Tahun 2016, hidup Teh Sika runtuh pelan-pelan dari dalam rumah tangganya sendiri. Suaminya berkali-kali selingkuh, sampai puncaknya Teh Sika memergoki langsung di hotel—suami cuma pakai handuk, sementara perempuan lain duduk santai di ranjang. Teh Sika tidak teriak, tidak ngamuk; ia hanya meminta suaminya pulang karena anak-anak menunggu, lalu memilih pergi membawa luka yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Ia pulang ke rumah ibunya sambil menangis sejadi-jadinya. Di sana Teh Sika bersujud, minta maaf, dan mengaku ingin berpisah. Namun suaminya menyusul, marah-marah, mendorong anak-anak, dan menantang Teh Sika untuk hidup sendiri. Kalimatnya tajam: Teh Sika dianggap cuma ibu rumah tangga, tidak punya kuasa, tidak punya apa-apa. Kata-kata itu menempel seperti racun yang terus menggerogoti harga dirinya.
Di tengah kondisi terpuruk, Teh Sika memilih bekerja. Ia menghubungi temannya, Erna (nama samaran), dan diajak jadi SPG rokok. Sistemnya per tim: tiap orang harus mengejar target besar, dan jika gagal maka “berutang” target untuk hari berikutnya. Teh Sika yang baru mulai justru jadi beban tim—hari pertama hanya laku satu-dua bungkus, hari kedua masih seret, dan ia mulai diomongin, dianggap tidak greget, tidak bisa “menjual diri” dalam artian cara bicara, cara mendekat, cara merayu pelanggan.
Tekanan itu membuat Teh Sika sedih dan terpojok. Erna lalu menawarkan “jalan pintas”: susuk. Katanya tidak sakit, dan efeknya nyata—jualan bisa meledak, hidup bisa naik kelas. Awalnya Teh Sika menolak, tapi saat ia ingat anak-anaknya dan rasa malu karena terus dianggap gagal, ia akhirnya mengiyakan.
Mereka berangkat ke Jawa Tengah naik bus, lalu lanjut naik ojek masuk pelosok gelap yang penuh pohon tinggi tanpa lampu. Rumah tujuan seperti berada di tengah hutan, penerangannya cuma lampu tradisional, dan suasananya pengap. Teh Sika bertemu seorang “Mbah” tua yang menatap tajam—membuatnya otomatis menunduk. Di sana dijelaskan ada mahar, ada syarat, dan Teh Sika harus benar-benar siap menerima konsekuensi.
Ritualnya tidak langsung “pasang”. Teh Sika harus menginap dan puasa. Malam pertama ia dikurung di kamar sempit, hanya boleh keluar ke toilet dan dilarang menoleh kanan-kiri atau belakang. Di kamar itu ia mendengar ketukan, cakar di jendela, suara gedebuk seperti ada yang mengamuk. Ia menangis ketakutan, nyaris ingin pulang—tapi merasa sudah terlanjur jauh.
Malam berikutnya, ritual inti dimulai. Teh Sika disuruh telanjang lalu hanya memakai kain putih seperti kain kafan. Di dekatnya ada gentong air berisi bunga, ada kemenyan, dan suasananya lembap serta mencekik. Yang membuat Teh Sika terpukul—ritual itu ternyata melibatkan hubungan badan. Ia sempat menolak dalam hati, tapi disuruh merem dan mengikuti saja.
Saat ia membuka mata, “Mbah” yang tadi tua mendadak bukan lagi sosok yang sama. Di depan Teh Sika ada sosok tinggi besar, gagah, berpakaian kuno, tatapannya tajam dan membuat tubuhnya seperti kesihir—antara takut dan seperti ditarik untuk patuh. Teh Sika merinding sebadan, tapi ia merasa “nikmat” yang membuatnya bingung sendiri, sampai muncul rasa ketagihan yang tidak ia kenali sebelumnya.
Setelah itu, barulah susuk dipasang: tiga titik, semuanya emas butiran—di jidat, di dahi, dan di atas kemaluan. Rasanya tidak parah, seperti digigit kecil, tapi saat titik terakhir dipasang, Teh Sika merasakan rangsangan yang aneh, seperti tubuhnya dipancing untuk meminta lagi. Setelah pemasangan, ia dimandikan dan disuruh pulang tanpa banyak bicara.
Besoknya Teh Sika kembali kerja, masih dibayang-bayangi rasa takut gagal. Namun begitu stan dibuka, orang-orang mulai menoleh, menatap, dan mendekat. Teh Sika yang biasanya ditolak, mendadak mudah menjual. Dalam sehari, penjualannya bisa tembus 700–800, jauh melewati target. Supervisor sampai heran, teman-teman mendadak memuji, dan Teh Sika seperti berubah jadi magnet.
Efeknya bukan cuma dagangan. Laki-laki mulai menempel, membantu, transfer uang, membelikan ini-itu, meminta nomor WA, bahkan datang dari berbagai daerah lewat kenalan-kenalan baru. Teh Sika menabung cepat, lalu mampu membeli rumah, motor, sampai mobil. Anak-anak dan ibunya ia bahagiakan dengan hal-hal yang dulu terasa mustahil. Dari luar, hidupnya tampak “naik kelas”.
Tapi jalan yang membuatnya bersinar juga menuntut aturan. Ada pantangan: tidak boleh makan sate, tidak boleh kerang-kerangan, tidak boleh pakai wangi-wangian/parfum, bahkan buah beraroma tajam seperti duren dan nangka pun dilarang. Teh Sika patuh karena takut. Ia tahu ini bukan sekadar “jimat”, tapi ikatan.
Tiga tahun berlalu. Teh Sika mulai capek hidup di bawah bayang-bayang susuk. Ada pria yang benar-benar sayang dan menerima Teh Sika apa adanya, bahkan ingin menikahinya—tapi meminta satu hal: lepas semua yang gaib. Teh Sika setuju. Ia mengajak Erna kembali ke tempat dulu, namun kabarnya Mbah sudah meninggal. Teh Sika panik—karena ia merasa tidak punya pintu keluar.
Akhirnya Teh Sika mencari bantuan lain lewat teman, sampai bertemu Om Bram (nama samaran) yang bersedia mencabut. Proses pencabutan jauh dari kata “gampang”. Hari pertama pencabutan susuk di kepala membuat Teh Sika merasakan panas dan nyeri seperti dihajar, kepala seolah mau retak. Hari kedua lebih mengunci—ia merasa mulutnya kaku seperti tidak bisa menutup, padahal orang lain melihat ia masih bisa bicara. Hari ketiga, pencabutan di area kemaluan paling mengerikan: panas-perih, keluar darah kental banyak, bau amis seperti nanah, tubuh lemas dan menggigil. Teh Sika sampai harus pemulihan seminggu penuh.
Setelah pencabutan, masih ada sisa gangguan beberapa hari: Teh Sika mencium bau busuk dan merasa ada “sosok” mengikuti saat ia melamun. Om Bram mengingatkan: jangan melamun, perbanyak zikir. Teh Sika sempat bicara sendiri, meminta maaf dan memohon agar tidak diganggu lagi—dan gangguan itu perlahan hilang.
Harta yang dulu ia kumpulkan tidak semuanya bertahan. Ada yang merosot entah lewat pengeluaran, entah lewat hal-hal yang tak ia pahami. Namun Teh Sika memilih menerima: lebih baik hidup sederhana tapi tenang, daripada “dinaikkan” tapi selalu ketakutan. Ia resign dari kerjaan, memulai ulang, lalu menikah. Suami barunya tahu semuanya dan tetap menerima dengan satu syarat: jangan pernah kembali ke jalur itu.
Di ujung kisahnya, Teh Sika tidak menjual kesaktian, juga tidak mengajak orang mencoba. Ia justru memberi peringatan: susuk memang membuatnya laris dan disukai banyak orang, tapi harga yang dibayar adalah rasa takut, ketergantungan, dan sakit luar biasa saat ingin keluar. Baginya, rezeki yang paling aman adalah rezeki yang tidak membuat kita kehilangan kendali atas tubuh dan hidup sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
