Kang Dedi mengira perantauannya ke Jakarta akan jadi titik damai. Setelah bertahun-tahun bergelut dengan urusan “barang bertuah” yang bikin tenaga dan pikiran habis, ia memilih berhenti. Ia ingin hidup realistis: kerja yang jelas, ibadah yang terjaga, dan hati yang lebih tenang.
Di Jakarta Selatan, Kang Dedi diajak temannya jadi marbot di masjid besar sekitar Rasuna Said. Lingkungannya religius, jamaahnya ramai, ritmenya menenangkan. Buat Kang Dedi, itu seperti istirahat panjang setelah banyak babak hidup yang melelahkan.
Di sela rutinitas marbot, Kang Dedi punya satu kebiasaan kecil: kalau sedang senggang, ia suka jajan kupat tahu—makanan favoritnya sejak lama. Dari situlah ia kenal Kang Wardi, pedagang kupat tahu asal Tasik yang jualannya enak dan bikin kangen kampung.
Awalnya hubungan mereka cuma penjual dan pembeli. Lama-lama jadi akrab, apalagi sama-sama Sunda di tanah rantau. Kang Wardi terlihat ramah, tapi Kang Dedi menangkap ada “beban” yang disimpan: senyumnya sering dipaksakan, obrolannya terasa seperti menahan sesuatu di dalam dada.
Di tengah kedekatan itu, Kang Wardi mulai sering menyenggol satu pertanyaan yang bikin Kang Dedi otomatis waspada: “Kang, barangkali punya kenalan orang pintar?” Alasannya klise—ingin usaha maju, ingin hidup berubah, ingin “seperti orang lain”. Kang Dedi mencoba menahan, menasihati agar bersyukur dan jangan main-main dengan jalan pintas.
Namun Kang Wardi ternyata menyimpan luka yang lebih besar. Ia pernah menikah dengan perempuan bernama Lilis (nama disamarkan), mantan ART yang bekerja pada majikan kaya. Rumah tangga mereka awalnya rukun, sampai majikan lama Lilis datang membawa rayuan: cincin, perhiasan, janji rumah, dan hidup mewah. Lilis tergiur, lalu minta cerai. Buat Kang Wardi, itu bukan sekadar ditinggal—itu seperti dihina habis-habisan.
Sejak itu Kang Wardi berubah. Ia tidak cuma patah hati, tapi juga punya tekad untuk “membuktikan” diri: ia ingin kaya, bukan demi keluarga, tapi demi menang atas rasa sakit hati. Dari situlah ia mencari dukun, sampai bertemu Ki Lewoh (nama disamarkan)—orang yang kelihatannya sukses: rumah besar, tamu ramai, bahkan punya beberapa istri yang terlihat rukun.
Ki Lewoh memberi jalur: Gunung Kemukus. Bukan sekadar datang lalu pulang, tapi harus “berkorban” dulu. Kang Wardi diminta berjalan kaki dari Jakarta sampai Sragen, membawa baju dua setel, tikar kecil, sarung, dan dilarang mandi sampai tiba. Dalam perjalanan, ia harus terus membaca mantra yang diberikan.
Tiga minggu lebih Kang Wardi berjalan. Ia melewati ejekan orang, nasihat-nasihat yang mencoba menahannya, sampai gangguan yang ia anggap “halusinasi”—termasuk anjing hitam yang mendadak membesar dengan mata merah. Ia bahkan sempat jatuh sakit di Cirebon dan ditolong seorang pengurus musala yang baik hati. Hampir saja ia mundur… tapi luka di hatinya lebih keras daripada rasa tersentuh.
Setibanya di Gunung Kemukus, ia mandi, lalu menjalankan ritual di makam Pangeran Samudro sesuai arahan. Ia berkenalan dengan seorang perempuan pengunjung, lalu melakukan ritual terlarang selama tiga hari. Sebelum pulang, ia dibekali kembang kantil yang disimpan di dompet—dianggap sebagai “konektivitas” agar jalurnya tetap tersambung.
Kang Wardi pulang ke Jakarta—kali ini tetap berjalan kaki. Setelah kurang lebih 40 hari, ia mulai jualan lagi. Namun jam jualannya berubah: bukan pagi, melainkan habis magrib sampai larut. Aneh, tapi hasilnya menggila—dagangan selalu habis, pembeli datang bergerudug, dan uang yang masuk terasa “melewati hitungan normal”.
Lambat laun ia tidak cuma jualan kupat tahu. Ia mulai jadi mediator jual beli: kendaraan yang dibeli murah bisa laku mahal cepat, tanah ditawarkan orang, rumah berpindah tangan, uangnya terus bertambah. Ia merekrut karyawan, membeli rumah, membeli kendaraan, dan hidupnya melesat hanya dalam hitungan bulan.
Tapi kemewahan cepat itu membawa sisi gelap lain: keserakahan dan pelampiasan. Kang Wardi tidak boleh menikah selama masa “kontrak”, dan ia menjadikan perempuan sebagai tempat balas dendam sekaligus pemuas. Ia mengejar Lilis hanya untuk mempermalukannya—bukan untuk membangun lagi. Dan ketika uang berlimpah, ia makin sering “jajan” perempuan ke mana-mana.
Di situlah lingkaran setan menutup. Kang Wardi terkena penyakit menular seksual—sifilis, yang ia sebut “raja singa”. Kondisinya menyiksa, membuatnya kesakitan, sulit kencing, tubuh panas dingin, dan akhirnya ia tumbang. Kang Dedi yang menjenguk sampai dibuat mual melihat dampaknya secara nyata—sebuah “peringatan” yang terlalu mahal untuk dibayar.
Kang Wardi dibawa pulang keluarga ke Tasik untuk diobati, bukan hanya medis, tapi juga jalur terapi lain. Kupat tahunya diteruskan oleh pamannya di Jakarta. Kang Dedi tetap memantau kabar, karena ia sudah terlanjur tahu cerita dari A sampai Z—dan beban itu terasa seperti pelajaran yang dipaksakan lewat tubuh seseorang.
Pengobatan berlanjut sampai Banten, ke tempat terapi yang dipercaya mampu menangani penyakit berat. Di sana, Kang Wardi dimandikan, diruqyah, diberi ramuan, dan—yang paling penting—diminta memutus perjanjiannya. Kebetulan masa “kontrak” satu tahunnya memang sudah mendekati habis. Ia memilih berhenti, siap kehilangan semuanya, asalkan selamat.
Anehnya, ketika ia memutus jalur itu, hidupnya tidak langsung jatuh miskin. Mungkin karena selama setahun “jaya” ia sudah membangun relasi dan jaringan bisnis. Ia beralih dari kupat tahu ke proyek-proyek besar, bahkan sampai urusan limbah dan pekerjaan skala besar di luar pulau. Ia menikah lagi, hidupnya tampak normal dari luar—meski luka masa lalu tetap jadi catatan kelam yang tak bisa dihapus begitu saja.
Kang Dedi menutup kisah ini dengan nada yang jelas: jalan pintas memang bisa membuat orang terlihat “jadi” dalam waktu singkat. Tapi harga yang dibayar tidak selalu berupa uang—kadang berupa kehormatan, kesehatan, dan hidup yang pelan-pelan digerogoti dari dalam. Dan ketika semuanya sudah terlanjur, yang bisa menyelamatkan hanyalah keberanian untuk berhenti, meski harus menanggung malu dan kehilangan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
