Mas Yudi masih anak SMA saat semuanya bermula. Di kampungnya, pos kamling jadi tempat bapak-bapak main catur dan ngobrol sampai larut. Ia yang masih labil ikut nimbrung, ikut tertawa, ikut mendengar cerita-cerita lama yang awalnya terdengar seperti dongeng.
Di tengah obrolan catur itu, ada satu kalimat yang menancap di kepala Mas Yudi: tentang seorang almarhum di kampung yang katanya punya ajian Brajamusti—sekali pukul, lawan bisa roboh, bahkan bisa “jadi apa” sesuai kemauan. Bagi orang dewasa itu hanya cerita warung, tapi bagi anak muda yang sedang mencari jati diri, itu seperti tantangan.
Mas Yudi tidak punya guru, tidak tahu harus belajar pada siapa. Tapi semenjak malam itu, pikirannya penuh. Ia mengaku seperti mendapat “bisikan”—bukan sekali, melainkan berulang—seolah ada suara tua yang tahu persis apa yang sedang ia inginkan.
Bisikan itu tidak datang dengan wajah. Hanya suara kakek-kakek, jelas, tegas, memberi arahan tirakat. Mas Yudi—dengan nekatnya anak sekolah—memilih menjalankan, diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua.
Hari pertama, tubuhnya sudah memberi tanda aneh. Tangannya bengkak dan panas sampai menggenggam pun susah. Malamnya, saat ia beribadah dalam gelap, muncul cahaya seperti bara yang terbang, makin lama makin dekat, seperti obor yang menyusup ke ruang sempit di dadanya.
Panasnya tidak masuk akal. Matanya perih, lalu yang keluar bukan air mata—melainkan darah. Mas Yudi menahan teriak karena takut orang tua bangun. Ia mengusap mata berkali-kali sampai bajunya kotor, lalu baru sadar: ini bukan sekadar “capek”, ini seperti ada sesuatu yang benar-benar sedang menguji nyalinya.
Keesokan paginya ia panik. Ia kabur ke rumah temannya, Zaki (nama samaran), karena tak sanggup pulang dengan mata merah dan bengkak. Kepada ayah Zaki—yang dianggap paham urusan batin—Mas Yudi menceritakan semuanya, berharap ada yang menghentikan.
Yang ia dapat justru peringatan dingin: kalau sanggup lanjut, silakan. Kalau tidak, berhenti. Itu saja. Mas Yudi yang sudah terlanjur setengah jalan memilih meneruskan, bahkan meminta izin melakukan tirakat di rumah Zaki.
Malam kedua, gangguan datang lagi. Obor itu muncul sebentar, menghilang, tapi meninggalkan rasa perih di sekujur badan seperti kulit disayat. Mas Yudi mulai terbiasa dengan rasa sakit—dan di situlah bahaya pertama muncul: ketika takut mulai berubah jadi “ah, paling begitu lagi”.
Hari ketiga, dua temannya menemani karena penasaran. Justru di malam itu, wujud “obor” berubah seperti manusia yang seluruh tubuhnya api—tanpa asap—panasnya lebih liar. Teman-temannya melihat Mas Yudi seperti dibanting ke atas-bawah, sementara Mas Yudi sendiri tidak ingat apa-apa selain merasa sedang melanjutkan wirid.
Ia pingsan dan terbangun di puskesmas, sudah diinfus. Orang tua dipanggil. Keributan terjadi. Namun Mas Yudi menolak berhenti. Ia kembali ke rumah Zaki, menutup diri, dan memaksa ritme tirakatnya berjalan meski tubuhnya sudah kacau.
Hari keempat, gangguan tidak lagi menunggu malam. Siang-siang, saat ia hendak mandi untuk bersiap salat, sosok api itu datang dari dua arah—di depan dan belakang—seperti memerangkap. Wujud satunya lebih menyeramkan: besar, hitam, berbulu, tapi wajahnya tetap menyala merah.
Mas Yudi memaksakan diri bertahan. Ia mengurung diri di kamar mandi lama sekali, berharap air bisa meredam panas yang menjalar dari tulang sampai kepala. Dari hari ke hari, ia merasa seperti orang yang sedang “dibentuk” ulang—bukan jadi lebih tenang, tapi jadi lebih mudah tersulut.
Sampai tiba malam terakhir. Ia harus keluar rumah, tidak boleh tidur, tidak boleh berteduh, bertahan sampai pagi. Di perjalanan, ada ibu-ibu yang menjerit melihatnya—katanya kaki Mas Yudi tidak menapak. Mas Yudi sendiri memilih kabur ke sawah, bersembunyi di tengah gelap agar tidak jadi tontonan.
Di tengah sawah itulah sosok itu datang lagi—kali ini membawa senjata seperti tombak melengkung. Mas Yudi mundur, berusaha menahan diri, lalu gelap. Ia tidak sadar sampai pagi, dibangunkan orang yang hendak ke sawah.
Mas Yudi pulang tanpa sempat “menguji” apa pun. Namun beberapa bulan kemudian, ajian itu seakan menjawab sendiri. Di kampungnya ada hajatan dangdutan yang ricuh—bukan sekadar berantem biasa, tapi yang bikin rusuh justru orang dari kampung sebelah, bahkan ada oknum aparat desa.
Mas Yudi datang bersama temannya. Saat temannya disabet besi sepeda sampai jatuh, Mas Yudi reflek mendekat. Ia mengaku hanya menampar sambil “mengucap dalam hati” agar pelaku pingsan—dan orang itu benar-benar tumbang di tempat. Kerumunan makin gaduh, dan Mas Yudi justru ketakutan, bukan bangga.
Keesokan harinya kabar menyebar: korban masuk rumah sakit, polisi mencari Mas Yudi, rumahnya didatangi orang-orang. Karena panik, ia kabur lagi—kali ini jauh sampai menyeberang dan berakhir di Lampung, tanpa bekal, masih memakai seragam sekolah.
Di Lampung, ia kelaparan dan mencoba minta kerja pada tukang parkir. Ia bertemu “bos parkir” yang terkenal menguasai setoran pasar. Mas Yudi yang keliru mengira orang itu pasti punya hati, minta uang makan baik-baik. Jawabannya justru jambakan dan tamparan.
Di titik itu, emosi Mas Yudi meledak. Ia memegang tangan si bos parkir dan dalam hati mengucap sesuatu—tangannya patah, tulangnya seperti keluar, darah mengucur, dan pasar heboh. Orang-orang berdatangan, tapi tidak ada yang berani maju ketika Mas Yudi mengancam dalam batin.
Alih-alih dihajar, Mas Yudi malah “diamanin” kepala pasar. Anehnya, banyak pedagang justru lega karena selama ini bos parkir itu dikenal memalak. Mas Yudi diberi makan, diberi tempat menginap, bahkan dianggap seperti orang dalam—ia punya kuasa untuk menarik setoran, lalu uangnya dipakai untuk biaya pengobatan si bos parkir yang ia celakai.
Saat saudara-saudara si bos parkir datang mengamuk, keributan besar terjadi sampai polisi turun. Namun setelah melihat sendiri kondisi korban di rumah sakit, konflik itu berakhir “damai” dengan cara kampung: mediasi, saling menahan ego, dan Mas Yudi makin lama makin dianggap saudara oleh orang-orang pasar.
Beberapa waktu kemudian, Mas Yudi akhirnya pulang ke Jawa. Tapi masalahnya, ia tidak pulang sebagai anak sekolah yang dulu—ia pulang dengan emosi yang mudah meledak dan rasa takut yang sudah berubah jadi keberanian yang keliru. Di kampung, ia kembali terlibat bentrok, berulang, sampai keluarganya lelah menasihati.
Mas Yudi mengaku sejak punya ajian itu, hidupnya seperti punya kutuk lain: sulit cari nafkah normal. Ia tidak cocok bertani—tanaman yang ia pegang sering mati. Ia juga tidak cocok beternak. Akhirnya, cara bertahannya justru lewat jaringan pergaulan: mengurus ini-itu, membantu orang bikin surat, urusan administrasi, karena ia “kenal orang” dari dampak masa lalunya yang sering ribut.
Di balik itu, ia menanggung sakit yang tidak hilang-hilang. Kaki kirinya nyut-nyutan seperti terbakar, panas seperti disiram air mendidih, setiap menit setiap detik. Ia merasa itu efek dari ritual lama—karena dulu ia sering memukul telapak kaki dalam tirakatnya.
Mas Yudi sudah berusaha mencari orang yang bisa “melebur” ilmu itu. Ia datang ke banyak tempat, tapi bukannya hilang, ia merasa justru makin terseret dan bertambah cabang ilmu lain. Ia sampai pada kesimpulan pahit: kalau sudah “turunan” dan sudah terlanjur menempel, melepaskannya tidak semudah membalik telapak tangan.
Pada akhirnya, Mas Yudi mengaku menyesal. Baginya, ajian semacam itu tidak membuat hidup lebih baik—yang ada justru membuatnya mudah marah, mudah tersulut, dan berbahaya untuk orang-orang terdekat. Ia bahkan takut suatu hari emosinya lepas kontrol dan melukai keluarganya sendiri.
Pesan yang ia titipkan sederhana, tapi terdengar seperti orang yang sudah kenyang luka: zaman sekarang tidak butuh ilmu kebal, tidak butuh pembuktian di jalanan. Sekuat apa pun tubuh, kalau hati rusak, hidup tetap hancur. Dan ketenangan—kata Mas Yudi—jauh lebih mahal daripada kemenangan apa pun.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
