Kang Atur memulai semuanya sebagai pengusaha pakaian jadi. Tahun 2011 ia merintis jualan di pasar kampung yang bukanya seminggu sekali. Ia bukan cuma punya satu kios—totalnya sampai lima pasar, bahkan sempat bertambah jadi enam. Dua hari dalam seminggu dipakai untuk belanja stok, sisanya keliling pasar. Di masa itu, usahanya pernah menginjak puncak kejayaan: omzet jutaan, pelanggan ramai, dan hidup terasa berjalan.
Di salah satu pasar, Kang Atur dekat dengan pedagang lain yang ia anggap seperti abang sendiri—orang yang banyak mengajarkan cara membaca karakter pembeli, cara menentukan harga, sampai cara “bertahan” di pasar. Kedekatan itulah yang membuat Kang Atur percaya, saat omset mulai turun drastis di akhir 2014, ia masih punya tempat untuk curhat dan mencari solusi.
Penurunan omzetnya bukan penurunan biasa. Dari yang biasanya jutaan per sekali pasar, mendadak tinggal ratusan ribu, bahkan pernah tidak laku sepotong pun. Padahal biaya operasional pasar tetap jalan: karcis, kebersihan, listrik, parkir, uang tukang panggul—lebih dari seratus ribu sekali buka. Kang Atur mencoba “menyuntik” modal dengan pinjaman bank, berharap stok bertambah maka penjualan ikut naik. Nyatanya nihil. Barang menumpuk, musim berganti, stok lama makin susah laku.
Kejanggalan mulai muncul di kios-kiosnya. Di beberapa pasar ia menemukan tanah merah ditabur di lantai. Ada puntung rokok yang dibakar lalu diselipkan rapi di sisi kanan–kiri kios. Ia juga pernah menemukan bungkusan kain putih kusam seperti kain kafan—yang ia pilih bakar saja tanpa berani membuka. Waktu itu ia masih menahan prasangka, menganggap mungkin sekadar ulah orang iseng.
Akhirnya ia menyerah. Kios dilepas, barang dijual, tetapi hasilnya tetap tidak cukup menutup hutang—angsuran bank, cicilan kendaraan, dan kebutuhan rumah tangga. Kang Atur jatuh ke fase kerja serabutan: kuli bangunan, calo, ojek—apa pun yang bisa menghasilkan, ia ambil. Namun hidup tetap seret. Dalam kondisi itulah ia sempat tergoda ikut bisnis obat herbal semacam MLM; ia bahkan sempat keliling Sukabumi untuk jualan, berharap ada jalan baru.
Di sebuah musala saat hujan menahan langkahnya pulang, Kang Atur didatangi bapak-bapak yang seolah membaca hidupnya dari wajah. Orang itu menawarkan “solusi” ke kampung seberang: ada kuncen yang bisa membantu lewat “penarikan dana gaib”—katanya bukan pesugihan, melainkan mengambil hak turun-temurun. Kang Atur menolak halus, masih mencoba berpikir logis.
Tapi malam itu justru menjadi malam yang mengubah cara pandangnya tentang dunia. Di perjalanan pulang, ia diikuti kejadian aneh: ada nenek-nenek menghentikannya lalu tiba-tiba naik motor tanpa minta izin. Nenek itu terasa “enteng”, padahal motor bison yang ditunggangi cukup tinggi. Sesampainya di lorong kebun bambu yang gelap, nenek itu menyuruh berhenti—lalu tiba-tiba “meloncat” ke batang bambu, tertawa dari atas, dan Kang Atur seperti dipaksa menatap tanpa bisa menggerakkan tangan. Ia baru lepas setelah membaca doa seadanya dan makhluk itu menghilang.
Teror tidak berhenti. Ban motornya kempes di tengah hutan hujan deras. Ia ketiduran di pinggir jalan, lalu dibangunkan tepukan “bapak-bapak” yang suaranya jelas tapi wujudnya tak ada. Ia dorong motor lebih dari sejam sampai menemukan tambal ban di lokasi yang menurut logika tidak masuk akal—terlalu sepi untuk usaha tambal ban—dan pemiliknya menolak memberi tempat istirahat. Kang Atur tetap memaksa pulang, sampai rumah pukul setengah satu dini hari dan mendapati istri sudah pergi meninggalkan surat: minta cerai, jangan dicari.
Dalam kondisi hancur, Kang Atur kembali ke “abang” pedagang pasar yang dulu dekat. Ia diberi nasihat agar tidak memaksakan sesuatu yang sudah tidak mau bertahan. Lalu ia diarahkan menemui seorang sesepuh yang disebut Abah. Dari Abah itulah Kang Atur tahu versi lain penyebab kebangkrutannya: katanya ia kena guna-guna pesaing usaha. Kang Atur sudah capek berdebat dengan nasib; ia hanya ingin tenang.
Yang membuatnya akhirnya masuk ke lingkaran gelap itu bukan niat mencari uang gaib—melainkan karena ia “nyaman” dekat Abah. Abah bahkan menawarinya jadi sopir pribadi: diberi makan, rokok, uang harian, motor ditanggung, asal siap mengantar Abah kalau ada panggilan pengobatan. Kang Atur setuju, dan sejak itu ia sering ikut Abah pergi beberapa hari ke tempat-tempat tertentu.
Sampai suatu hari, Kang Atur dibawa ke sebuah gubuk terpencil dekat hutan di wilayah perbatasan Lembang (antara Bandung Barat dan Subang). Bau kemenyan dan bunga menyengat. Abah masuk, sementara Kang Atur biasanya mencari musala terdekat untuk tidur. Dari obrolan orang-orang yang datang ke rumah Abah, Kang Atur mulai menangkap pola: yang dibahas selalu uang—berapa miliar, kapan cair, apa saja yang dibutuhkan untuk ritual.
Pada kunjungan berikutnya, “kuncen” di gubuk itu memanggil Kang Atur masuk. Ia langsung dinyatakan resmi jadi anggota kelompok “dana gaib” karena sudah beberapa kali ikut datang. Kang Atur menolak, bilang ia cuma tukang ojek yang mengantar. Tapi jawabannya dingin: “Kamu sudah tahu banyak, kamu harus gabung.” Iming-imingnya pun membuat kepala orang bisa bergetar: Kang Atur disebut kebagian sekitar dua ratus juta jika pencairan berhasil.
Malam itu Kang Atur dipaksa ikut ritual. Ia masuk ruangan 2×2 meter, pengap, lampu redup seperti ultraviolet, ada lukisan besar, patung pewayangan, dan altar. Abah melafalkan mantra, sementara Kang Atur memilih diam karena takut salah ucap. Mereka menunggu “pencairan” berjam-jam. Dalam lapar dan kesal, Kang Atur berbisik kasar mempertanyakan, “Mana jin yang nganterin duit?” Seketika muncul bayangan besar di sampingnya, menampar telinganya hingga sakit seperti disambar petir—lalu ia pingsan tiga jam. Ia sadar sudah dijampe-jampe, dan diperingatkan bahwa “penghuni” marah.
Beberapa hari kemudian, Kang Atur dipanggil lagi untuk ritual yang disebut “terakhir”. Kali ini mereka berangkat membawa mobil—karena logikanya, kalau uang benar turun, jumlahnya besar. Ritual dimulai jam sebelas malam. Sekitar satu jam, ruangan tertutup itu tiba-tiba berangin. Dan saat Kang Atur menunduk, ia kaget: di sekelilingnya uang berserakan sampai menutupi tempat ia duduk bersila—bahkan sampai ke lutut. Baunya “bau bank”, uangnya masih lurus dan keras, seperti baru keluar. Ia sempat merauk dan memasukkan ke kantong. Mereka memasukkan uang ke dua karung goni besar.
Namun euforia itu dihancurkan oleh satu “aturan” yang terdengar absurd: si kuncen marah karena Kang Atur datang memakai mobil, bukan motor yang selama ini dipakai bolak-balik ke lokasi. Motor dianggap bagian dari syarat gaib—harus “hadir” dalam waktu satu jam. Yang mustahil itu membuat ritual dinyatakan gagal. Semua uang harus dikembalikan ke ruangan. Kang Atur dan Abah pulang tangan kosong.
Di perjalanan, Kang Atur baru sadar: uang yang ia selipkan di beberapa kantong menghilang, tersisa hanya Rp900.000 di kantong belakang—uang ratusan ribu, nyata, dipakai untuk bensin dan makan. Ia merasa justru karena “sempat memakan uang itu”, teror setelah keluar dari kelompok makin menjadi.
Ayah Kang Atur—yang waktu itu masih hidup—marah besar dan memerintahkan ia putus total. Kang Atur mencoba keluar, tapi konsekuensinya seperti dihantam balik: tempat tidurnya terasa diangkat seperti terbang, motor seperti terbalik sendiri saat pelan, ia “tersesat” masuk hutan padahal merasa di jalan bagus, sampai satu kejadian paling menyeramkan: ia makan di warung yang ramai, tapi semua orang diam menunduk, lalu tiba-tiba menatapnya serempak—dan wajah mereka berubah mengerikan. Begitu ia keluar, suasana sudah siang padahal ia masuk malam.
Akhirnya keluarga melakukan pembersihan: pengajian bulanan, santunan anak yatim, doa bersama selama beberapa bulan. Kang Atur mengaku setelah itu hidupnya lebih tenang, teror berhenti, dan ia benar-benar meninggalkan lingkaran tersebut.
Yang membuat kisah ini makin menusuk adalah fakta yang ia dengar belakangan: kelompok itu masih ada. Orang-orang baru masih direkrut. Anggotanya bukan orang sembarangan—ada pengusaha, ada PNS, bahkan ada oknum “institusi” dan pejabat lokal yang dikenal berkecukupan. Mereka tetap patungan menyiapkan kebutuhan ritual, banyak yang sudah menghabiskan belasan sampai puluhan juta, tapi menurut Kang Atur tidak ada yang benar-benar berhasil. Kabarnya, dua anggota kelompok bahkan sudah meninggal.
Kang Atur menutup kesaksiannya dengan pesan yang sederhana tapi tegas: pencarian dana gaib itu tipu daya yang membuat orang lemah iman terus berharap, terus keluar biaya, terus masuk lagi—seperti hipnosis massal. Menurutnya, lebih baik ikhtiar pelan dengan cara halal walau kecil, daripada mengejar instan yang ujungnya menggerus rumah tangga, uang, dan ketenangan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
