berantem”, tapi untuk memberi jalan taubat dan perlindungan.
Di rumah abah itu, cerita yang lebih memilukan muncul. Ternyata setelah pesugihan berjalan, Pak Joni punya anak lagi: Kenanga, masih kecil sekitar 10 tahun. Dan Kenanga inilah yang paling menderita—bukan cuma dibully seperti kakak perempuannya, tapi disiksa di rumah karena ia bisa melihat dan berinteraksi dengan dua tuyul peliharaan orang tuanya.
Kenanga sering mengusir, mengganggu, bahkan melawan makhluk itu—dan karena itu ia kerap dipukul, dimarahi, dianggap pengganggu “rezeki”. Abah mendengarnya sampai terenyuh. Ia membekali Mawar sesuatu yang disebut sadalan lanang—sejenis batang sapu dari nira—sebagai media pengusir, plus doa-doa yang harus dirutinkan.
Lalu terjadilah malam yang membuat satu desa gemetar. Rumah Pak Joni mendadak gaduh. Bu Joni teriak-teriak memanggil nama anak-anaknya—bahkan memanggil Robert yang sudah meninggal. Dari dalam rumah terdengar suara auman berat, suasana seperti pekat menekan dada.
Warga berdatangan, tapi tak ada yang berani masuk. Yang keluar justru Mawar dan Melati dalam kondisi menangis dan gemetar. Mereka bilang Kenanga sedang ngamuk di dalam, memukuli “sesuatu” yang tak terlihat sambil mengumpat, memakai sadalan lanang itu seperti senjata. Kenanga seperti sedang gelut melawan sesuatu yang jauh lebih besar daripada tubuh bocah 10 tahun.
Keributan itu mereda mendadak, seolah saklar dimatikan. Warga menyuruh Mawar dan Melati pergi ke rumah paman mereka saja, jangan kembali malam itu. Semua berharap besok keadaan normal.
Tapi beberapa hari kemudian, tragedi yang sebenarnya datang. Kenanga ditemukan meninggal—duduk memeluk sadalan lanang. Tidak ada luka, tidak ada bekas kekerasan yang terlihat. Bu Joni ditemukan linglung, kosong, seperti tubuh tanpa jiwa. Dan Pak Joni… menghilang, pergi dengan mobil, tak diketahui ke mana.
Abah akhirnya datang dan menjelaskan sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri: malam itu Kenanga bukan cuma melawan tuyul, tapi melawan “pengawal”-nya—sosok besar semacam genderuwo yang disebut sebagai pelindung atau rajanya tuyul. Kenanga melawan mati-matian, tapi kalah. Dan justru dari perlawanan bocah itulah, pesugihan keluarga Pak Joni mulai runtuh dari akarnya.
Bu Joni masih bisa diselamatkan setelah dinetralisir, disadarkan, dan diajak benar-benar bertaubat. Tapi Dino tidak. Dino ikut linglung, tak tertolong, dan akhirnya meninggal karena tak ada yang benar-benar mengurus. Rumah besar itu kemudian dibiarkan kosong, dikenal angker sampai hari ini—kadang orang mengaku masih mendengar suara gaduh, teriakan, atau aura berat yang menempel.
4Harta peninggalan—sawah, pekarangan, gudang—banyak yang dibiarkan. Mawar dan Melati tak mau menikmatinya. Mereka memilih kembali ke rumah kecil lama, hidup sederhana, menanggung luka yang tak bisa dihapus hanya dengan pindah tempat.
Kisah Pak Joni akhirnya jadi cerita yang terus berjalan di desa: bukan sekadar tentang tuyul yang mencuri uang warga, tapi tentang keluarga yang hancur karena perjanjian gelap. Dan pesan Mas Nasim sederhana, tapi berat: jangan gadaikan akidah dan ketenangan demi kekayaan instan, karena ketika tagihan datang, yang jatuh bukan cuma uang—bisa anak, bisa keluarga, bisa hidupmu sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.