Bu Dian sudah puluhan kali menangani rias pengantin. Ia hafal pola: calon pengantin biasanya deg-degan, tangan dingin, kadang mual, kadang menangis. Tapi kisah tahun 2019 ini berbeda. Bukan sekadar gugup—melainkan seolah ada sesuatu yang hidup di balik kulit sang pengantin, menunggu waktunya menunjukkan wujud.
Semua bermula dari telepon seorang teman di Jawa Tengah—sebut saja Neng Sari—yang menawarkan job rias dan dekor pelaminan. Lokasinya jauh, ujung Jawa Tengah, dekat laut. Bu Dian sebenarnya menimbang-nimbang, tapi karena harga cocok dan job terlihat “besar”, ia akhirnya setuju.
Bu Dian kemudian berkomunikasi dengan pihak yang punya hajat, namanya disamarkan menjadi Ibu Eli. Mereka sepakat bertemu di perbatasan Jawa Tengah—di sebuah rumah makan dekat lampu merah. Di sana, obrolan soal konsep dan harga berjalan cepat. Yang membuat Bu Dian terkejut, Ibu Eli sama sekali tidak menawar.
Permintaan Ibu Eli juga tidak biasa: dari pelaminan sampai area depan, ia ingin bunga hidup semua, tanpa bunga plastik satu pun. Bu Dian menyebut anggarannya puluhan juta dan pihak hajat langsung mengiyakan, lalu memberi DP. Cara mereka mengiyakan terasa terlalu mudah untuk ukuran permintaan semahal itu.
Beberapa hari kemudian, pengantin perempuan datang ke rumah Bu Dian untuk memilih gaun. Ia memilih gaun hijau model lama yang warnanya mirip hijau pupus—padahal Bu Dian sudah menawarkan model baru. Bu Dian sempat menggerutu kecil dalam hati, tapi ia tetap menuruti keinginan pengantin.
Bu Dian lalu survei lokasi bersama tukang dekor. Begitu sampai, hati Bu Dian langsung tidak enak. Rumah pihak hajat memang paling bagus di desa itu, tapi lingkungannya sepi, seperti “terlalu sunyi” untuk ukuran kampung yang sedang menyiapkan hajatan besar. Kanan-kiri rumah banyak empang—empang ikan dan empang garam—membuat suasana terasa dekat laut, lembap, dan asing.
Hari H, Bu Dian berangkat dari Cirebon dini hari. Di jalan masuk kampung, ia melihat burung besar yang menurut sopirnya “bango laut” tapi ukurannya tidak wajar. Tak lama setelah itu, Bu Dian merasa seperti melihat sosok manusia berdiri melambai-lambai di subuh buta. Saat ia menoleh ke belakang, ia seperti melihat “sayap”. Sopirnya justru melarang menoleh, seolah tahu di wilayah itu, menatap balik bisa membawa masalah.
Sesampainya di lokasi, Bu Dian diantar motor sampai rumah hajat karena mobil tidak bisa masuk. Begitu tiba, dekor memang tampak megah. Tapi suasananya tetap terasa menekan, seperti rumah itu ramai oleh manusia—namun di saat yang sama ada “keramaian lain” yang tak terlihat.
Rias dimulai. Pengantin perempuan tampak cantik, tapi Bu Dian merasakan keganjilan dari awal: pengantin sering bilang hatinya deg-degan “tidak karuan”, seperti merasa ada yang tertinggal. Bu Dian mencoba menenangkan, menganggap itu wajar menjelang akad.
Sampai momen Bu Dian ingin memasang softlens, pengantin menolak. Alasannya aneh: bola mata hitamnya seperti “jalan”, seperti tidak bisa diam. Bu Dian mencoba melihat lebih dekat—dan ia benar-benar menyaksikan bola mata yang bergerak tidak wajar. Ia membaca ayat kursi berulang kali dan akhirnya memutuskan tidak memasang softlens demi keamanan.
Akad berlangsung, tamu ramai, semuanya tampak normal dari luar. Bu Dian tetap mengawasi pengantin, memastikan jarum pentul tidak lepas, baju rapi, melati tidak berantakan. Namun saat masuk sesi ganti baju kedua, pengantin berkali-kali meminta melati jangan dibuang. Ia ingin melati “disimpan di dalam” hijab, agar seolah menyatu dengan rambut aslinya—kalimat yang terdengar remeh, tapi di telinga Bu Dian terasa seperti permintaan orang yang sedang menyiapkan sesuatu.
Bu Dian semakin merinding ketika Ibu hajat casually berkata ia “nyuguhnya ke laut”, bahkan menyebut kepala kambing sebagai bagian dari persembahan. Bu Dian mencoba bersikap profesional, tapi perasaannya makin tidak nyaman.
Di sesi ini, keganjilan kedua muncul: kaki pengantin terlihat aneh. Saat sandal dibuka sedikit, kulit kaki pengantin seperti keriput pucat—mirip kaki yang lama terendam air. Bu Dian panik, tapi ia menahan agar tidak membuat suasana ricuh. Ia mengoleskan minyak kayu putih banyak-banyak dan memaksa diri tetap tenang.
Gangguan tidak berhenti pada tubuh pengantin. Seorang anak kecil tamu mendadak menjerit dan minta pulang sambil menunjuk pelaminan. Ia bilang pengantinnya seperti setan—bahkan menyebut kepalanya ada tanduk dan telinganya panjang. Orang dewasa menenangkan dengan alasan “kesambet”, tapi Bu Dian mulai menyadari: yang janggal bukan cuma di kepala Bu Dian.
Tak lama kemudian, asisten Bu Dian menjerit ketakutan. Ia melihat sosok besar di pintu—matanya menakutkan. Asisten hampir kesurupan. Bu Dian meminta bantuan pihak hajat, dan mereka merespons seolah ini bukan hal baru. Mereka membawakan air, hanya “diraupkan” ke asisten, dan berkata, “Udah biasa di sini.”
Bagi Bu Dian, kalimat itu seperti palu. Kalau “biasa”, berarti sudah sering terjadi. Berarti ini bukan kecelakaan sekali. Berarti ada sesuatu yang memang hidup dan dipelihara di tempat itu.
Puncak teror datang saat ganti baju ketiga. Begitu gaun dibuka, Bu Dian melihat punggung pengantin—dan ia sampai menyebut istigfar berkali-kali. Di punggung itu tumbuh sisik seperti ikan. Warnanya hijau-hijau, tapi ujungnya hitam, seperti sisik basah yang baru muncul dari kulit.
Bu Dian langsung menyeret Ibu hajat ke kamar dan mengatakan ia tidak sanggup melanjutkan. Tapi keluarga mohon-mohon. Mereka takut tamu tahu. Mereka takut acara jadi aib. Mereka memaksa Bu Dian tetap merias, seolah yang penting bukan keselamatan—melainkan menjaga bungkus pesta tetap rapi.
Bu Dian melanjutkan dengan tangan gemetar. Pengantin perempuan duduk seperti tidak punya emosi. Matanya kosong. Bahkan ada yang menyebut mata pengantin berubah hijau, sesuatu yang Bu Dian tidak sempat pastikan karena ia sudah keburu panik dan ingin cepat selesai.
Bu Dian keluar sebentar mencari udara, makan di warung dekat lokasi. Di warung itu, pemilik warung justru bertanya pelan, seperti sudah menunggu Bu Dian bercerita: “Ngerias pengantin ada kejadian aneh enggak?” Bu Dian mengelak. Tapi si ibu warung malah menumpahkan cerita kampung.
Katanya, keluarga pengantin dulu orang biasa, lalu mendadak kaya: sawah banyak, tambak garam banyak. Dan beberapa tahun lalu ada kejadian yang jadi bisik-bisik sekampung—anak laki-laki mereka yang seharusnya jadi pengantin meninggal. Warga percaya, itu “tumbal ke laut.” Setelah itu, kekayaan mereka justru melejit.
Bu Dian kembali ke lokasi, dan suasana sudah berubah. Kru foto dan video panik. Mereka bilang banyak footage hilang—yang jadi cuma sedikit. Ada momen-momen yang tidak terekam, seolah kamera pun “menolak” menyimpan. Mereka bahkan mengaku sempat menangkap visual aneh: pengantin perempuan terlihat bertanduk dan bertelinga panjang di beberapa frame, lalu gambar itu diminta dihapus karena takut.
Bu Dian akhirnya memilih pulang secepatnya. Ia bahkan belum dibayar lunas saat itu. Ia hanya ingin selamat dan keluar dari kampung empang itu sebelum malam benar-benar turun.
Beberapa hari kemudian, orang yang memberi job datang melunasi kekurangan pembayaran—tanpa mengurangi sepeser pun, seolah semua yang terjadi dianggap “kecelakaan” yang wajar. Lalu satu kalimat terakhir dijatuhkan seperti batu: pengantin perempuan meninggal.
Katanya, setelah kejadian di pesta, pengantin laki-laki kabur pulang bersama keluarganya. Pihak kampung menyebut keluarga itu memang penganut pesugihan laut, dan pernikahan itu hanya bungkus indah untuk bayaran yang sudah dijanjikan. Bahkan orang warung sempat berkata: kalau suatu saat anak perempuannya menikah, ia pun takut akan jadi tumbal berikutnya.
Bu Dian menutup kisahnya dengan pesan yang sederhana tapi tajam: kalau melihat kekayaan yang datang mendadak, apalagi disertai pantangan aneh, “nyuguh” ke laut, dan suasana yang terasa terlalu gelap—jangan cuma kagum. Waspada. Karena kadang, pesta pernikahan yang tampak berseri hanyalah panggung. Dan di balik panggung itu, ada perjanjian yang menagih—bukan uang, bukan emas, melainkan nyawa.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
