Mas John masih ingat betul, tahun 2016 itu ia masih aktif jadi sopir. Hari Minggu biasanya ia ada di rumah—waktu buat istirahat, kumpul keluarga, dan lepas capek setelah sepekan di jalan.
Pagi menjelang siang, ada tamu datang: Mas Thayib, teman lamanya, datang lengkap bersama istri dan dua anak. Mereka makan bareng, ngobrol ngalor-ngidul, sampai akhirnya Mas Thayib membuka pembicaraan yang bikin Mas John langsung siaga: ia dengar kabar Mas John “punya akses” ke orang-orang sepuh yang paham urusan penglaris.
Mas Thayib bercerita dengan nada putus asa. Ia pedagang bubur ayam di Jawa Tengah, sudah lama merantau, dan dagangannya belakangan terasa “ketutup”. Dari pagi sampai jam sembilan, pembeli cuma dua atau tiga mangkuk. Kontrakan kios menunggak, utang mulai mengejar, sementara kebutuhan anak-anak tetap jalan. Ia tidak berani menuduh orang, tapi nalurinya bilang ada sesuatu yang tidak beres.
Mas John sebenarnya menolak. Di hati kecilnya, ia tidak ingin menjerumuskan orang lain masuk ke jalur begitu. Tapi Mas Thayib dan istrinya sudah satu suara: apa pun akan mereka tempuh asalkan tidak ada korban nyawa. Bahkan Mas Thayib berani bilang, kalau pun harus “menduakan Tuhan” dan menanggung dosa sendiri, ia siap—yang penting keluarganya tidak ditumbalkan.
Karena kasihan, Mas John akhirnya menyanggupi mengantar. Seminggu kemudian, Mas Thayib datang lagi—kali ini tanpa membawa anak-anak—dan mereka berangkat menemui seorang sepuh yang dipanggil Abah Ujang.
Di rumah Abah, Mas Thayib menjelaskan semua keluhan usahanya. Abah Ujang lalu meminta mahar untuk membeli perlengkapan ritual yang—di permukaan—terlihat “sederhana”: gula batu, kelaras kawung (rokok kelobot), dan menyan madu. Tidak ada darah hewan, tidak ada benda-benda yang biasanya bikin orang langsung mundur.
Menjelang malam, mereka dibawa ke lokasi makam. Jalannya menanjak dan berkelok, melewati banyak pepohonan bambu, sampai akhirnya mereka tiba di titik yang bikin Mas John kaget: makamnya kecil sekali, seperti makam bayi. Ritual dilakukan menghadap ke makam itu, dengan menyan dinyalakan, doa-doa dilantunkan, dan suasana yang pelan-pelan berubah dingin.
Setelah prosesi awal, Mas Thayib dan istrinya ditinggal berdua di dekat makam untuk menjalani “syarat utama” ritual. Mas John diminta menunggu di gubuk tempat parkir motor, tapi Abah Ujang berpesan: menjelang tengah malam, Mas John harus sesekali menengok supaya pasangan itu tidak tertidur.
Mas John menunggu sendirian, tanpa rokok, tanpa teman, hanya ditemani suara hutan bambu. Di situlah gangguan mulai terasa. Ia mencium bau anyir yang datang tiba-tiba, lalu berganti jadi aroma “kentang rebus” yang anehnya wangi sekali—aroma yang membuat bulu kuduknya berdiri karena terasa bukan dari sumber yang wajar.
Di satu momen, Mas John melihat kain putih jatuh ke kebun seperti dilempar angin. Kain itu seolah berubah jadi sosok perempuan cantik—tapi cantik yang “rusak”, ada bagian wajahnya yang membuat Mas John histeris ketakutan. Ia lari, berteriak menyebut nama Tuhan, lalu kembali memaksa diri untuk menjalankan amanat: menengok Mas Thayib dan istrinya.
Saat menengok, Mas Thayib dan istrinya masih duduk. Mas John hendak kembali ke gubuk, tapi ia merasakan bajunya ditarik-tarik oleh sosok kecil yang suaranya merengek minta ikut. Mas John membentak sekuat tenaga, dan gangguan itu menghilang—menyisakan napas yang masih gemetar.
Rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Dari jarak yang cukup dekat, Mas John sempat menyaksikan momen ritual pasangan itu—dan yang membuatnya makin kacau, ia merasa yang “hadir” di sana bukan sepenuhnya istri Mas Thayib. Mas John memilih mundur, tidak berani lama-lama, lalu kembali ke gubuk menunggu semuanya selesai.
Menjelang dini hari, Mas Thayib dan istrinya selesai. Mereka membawa segumpal kapas yang dipakai untuk membersihkan sisa ritual, lalu kembali ke rumah Abah Ujang. Abah Ujang meminta air mineral botol besar, membaca doa-doa, lalu memasukkan kapas itu ke dalam botol. Instruksinya sederhana tapi bikin mual: air di botol itu nantinya dipakai sedikit demi sedikit saat meracik bumbu dan memasak bubur—sebagai “penglaris” agar pelanggan seperti “dilolohkan”.
Mas John pulang dan kembali menjalani hidupnya. Dua bulan kemudian, Mas Thayib datang lagi dengan wajah cerah. Ia bilang dagangannya meledak. Omzet hariannya bisa tembus jutaan—bahkan disebut sampai sekitar 7 juta per hari, padahal modal harian tidak seberapa. Ia mulai sanggup membeli mobil bekas, lalu pelan-pelan menambah aset: tanah, sawah, rumah, sampai akhirnya ganti mobil lagi.
Yang membuat Mas John agak tenang, Mas Thayib tetap rendah hati. Ia tidak sombong, masih sering membantu, masih ingat teman. Warung bubur pun akhirnya tidak ia urus sendiri—diserahkan ke orang kepercayaan. Mas Thayib hanya rutin datang mengambil setoran dan memastikan “air” itu tetap dipakai.
Namun hidup yang naik cepat sering memancing babak lain yang lebih gelap. Ketika ekonomi Mas Thayib sudah mapan dan penampilan istrinya berubah jadi semakin “wah”, Abah Ujang datang ke rumah Mas Thayib dengan dalih “penyempurnaan”. Di titik inilah masalah besar meledak: Abah Ujang meminta sesuatu yang tidak pantas—dan istri Mas Thayib menolak mentah-mentah karena ia punya suami.
Penolakan itu membuat Abah Ujang sakit hati. Sejak saat itu, istri Mas Thayib mendadak jatuh sakit panjang. Berobat ke dokter tidak ketemu penyakit yang jelas, tapi kondisinya makin menurun. Harta yang dulu terasa tak habis-habis mulai terkikis habis untuk biaya pengobatan, dan orang-orang yang mencoba membantu pun banyak yang menyerah karena merasa “tidak kuat”.
Akhirnya, istri Mas Thayib meninggal. Mas John sempat melayat, dan ia mengaku melihat kondisi jenazah yang membuatnya nyaris tidak sanggup berdiri—terutama ketika menatap anak bungsu Mas Thayib yang masih kecil, mencari ibunya dengan tangis yang mematahkan hati. Bagi Mas John, di situ terasa jelas: keberuntungan yang datang dari jalan menyimpang selalu menyimpan tagihan, cepat atau lambat.
Kabar selanjutnya pun pahit. Mas Thayib kemudian menyusul wafat (disebut terjadi pada masa pandemi). Dan beberapa waktu setelah itu, Abah Ujang pun meninggal. Seolah semua yang terlibat pada jalur itu satu per satu ditutup oleh akhir yang tidak pernah benar-benar indah.
Mas John menutup kisah ini dengan penyesalan yang tidak ia sembunyikan: ia menyesal pernah mengantar. Bukan karena ia merasa “paling benar”, tapi karena ia melihat sendiri akibatnya—bukan cuma harta yang terkikis, melainkan trauma yang tertinggal pada anak-anak.
Dan pesan yang paling ia tekankan sederhana: penglaris mungkin terlihat “tanpa tumbal” di awal, tapi jalan gelap selalu punya cara untuk menagih. Kadang bukan dalam bentuk uang. Kadang bukan dalam bentuk bisnis yang bangkrut. Tapi lewat hal yang paling manusia tak sanggup tukar—nyawa, keluarga, dan rasa damai yang tidak bisa dibeli.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
