Tahun 2012 jadi titik balik hidup Pak Mun—seorang pedagang baju keliling yang biasa memikul dagangan dari kampung ke kampung. Ia kerja jauh di Banten, menabung dari hasil ngutang-ngutangin baju, berharap rumah tangganya di Cirebon tetap utuh dan baik-baik saja. Tapi hidup kadang suka menyelipkan kabar busuk lewat cara yang paling dingin: pesan singkat dari nomor tak dikenal.
Isi SMS itu menohok: istrinya disebut-sebut memasukkan lelaki lain lewat jendela, bahkan disebut “tidur bareng” di rumahnya sendiri. Pak Mun semula menahan amarah, mengira itu fitnah orang iseng. Namun gaya bahasanya terasa familiar—seperti orang dekat yang sengaja menyiram bensin ke bara yang sudah lama disimpan.
Karena dada keburu panas, Pak Mun pulang secepatnya. Ia tiba malam hari saat gerimis, masih suasana Ramadan hari-hari awal. Biasanya rumahnya terang, tapi malam itu lampu padam total—halaman, ruang dalam, semuanya gelap seperti sengaja dipadamkan untuk menyembunyikan dosa.
Dengan langkah pelan, ia mendekati jendela. Aneh, jendela sudah terbuka. Dan di situlah dunia Pak Mun runtuh: di kamar, ada istrinya bersama lelaki lain, sama-sama tak berbusana. Pak Mun menelan ludah getir. Ia butuh saksi, butuh bukti, butuh seseorang yang bisa berdiri dan melihat—agar amarahnya tidak berubah jadi tuduhan kosong.
Ia memanggil temannya (nama disamarkan), meminta si teman berdiri di pagar depan, sementara Pak Mun masuk lewat jendela. Begitu melompat masuk, emosi meledak. Ia menginjak ranjang, membanting apa pun yang tersentuh tangan, bahkan meja kaca pecah berkeping-keping seperti harga dirinya yang dihancurkan di tempat itu juga.
Keributan tak terdengar warga karena jarak rumah tetangga berjauhan. Pak Mun dan lelaki itu sempat berkelahi, namun lelaki tersebut keburu kabur saat Pak Mun sempat pingsan beberapa menit. Saat sadar, yang tertinggal hanya istrinya—menangis, menahan, mengunci pintu, seolah ingin mengurung Pak Mun agar aib itu tak keluar rumah.
Pak Mun akhirnya memilih talak. Ia merasa hidupnya habis, kepalanya penuh gambar yang tak bisa dihapus: kamar gelap, jendela terbuka, ranjang yang mengkhianati. Hari-harinya jadi sesak, tidur tak nyenyak, dan pikirannya seperti dipaksa mengunyah luka yang sama berulang-ulang.
Dalam kepayahan itu, ia mencari “ngadem”—mendatangi tempat-tempat patilasan, berharap sunyi bisa menambal yang retak. Di satu malam, ia bertemu teman lain yang memberi “solusi”: pergi ke pesisir, ke pantai utara, sekalian mancing. Saran itu terdengar biasa, tapi nadanya seperti pintu yang dibukakan untuk sesuatu yang tak biasa.
Pak Mun berangkat sendiri. Malam di pantai terasa panjang; suara ombak seperti napas raksasa. Saat ia asyik memancing, ia melihat sosok membungkuk berjalan di kejauhan. Semakin dekat, semakin membuat bulu kuduk berdiri: seorang nenek tua, rambut putih berantakan, wajahnya seram, dan anehnya… ia seperti sudah menunggu di depan, padahal medan batu pemecah ombak itu sulit dilalui orang muda sekalipun.
Nenek itu minta diantar pulang. Pak Mun menuruti—antara iba dan takut. Ia dibawa ke sebuah rumah tua yang gelap dan berbau hanyir, penuh pernak-pernik kuno, kendi-kendi, bunga-bunga, dan suasana dingin yang menekan dada.
Di dalam rumah itu, nenek seakan menghilang. Pak Mun menoleh kanan-kiri—lalu ia melihat sosok lain menggantikan tempat nenek tadi berdiri: seorang “putri” yang teramat cantik, berbusana bak ratu, bermakota, berkalung melati. Cantiknya tidak seperti manusia yang ditemui di pasar atau di jalan; cantiknya seperti terlalu “rapi” untuk dunia.
Sosok itu menyodorkan peti kecil berukir dari kayu jati. “Kalau mau, buka,” kira-kira begitu maksudnya. Dan Pak Mun yang sedang patah, sedang hancur, sedang merasa diinjak-injak, akhirnya mengangguk. Peti itu berisi emas batangan dan perhiasan—kilau yang memabukkan, sekaligus seperti jebakan yang sudah lama menunggu orang lemah.
Namun hadiah selalu punya harga. Ratu itu menuntut perjanjian: setiap malam Jumat Pon, Pak Mun harus datang dan “melayani” sebagai ikatan batin layaknya suami istri—tujuh kali berturut-turut. Pak Mun menyanggupi, bukan karena yakin, tapi karena ingin cepat lepas dari rasa hina dan ingin menukar luka dengan kekuatan.
Ia pulang dengan kepala penuh kabut. Namun begitu tiba di rumah, musibah lain menyambut: anaknya berlumuran darah dari hidung, dan tak ada yang mengawasi. Pak Mun panik, minta tolong tetangga, membawa anak ke dokter—dan di sana ia menerima kabar yang memaku: anaknya tak tertolong, meninggal dunia. Rasa bersalah menenggelamkan dada lebih dalam dari ombak pantai.
Di tengah duka, perjanjian tetap menagih. Malam Jumat Pon tiba, Pak Mun kembali ke pesisir. Ada bau kemenyan, bunga-bunga, kamar yang terasa mencekam. Ia menjalani ritual “hubungan” itu, dan mengaku merasakan kenikmatan yang aneh, seolah tubuhnya ditarik ke dunia lain yang membuat luka di kepala mendadak senyap.
Seusai ritual, ia diberi “oleh-oleh”: sebuntel kain berisi uang gepokan. Nominalnya besar—cukup untuk beli motor, menambah modal dagang, merekrut karyawan, sampai membangun kios. Bulan berikutnya ia kembali, dan uang datang lagi, bertambah lagi, selalu dalam bungkus kain yang sama, selalu terasa “lecek” seperti uang yang sudah lama menunggu pemiliknya.
Usaha Pak Mun melesat. Ia mulai jualan pasar malam, menata lapak seperti toko berjalan, menambah karyawan satu per satu. Dari keliling ke kios, dari motor ke pick up, dari napas pas-pasan ke hidup yang terlihat “jadi”. Perlahan, ia merasa peristiwa perselingkuhan dan bahkan duka anaknya seolah tertutup tirai baru bernama “sibuk” dan “sukses”.
Namun pada malam ketujuh, semuanya berubah. Saat ritual selesai, terdengar suara ramai—warga setempat menggerebek. Pak Mun ditemukan sendirian, dalam kondisi memalukan, sementara “ratu” itu lenyap tanpa jejak. Tempat itu dihancurkan, ia diinterogasi, dipulangkan dengan peringatan: cari rezeki yang baik, jangan menukar hidup dengan jalan yang dilarang.
Sejak itu, rasa “kehilangan” justru datang—bukan hanya kehilangan ratu gaib, tapi juga kehilangan pegangan. Dagangannya mendadak redup: orderan barang tak datang, pelanggan menghilang, uang menipis. Kiosnya dibobol, pelakunya justru anak buah sendiri. Satu demi satu yang ia bangun runtuh seperti disapu balik oleh tangan yang dulu memberinya.
Pak Mun kembali menghabiskan sisa uang untuk mencari ketenangan: tirakat dari tempat ke tempat, berharap ada rem yang bisa menahan hidupnya agar tidak jatuh makin dalam. Di fase itulah ia bertemu sosok kuncen/ustaz yang memberi wejangan: rezeki yang baik itu pelan, tapi menenangkan; yang instan itu cepat, tapi menjerat.
Akhirnya Pak Mun sadar—ia harus mulai dari nol. Harta yang didapat “singkat” ternyata hampa, bahkan meninggalkan lubang lebih besar: kehilangan, penyesalan, dan hidup yang kembali sepi. Ia menutup kisahnya dengan pesan sederhana, tapi berat: saat terpuruk, jangan mencari pintu gelap yang menjanjikan cepat kaya, karena harga yang diminta sering kali jauh lebih mahal daripada uang yang kita impikan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.