Mas Adel menjalani hidup sederhana sebagai pemilik toko listrik. Di depan tokonya, terpampang juga plang “terapi”—bukan karena ia mengaku sakti, tapi lebih sebagai ikhtiar membantu orang yang butuh, sebisanya.
Suatu sore, seorang ibu datang belanja kabel dua puluh ribuan. Di sela Mas Adel mengukur kabel, si ibu memperhatikan plang terapi itu dan bertanya apakah Mas Adel bisa membantu orang sakit. Mas Adel menjawab bisa mencoba, lalu si ibu meminta nomor ponsel.
Maghribnya, ibu itu kembali—kali ini bukan sekadar belanja. Ia mengajak Mas Adel datang ke rumahnya yang ternyata persis di seberang toko. Mas Adel berangkat bersama istrinya, tanpa curiga apa pun.
Di rumah itu, Mas Adel diperkenalkan pada seorang perempuan yang disebut-sebut dokter (nama disamarkan). Keluhannya terdengar serius: pendarahan yang tak kunjung berhenti. Namun cara “pemeriksaannya” justru mengarah ke hal yang membuat Mas Adel kaget—ia diajak masuk kamar, dipisahkan dari istrinya, lalu digoda agar menuruti nafsu.
Mas Adel berusaha menjaga diri. Ia menolak halus, mengingat istrinya, lalu buru-buru keluar. Perempuan itu bahkan sempat mengaku sebagai “Dewi” dan berbicara seolah mereka punya kisah masa lalu—kalimat-kalimat yang bagi Mas Adel terdengar seperti jebakan.
Keesokan harinya, Mas Adel kembali dipanggil, katanya kali ini benar-benar untuk terapi. Ia datang lagi bersama istrinya. Mereka disambut dengan jamuan mewah yang belum pernah mereka rasakan: seafood lengkap, hidangan mahal, dan suasana kekeluargaan yang seakan ingin membuat mereka lupa pada kejadian kemarin.
Mas Adel dikenalkan pada keluarga besar: beberapa perempuan yang semuanya janda, juga seorang laki-laki bernama Pak Dani (nama samaran). Mereka ramah, memuji-muji, dan berulang kali menyebut Mas Adel sebagai “keluarga sendiri” yang jangan sampai meninggalkan mereka.
Tak lama, Pak Dani datang ke toko Mas Adel dengan permintaan lain: tanahnya sudah belasan tahun tak laku. Pak Dani minta Mas Adel membantu “melancarkan” penjualan tanah itu. Mas Adel menyiapkan media yang ia yakini sebagai ikhtiar, salah satunya tanaman ciplukan, lalu berdoa agar kalau memang rezeki, dimudahkan oleh Tuhan.
Anehnya, tanah itu laku sangat cepat dengan harga fantastis. Sejak saat itu, Pak Dani makin melekat pada Mas Adel. Ia ingin memberi uang ratusan juta sebagai balas jasa, tapi Mas Adel menolak. Pak Dani tidak terima penolakan: besoknya ia membelikan Mas Adel motor, lalu menyusul mobil, bahkan kemudian sebuah rumah—semua seperti hujan hadiah yang membuat Mas Adel dan istrinya terkejut sekaligus bingung.
Mas Adel mulai merasa mereka sedang “ditarik” ke dalam lingkaran yang terlalu baik untuk ukuran orang baru kenal. Benar saja, setelah mereka tinggal dekat rumah Pak Dani, permintaan Pak Dani berubah arah—bukan lagi soal tanah atau terapi, melainkan permintaan yang membuat Mas Adel lemas: Pak Dani ingin Mas Adel menuruti istrinya, bahkan secara terang-terangan.
Mas Adel menolak mentah. Ia tidak sanggup mengkhianati istrinya sendiri, apalagi menuruti permintaan yang baginya tidak masuk akal. Ia kabur dari situasi itu, menahan panik, menahan malu, dan pulang tanpa berani bercerita ke istrinya karena takut rumah tangganya hancur oleh pertengkaran.
Namun paksaan itu tidak berhenti. Pak Dani berkali-kali mengatur “pertemuan” di tempat yang semakin aneh—termasuk di sebuah hotel mewah. Mas Adel dibawa ke kamar tertentu, disuguhi pemandangan yang sengaja dibuat untuk menjatuhkan iman, lalu kembali diminta melakukan hal yang sama.
Mas Adel kembali melarikan diri. Ia bahkan sempat kebingungan mencari jalan keluar karena takut, sampai akhirnya turun lewat tangga darurat. Dalam kondisi kalang kabut, ia merasa seperti orang yang sedang dikejar sesuatu—bukan cuma manusia, tapi juga aura yang menempel sejak pertama kali ia masuk kamar itu.
Setelah itu, giliran para janda lain dalam keluarga tersebut yang mendekati Mas Adel. Polanya mirip: pura-pura minta bantuan jual tanah atau terapi, lalu Mas Adel dipisahkan dari istrinya, dikunci di kamar, dan digoda—semuanya berulang seperti digilir.
Di titik itu, Mas Adel mulai curiga ini bukan kebetulan. Saat ia bertanya maksud semua ini, salah satu dari mereka menyuruh Mas Adel bertanya langsung pada “ibunya”—sosok nenek yang jadi pusat keluarga.
Mas Adel akhirnya dibawa masuk ke kamar nenek itu. Kamar tersebut terasa paling “berat”: nuansanya dominan hijau, penuh ornamen dan lukisan yang mengarah ke simbol-simbol pantai selatan, dan yang paling membuat Mas Adel pucat—di atas ranjang ada kepingan-kepingan emas berserakan seperti harta yang ditumpahkan begitu saja.
Di kamar itu, nenek tersebut mengancam: kalau Mas Adel meninggalkan keluarga mereka, maka Mas Adel dan istrinya “wajib mati.” Lalu nenek itu mengaku sebagai Nyi Blorong. Mas Adel gemetar—ia merasa jelas bahwa hadiah-hadiah yang ia terima bukan sekadar kebaikan, melainkan umpan yang menuntut balasan paling gelap.
Mas Adel dan istrinya memilih pulang kampung untuk mencari ketenangan. Ia rela meninggalkan usaha dan kenyamanan, karena yang ia kejar bukan kaya mendadak, melainkan selamat.
Namun teror seperti tidak mau selesai. Suatu hari, karyawan menelpon panik: ada ular besar sekitar lima meter di depan toko. Ular itu ditangkap dan dimasukkan karung. Saat Mas Adel pulang ke Jakarta, di perjalanan mobilnya mendadak mati total tanpa sebab jelas—baru menyala kembali setelah Mas Adel menemukan benda aneh seperti keris kayu terselip di jok belakang, seakan ada sesuatu yang “dititipkan” di kendaraannya.
Di toko, ular itu membuat warga gempar. Mas Adel penasaran karena katanya di kepala ular ada “mustika.” Saat karung dibuka, ular itu—di mata banyak saksi—seolah berubah menjadi sosok perempuan cantik bergaun hijau dan bermahkota. Mas Adel langsung menutup kembali karung itu karena ketakutan.
Dari pengakuan karyawannya, Mas Adel baru tahu kabar yang lebih mengerikan: sudah lebih dari dua orang yang meninggal terkait keluarga itu—bukan hanya warga setempat, tapi juga orang luar. Mas Adel sadar, ia mungkin sedang disiapkan jadi korban berikutnya.
Dalam emosi dan ketakutan, Mas Adel memakukan tubuh ular itu di pohon besar sebagai bentuk perlawanan, lalu mengambil mustika dari kepala ular tersebut. Konon, di dalamnya ada butiran mirip emas yang bahkan sempat diuji dan disebut asli. Semua itu membuat Mas Adel makin yakin: keluarga itu bukan keluarga biasa, melainkan dinasti pemuja Nyi Blorong dengan kekayaan yang seolah tak ada habisnya.
Tak lama berselang, nenek yang mengaku Nyi Blorong itu meninggal dengan cara yang menyeramkan: kepalanya mengeluarkan darah terus-menerus, mirip “cerminan” dari ular yang dipaku. Sejak itu, Pak Dani menelpon Mas Adel dan menuntut semua pemberian dikembalikan—atau Mas Adel harus menuruti permintaan bejat yang sejak awal ia tolak.
Mas Adel akhirnya membuka semuanya pada istrinya. Mereka sepakat tidak akan menikmati harta yang datang dari jalur itu. Mas Adel rela melepas mobil, motor, rumah, dan usaha—memberikannya pada orang-orang yang ada di sana—lalu memulai hidup dari nol di kampung, meski masih diteror pesan dan ancaman.
Sampai hari ini, Mas Adel mengaku masih sering deg-degan dan kebayang-bayang. Teror gaib kadang datang dalam bentuk gangguan fisik, ketakutan mendadak, hingga rasa seperti ada serangan yang “mental” sebelum benar-benar menyentuh rumah mereka. Tapi Mas Adel memilih bertahan di jalan yang ia yakini benar: bekerja, berdoa, dan pelan-pelan berusaha menutup “utang” yang dituduhkan kepadanya—bukan karena mengakui perjanjian itu, melainkan karena ingin memutus segala ikatan dan menyelamatkan keluarganya.
Pada akhirnya, Mas Adel menyimpulkan satu hal pahit: tidak semua hadiah adalah rezeki. Ada “kebaikan” yang sengaja dibuat manis untuk menjerat. Dan ketika jerat itu menutup, yang mereka minta bukan sekadar uang—melainkan kehormatan, rumah tangga, bahkan nyawa.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.