Tahun 2023, Mbak Rara baru lulus SMA dan banyak menghabiskan waktu di rumah sambil menunggu ujian masuk kuliah. Ia tinggal serumah dengan kakek–nenek, papa–mama, dan dua adiknya. Kakeknya sudah berusia 72 tahun, tapi semangat dagangnya masih menyala—jiwa wirausaha yang katanya memang turun-temurun di keluarga mereka.
Sore itu, mama meminta Rara menjaga rumah sebentar. Kakek mau pergi ke depan SMK untuk membayar sewa lahan jualan makan siang yang katanya sudah “deal-deal-an”, tinggal pelunasan saja. Rara mengangguk, bahkan sempat bercanda minta dibawakan makan saat pulang.
Waktu berjalan. Jam bergeser mendekati magrib, tapi mama dan kakek tak kunjung pulang. Rara mulai khawatir karena pesan WhatsApp hanya centang dua tanpa balasan, telepon berdering tak diangkat, sempat terangkat sebentar lalu langsung dimatikan. Sampai akhirnya, menjelang magrib, pintu rumah digedor keras—seperti orang panik.
Mama pulang dengan wajah merah tegang, seperti habis bertengkar. Sementara kakek… rautnya memelas, tegang, seperti orang tua yang baru selesai menangis. Rara bingung, karena mereka berangkat dengan wajah biasa—tapi pulang membawa aura yang berubah total.
Baru setelah nenek pulang mengaji dan ikut menanyai, cerita pecah. Di lokasi lahan, ternyata muncul orang lain yang merebut tempat itu dengan tawaran harga lebih tinggi. Yang lebih menyakitkan, si perebut lahan merendahkan kakek dengan kata-kata kasar: menyebut kakek “orang rendahan”, tidak punya nama, tidak akan sanggup bersaing, seolah lahan itu bisa ia ambil kapan saja. Kakek sempat membalas, tapi mentalnya runtuh. Mama yang melihat kakek terpojok ikut meledak—balik menghina si perebut lahan sampai menyerang fisiknya, menyebutnya jelek, hitam, seperti setan.
Dua minggu setelah pertengkaran itu, kakek jatuh sakit. Awalnya hanya demam dan lemas seperti masuk angin, tapi tidak sembuh-sembuh. Dokter berkata tidak ada penyakit berat, hanya faktor usia dan imun turun. Namun gejala yang kakek rasakan aneh: kepala terasa berat, tubuh seperti panas—padahal orang lain merasa dingin.
Yang membuat Rara takut, bukan cuma sakitnya, tapi perubahan perilaku kakek. Kakek yang biasanya berwibawa mendadak seperti anak kecil: suka bersembunyi di ruang salat, cengengesan tanpa sebab, bahkan hujan-hujanan dan bermain air di genangan seperti bocah. Di malam-malam sunyi, Rara pernah mendengar ketukan pelan dari kamar kakek, lalu pintu kamar itu membanting keras—ketika dibuka, kakek ternyata tidur pulas dan tidak ada apa-apa.
Sejak kakek sakit, rumah mereka juga terasa berubah. Di malam-malam tertentu, terutama menjelang Jumat, rumah seperti dilempari pasir—bunyi “kresek-ceser” menyebar, bukan batu yang terarah, melainkan seperti butiran halus yang ditebarkan dari luar. Rasa aman pelan-pelan tergerus, diganti kewaspadaan yang menempel di setiap jam malam.
Setelah sakit kurang lebih dua bulan, anak pertama kakek (bude) pulang dan membawa kakek “tetirah” ke rumahnya yang masih satu desa. Namun belum sehari, kabar buruk datang: kakek meninggal. Matanya masih terbuka, dan yang paling menyayat—tidak ada yang menemani di detik-detik terakhirnya. Keluarga hanya bisa menebak-nebak, apa yang kakek rasakan sebelum pergi.
Duka belum selesai, mama mulai menunjukkan gejala yang mirip. Kepala berat, tubuh panas tiap tengah malam. Dokter menyebut vertigo. Tapi kemudian mama mengalami pendarahan dengan gumpalan-gumpalan darah yang tidak wajar. Dibawa ke dokter kandungan, vonisnya keguguran. Mama dikuret, namun gejala tidak hilang—justru makin parah.
Puncaknya, mama pingsan di kamar mandi, lalu beberapa menit kemudian memaksa ke kamar mandi lagi—kali ini merangkak karena kakinya seperti tidak terasa. Darah tercecer di lantai sampai membuat Rara trauma melihatnya. Tetangga berdatangan, dan rumah yang biasanya privat berubah jadi saksi kepanikan.
Di fase itu, mama mulai berkata hal-hal yang membuat bulu kuduk Rara berdiri. Mama menunjuk dan menyebut “ada bayi terbang”—sesuatu yang bagi Rara terdengar mustahil, tapi diucapkan dengan ketakutan yang nyata. Mama bahkan seperti memberi pesan perpisahan: mengaku sudah tidak kuat menahan sakit, menitipkan adik-adik pada Rara, seolah ia merasa ajalnya dekat.
Nenek akhirnya tak tahan. Meski mama awalnya tidak percaya pengobatan non-medis, nenek memilih ikhtiar diam-diam. Ia meminta bantuan saudara bernama Om Aris (nama samaran) yang pernah belajar spiritual. Mereka membawa mama ke seorang guru bernama Mbah Joy (nama samaran) di tempat yang jauh dari keramaian—jalanan kerikil, sawah lebar, sungai deras, dan rumah sederhana beratap terpal.
Di sana, begitu Mbah Joy mulai menangani, mama mendadak duduk tegak dengan senyum yang “bukan senyum mama”. Matanya memutih, lalu ia menangis sambil menunjuk-nunjuk kepala dan berbicara dalam bahasa asing yang tak dimengerti siapa pun. Mbah Joy menyebut gangguan itu “diam di kepala” dan sifatnya manipulatif—seolah mudah dikeluarkan, padahal sangat kuat. Ketika ditanya mau “dibalikkan” atau “dibiarkan pulang”, nenek memilih satu: tidak ingin memelihara—kembalikan saja pada yang membeli dan mengirim.
Setelah proses itu, mama pingsan lalu sadar dalam kondisi jauh lebih segar, bahkan langsung minta makan. Yang mengejutkan, mama seperti tidak ingat apa-apa tentang kejadian barusan. Seolah tubuhnya baru saja “ditarik” dari jurang, lalu dikembalikan lagi ke rumah dengan ingatan yang diputus.
Seminggu berikutnya keluarga kembali ke Mbah Joy untuk pembersihan lanjutan jarak jauh. Metodenya memakai ayam cemani sebagai “penampung” energi negatif, lalu ayam itu dilepas di jalan—biar penyakitnya tidak tinggal di rumah. Di momen itulah Mbah Joy mengucapkan kalimat yang membuat Rara merinding: ini bukan sekadar gangguan satu orang, melainkan Santet Braja—katanya mengincar tiga turunan: kakek, anak, lalu cucu. Target berikutnya, jika tidak diputus, bisa jatuh ke Rara.
Saat ditanya sumbernya, benang merah kembali ke satu kejadian: rebutan lapak di dekat SMK. Mbah Joy menyebut ciri-ciri si perebut lahan—tinggi, besar, hitam, rambut ikal panjang—dan keluarga tersadar: orang itu masih satu wilayah. Kata Mbah Joy, ucapan hinaan yang “menusuk” membuat pelaku sakit hati, lalu ia “membeli kiriman” yang paling kuat dari daerah Kuningan.
Waktu berjalan. Setahun setelah kakek wafat, keluarga mengadakan tahlilan satu tahunan. Esoknya, mama dan nenek melewati lokasi lapak itu—dan mendapati lahannya kosong. Pemilik lahan bercerita, si perebut lahan sudah meninggal baru-baru ini, dengan kondisi yang ngeri: matanya tetap terbuka, bahkan saat dimakamkan sulit ditutup. Bagi keluarga Rara, kabar itu terasa seperti “alamat balasan” yang pulang pada pemiliknya.
Mbak Rara menutup kisahnya dengan satu pesan yang sederhana tapi menohok: jaga lisan. Karena kita tidak pernah tahu, kata-kata bisa jatuh sedalam apa di hati orang. Dan ketika luka itu dipelihara jadi dendam, ia bisa berubah menjadi bara—yang bukan hanya membakar satu orang, tapi merambat ke keluarga dan lintas generasi.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
