Awal 2022, Teh Titin baru saja kena PHK. Pulang lebih cepat dari kantor, ia mampir ke rumah sahabat lamanya, Ana—seorang single parent yang bertahan hidup dari warung bakso kecil di Cirebon. Ana punya tiga anak; yang sulung, Rizal, sudah berkeluarga, sedangkan anak bungsunya masih sekolah. Kehidupan Ana dulu susah sekali, tapi ia bilang usaha baksonya bermodal warisan suami sekitar puluhan juta, lalu pelan-pelan bisa jalan.
Melihat Teh Titin galau karena kehilangan pekerjaan, Ana justru menawarkan solusi cepat: “Kerja di sini aja. Aku butuh kasir.” Jam kerjanya panjang—pagi sampai malam—tapi Teh Titin butuh pemasukan, dan suaminya pun mengizinkan. Titin mulai ikut menjaga warung, mengamati ritme jualan yang naik turun tergilas tren kuliner viral.
Awalnya mereka mencoba cara normal: promo Jumat–Minggu, minuman gratis, diskon kecil. Namun omzet tetap terasa seret. Ana mulai sering mengeluh, merasa butuh “lebih” dari sekadar strategi marketing. Di satu malam menjelang tutup, Ana memanggil Titin dan bicara pelan: ia dapat informasi “ngalap berkah” di Jawa Timur. Titin mengira ziarah atau iktikaf, sesuatu yang masih masuk akal.
Mereka berangkat naik kereta, lalu transit, lalu lanjut sampai daerah yang aksesnya sulit—angkutan umum hanya sampai sore. Tempatnya semacam padepokan di atas bukit menghadap laut selatan, suasananya temaram, bau dupa dan menyan terasa pekat. Titin sempat keluar malam-malam karena sulit tidur, dan di dekat patung Semar ia melihat sosok pocong membelakangi dirinya. Ia lari balik ke paviliun dan menceritakan ke Ana, tapi Ana menyepelekan—menyuruh Titin tidur dan tidak “kelayaban” di tempat seperti itu.
Besok paginya, Ana bertemu “Mbah” yang mengurus tempat itu. Mbah meminta tirakat tiga hari disertai puasa, lalu memberi sebuah kantong serut (kanyut kunang). Maharnya tidak kecil—sekitar 5 juta. Pesannya tegas: kantong itu tidak boleh dibuka di sana maupun di jalan; harus dibuka di rumah lalu isinya dicampur ke kuah dan adonan bakso.
Setelah pulang, mereka membuka kantong itu bersama. Isinya garam dan bumbu kering. Dicampurkanlah ke kuah dan adonan sesuai arahan. Tapi satu minggu berlalu, warung masih biasa saja. Ana emosi, menelpon Mbah, menuduh penipuan, bahkan minta refund. Titin mencoba menahan Ana agar tidak balik lagi—takut justru “kena” lebih besar karena jarak jauh dan biaya makin habis.
Dua-tiga bulan berikutnya, Ana berubah. Dengan yakin ia bilang punya informasi baru: pesugihan “tanpa tumbal.” Titin menolak logika itu—baginya pesugihan selalu ada harga. Tapi Ana sudah terlanjur gelap mata. Mereka kembali berangkat, kali ini naik travel, menuju Jawa Timur lagi.
Di perjalanan, Titin beberapa kali melihat sosok almarhum ayah Ana, seolah memberi isyarat melarang, menggeleng, menyuruh balik. Ana tidak percaya, menganggap Titin mengada-ada. Sampai tiba di lokasi yang berbeda dari padepokan pertama: bukan bangunan besar, melainkan gubuk dan suasana seperti tempat kuncen tua tinggal. Di sana si “Abah” justru blak-blakan: tidak ada pesugihan tanpa tumbal. Kalau ragu, pulang. Ana menjawab nekat—apa pun risikonya ia tanggung.
Ritual puncak dilakukan di Gunung Wilis. Titin tidak ikut masuk, ia menunggu di saung dekat mulut gua. Ana masuk ke gua bersama Abah, menjalani prosesi sampai menjelang pagi. Saat Ana keluar, ia lebih banyak diam sepanjang perjalanan pulang—seperti orang membawa beban yang tidak sanggup diucapkan.
Tiga minggu setelah itu, kabar paling mengejutkan datang: Tika—istri Rizal, menantu Ana—meninggal. Tika sedang hamil. Warga heboh karena ada darah merembes dari kafan dan beredar gosip “janinnya hilang.” Titin datang melayat, tapi tidak berani bertanya karena suasana duka terlalu pekat.
Seminggu setelah pemakaman, warung bakso Ana mendadak ramai luar biasa. Bukan cuma weekend—hari biasa pun penuh. Titin yang masih membantu kasir sampai kewalahan. Tidak ada perubahan bumbu yang terlihat, tapi pembeli mengalir tanpa putus. Di titik itu, kecurigaan Titin makin kuat.
Sebulan setelah kematian Tika, Titin memberanikan diri bertanya. Ana akhirnya mengaku. Di dalam gua, Ana didatangi sosok “ratu ular”: tubuh perempuan dari atas, namun bagian bawah ular. Sosok itu berkata ritualnya selesai. Setelah itu Abah membawa Ana ke sebuah sumur dan menyuruhnya menengok ke dalam—di sana Ana diperlihatkan “tumbal pertama.” Mula-mula yang terlihat orang tuanya sendiri (padahal sudah meninggal). Saat disuruh melihat lagi, yang terlihat Tika sedang makan. Abah menegaskan: tumbal pertama adalah menantunya.
Ana diberi segenggam beras ketan dan satu kelapa hijau. Tugasnya: olah ketan jadi makanan, bungkus dengan daun (tanpa piring), lalu berikan khusus untuk Tika—tidak boleh ada yang ikut makan. Kelapa hijau dipapas jadi minuman dan harus diminum Tika. Ana menjalankan itu. Ironisnya, Tika justru bilang itu makanan yang sedang ia ngidam. Ia makan habis tanpa curiga.
Malam kematian itu, Rizal mengaku sebenarnya mendengar istrinya meminta diantar ke kamar mandi. Entah kenapa ia seperti “terkunci” oleh kantuk. Begitu ia mendengar teriakan, ia lari dan melihat bayangan besar tinggi keluar dari arah kamar mandi. Di dalam, Tika sudah tergeletak: lidah menjulur, darah di mana-mana, dan yang paling ganjil—janin menghilang, seperti “ditarik” keluar. Sebelum kejadian, Tika beberapa hari berturut-turut mimpi didatangi ular yang seolah ingin memakannya, tapi Rizal tidak menaruh curiga.
Setelah itu, bisnis Ana melejit seperti roket. Dalam satu tahun, cabang bertambah, rumah direnovasi, mobil CR-V dibeli cash, ada mobil operasional, bahkan Alphard. Warung baksonya jadi buah bibir: kuahnya wangi semerbak, rasanya “beda,” seolah ada bumbu yang membuat orang ketagihan.
Ketika Titin akhirnya dapat kerja lagi dan berniat resign, Ana sempat menahan—bahkan menawarkan Titin pegang cabang. Namun Titin menolak. Tak lama kemudian, Ana memanggil Titin ke rumah dan mencoba memberi amplop tebal—sekitar belasan juta. Titin menolak mentah-mentah karena takut uang itu membawa efek buruk ke keluarganya. Ia buru-buru pulang, bahkan sempat mewanti-wanti suami dan anaknya agar tidak menerima makanan atau minuman apa pun dari rumah Ana.
Setelah Titin pergi dan pindah mengikuti suaminya, kabar-kabar lain bermunculan. Ada karyawan Ana meninggal dengan pola serupa—jatuh di kamar mandi. Keponakan Ana yang masih SD juga pernah diberi uang Rp100.000 berulang kali; saat uang itu dibagi ke temannya, si temannya mendadak muntah darah. Adik Ana, Mas Pardi, akhirnya membawa anaknya berobat ke orang pintar dan disebut hampir jadi tumbal—tapi berhasil diselamatkan setelah “dibongkar” langsung sumbernya.
Tahun-tahun berlalu. Titin suatu saat pulang dan mendapati warung bakso yang dulu ramai kini sepi seperti tutup. Orang sekitar bilang cabang Ana satu per satu bangkrut. Ana sendiri disebut linglung—seperti depresi setelah semuanya runtuh. Keberadaannya pun tidak jelas, bahkan keluarganya dikabarkan putus hubungan. Titin hanya bisa memandang dari jauh, membawa rasa bersalah karena pernah mengantar, sekaligus bersyukur karena memilih menjauh sebelum “tagihan” itu merembet ke rumahnya.
Kisah ini jadi pelajaran pahit tentang rezeki instan yang terlihat manis di permukaan. Bakso memang bisa laris, mobil bisa dibeli cash, cabang bisa bertambah cepat—tapi ketika jalan pintasnya lewat perjanjian gelap, yang jatuh sering bukan cuma satu orang. Kadang, yang pertama kali disapu justru orang yang paling dekat—menantu, karyawan, bahkan anak kecil—sementara pelakunya pada akhirnya tetap dikejar kehancuran dari pintu yang dulu ia buka sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
