Mas Akmal menyimpan kisah ini sejak 2011. Bukan karena bangga—justru karena malu, takut, dan sadar betul bahwa apa yang pernah ia jalani adalah jalan yang salah. Baru setelah belasan tahun, ia berani membongkar semuanya, itu pun dengan satu tujuan: biar orang lain tidak ikut terseret.
Waktu itu, Mas Akmal punya sahabat dekat sejak kecil bernama Kamad. Mereka bareng dari SD sampai SMA. Kamad adalah tulang punggung keluarga; bapaknya menghilang bertahun-tahun, ibunya sakit-sakitan, adik-adiknya masih sekolah. Semua beban jatuh ke pundaknya.
Suatu Jumat malam sekitar jam sebelas, Kamad datang ke rumah Mas Akmal tanpa kabar. Penampilannya kusut, lecek, seperti orang yang baru diseret masalah seharian. Setelah mandi dan makan, Kamad akhirnya bicara: ia dapat tender proyek beton jalan senilai puluhan juta, tapi uangnya raib karena ditipu “pemilik toko material” palsu.
Lebih parah lagi, modal proyek itu didapat Kamad dengan menggadaikan rumah. Artinya, kalau proyek gagal dan utang tak terbayar, rumah keluarganya benar-benar hilang. Kamad dikejar vendor, dikejar deadline, dikejar rasa bersalah—dan ia datang ke Mas Akmal karena sudah tidak tahu harus meminta tolong ke siapa.
Besoknya, Mas Akmal melihat kondisi rumah Kamad yang memprihatinkan: ibu dan adik-adiknya sampai tidak makan, sekolah pun terbengkalai karena tidak ada uang saku. Di tengah situasi itu, Mas Akmal menemukan sesuatu yang kelihatannya sepele, tapi jadi pintu awal tragedi: majalah mistis yang berisi “jurnal dana gaib tanpa tumbal”.
Mas Akmal dan Kamad membaca halaman demi halaman seperti membaca harapan terakhir. Dalam kepala mereka, ini seperti jalan keluar paling cepat. Apalagi tulisan di situ terdengar meyakinkan: cukup ritual, lalu uang akan datang. Maka Mas Akmal—yang awalnya cuma ingin menolong—akhirnya ikut larut. Ia bahkan menanggung biaya keberangkatan.
Mereka berangkat ke Bogor, mencari alamat yang tertulis di majalah. Yang mengejutkan, rumah “kuncen”-nya bukan di tengah hutan, melainkan di pinggir jalan perkampungan. Kuncennya pun masih muda, rapi, dan meyakinkan. Mahar diminta per orang, lengkap dengan semacam “kontrak” bermaterai: kalau gagal, tidak boleh menuntut.
Ritualnya dilakukan di area kaki bukit, melewati empang dan hutan. Mereka dimasukkan ke kamar-kamar kecil seperti saung permanen. Aturannya ketat: puasa mutih, tidak makan dan tidak minum dua hari dua malam, hanya wirid bacaan Islam, menyalakan lilin dan dupa terus-menerus, dan yang paling penting—tidak boleh membuka pintu kecuali ada yang mengetuk atau memanggil nama.
Malam pertama hanya suara-suara aneh: ayam dan bebek pada tengah malam, padahal mereka jauh dari pemukiman. Malam kedua lebih menekan: lilin habis, kamar gelap total, ada suara benda dibanting di depan pintu, lalu sekitar jam tiga terdengar suara perempuan bersenandung tepat di depan kamar—dekat sekali, tapi tidak ada wujud.
Dua hari dua malam selesai. Mereka pulang diminta menunggu seminggu; katanya, “kalau ketemu orang memberi sesuatu, terima saja.” Tapi seminggu lewat, tidak ada siapa pun. Ritual pertama dianggap gagal. Anehnya, justru saat Mas Akmal pulang, ayahnya mendadak sakit parah sampai buang air berdarah—sebuah kebetulan yang membuat Mas Akmal mulai bertanya-tanya dalam hati, apa ini ada efeknya.
Karena terdesak, mereka mencoba jalan lain lagi: “pesugihan kendi” di Jakarta yang juga mereka temukan dari majalah. Mahar delapan juta dibayar, tapi prosesnya makin terasa janggal. Mas Akmal hanya disuruh menunggu semalam di ruangan, lalu tiba-tiba dibilang gagal karena “maharnya kurang” dan diminta menambah belasan juta. Mas Akmal merasa ditipu, pulang dengan uang hangus dan kepala makin panas.
Di titik itu, mereka seperti orang yang kehabisan jalan. Sisa harapan mengerucut pada satu nama yang paling sering disebut di cerita mistis: Pasarean Gunung Kawi. Mas Akmal riset lagi dan menemukan fakta: “Gunung Kawi” bukan satu tempat, dan jalur “pasarean” yang mereka incar punya syarat yang tidak main-main—tumbalnya bukan hewan.
Saat Mas Akmal memberi tahu syarat itu, Kamad justru bergeming. Dalam kondisi pusing, dikejar utang, dan memendam sakit hati pada ayah yang meninggalkan keluarga, Kamad melontarkan keputusan yang bikin Mas Akmal kaget: ia siap “menumbalkan” bapaknya sendiri. Di kepalanya, itu balasan. Di matanya, itu harga yang “layak” untuk menutup semua masalah.
Mereka berangkat ke Malang, lalu ke Pasarean Gunung Kawi. Perjalanan di sana seperti dipermudah oleh kuncen: mereka disuruh makan di rumah warga, minum di rumah warga lain, ngopi di rumah lain lagi, bahkan dibelikan rokok—seolah semua pintu dibukakan. Tapi di balik keramahan itu, Mas Akmal merasa seperti sedang “diantarkan” menuju sesuatu yang sudah menunggu.
Di area makam, Kamad masuk ke bagian tertentu yang tidak semua orang boleh mendekat. Mereka diberi dua kantong plastik—merah dan kuning—yang isinya menyan, dupa, bunga, dan hio “Gunung Kawi”. Pesannya jelas: jangan dibuka di jalan, baru buka di rumah, dan setelah kantong merah habis, mereka wajib kembali untuk ritual lanjutan: menyembelih sapi.
Ritual rumah dimulai tiap malam Senin dan malam Kamis. Sesajen disiapkan: nasi putih telur ceplok, bunga tujuh rupa, rokok kretek, gula merah, kopi pahit-manis, teh manis-tawar, air putih, lilin, dan dupa. Begitu menyan dibakar selepas magrib, suasana kamar berubah mencekam, seperti ada hawa lain yang masuk.
Yang membuat Mas Akmal benar-benar terdiam: saat mereka cek jam dua belas malam, sesajen yang tadinya utuh berantakan dan sebagian hilang—padahal pintu terkunci dan tidak ada orang masuk. Paginya, semuanya habis bersih, seolah ada yang “melahap” tanpa sisa.
Minggu berikutnya, kantong kuning dibuka. Kali ini hasilnya lebih aneh: sesajen tidak habis, tapi berubah berbau menyengat—bau kotoran babi, berlendir, seperti busuk tapi tidak membusuk. Dan sesuai “tata cara”, sesajen itu harus dimakan satu keluarga. Kamad menyiasati: ia pura-pura beli sarapan, lalu memberi “sesajen” itu pada ibu dan adik-adiknya. Yang bikin merinding, adiknya malah berkata, “Enak banget, beli di mana?” padahal baunya membuat Mas Akmal sendiri hampir muntah.
Setelah itu, Kamad mulai bermimpi didatangi sosok tinggi besar berkepala babi. Sosok itu menuntut Kamad kembali ke Gunung Kawi membawa sapi, dan menjanjikan apa pun yang diminta akan dipenuhi. Di malam terakhir sebelum semua sarana habis, suara babi terdengar kencang di ruangan ritual—dekat, jelas, tetapi tanpa wujud.
Masalahnya, mereka tidak punya uang untuk “mahar sapi” puluhan juta. Ritual berhenti. Dan sejak itu, Kamad seperti diburu mimpi—ancaman yang sama, wajah babi yang sama, nada marah yang sama. Sampai akhirnya, tiga minggu kemudian Kamad menghilang. Nomor tidak aktif. Rumah kosong. Ibunya pindah ke Jakarta, tapi seperti sengaja menutup-nutupi. Kamad lenyap tanpa jejak, meninggalkan Mas Akmal menggantung dalam rasa bersalah dan kecewa.
Mas Akmal nekat kembali ke Gunung Kawi seorang diri untuk minta jawaban. Di sanalah kuncen membuka inti rahasia yang selama ini disembunyikan: sapi itu hanya simbol. Yang disembelih bukan sapi—melainkan bapaknya Kamad, yang “diwujudkan” sebagai sapi. Jika ritual diteruskan, ayah Kamad akan mati, dan uang datang seketika. Setelah itu, tiap tahun “setoran” berlanjut—kambing sebagai simbol ibu, lalu merembet ke anak pertama, istri, dan seterusnya. Itu jalur pesugihan siluman babi.
Mas Akmal pulang membawa ketakutan yang tidak bisa ia ceritakan pada siapa pun. Dan efeknya justru menghantam dirinya: setelah kepulangan kedua dari Gunung Kawi, ia diteror lolongan anjing tanpa wujud selama hampir sebulan penuh. Lolongannya dekat sekali, keras, muncul malam lewat jam dua belas, tapi setiap dicek tidak ada anjing. Orang rumah tidak mendengar apa-apa—hanya Mas Akmal yang seperti “ditandai”. Insomnia, stres, dan rasa takut membuatnya hampir runtuh.
Akhirnya ia mendatangi orang pintar dan berbohong soal penyebab, hanya bilang habis “jelangkung”. Ia diberi amalan dan disuruh menabur garam di titik-titik rumah setiap malam. Perlahan, teror lolongan itu berkurang: dari tiap malam menjadi selang beberapa hari, lalu mingguan, sampai akhirnya lenyap.
Mas Akmal menutup kisahnya dengan satu kalimat yang ia ulang berkali-kali: kapok. Bukan karena “gagal dapat uang”, tapi karena ia mengerti—jalan pintas selalu ada harganya, dan harga itu sering kali bukan milik kita sendiri, melainkan nyawa orang yang paling dekat, paling tak berdosa, dan paling kita sayangi.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
