Mas Budi tumbuh dari keluarga yang hidupnya lekat dengan dunia rias pengantin. Bukan karena gaya-gayaan, tapi karena dari situlah dapur mereka mengepul. Ibunya sudah puluhan tahun bekerja sebagai perias dan tangan kanan seorang pemilik wedding organizer bernama Bu Tati—teman kecil ibunya sendiri yang sejak dulu dianggap seperti saudara.
Hubungan mereka bukan hubungan kerja yang sekadar “datang–dibayar–pulang”. Ibu Mas Budi mengabdi sampai 35 tahun lebih, membantu dari nol sampai usaha Bu Tati maju: mengangkat perlengkapan dekor, menyiapkan baju pengantin, mengurus aksesori, bahkan sering bekerja dalam kondisi belum makan sejak subuh sampai lewat tengah hari. Tidak pernah ada niat membelot, tidak pernah ada pikiran mengambil pelanggan. Kalau ada calon pengantin datang ke rumah, ibunya justru mengarahkan agar tetap ke Bu Tati.
Tahun 2013, Mas Budi ikut masuk ke lingkaran kerja itu. Ia belajar make up dari ibunya, lalu gabung membantu tim Bu Tati. Rutinitasnya keras: dari subuh ke rumah hajat, merias banyak orang sekaligus, baru makan setelah semua beres. Lama-lama Mas Budi mulai berpikir untuk mandiri—bukan untuk menjatuhkan siapa pun, tapi karena ia melihat banyak perias lain bisa berkembang dengan usaha sendiri.
Awalnya ibunya melarang. Alasannya sederhana: “nggak enak sama Bu Tati.” Tapi Mas Budi tetap nekat. Ia menggadaikan motor untuk modal baju akad, mulai menerima job kecil, dan berusaha menjaga etika: kalau pun dapat pelanggan, ia tetap menyamakan harga pasar Bu Tati dan bahkan berniat tetap “kerja sama” dengan menyewa dekor atau perlengkapan dari Bu Tati.
Masalahnya, job yang paling krusial justru datang dari lokasi yang “terlalu dekat.” Mas Budi menerima rias pengantin yang rumahnya hanya beberapa langkah dari rumah Bu Tati. Saat survei, ia sempat ragu, tapi ia meyakinkan diri: Bu Tati orang baik, tidak mungkin iri atau dengki. Ia tetap jalan, tetap kerja, dan semua acara tampak berjalan normal—sampai teror pertama muncul di rumahnya sendiri.
Malam itu Mas Budi pulang merias sekitar jam setengah satu. Ia masuk kamar dan melihat sesuatu bergerak di kasur. Saat didekati—belatung. Ia memanggil ibunya, dibersihkan, lalu hilang beberapa hari. Mas Budi mengira itu cuma ulah tikus atau cicak. Tapi beberapa malam berikutnya, teror bergeser menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan: aroma bangkai menyengat hanya di dalam kamar, muncul selepas tengah malam, lalu hilang begitu Mas Budi keluar ruangan.
Ia mencoba tidur di lantai luar kamar karena hanya di situ baunya tidak ada. Paginya ia cari bangkai kucing di plafon—nihil. Lalu pada satu malam, ketika Mas Budi setengah tidur dan menarik bantal, yang ia tarik justru sosok hitam gosong dengan ikatan pocong berdarah di bagian wajah. Ia lari keluar kamar dalam keadaan gemetar. Ia ceritakan ke ibunya, tapi ibunya menganggap itu mimpi—sampai kejadian serupa terulang lagi dan lagi.
Mas Budi mulai melawan dengan cara sederhana: memperbanyak salat dan ngaji di rumah. Seorang temannya menyuruh ia tidak membuat status WhatsApp soal bau bangkai, lalu menyarankan membaca Ayat Kursi sampai 100 kali. Anehya, setelah itu aroma bangkai mereda beberapa hari. Tapi teror tidak berhenti—belatung muncul lagi, dan Mas Budi bahkan menemukan buntelan “kapas putih bersih” di kolong ranjang, seperti bungkus mayit yang sengaja diarahkan menghadap pintu kamar.
Puncak berikutnya datang lewat sakit fisik. Mas Budi tiba-tiba diare parah—bukan kotoran, tapi air bening—berulang sampai berkali-kali dalam sehari. Ia sudah minum obat medis dan tradisional, tapi tidak mempan. Sampai akhirnya temannya mengajak ke seorang kerabat yang “mengerti”, lalu Mas Budi diminta menyiapkan tiga kelapa muda yang dibacakan doa. Air kelapa yang seharusnya dingin justru terasa hangat cenderung panas. Mas Budi minum, mandi, dan keesokan harinya diare itu berhenti total.
Di titik itu Mas Budi mulai sadar: ini bukan gangguan biasa. Kebetulan, di kosan teman perempuannya, ada seorang ustaz sedang mengobati orang lain. Mas Budi diminta ikut dites. Ia disuruh membaca ayat-ayat yang ia bisa, sementara sang ustaz berdiri di belakang tanpa menyentuh—tapi Mas Budi merasakan panas dan sakit luar biasa di punggung, sampai teriak-teriak. Di momen pengobatan itulah, Mas Budi melihat wajah Bu Tati muncul jelas di depan matanya—berulang sampai tiga kali.
Mas Budi menolak percaya. “Enggak mungkin, dia haji,” begitu pikirnya. Tapi ustaz itu malah menegaskan: orang yang mengerjain bukan orang jauh, melainkan orang terdekat—persaingan usaha. Mas Budi disuruh minum air mineral yang sudah dibacakan doa. Baru sampai bibir, ia langsung muntah—dan yang keluar bukan cuma air, tapi cairan kuning kehijauan dari dalam tubuhnya. Setelah itu, gangguan mulai reda.
Mas Budi mengira kisah selesai. Ternyata tidak. Tahun 2022 gangguan muncul lagi, bahkan menyasar teman-temannya yang sedang nongkrong di kamar. Salah satu teman melihat sosok hitam berbulu besar di samping jendela—ketakutan sampai hampir kesurupan. Teman lain melihat pocong. Lalu Mas Budi sendiri melihat wujud yang lebih menyeramkan: seperti leak, dengan bagian tertentu berdarah. Kakak sepupunya berulang kali mengobati mereka dengan air doa. Akhirnya keluarga meminta semua kumpul di ruang depan saja, tidak lagi di kamar.
Mas Budi kemudian diminta pamannya “jangan ke mana-mana seminggu.” Ia menurut. Begitu masa itu lewat dan ia mulai beraktivitas, ia justru jatuh dari motor di malam hari karena lubang besar yang tidak ia lihat. Ia terlempar, tapi anehnya tidak membentur aspal. Di rumah sakit, keluarganya baru mendapat kabar lain: adik Bu Tati meninggal pada jam yang berdekatan. Mas Budi masih menahan pikiran buruk—sampai ia dibawa ke seorang mediator untuk “mencari tahu” akar kejadian.
Lewat mediator, keluar kalimat yang membuat Mas Budi merinding: ada pihak perempuan yang “membeli mati umur” atau “menutup usaha,” targetnya Mas Budi. Ada empat jin yang dikirim; tiga berhasil dimasukkan ke botol dan disuruh ditanam di depan rumah. Namun yang paling seram adalah yang bentuknya seperti leak berdarah—dan tanpa Mas Budi pernah cerita, orang yang menangani sudah tahu cirinya persis.
Kakak angkat Mas Budi kemudian datang dan bilang aura rumah mereka gelap. Ia meminta persiapan ritual: kembang setaman, kopi pahit-manis, uang kuno tertentu. Setelah itu, ia “menurunkan” sesuatu dari atas tiang tengah rumah, lalu menggali lantai kamar Mas Budi. Di sanalah mereka menemukan inti masalah: buntelan kain kafan berisi rambut, silet, jarum, paku, dan kembang busuk—buntelan mayit yang ditanam rapi sebagai santet.
Mas Budi memilih tidak menyimpannya. Buntelan itu dibakar, lalu sisa-sisanya dihanyutkan ke sungai sambil “dikembalikan” kepada pemiliknya: balik ke yang membeli, balik ke yang memakai. Kakak angkatnya menegaskan: ini santet buntel mayit, biasanya tujuannya jelas—kalau bukan orangnya yang mati, usahanya yang mati. Dan orang yang mengirim… adalah orang terdekat mereka di dunia rias pengantin.
Sejak pengembalian itu, gangguan berhenti. Mas Budi dan ibunya tidak lagi diserang. Namun kabar berikutnya seperti menutup lingkaran: usaha Bu Tati disebut-sebut bangkrut, tidak lagi terlihat aktivitas wedding organizer seperti dulu, dan kondisinya lebih banyak di rumah. Mas Budi terakhir bertemu Bu Tati saat Lebaran tahun yang sama—dan sejak itu ia memilih menjaga jarak, cukup mengambil pelajaran.
Mas Budi menutup kisahnya dengan pesan yang sederhana tapi pahit: dalam usaha, komunikasi itu penting—sekecil apa pun. Kalau bisa izin, sampaikan. Bukan karena takut bersaing, tapi karena iri hati kadang lahir dari hal yang tidak kita sangka. Dan yang paling mengejutkan, kebaikan di permukaan—bahkan gelar haji—tidak selalu jadi jaminan hati seseorang bersih dari dengki.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
