Mbak Wanti mengira semuanya berawal dari kejadian sepele. Tahun 2000, ia masih anak SMP, hidupnya berjalan normal—sekolah, main sama teman, pulang sore. Keluarganya juga sedang ada di fase bangkit karena ayahnya diminta kakek untuk pulang kampung dan membantu meneruskan usaha ladang sayur milik kakek.
Kakek saat itu sempat sakit keras. Ayah Mbak Wanti sebenarnya punya usaha cukup sukses di kota, tapi karena kondisi kakek memburuk, ayah memilih pulang. Di kampung, ayah mengurus ladang sayur—buncis, kol, dan macam-macam—yang tiap hari dikirim ke pasar, kadang sampai ke Bandung. Perlahan, kondisi kakek membaik, dan usaha kembali berjalan.
Di tengah masa “pemulihan” itu, datanglah seseorang bernama Mang Karman. Dia dikenal dekat dengan kakek, bahkan dianggap saudara jauh, teman seperjuangan. Mang Karman menawarkan tanah karena sedang butuh uang. Kakek membeli tanah itu tanpa berpikir panjang.
Sejak transaksi itu, Mbak Wanti mulai melihat gelagat yang mengganjal. Mang Karman beberapa kali datang ke rumah, berdiri lama di depan halaman, menatap rumah yang kini mulai membaik—rumah yang tadinya kecil jadi bertingkat, mobil dari satu menjadi dua. Tatapannya bukan tatapan ramah, tapi tatapan sinis yang bikin Mbak Wanti tidak nyaman.
Beberapa hari setelahnya, sepulang sekolah saat hujan dan jalanan becek, Mbak Wanti pulang tanpa sepatu—sepatu ditenteng. Saking asyiknya main becek-becekan, Mbak Wanti tidak sengaja menginjak kotoran sapi. Jijik, ia langsung pulang dan membersihkan kaki.
Besoknya, kakinya gatal luar biasa. Diggaruk sedikit gatalnya tambah panas, digaruk terus sampai berdarah. Badannya juga demam. Ibu panik dan membawa Mbak Wanti ke puskesmas. Dokter bilang hanya gatal biasa, diberi salep dan obat.
Seminggu berlalu, bukannya membaik, gatalnya menyebar. Dari kaki merembet ke tangan. Kulit mengelupas, bengkak, perih, dan tiap digaruk rasanya seperti makin “menyala”. Ibu akhirnya membawa Mbak Wanti ke dokter spesialis kulit. Hasil pemeriksaan: eksim.
Mbak Wanti sedih, bukan cuma karena sakitnya, tapi juga karena eksim itu membuatnya minder. Tahun-tahun berikutnya saat kuliah, ia merasa tidak percaya diri karena kulit yang mengelupas terlihat jelas. Ia sampai mencoba menutupinya dengan minyak zaitun dan sejenisnya, sekadar untuk menahan rasa risih dan tatapan orang.
Karena pengobatan medis terasa tidak banyak membantu, ibu sempat mencoba “jalan kampung” yang ia dengar dari teman lama: daging kodok dan daging kadal. Dimasak seperti ayam kecap agar Mbak Wanti mau makan. Setelah habis, baru ibu bilang itu kodok dan kadal—Mbak Wanti ingin muntah, tapi ia tahu ibu sedang berusaha.
Namun kejanggalan lain mulai muncul. Saat acara muludan di kampung (acara dari rumah ke rumah), Mbak Wanti melihat seorang saudara jauh duduk menyendiri di pojok. Tatapannya sinis, seperti menyimpan benci. Ibu bilang orang itu masih saudara dan masih lingkar teman seperjuangan kakek.
Malam setelah acara itu, Mbak Wanti bermimpi didatangi sosok perempuan tinggi, rambut gimbal, mata merah, kuku panjang, memakai baju hitam. Wajahnya tua dan keriput. Sosok itu memanggil nama Mbak Wanti, seperti memastikan identitas. Mbak Wanti sempat terbangun, tapi saat tidur lagi mimpi berlanjut—kali ini lebih menyeramkan.
Dalam mimpi itu, Mbak Wanti merasa seperti melihat dirinya sendiri sedang tidur. Sosok itu berada di dekat kepala Mbak Wanti dan seperti menarik sukma—Mbak Wanti berteriak tapi tidak ada yang mendengar. Ia mencoba membaca ayat-ayat, sampai akhirnya ia mengucap “Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimin” berulang. Sosok itu terpental seperti kepanasan, membentur pintu, lalu kabur.
Sebelum menghilang, sosok itu sempat berkata hal yang membuat Mbak Wanti makin takut: ia hanya diperintah seseorang. “Nanti kamu juga tahu,” begitu kira-kira maknanya.
Tidak lama setelah mimpi-mimpi itu, tubuh Mbak Wanti makin aneh. Saat istirahat siang, punggungnya pegal seperti habis menggendong orang. Ia merasakan seperti ada sesuatu bergerak di dalam tubuh—dari kaki, tangan, lalu menetap di punggung. Bibi menyarankan keluarga membawa Mbak Wanti ke orang pintar bernama Mang Ujang.
Begitu melihat kondisi kulit Mbak Wanti, Mang Ujang langsung berkata mereka terlambat sedikit saja. Menurutnya, Mbak Wanti “sudah mau ditumbalkan”. Ia menyebut yang mengganggu bukan penyakit biasa, melainkan kiriman—dan sosok yang mendatangi Mbak Wanti dalam mimpi adalah “siluman ular”.
Mang Ujang mencoba ritual “menyatu dengan alam”: tiap pagi Mbak Wanti harus ke sawah, tangan dan kaki menyentuh lumpur, lalu di rumah ada api dengan campuran bawang merah, bawang putih, panglai, dan menyan. Dua minggu dijalani, tapi tidak ada perubahan.
Akhirnya Mang Ujang memutuskan ruqyah pada malam Jumat. Ia datang bersama murid-muridnya. Mbak Wanti duduk di tengah, dikelilingi, lalu diberi minum air daun bidara. Begitu dibacakan, tubuh Mbak Wanti kejang keras—dan kesadarannya seolah “ditarik” masuk ke alam lain.
Mbak Wanti merasa berada di goa gelap lembap, ada gemericik air, lalu muncul ular raksasa—lebih besar dari rumah—mirip kobra dengan mahkota di kepalanya. Ular itu mengejar dan ingin menelan Mbak Wanti. Ia berteriak minta tolong, dan suara Mang Ujang terdengar menyuruh Mbak Wanti terus lari.
Momen berikutnya Mbak Wanti tersadar di dunia nyata—dan ia muntah darah banyak. Mang Ujang seperti menarik sesuatu dari mulutnya sambil membaca ayat-ayat, lalu menegaskan gangguan itu sudah dikeluarkan dan Mbak Wanti dipager.
Ritual belum selesai. Mang Ujang memberi langkah pencegahan: garam kerosok harus ditabur di depan rumah, di atas genteng, dan air garam disiapkan di bawah kasur—dijalankan rutin agar siluman itu tidak balik. Pernah suatu malam ayah lupa menabur garam, dan Mbak Wanti mendengar jelas suara seperti ular berjalan di atas genteng. Begitu garam ditabur, suara itu hilang seketika.
Selama tiga bulan, Mbak Wanti menjalani ritual garam kerosok itu. Perlahan kulitnya membaik. Bengkak berkurang, panas hilang, mengelupas semakin sedikit, dan akhirnya eksimnya mereda sampai ia merasa kembali seperti sediakala.
Meski sudah sembuh, orang tuanya masih penasaran siapa pelakunya. Diam-diam mereka mendatangi Mang Ujang malam-malam. Dari situlah terbongkar: pelakunya saudara jauh—orang yang masih lingkar teman seperjuangan kakek—yaitu Mang Karman.
Motifnya bukan pesugihan, melainkan dendam lama soal sengketa tanah. Dulu ada perebutan lahan, dan kakek Mbak Wanti yang dianggap “lebih beruntung” karena mendapatkan hasilnya. Dendam itu dipelihara bertahun-tahun, lalu dilampiaskan lewat santet—dengan target awal Mbak Wanti, supaya keluarga kakek bisa “diambil satu-satu”.
Mang Karman akhirnya meninggal, tapi Mbak Wanti mengaku sampai kini kadang masih merasa seperti ada “pengawasan”—seakan jejak ular itu belum benar-benar hilang dari ingatan dan rasa.
Di akhir ceritanya, Mbak Wanti memegang satu pesan yang paling berat: orang yang membenci kita tidak selalu datang dari luar. Kadang dari saudara sendiri, dari lingkaran yang dianggap keluarga. Dan ketika medis tak menemukan sebab, bukan berarti kita berhenti ikhtiar—justru saat itu hati, iman, dan kewaspadaan harus makin kuat, karena bisa saja yang menyerang bukan tubuh, melainkan hidup.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.