Teh Ayu datang jauh dari Banten dengan satu alasan yang terdengar sederhana tapi berat: ia ingin hidupnya kembali punya pegangan. Tahun 2024, rumah tangganya hancur—suami selingkuh, KDRT terjadi bahkan di depan anak-anak, dan akhirnya ia memilih pisah demi keselamatan.
Masalahnya, setelah pisah, hidup Teh Ayu seperti jatuh ke lubang tanpa dasar. Ia tidak punya tabungan. Orang tua sudah tidak ada. Ia membawa dua anak yang masih kecil, salah satunya punya riwayat sakit yang butuh biaya. Dalam kondisi itu, ia sempat berjalan dari Jakarta menuju Banten selama hampir seminggu, menumpang hidup ke saudara sepupu sambil terus memikirkan: besok makan apa, bulan depan bayar apa.
Ketika lamaran kerja tak kunjung ada jawaban, Teh Ayu mulai gelap mata. Malam-malam ia tidak bisa tidur. Ia menatap anak-anaknya yang terlelap, lalu membuka ponsel dan mulai mencari “jalan cepat” yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang.
Di media sosial, ia menemukan pembahasan “pesugihan tanpa tumbal” di Gunung Kemukus, Sragen, Jawa Tengah. Informasi itu terdengar seperti angin segar bagi seseorang yang sudah putus harapan: katanya bisa cepat ada uang, katanya tidak pakai korban.
Karena benar-benar tak punya modal berangkat, Teh Ayu membuat postingan: ia siap berangkat asal ada yang membiayai. Dari situ, muncul seseorang yang menghubunginya lewat pesan pribadi—orang ini lalu menjadi “pasangan ritual” pertamanya. Ia berjanji akan menransfer biaya perjalanan, tapi syaratnya satu: Teh Ayu harus konsisten, karena ritual tidak boleh putus di tengah jalan.
Beberapa hari kemudian uang transfer masuk. Teh Ayu menuruti arahan: naik kereta ke Purwokerto, lalu dijemput naik motor. Sebelum menuju Kemukus, mereka mampir ke pasar untuk membeli kebutuhan—buah-buahan, kembang, dupa, dan berbagai perlengkapan yang disebut “syarat”.
Di perjalanan, Teh Ayu mulai merasa ada yang janggal. Pria itu bercerita ia sering ke Kemukus, tapi selalu gagal karena tak membawa pasangan. Namun di lokasi pemandian, penjual kembang justru nyeletuk seolah pria itu sering “gonta-ganti pasangan”. Teh Ayu tidak langsung menuduh, tapi perasaan tidak enak mulai menempel.
Mereka tiba malam hari dan memilih penginapan yang lokasinya di tengah-tengah—dekat pemandian dan dekat makam. Di kamar, sikap pria itu berubah lebih menekan. Ia memaksa Teh Ayu melakukan sesuatu bahkan sebelum rangkaian ziarah dan mandi dilakukan. Teh Ayu menolak, tapi ia juga takut: ia sendirian di tempat asing, jauh dari anak-anak, dan tidak punya uang untuk pulang.
Menjelang tengah malam mereka turun ke pemandian. Dari luar tampak sepi, tapi ketika masuk, Teh Ayu syok: tempatnya ramai seperti pasar malam, laki-laki dan perempuan mandi tanpa busana, lampu terang, antrean berjejer. Teh Ayu menahan malu dan memilih menutup diri dengan kain, sementara orang-orang lain tampak sudah seperti kehilangan batas.
Selesai mandi, mereka mendatangi sumur tua yang gelap di area pepohonan besar. Di sana, dupa dinyalakan dan koin dilemparkan sambil menyebut niat. Setelah itu mereka lanjut ziarah: dari makam di area pemandian, lalu naik ke makam Pangeran Joko Samudro. Teh Ayu melihat orang-orang berebut “kembang kantil” dan menyimpannya di dompet, diyakini sebagai pelaris.
Ritual puncak dilakukan di kamar penginapan. Teh Ayu diminta menyiapkan kain putih sebagai alas, ditaburi bunga, lalu melakukan hubungan suami-istri dengan syarat tertentu yang membuatnya merasa seperti sedang menggadaikan dirinya sendiri. Setelahnya, kain itu disimpan—dipotong kecil-kecil—sebagian ditaruh di dompet, sebagian lagi di tempat usaha, dianggap sebagai “panglaris”.
Teh Ayu pulang ke Banten membawa air dari pemandian yang ia simpan di jerigen. Ia mulai jualan gorengan dengan modal kecil, bahkan sebagian adonan dicampur air itu karena ia terlanjur percaya. Hasilnya mengejutkan: omzet yang biasanya di bawah seratus ribu mendadak bisa tembus lima ratus ribu sehari. Pesanan ramai, dagangan cepat habis, hidup terasa “naik kelas” dalam waktu singkat.
Namun keberhasilan itu tidak datang tanpa bayang-bayang. Setelah beberapa hari, Teh Ayu bermimpi didatangi sosok seperti “pangeran” yang menindihnya—mimpi yang terasa sangat nyata sampai tubuhnya bangun dalam kondisi lelah dan basah, seperti habis berhubungan. Mimpi itu berulang tiap kali ia pulang dari ritual berikutnya.
Masalah lain muncul: pasangan ritual pertama mendadak menghilang. Teh Ayu diabaikan di WhatsApp, diblokir di media sosial. Ia panik—ritual katanya tak boleh putus. Demi menjaga “konsistensi”, Teh Ayu mencari pasangan baru lewat cara yang sama.
Datanglah pasangan ritual kedua—Mas Agus (samaran) dari Jawa Barat—yang mengajak bertemu langsung di sekitar lokasi. Mereka menjalani rangkaian yang mirip: mandi, ziarah, lalu kembali ke kamar untuk ritual. Bedanya, Teh Ayu mengaku kali ini energinya terasa lebih “kuat”, seolah ada sesuatu yang ikut mendorong. Di jalan pulang seusai ziarah, Teh Ayu bahkan sempat melihat sosok laki-laki tinggi besar berkulit gelap dengan mata merah menatap tajam—sementara Mas Agus mengaku tidak melihat apa-apa.
Beberapa bulan berjalan, usaha Teh Ayu benar-benar melesat. Anak minta apa kebeli. Ia bisa membeli barang-barang yang dulu terasa mustahil. Hidupnya lebih ringan, tetangga mulai menghargai, dan ia merasa akhirnya berhasil berdiri sendiri sebagai single parent.
Tapi seperti banyak kisah jalan pintas, titik baliknya datang saat ia lengah. Menjelang bulan keempat, pasangan ritual kedua tiba-tiba menghilang juga. Teh Ayu tidak jadi berangkat. Bulan itu dagangan masih aman, membuatnya sempat berpikir: “Mungkin ini memang rezekiku, bukan efek apa-apa.”
Baru di bulan kelima, semuanya seperti dijatuhkan sekaligus. Teh Ayu mendadak sakit parah—muntah darah berulang, dirawat seminggu di rumah sakit, tapi hasil lab katanya normal. Anehnya, kambuhnya sering muncul di malam-malam tertentu (yang ia ingat berulang), seperti punya pola sendiri.
Teh Ayu mencoba ikhtiar ke beberapa ustaz. Ada yang hanya memberi air doa dan menyuruh mandi. Ada yang memintanya selalu memegang tasbih dan wirid tertentu. Tapi sakit itu tetap datang, bahkan disertai gangguan suara di atas genteng seperti lemparan batu atau keramaian yang tidak terlihat sumbernya.
Sampai akhirnya ia bertemu ustaz lain yang seolah “tahu” tanpa Teh Ayu harus mengaku. Ustaz itu menyuruh Teh Ayu membeli suatu benda dengan harga besar, lalu membuangnya ke laut atau air mengalir. Teh Ayu terpaksa menghabiskan tabungan, bahkan berutang, demi mengikuti arahan itu—karena ia takut nyawanya yang jadi taruhan.
Setelah benda itu dibuang, Teh Ayu mengaku sembuh seketika. Tapi kesembuhan itu menyisakan dua luka baru: utang yang menumpuk, dan usaha yang kembali drop. Rezekinya jadi lebih seret daripada sebelum ia mengenal Kemukus. Ia pun sampai pada kesimpulan pahit: istilah “tanpa tumbal” ternyata tidak benar-benar tanpa harga—bisa jadi yang ditumbalkan adalah diri sendiri, kesehatan sendiri, dan ketenangan sendiri.
Kini Teh Ayu memilih bertahan pelan-pelan. Ia tidak mau kembali jatuh ke lubang yang sama. Ia mengaku menyesal, dan ingin kisahnya jadi peringatan: ketika hidup menghimpit, jangan menukar badan dan iman demi uang yang datangnya terlalu cepat—karena jalan pintas selalu punya tagihan tersembunyi, dan sering kali tagihan itu datang saat kita merasa paling aman.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.