Tahun 2002, Kang Saleh sedang begadang menyelesaikan naskah company profile di rumahnya di Jakarta. Pukul setengah dua malam, saat mata sudah berat dan ruang tamu tinggal remang lampu, ia melihat sekelebat bayangan putih bolak-balik di depan jendela. Ia mengira kucing. Tapi ketika lampu dipadamkan dan pintu ditutup, tiga sosok muncul jelas di belakang pintu: satu perempuan berkebaya hijau bergaya kerajaan, diapit dua laki-laki bersenjata tombak.
Mereka mengucap salam. Kang Saleh menjawab, lalu bertanya maksud kedatangan mereka. Sosok perempuan itu menyampaikan pesan singkat: dua hari lagi akan ada seseorang datang minta tolong, dan Kang Saleh diminta mengantar orang itu ke Parang Kusumo. Tidak ada ancaman, tidak ada syarat aneh—hanya “titipan arah”. Setelah pesan itu disampaikan, ketiganya lenyap begitu saja.
Dua hari berselang, benar saja. Seorang kawan lama Kang Saleh—Sunarya (nama disamarkan)—datang dengan wajah kusut dan air mata yang tidak bisa ditahan. Ia dulunya punya usaha konsultan sekaligus kontraktor, tapi hidupnya ambruk karena terjebak investasi bodong. Ia membawa uang mertuanya untuk investasi, lalu perusahaan investasi itu kabur. Para investor menagih, mertua mengancam mengusir, rumah disita, dan total utang yang harus ditutup disebut mencapai ratusan juta.
Sunarya sempat minta pinjam uang, tapi Kang Saleh tidak sanggup menutup angka sebesar itu. Di titik itulah Kang Saleh teringat pesan “utusan” dua hari sebelumnya. Ia menawarkan satu pilihan: mencoba minta pertolongan lewat jalur Parang Kusumo—bukan untuk kaya mendadak, tapi untuk “menyelesaikan urusan”. Sunarya setuju, dan mereka sepakat berangkat mengejar malam Jumat Kliwon yang kebetulan bertepatan dengan suasana satu Suro.
Perjalanan lewat jalur selatan sempat diwarnai kejadian janggal: ban meledak tiba-tiba di Tasik, lalu bocor lagi di Ciamis meski jalan mulus. Mereka tetap lanjut, mengganti ban di Jogja, lalu menuju Parang Kusumo untuk bertemu juru kunci yang sudah dikenal Kang Saleh. Dari juru kunci, mereka mendapat daftar sesaji: ayam bekakak, kembang tujuh rupa, kelapa muda, jajanan pasar, tampah, dan hio.
Malam Jumat itu Parang Kusumo ramai, banyak rombongan spiritual. Namun lewat tengah malam suasana mendadak hening. Juru kunci datang dan memberi arahan: mereka cukup membaca doa sebisanya, tidak usah ngobrol macam-macam. Setelah “gerbang” dibuka oleh juru kunci, Kang Saleh dan Sunarya ditinggalkan berdua di bibir pantai—sunyi, remang, dan terasa seperti dunia lain mulai mengambil alih.
Di titik paling sunyi itu, terdengar semacam “panggilan” agar mereka masuk ke laut sambil membawa sesaji. Aneh tapi nyata, mereka berjalan sekitar 50 meter ke arah laut tanpa tenggelam dan tanpa basah, seolah ada jalur yang ditahan. Lalu dari buih air yang berpendar, muncul sosok perempuan yang luar biasa cantik—berbusana hijau kebiruan, tinggi, wangi yang tidak seperti kemenyan, dengan telinga sedikit lancip. Kang Saleh menyebutnya sebagai Ibu Ratu.
Ibu Ratu menatap Sunarya dan berkata, ia orang yang rajin ibadah namun tersesat urusan dunia. Ia menegaskan Sunarya tidak “bisa” menjalani pesugihan model jual umur, jadi ia hanya akan membantu menyelesaikan masalah—bukan membuka perjanjian yang mengikat. Setelah itu, Ibu Ratu menyuruh Kang Saleh menggali pasir di bibir pantai Parang Kusumo, karena “dayang-dayang” akan datang memberikan petunjuk. Sosok itu menghilang kembali seperti buih ke dalam laut.
Kang Saleh menggali lubang sedalam sepinggang. Sunarya diminta turun dan “dipocong” memakai kain mori, sementara Kang Saleh menunggu sekitar dua puluh meter sesuai aturan. Tak lama, cahaya putih-hijau muncul dari arah laut, mendekat ke Sunarya, lalu seperti kain membentang di atas lubang. Sunarya terdengar menjawab “iya” seperti sedang ditanya sesuatu, sebelum cahaya itu kembali menghilang ke laut.
Saat Kang Saleh menolong Sunarya keluar dari lubang, barulah terlihat “hasilnya”: tumpukan uang terselip di pinggang kain mori—pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu. Mereka kembali ke penginapan dan menghitungnya. Kang Saleh sempat mengira jumlahnya besar, tapi setelah dihitung hanya sekitar Rp35 juta. Sunarya lemas: angka itu jauh dari total tanggungan yang ia kira harus dibayar.
Namun ada hal yang lebih aneh lagi. Di perjalanan pulang menjelang subuh, mobil mereka oleng seperti “digelayuti” sesuatu. Di rest area, seorang sopir truk menegur Kang Saleh: ada makhluk tinggi besar hitam menempel di mobil mereka dan mengincar “bawaan” dari laut. Sopir itu membantu membacakan air minum dan menyiramkan ke kap mobil; mobil sempat berasap, dan Kang Saleh mengaku baru bisa melihat sosok itu sesaat sebelum menghilang.
Mereka transit dulu di rumah Kang Saleh, memotong sebagian uang untuk ongkos perjalanan. Lalu Kang Saleh mengantar Sunarya pulang. Di rumah Sunarya, delapan investor sudah menunggu—wajah galak, nada menekan, menagih uang yang hilang. Sunarya mengeluarkan uang Rp25 juta yang tersisa dan membaginya di depan mereka. Ajaibnya, para penagih yang tadinya panas mendadak diam, lalu menganggap “lunas” dan bubar tanpa keributan panjang, seolah ada sesuatu yang menutup urusan itu dari dalam.
Sunarya masih menyimpan selisih uang lainnya sebagai modal. Dari situ ia bangkit pelan-pelan: membantu istrinya membuka salon, lalu merintis usaha leasing/jual beli motor. Usahanya disebut berkembang dan bertahan sampai bertahun-tahun setelah kejadian itu. Yang paling bikin Kang Saleh heran: tidak ada tumbal, tidak ada syarat tahunan, tidak ada perjanjian yang mengikat. Pertolongan datang “secukupnya”, tapi efeknya cukup untuk menyelamatkan keadaan.
Kang Saleh menutup kisahnya dengan satu kesimpulan yang membuat banyak orang bingung: ini memang bersinggungan dengan dunia gaib, tapi jatuhnya bukan pesugihan. Bukan jual umur. Bukan minta kaya raya. Hanya pertolongan untuk menuntaskan satu masalah besar—dan setelah itu, hidup Sunarya berjalan normal, rezekinya lancar, tanpa korban.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
