Tidak semua orang yang terjatuh memilih bangkit dengan cara yang sama. Ada yang bersabar meski hidup menamparnya berkali-kali, ada yang bertahan walau terus dipandang rendah, tetapi ada pula yang pada akhirnya memilih jalan paling gelap ketika merasa seluruh pintu di dunia nyata telah tertutup. Kisah Mas Kumbang adalah salah satu gambaran tentang bagaimana luka harga diri, kemiskinan, dan penghinaan yang berulang bisa mendorong seseorang menempuh jalan terlarang demi mengubah nasib.
Pada tahun 2013, hidup Mas Kumbang berada di titik yang sangat rendah. Ia sudah berkeluarga, sudah memiliki seorang anak, tetapi tidak punya pekerjaan tetap dan tidak memiliki penghasilan yang bisa membuatnya berdiri tegak di hadapan lingkungan sekitarnya. Keadaan ekonomi yang buruk bukan hanya membuat hidupnya susah, tetapi juga menjadikannya bahan hinaan. Ia merasa tidak dihargai sebagai laki-laki, tidak dipandang sebagai kepala keluarga, dan perlahan kehilangan martabatnya di tengah orang-orang yang seharusnya menjadi lingkungan tempatnya hidup.
Hinaan yang ia terima bukan sekadar ejekan biasa. Menurut pengakuannya, ia pernah meminta sebatang rokok kepada seorang teman, namun justru dibalas dengan kata-kata kasar yang sangat menusuk. Ia disuruh bekerja, disuruh sadar diri, bahkan dianggap hanya menjadi beban dan sampah dalam lingkungan sosialnya sendiri. Semua ucapan itu menumpuk di kepalanya dan menjadi luka yang makin hari makin dalam. Ia merasa bukan hanya miskin, tetapi juga dianggap tidak berguna. Di situlah, sedikit demi sedikit, akal sehatnya mulai kalah oleh sakit hati.
Mas Kumbang sebenarnya pernah bertemu seseorang yang kemudian menjadi kunci dari jalan gelap yang ia pilih. Orang itu bukan keluarga, bukan sahabat, dan bukan pula kenalan dekat. Ia hanya sosok yang pernah ia jumpai ketika sama-sama berada di sebuah tempat yang biasa dipakai orang untuk menyepi dan bertirakat. Dalam pertemuan singkat itu, ia pernah mendengar bahwa orang tersebut biasa mengantar orang-orang yang ingin mencari jalan pesugihan atau ingin mengubah nasib secara instan. Saat itu, Mas Kumbang belum tertarik. Namun setelah hidupnya semakin terpuruk dan penghinaan makin tak tertahankan, ingatan tentang sosok itu kembali muncul.
Akhirnya, ia memutuskan untuk mencari orang tersebut. Namanya disamarkan menjadi Ki Suryo. Dengan kondisi tidak punya uang dan benar-benar sedang di titik putus asa, Mas Kumbang nekat berjalan kaki untuk menemui orang itu. Ia menempuh perjalanan selama beberapa hari, mengandalkan alamat yang samar dan tekad yang sudah bulat. Dalam pikirannya saat itu, hidupnya sudah terlalu hina untuk dipertahankan. Jika tidak berhasil mengubah nasib, ia merasa mati pun tidak masalah. Tekad yang lahir dari keputusasaan itulah yang mendorongnya terus berjalan sampai akhirnya bertemu dengan Ki Suryo di bawah sebuah pohon beringin.
Setelah bertemu, Mas Kumbang langsung mengutarakan niatnya. Ia ingin mengubah nasib. Ia ingin keluar dari hidup yang penuh cacian, kemiskinan, dan penolakan. Ki Suryo tidak banyak bicara. Ia hanya memastikan bahwa niat Mas Kumbang benar-benar bulat, sebab jalan yang akan ditempuh bukan jalan yang bisa dicoba setengah hati. Ketika Mas Kumbang menegaskan bahwa dirinya sudah siap dengan apa pun konsekuensinya, Ki Suryo membawanya ke sebuah gua yang letaknya terpencil. Namun setelah sampai di sana, Ki Suryo justru tidak ikut masuk. Ia hanya menunjukkan tempatnya dan menyuruh Mas Kumbang masuk sendiri untuk menghadapi apa pun yang ada di dalam.
Gua itu bukan tempat biasa. Saat pertama kali dimasuki, tempat itu dipenuhi bau busuk yang menusuk, bekas-bekas sesaji, tulang belulang, dan suasana yang sangat tidak manusiawi. Bagi orang yang tidak kuat, tempat seperti itu mungkin sudah cukup membuat muntah atau lari terbirit-birit. Namun Mas Kumbang bertahan. Ia menahan rasa mual, menahan takut, dan menganggap semua itu sebagai ujian awal untuk membuktikan keseriusannya. Ia merasa hidupnya memang sedang dipertaruhkan, sehingga tak ada lagi alasan untuk mundur.
Di dalam gua itu, ia mengaku bertemu dengan sosok aneh, bukan sepenuhnya manusia, bukan pula sepenuhnya jin. Makhluk itu menjadi semacam penjaga atau pengantar menuju tahap berikutnya. Mas Kumbang diberi beberapa pilihan aneh yang harus ia telan sebagai syarat awal. Ada ayam bakakak, burung emprit, ikan lele, dan ulat besar berwarna cokelat yang disebut ulat kilan. Saat hendak memilih, tubuhnya seolah bereaksi sendiri. Ketika ia ragu, tubuhnya terasa berat dan membeku. Tetapi ketika ia mantap memilih, seolah ada jalan yang dibuka. Dari semua pilihan itu, ia akhirnya memilih memakan ulat tersebut, didorong oleh niat dan amarahnya kepada orang-orang yang selama ini ia benci dan anggap menzaliminya.
Setelah itu ia dibawa lebih dalam lagi dan diberi cairan berlendir yang menurutnya berbau amis seperti air ketuban atau bau ikan laut yang menyengat. Ia tetap meminumnya, menahan mual dan jijik. Sesudah cairan itu masuk ke tubuhnya, kesadarannya mulai berubah. Gua yang tadinya kotor, busuk, dan menyeramkan tiba-tiba berubah menjadi tempat yang sangat indah. Sesaji dan tengkorak menghilang, digantikan taman, bunga, dan suasana harum yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia seolah memasuki dimensi lain, tempat yang justru tampak mewah dan memesona.
Di tempat itulah ia dipertemukan dengan sosok perempuan yang digambarkannya seperti ratu. Makhluk itu tampak cantik, berbusana ala kerajaan, mengenakan mahkota dan perhiasan, serta memancarkan daya tarik yang menurut Mas Kumbang jauh melampaui perempuan biasa. Sosok inilah yang kemudian menjadi pusat dari seluruh perjanjian. Ia menjelaskan bahwa Mas Kumbang datang bukan sekadar untuk mencari kekayaan, melainkan untuk memilih jalan kerja atau cara memperoleh hasil dari dunia gaib.
Mas Kumbang lalu dihadapkan pada beberapa pilihan bentuk pesugihan. Ada jalan yang berhubungan dengan wujud gagak, ada yang berkaitan dengan kain putih atau lawon, ada yang menyerupai wujud makhluk besar seperti buto, dan ada pula pilihan terakhir, yaitu pernikahan antara manusia dengan bangsa jin atau setan. Dari semua itu, Mas Kumbang merasa pilihan terakhir adalah yang paling mudah baginya. Ia tidak ingin mengambil bentuk menyeramkan atau berubah rupa menjadi makhluk tertentu. Ia justru memilih jalan paling rumit tanpa benar-benar memahami akibat jangka panjangnya: menikahi sosok gaib sebagai jalan memperoleh kekayaan.
Setelah keputusan itu diambil, ia memasuki tahap berikutnya. Ia diperlihatkan sosok-sosok perempuan dari bangsa gaib yang digambarkannya memiliki kecantikan luar biasa. Dalam pandangannya saat itu, kecantikan mereka tampak begitu sempurna dan tidak memiliki kekurangan seperti manusia biasa. Dari beberapa sosok yang ditampilkan, Mas Kumbang memilih satu yang paling menarik baginya. Ia lalu dibawa ke prosesi yang menyerupai pernikahan, lengkap dengan penghulu gaib, saksi, dan suasana yang seakan-akan meriah. Semua itu berlangsung bukan dalam bentuk ritual manusia biasa, tetapi dalam suasana yang baginya terasa sangat nyata.
Mas kawin dalam pernikahan itu bukan berupa benda, melainkan sesuatu yang lebih samar dan lebih gelap: niat kebencian dan keterikatan terhadap orang-orang yang ia benci. Ia juga harus meminum satu cawan yang diminum bersama sosok gaib itu sebagai tanda penyatuan dan pengikatan janji. Setelah prosesi selesai, Mas Kumbang dinyatakan telah resmi terikat dengan istri gaibnya. Namun ia tidak membawa wujud perempuan itu pulang secara nyata. Ia hanya diberi sebuah wadah atau tempat yang menjadi persinggahan makhluk tersebut di dunia manusia.
Ketika keluar dari gua, ia kembali bertemu dengan Ki Suryo. Dari situlah ia baru tahu bahwa waktu yang ia rasakan sebentar ternyata telah berlangsung sekitar empat puluh hari, bahkan lebih. Ia merasa baru sebentar berada di dalam, tetapi waktu di luar sudah berjalan begitu lama. Ki Suryo hanya memberinya ongkos pulang dan menegaskan bahwa setelah ini Mas Kumbang tinggal menjalani hasil dari pilihannya sendiri. Tidak ada lagi hubungan yang perlu dipelihara antara mereka.
Setelah pulang, Mas Kumbang menyadari bahwa dirinya memang berubah. Bukan hanya dalam perasaan, tetapi juga dalam aura yang dirasakan orang-orang di sekitarnya. Tatapan orang kepadanya tidak lagi sama. Ia yang sebelumnya terlihat kusam, miskin, dan tidak punya daya tarik mendadak tampak berbeda. Namun bersamaan dengan itu, ia harus memenuhi syarat utama dari perjanjian tersebut: menyediakan tempat khusus untuk ritual yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk istri dan anaknya sendiri. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa jika rahasia ini sampai terbongkar, nyawa menjadi taruhannya.
Karena itu, Mas Kumbang menyewa sebuah tempat terpencil, berupa bangunan sederhana yang jauh dari permukiman warga. Di tempat itulah ia menyiapkan gentong atau tempayan dari tanah liat sebagai wadah persinggahan istri gaibnya. Di atasnya dipasang lentera dan lilin. Semua itu menjadi semacam kamar atau ruang sakral tempat ia harus menunggu kedatangan makhluk tersebut setiap malam Sabtu.
Cara ia mengetahui kedatangan istri gaibnya pun tidak biasa. Menjelang waktu tertentu, sekitar tengah malam lewat, ruangan dan sekeliling tempat itu akan dipenuhi aroma harum yang sangat kuat. Aroma itulah yang menjadi tanda bahwa sosok tersebut sudah datang. Saat masuk ke kamar, ia melihat makhluk itu berbaring di ranjang dengan tubuh indah dari depan, tetapi bagian belakangnya tertutup kain. Mas Kumbang kemudian menjalani hubungan badan dengan makhluk tersebut sebagai bagian dari ikatan yang terus diperbarui. Setelah selesai, ia keluar sebentar lalu memeriksa tempayan itu. Di sanalah hasil mulai muncul, bukan berupa uang tunai, melainkan logam-logam mulia seperti emas, perak, atau benda berharga lain dalam jumlah kecil.
Awalnya hasil yang ia dapatkan belum besar. Ia menjual sedikit demi sedikit logam tersebut melalui orang-orang yang berjualan emas di pinggir jalan. Dari situ ia memperoleh uang yang cukup untuk mulai mengubah hidupnya. Ia lalu menggunakan uang itu untuk membayar uang muka rumah perumahan, membeli berbagai kebutuhan, dan perlahan membangun citra baru sebagai orang yang berhasil. Kepada istrinya, ia tidak pernah jujur. Ia hanya mengaku sedang bekerja malam, sementara seluruh ritual tetap ia lakukan diam-diam di tempat sewaannya.
Semakin lama, hasil yang ia dapatkan makin besar. Mas Kumbang mengaku bahwa semakin ia mampu memuaskan istri gaibnya, semakin besar pula penghasilan yang diperolehnya. Karena logam mulia yang datang tidak mungkin lagi dijual sedikit-sedikit ke pedagang kecil, ia mulai mencari jalur yang lebih besar dan akhirnya bekerja sama dengan orang asing untuk menjual hasil tersebut. Dari situlah uang mengalir lebih deras. Hidup yang dulu compang-camping mulai berubah total. Ia membeli mobil, rumah layak, motor besar, pakaian mahal, dan semua atribut kemewahan yang dulu hanya bisa ia bayangkan dari kejauhan.
Di titik itu, rasa sakit hatinya yang dulu berubah menjadi kesombongan. Ia mulai mendatangi orang-orang yang pernah menghinanya, bukan untuk memaafkan, tetapi untuk menunjukkan bahwa dirinya sekarang lebih berhasil daripada mereka. Ia mentraktir, membagi-bagikan uang, membeli rokok untuk orang-orang yang dulu menyepelekannya, lalu menyindir balik tentang hidup mereka yang menurutnya tidak berkembang. Baginya, semua itu menjadi semacam balas dendam sosial. Ia menikmati saat orang-orang yang dulu mencemoohnya kini justru menundukkan kepala di hadapannya.
Namun jalan gelap tidak pernah memberi hasil tanpa menagih kepatuhan. Setelah sekitar satu tahun menjalani kehidupan mewah, Mas Kumbang mulai lalai. Ada malam Sabtu ketika ia tidak menjalankan ritual sebagaimana mestinya. Kelalaian itu langsung dibalas dengan hukuman yang sangat mengerikan. Suatu malam ia tidur dan mendapati makhluk perempuan menyeramkan muncul tepat di depan wajahnya. Wajah makhluk itu busuk, penuh belatung, rusak, dan sangat jauh dari sosok cantik yang biasa datang kepadanya. Tubuh Mas Kumbang saat itu seperti terikat, tidak bisa bergerak, dan hanya bisa menahan rasa sakit serta teror sampai waktu tertentu lewat. Setelah kejadian itu, tubuhnya jatuh sakit selama berhari-hari dan tidak bisa pulih dengan pengobatan biasa.
Ketika malam Sabtu berikutnya ia kembali bertemu dengan istri gaibnya, ia sempat berusaha bertanya tentang hukuman yang ia alami. Namun pertanyaan itu justru membuat makhluk tersebut menunjukkan wajah aslinya lewat perubahan mata yang melotot dan menyempit seperti mata reptil. Dari situ Mas Kumbang sadar bahwa hubungan itu bukan hubungan yang bisa dinegosiasikan. Ia tidak berhak banyak bertanya. Ia hanya dituntut patuh, memuaskan, dan memenuhi semua perjanjian tanpa bantahan.
Hukuman berikutnya jauh lebih keji. Karena melakukan kelalaian lebih dari sekali, ia dipaksa menghadapi bagian tubuh belakang dari istri gaib yang sejak awal selalu tertutup kain. Saat kain itu dibuka, yang terlihat bukan tubuh indah, melainkan daging busuk yang penuh belatung dan bau yang luar biasa menyengat. Namun justru itulah bentuk hukuman yang harus ia terima. Ia diwajibkan tetap melakukan hubungan badan dalam kondisi menjijikkan seperti itu. Bukan hanya fisiknya yang dihukum, tetapi juga mental dan kejijikannya dipaksa tunduk pada ikatan yang sudah ia buat sendiri.
Mas Kumbang mengakui bahwa di balik kekayaan yang ia nikmati, ada banyak syarat lain yang harus dipenuhi. Ia harus menyediakan hal-hal tertentu untuk ritual, termasuk persembahan seperti sate gagak dan aturan-aturan lain yang makin lama makin berat. Semua itu menunjukkan bahwa perjanjian yang awalnya ia anggap sebagai jalan keluar ternyata berubah menjadi rantai yang terus menjeratnya lebih dalam. Kekayaan memang datang, tetapi ketenangan justru makin menjauh.
Selama kurang lebih tiga tahun, ia hidup dalam dua wajah. Di luar, ia tampil sebagai orang sukses, terpandang, berpakaian bagus, dan hidup berlimpah. Di dalam, ia terikat pada malam-malam ritual, ancaman rahasia yang tak boleh terbuka, hukuman mengerikan jika lalai, dan hubungan yang sama sekali tidak manusiawi. Ia menikmati hasilnya, tetapi juga hidup dalam ketakutan akan konsekuensi yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan semuanya.
Kisah Mas Kumbang memperlihatkan betapa berbahayanya ketika luka batin dibiarkan menumpuk tanpa jalan keluar yang sehat. Hinaan, kemiskinan, dan rasa rendah diri memang dapat membuat seseorang nekat, tetapi jalan pintas yang dibayar dengan ikatan gaib tidak pernah benar-benar menghadirkan ketenangan. Yang datang memang bisa berupa rumah, mobil, motor besar, pakaian mewah, dan penghormatan dari orang-orang sekitar. Namun semua itu hanya lapisan luar. Di baliknya ada ketakutan, rahasia, hukuman, dan penyesalan yang menunggu giliran.
Pada akhirnya, jalan gelap seperti ini tidak hanya merusak pelakunya, tetapi juga menghancurkan cara pandangnya terhadap manusia, terhadap harga diri, dan terhadap makna hidup itu sendiri. Mas Kumbang ingin berhenti menjadi orang yang dihina, tetapi pilihan yang ia ambil justru membuatnya harus membayar harga yang jauh lebih mahal daripada hinaan itu sendiri. Kekayaan memang sempat membuatnya berdiri tegak, tetapi ikatan yang menyertainya perlahan menyeret jiwanya ke tempat yang lebih gelap daripada kemiskinan yang dulu ia takuti.
Pelajaran terbesar dari kisah ini adalah bahwa tidak semua perubahan nasib layak diperjuangkan dengan cara apa pun. Ada jalan yang kelihatannya cepat dan menggiurkan, tetapi sesungguhnya sedang menggali lubang yang lebih dalam. Dan ketika seseorang sudah terlalu jauh masuk ke dalamnya, ia mungkin bisa membeli kemewahan, tetapi belum tentu bisa membeli kembali ketenangan, keselamatan, dan kebebasan hidupnya sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
