Tidak semua jalan keluar datang dalam bentuk yang menenangkan. Kadang, ketika hidup sedang sempit, hutang menumpuk, anak-anak harus diberi makan, dan orang yang seharusnya menjadi sandaran justru pergi meninggalkan luka, seseorang bisa tergoda oleh jalan yang tampak mudah dan menjanjikan hasil cepat. Itulah yang terjadi pada Teh Dea, seorang perempuan yang pernah menjalani hidup sebagai sales promotion girl atau SPG, lalu terseret ke dalam praktik pengasihan dan pelet semaresem demi membuat dagangannya laris dan hidupnya kembali terangkat.
Pada tahun 2015, Teh Dea sebenarnya masih berstatus sebagai ibu rumah tangga. Ia telah menikah dan memiliki tiga orang anak. Awalnya, rumah tangganya berjalan baik. Suaminya, yang namanya disamarkan menjadi Agung, memiliki usaha jual beli motor dan ponsel. Kehidupan mereka sempat terasa harmonis dan cukup. Uang untuk kebutuhan rumah tangga masih ada, anak-anak pun hidup dalam keadaan yang layak. Namun perlahan, keadaan berubah. Sang suami mulai sering meminta uang, terus-menerus mengaku butuh modal, dan memaksa Teh Dea untuk mencari pinjaman ke mana-mana.
Karena ingin membantu suami, Teh Dea menuruti semuanya. Ia meminjam uang dari kelompok arisan pinjaman, dari saudara, dari teman, bahkan dari siapa saja yang masih bisa diharapkan memberi pinjaman. Ia percaya uang itu benar-benar akan dipakai untuk modal usaha. Namun di balik itu semua, rupanya suaminya telah berubah. Agung mulai kasar, mudah marah, dan tak lagi memberi nafkah seperti dulu. Puncaknya, Teh Dea mendengar kabar bahwa suaminya sering terlihat bersama perempuan lain. Awalnya ia tidak percaya, tetapi lama-kelamaan semua tanda itu terasa semakin nyata.
Sampai suatu hari, pertengkaran besar pun tak terhindarkan. Suaminya datang lagi meminta uang dengan nada kasar, membentak, memaki, bahkan melempar gelas hingga pecahannya mengenai wajah Teh Dea. Luka itu bukan hanya meninggalkan bekas di kulitnya, tetapi juga menghancurkan sisa keyakinannya pada rumah tangga yang selama ini ia pertahankan. Tidak lama setelah itu, Agung benar-benar pergi bersama perempuan lain, meninggalkan Teh Dea dengan dua anak yang ikut bersamanya. Anak perempuannya dibawa oleh sang suami. Sejak saat itulah hidup Teh Dea berubah total.
Ditinggalkan suami, dibebani hutang, dan harus menghidupi anak-anak sendirian, Teh Dea mulai mencari pekerjaan apa pun yang bisa memberinya penghasilan. Dalam keadaan terdesak itu, ia teringat pada temannya bernama Rina. Rina bekerja sebagai SPG minuman. Teh Dea pun datang kepadanya dan meminta dicarikan pekerjaan. Ia tidak lagi memikirkan gengsi atau rasa malu. Baginya, yang penting saat itu adalah bisa menghasilkan uang dan bertahan hidup.
Rina lalu membawanya ke sebuah perusahaan distribusi minuman, tempat ia bisa bekerja sebagai SPG keliling. Pekerjaannya bukan berdiri di mal atau supermarket, melainkan menjajakan minuman dari tempat ke tempat, dari kantor ke perkampungan, dari rumah makan ke tongkrongan. Bagi Teh Dea yang baru terjun ke dunia itu, pekerjaan tersebut ternyata sangat berat. Setiap hari ia harus menawarkan produk kepada banyak orang, tetapi hasilnya sangat minim. Sering kali hanya satu atau dua botol yang laku. Dalam tujuh hari pertama, kondisinya tetap sama. Ia sampai dimarahi oleh pemilik atau atasannya karena penjualannya terlalu kecil dan tak memberi hasil berarti.
Di tengah frustrasi itu, Teh Dea memperhatikan bahwa Rina justru sangat lancar berjualan. Cara Rina menawarkan produk terlihat begitu mudah. Sekali bicara, pembeli langsung mengambil satu paket. Bahkan sering kali pelanggan memberi uang tambahan sebagai uang jajan. Teh Dea merasa heran. Ia menggunakan cara yang mirip, tetapi hasilnya sangat jauh berbeda. Ketika ia bertanya apa rahasianya, Rina awalnya enggan menjelaskan. Namun setelah terus didesak, Rina akhirnya berkata bahwa ia akan mengajak Teh Dea menemui seseorang yang bisa membantu.
Hari Minggu, saat sedang libur, mereka berdua berangkat ke Kuningan dengan motor. Perjalanan itu tidak mudah. Jalannya jauh, melewati tanjakan dan sungai besar, bahkan sempat mengalami ban kempes di tengah jalan. Bagi Teh Dea, semua rintangan itu terasa seperti ujian yang harus ia lewati demi mengubah hidup. Dalam hatinya, ia hanya punya satu niat: ia harus bangkit, harus bisa menghidupi anak-anak, dan harus menunjukkan kepada suaminya bahwa dirinya bisa hidup lebih baik tanpa bergantung pada siapa pun.
Mereka akhirnya sampai di tempat yang disebut sebagai rumah atau padepokan sang Abah. Tempat itu bukan rumah yang nyaman, melainkan gubuk tua yang sangat kental dengan suasana mistis. Saat masuk, Teh Dea merasakan hawa dingin dan merinding. Di dalam ruangan tercium aroma bunga, kemenyan, dan wangi-wangian yang khas. Sosok Abah yang ditemuinya tampak sangat tua, berjenggot putih panjang, berambut panjang beruban, dan mengenakan jubah putih. Penampilannya membuat Teh Dea sekaligus takut dan yakin bahwa dirinya sedang berhadapan dengan seseorang yang dianggap sakti.
Abah lalu bertanya apa tujuan kedatangannya. Dengan jujur, Teh Dea mengatakan bahwa ia ingin dagangannya laris seperti Rina, ingin punya uang banyak, dan bahkan ingin bisa membalas rasa sakit hati terhadap suaminya yang telah meninggalkannya. Ia juga mengaku masih sulit melupakan suaminya meski sudah tersakiti. Mendengar itu, Abah membawanya ke pinggir sungai besar. Di sana, ia diminta menulis nama mantan suaminya di selembar daun pisang. Setelah itu, daun tersebut diberi semacam minyak, diremas-remas, lalu disuruh dilempar ke sungai sambil menyebut kebenciannya pada suami yang telah mengkhianatinya. Ritual itu disebut sebagai cara untuk melepaskan ikatan emosional dan mengusir bayangan masa lalunya.
Setelah kembali ke gubuk, Abah menyuruh Teh Dea mandi bunga sebagai pembersihan diri. Ia juga sudah diminta membawa pakaian ganti, bedak, lipstik, parfum, dan bunga kantil putih. Baju yang dipakai saat mandi harus dibuang, sementara perlengkapan rias dan parfum itulah yang nantinya akan diisi oleh Abah. Menurut penjelasan Abah, yang akan dipakai oleh Teh Dea adalah pelet semaresem, sejenis pengasihan atau daya pikat yang membuat orang tertarik dan mudah luluh terhadap dirinya.
Salah satu pengalaman aneh yang dirasakan Teh Dea terjadi saat ia mandi bunga itu. Ia merasa seperti ada sesuatu yang memeluk tubuhnya. Dingin, tetapi nyata. Ketika hal itu ia sampaikan, Abah justru mengatakan bahwa itu tanda cocok, tanda bahwa ada sesuatu yang sudah masuk ke dalam dirinya. Setelah ritual selesai, perlengkapan rias dan parfum dibawa ke ruang tertutup yang tak boleh dilihat. Teh Dea sempat penasaran, tetapi ia menahan diri. Tak lama kemudian, Abah keluar dan menyuruhnya memakan tiga kuntum bunga kantil putih. Teh Dea menelan bunga itu meski rasanya aneh dan membuat tubuhnya seperti dialiri sesuatu yang dingin dan menjalar masuk.
Dari situ ia pulang membawa perlengkapan yang telah diisi. Ia juga menyerahkan uang dua ratus ribu rupiah sebagai tanda terima kasih. Abah berpesan bahwa setiap tiga bulan sekali, ia harus kembali untuk mengisi ulang atau mengecas perlengkapan tersebut. Bedak, lipstik, dan parfum itu tidak boleh dipinjamkan kepada siapa pun. Menurut Abah, jika sampai dipakai orang lain, maka seluruh pengasihan itu akan hilang.
Keesokan harinya, Teh Dea mulai bekerja lagi sebagai SPG. Seperti biasa, ia berdandan sebelum berangkat. Namun kali ini, saat sedang bercermin, ia melihat ada sosok perempuan cantik berdiri di belakangnya. Wajahnya sangat indah, memakai bunga melati, busana hijau, dan tampak seperti makhluk lain yang sedang mengikutinya. Sejak saat itu, tubuh Teh Dea terasa sedikit berat, seolah ada sesuatu yang menempel dan ikut berjalan bersamanya. Ia merinding, tetapi juga yakin bahwa ritual itu mulai bekerja.
Benar saja, hari itu penjualannya berubah drastis. Orang-orang yang biasanya menolak mentah-mentah tiba-tiba menjadi ramah dan mudah membeli. Ada yang langsung mengambil satu paket, ada yang memberi uang tambahan, ada yang sekadar ditawari satu botol tetapi akhirnya memborong lebih banyak. Teh Dea bahkan pernah mengalami saat seorang pria yang awalnya menolak, kemudian memanggilnya kembali dan membeli seluruh target dagangannya untuk hari itu. Bukan hanya membeli, pria itu juga memberinya uang tambahan untuk kebutuhan anak-anaknya. Sejak itu, Teh Dea benar-benar percaya bahwa pelet semaresem telah membuat dirinya punya daya tarik luar biasa.
Bukan cuma jualannya yang lancar. Nomor ponsel yang ia berikan kepada pelanggan mulai membuka jalan lain. Banyak pria mapan, om-om kaya, dan orang-orang yang dalam bahasa SPG disebut gadun, mulai mendekatinya. Mereka bukan sekadar membeli produk, tetapi juga memberi uang, mentransfer untuk jajan, bahkan menawarkan kehidupan nyaman. Ada yang berkata ia tak perlu kerja lagi dan cukup menjadi simpanan saja. Ada yang bersedia memberinya jatah bulanan hingga belasan juta rupiah. Ada pula yang langsung mengirim uang ketika Teh Dea bilang ingin membeli kulkas, mengganti ponsel, atau butuh sesuatu untuk anak-anaknya.
Dalam dunia kerja SPG, situasi itu memang sering jadi wilayah abu-abu. Teh Dea mengaku bahwa pada awalnya ia hanya ingin bertahan hidup dan mengejar uang. Namun lambat laun, ia masuk semakin dalam. Ia mulai terbiasa menggunakan pesonanya untuk menarik pria-pria kaya. Ia juga mengaku sempat menikah siri dengan suami orang, meski hubungan itu akhirnya bubar setelah ketahuan istri sahnya. Bahkan ia pernah diserang dan ditarik rambutnya sampai rontok. Meski demikian, selama pengasihan itu masih kuat, Teh Dea tetap merasa semua jalan menuju uang seolah selalu terbuka.
Setiap tiga bulan, ia kembali ke Abah untuk mengecas ulang perlengkapan riasnya. Kali ini uang yang ia bawa sudah jauh lebih besar. Dari yang awalnya dua ratus ribu, ia bisa memberi sampai tiga juta rupiah. Selama ia disiplin datang kembali dan tidak melanggar syarat, semua terasa lancar. Jualan enak, uang banyak, penggemar berdatangan, dan hidup yang semula terpuruk mulai terasa mewah. Namun di balik semua itu, ketakutan juga mulai tumbuh. Ketika melihat temannya, Rina, Teh Dea mulai sadar bahwa jalan yang mereka pilih tidak semudah yang terlihat dari luar.
Suatu hari, Rina menelepon dalam keadaan panik. Suaranya gemetar, tubuhnya terasa sangat panas, dan ia menjerit-jerit minta tolong. Saat Teh Dea datang ke rumahnya, ia mendapati Rina dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Tubuhnya seperti terbakar dari dalam, wajahnya berubah cepat menjadi keriput seperti orang tua, dan panas badannya tidak wajar. Menurut Rina, semua itu terjadi karena ia lalai. Ia sudah merasa uangnya banyak dan tidak lagi datang ke Abah untuk mengecas ulang. Ia mengira pengasihan itu akan tetap bekerja tanpa perlu dipelihara, padahal justru kelalaian itulah yang menurut mereka menjadi sumber petaka.
Teh Dea lalu berusaha menolong dengan cara membawa Rina kembali ke Abah. Perjalanan itu terasa lebih berat dari sebelumnya. Sepanjang jalan mereka merasa seperti dihalangi, motor hampir celaka, dan hawa di sekitar sangat mencekam. Saat sampai, respons Abah justru sangat dingin. Menurutnya, apa yang dialami Rina adalah risiko karena tidak taat dan terlalu terlena oleh uang. Ia menyebut bahwa penawar memang ada, tetapi syaratnya sangat sulit: bunga kantil merah tujuh buah dan air kelapa hijau tertentu. Masalahnya, bunga itu sangat langka dan mahal.
Teh Dea tetap berusaha. Ia pergi mencari kantil merah sampai ke perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Setelah bertanya ke sana kemari, ia hanya berhasil mendapatkan tiga kuntum dengan harga yang sangat mahal. Namun ketika dibawa kembali ke Abah, jumlah itu dianggap tidak cukup. Ritual penawar tidak bisa dilakukan. Dengan kata lain, Rina tidak lagi bisa diselamatkan melalui jalan yang mereka tempuh. Sejak saat itu, Rina menyerah. Ia berhenti bekerja sebagai SPG karena tubuhnya sudah tak memungkinkan. Wajahnya mengeriput, badannya tetap panas, dan hidupnya berubah total.
Melihat kondisi sahabatnya sendiri, Teh Dea mulai dihantui rasa takut. Ia membayangkan, bagaimana jika suatu hari ia sendiri lupa atau tak sanggup lagi memenuhi syarat? Bagaimana jika ia mengalami nasib seperti Rina? Di satu sisi, uang masih mengalir. Di sisi lain, bayangan penderitaan itu terus membuntutinya. Ketakutan itu akhirnya mendorong Teh Dea mencari pertolongan ke tempat lain.
Ia lalu mendatangi seorang guru spiritual atau kiai di wilayah Cirebon Timur, yang namanya disamarkan sebagai Kiai Aib. Kepadanya, Teh Dea menceritakan semuanya dari awal. Mulai dari rumah tangganya yang hancur, pekerjaannya sebagai SPG, ritual pengasihan, kehidupan mewah yang datang setelahnya, hingga nasib tragis Rina. Di hadapan sang kiai, Teh Dea mengaku tak ingin mati mengenaskan seperti temannya. Ia ingin kembali hidup normal, meski harus kehilangan semua daya tarik instan yang selama ini memberinya uang.
Kiai itu kemudian menyanggupi membantu melalui proses pembersihan. Tahapannya tidak ringan. Teh Dea harus mandi, berwudu, lalu menjalani ritual tawasulan selama tujuh hari dengan bantuan tujuh santri pondok pesantren. Hari pertama, tubuhnya terasa sangat dingin. Hari kedua, ia merasa seperti ada sesuatu dalam dirinya yang menolak keluar. Dalam batinnya muncul bisikan-bisikan yang menakutkan, seolah ada yang berkata bahwa jika semua itu dilepaskan, jualannya tak akan laku lagi dan hidupnya akan susah kembali. Namun Teh Dea bertahan. Ia terus berzikir sebagaimana yang diminta oleh sang kiai.
Hari ketiga dan hari-hari berikutnya lebih berat lagi. Ia melihat bayangan-bayangan menakutkan, pocong berdarah, nenek tua menyeramkan, dan makhluk-makhluk tinggi berwarna hitam yang seolah datang untuk menakut-nakutinya agar berhenti. Di hari keempat, seluruh tubuhnya berkeringat deras sampai baju basah kuyup seperti habis direndam. Di hari ketujuh, keadaan mencapai puncaknya. Napasnya terasa dicekik, tubuhnya mual luar biasa, lalu ia muntah berkali-kali sampai merasa seperti akan mati. Namun setelah semua itu keluar, ia justru merasa sangat ringan. Seperti beban besar yang selama ini menempel di tubuh dan jiwanya akhirnya lepas.
Menurut Kiai Aib, saat itu Teh Dea sudah berhasil dibersihkan. Pengasihan yang selama ini ada dalam dirinya telah hilang. Teh Dea pulang dengan perasaan berbeda. Ia memang masih bekerja sebagai SPG, tetapi kehidupannya tak lagi seperti dulu. Penjualannya kembali normal. Tidak ada lagi orang-orang yang langsung tergila-gila, tidak ada lagi transferan dari para gadun, tidak ada lagi pesona instan yang membuat semua pintu terbuka dengan mudah. Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa hidupnya jauh lebih tenang.
Satu hal yang masih tersisa dalam hatinya adalah kerinduan kepada anak perempuannya yang dibawa suaminya pergi. Dari semua keinginan yang pernah ia kejar, pada akhirnya yang paling besar justru bukan uang, bukan iPhone, bukan perhiasan, dan bukan jatah bulanan dari pria-pria kaya. Yang paling ia inginkan hanya satu: bisa bertemu lagi dengan anaknya dan berkumpul sebagai seorang ibu yang utuh.
Nasib Rina sendiri berakhir tragis. Menurut Teh Dea, Rina akhirnya meninggal dunia pada tahun 2025. Ia tak sempat atau tak sanggup menempuh jalan pembersihan seperti yang dilakukan Teh Dea. Entah karena sudah terlalu lelah, terlalu pasrah, atau merasa semuanya sudah terlambat. Kepergiannya menjadi luka sekaligus pelajaran yang tak akan pernah dilupakan oleh Teh Dea.
Kisah ini pada akhirnya bukan hanya tentang pengasihan atau pesugihan kecil untuk jualan. Ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang dihimpit keadaan, tergoda jalan pintas, lalu perlahan sadar bahwa semua kemudahan itu punya harga yang sangat mahal. Penghasilan memang bisa datang lebih cepat, penampilan bisa lebih memikat, dan orang-orang bisa lebih mudah jatuh hati. Tetapi hidup yang dibangun di atas cara seperti itu ternyata tak pernah benar-benar damai.
Teh Dea mengaku kini lebih memilih hidup normal, apa adanya, dan menyerahkan rezeki pada jalan yang lebih tenang. Ia tidak lagi ingin mengejar hal-hal instan yang justru membawa ancaman. Baginya, setelah semua yang ia alami, ketenangan batin jauh lebih berharga daripada uang yang datang terlalu mudah. Karena uang bisa dicari lagi, tetapi ketika jiwa sudah tak tenang dan hidup dibayangi ketakutan, tidak semua orang diberi kesempatan untuk kembali seperti semula.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
