Mbak Kiki mengalami kisah ini di tahun 2023, saat ia baru merintis usaha kuliner bareng adiknya di Jawa Barat. Setelah pandemi mereda, ia membuka rumah makan dengan menu ayam—ayam bakar, geprek, dan minuman kopi panas-dingin. Awalnya sepi, tapi setelah dibantu promosi food vlogger dan sosial media, usaha mereka mulai ramai dalam tiga sampai empat bulan. Dari situlah Mbak Kiki mulai bertemu beragam pelanggan—termasuk seseorang yang kelak jadi pemicu kisah ini: seorang pelanggan rutin yang ia panggil Tante Lin.
Tante Lin datang hampir tiap hari. Lama-lama mereka akrab, ngobrolnya bukan cuma soal makanan, tapi soal hidup. Mbak Kiki baru tahu Tante Lin seorang single parent dengan dua anak yang sudah dewasa. Dulu Tante Lin hidup berkecukupan karena suaminya punya toko material besar—sampai pengiriman keluar kota, bahkan sampai Jakarta dan Bogor.
Masalah mulai terlihat ketika pandemi lewat. Tahun 2021 suaminya sakit berat, omzet turun, lalu tahun 2022 suaminya meninggal. Sejak itu Tante Lin yang memegang toko—padahal semasa suaminya hidup ia tidak ikut campur. Anak-anaknya pun tidak mau meneruskan usaha, masing-masing punya jalan sendiri. Akhirnya Tante Lin memikul semuanya sendirian.
Yang membuatnya putus asa: toko tetap buka, material menumpuk, tapi pembeli makin jarang. Karyawan sampai dikurangi, tinggal tiga orang. Uang yang masuk katanya hanya cukup untuk gaji dan putar barang, tanpa ada “celengan” untuk dirinya. Dari hari ke hari keluhan itu terus keluar, sampai akhirnya Tante Lin bicara blak-blakan: ia butuh cara supaya toko kembali laris seperti dulu—bukan pinjaman bank, bukan modal, tapi “pelaris”.
Mbak Kiki awalnya bingung, tapi karena kasihan, ia teringat sosok guru spiritual yang dulu pernah membimbingnya—seorang perempuan yang ia panggil Nyai. Mbak Kiki menghubungi Nyai lewat WhatsApp dan menceritakan kebutuhan Tante Lin. Nyai mengiyakan, tapi sejak awal menekankan satu hal: ada mahar. Totalnya Rp8 juta—Rp3 juta di awal untuk persiapan sesajen ritual, sisanya setelah ritual selesai.
Beberapa hari kemudian Tante Lin datang lagi menagih kabar. Saat mendengar angka mahar, Tante Lin langsung setuju. Mereka janjian bertemu Nyai hari Selasa, dan Tante Lin menjemput Mbak Kiki dari kedai. Perjalanan ke rumah Nyai sekitar satu jam.
Di rumah Nyai, Tante Lin menyampaikan dua hajat sekaligus: toko material ingin laris lagi, dan ia ingin “didekatkan” dengan seorang pria kaya dari luar kota. Nyai menolak mengerjakan dua hal sekaligus—harus pilih satu. Tante Lin akhirnya memilih memajukan usaha dulu. Mahar Rp3 juta diserahkan saat itu juga, dan mereka diminta menunggu kabar jadwal ritual.
Keesokan harinya, Nyai menelpon: ritual bisa dilakukan hari Kamis malam, dan titik kumpulnya langsung di tempat petilasan. Tante Lin menjemput Mbak Kiki lagi, kali ini membawa satu teman lain, Mama Ega. Mereka bertiga berangkat dan bertemu rombongan Nyai—total delapan orang: Nyai, kuncen, tiga murid, lalu mereka bertiga.
Lokasi petilasan berada di tengah hutan bambu, dengan pendopo kecil dan musala. Nyai memberi arahan: ritual inti akan dimulai tengah malam; selama perjalanan naik ke puncak, apa pun yang terlihat harus diabaikan. Mereka juga dilarang membawa HP atau perangkat elektronik karena sinyal hilang dan alat sering mati sendiri.
Menjelang naik, Nyai sempat membaca sesuatu. Lalu ia memegang tangan Mbak Kiki dan seolah “membuka” pandang batinnya. Di jalur anak tangga batu yang gelap, Mbak Kiki melihat makhluk-makhluk gaib berbaris dari bawah sampai atas—kuntilanak, pocong, dan sosok-sosok lain. Ketika Nyai melangkah, makhluk-makhluk itu bersujud seperti memberi jalan.
Di tengah perjalanan, Mbak Kiki melihat satu daun bambu menyala hijau terang, indah seperti lampu, seolah menggoda untuk diambil. Ia tidak jadi mengambil karena merasa itu “pilihan” yang berbahaya. Sekitar dua puluh menit mereka sampai puncak.
Di puncak ada batu besar dan balong (kolam) di sampingnya. Sesajen ternyata sudah tersedia di atas: gelas-gelas berisi kopi, teh, air putih, buah-buahan, dupa kerucut berjejer, dan sebuah tabung kaca berisi minyak bernama ponibasalwa dengan tiga warna: merah, hijau, biru.
Mereka diminta bersuci di balong. Perempuan-perempuan berganti kemben, lalu Nyai memandu mereka menyelam beberapa kali sambil membaca selawat dalam hati. Setelah itu wudu, ganti baju kering, lalu duduk bersila berbaris menghadap batu dan sesajen.
Ritual dimulai dengan basmalah, surat pendek, selawatan—lalu berubah ke bacaan Jawa halus bercampur lafaz Arab. Saat bacaan berubah, angin mendadak kencang dan suhu turun tajam. Mbak Kiki merasakan sesuatu melintas di area lutut—seperti ular—disertai suara desis yang berulang.
Karena penasaran, Mbak Kiki membuka mata. Ia melihat ular muncul dari dalam batu—tubuh ular, tapi kepalanya manusia, mengenakan semacam penutup kepala. Mbak Kiki kaget dan buru-buru memejam lagi. Ia juga mendengar suasana ramai seperti pasar—seperti ada transaksi besar di sekitar mereka.
Setelah sekitar satu jam, ritual selesai. Nyai menanyakan pengalaman Tante Lin. Tante Lin mengaku ia juga merasakan ular mengelilingi kakinya dengan desis yang berat, tapi ia tidak berani membuka mata. Nyai menegaskan: hajat Tante Lin “diterima”.
Nyai kemudian mengambil tabung minyak ponibasalwa dan memberikannya kepada Tante Lin. Instruksinya jelas: sesampai di toko material, buat lubang sedalam sekitar 50 cm, bungkus minyak itu dengan kain putih, tanam dan tutup rapi—jangan sampai diketahui orang. Tante Lin meminta bantuan Nyai untuk menanam, dan Nyai mengiyakan lewat murid-muridnya.
Menjelang subuh mereka konvoi ke toko material Tante Lin. Di halaman toko, murid Nyai menggali titik yang dianggap pas, memasukkan bungkusan ponibasalwa, lalu menutup tanah kembali. Sebelum pulang, Nyai berpesan: sekitar satu tahun nanti harus ada ritual lanjutan jika ingin penguatan. Tante Lin mengiyakan, dan rombongan bubar.
Dua bulan pertama Tante Lin tidak memberi kabar. Baru di bulan ketiga, ia datang ke kedai Mbak Kiki dengan wajah cerah. Ia bilang omzet tokonya naik lagi, pelanggan lama balik, dan ia mulai punya “celengan”. Beberapa bulan setelah itu, perubahan makin besar: karyawan yang tadinya tiga orang naik jadi sekitar lima belas, armada pengiriman yang dulu satu jadi tiga, pengiriman luar kota kembali berjalan, bahkan Tante Lin membeli mobil baru dan motor. Ia sampai membeli rumah untuk dijadikan butik dan membuka usaha baru.
Namun di balik keberhasilan itu, ada satu hal yang tertunda: keinginan Tante Lin mendekatkan diri pada pria kaya. Menjelang setahun, Mbak Kiki mengingatkan agar mereka kembali ke Nyai. Saat Mbak Kiki menanyakan mahar untuk “kasus kedua”, Nyai mematok Rp30 juta. Tante Lin kaget, menolak, dan sejak itu ia mulai menghindar. Ia tidak mau bertemu Nyai lagi, tidak mau melanjutkan ritual penguatan, dan komunikasinya dengan Mbak Kiki merenggang sekitar enam bulan.
Tahun 2025, Tante Lin muncul lagi dengan wajah panik. Ia mengaku beberapa kali melihat ular besar di toko—bukan mimpi, tapi nyata—muncul di pojok dekat baja ringan, melingkar di plafon, dan berpindah-pindah lokasi. Setelah itu kabar Tante Lin hilang lagi.
Sebulan berikutnya, yang datang justru Mama Ega: ia membawa kabar Tante Lin pingsan di toko dan dibawa ke rumah sakit, tetapi secara medis tidak ditemukan penyakit yang jelas. Tante Lin berobat ke mana-mana, bahkan sampai rukiah. Kondisinya membaik sedikit, tapi tubuhnya lemas dan ia tidak bisa berjalan normal. Untuk biaya pengobatan, aset-asetnya dijual—rumah kontrakan, mobil, motor—semuanya lepas. Toko materialnya masih ada bangunannya, tapi isinya kosong, barang jualan nyaris tidak ada lagi.
Terakhir, Tante Lin menghubungi Mbak Kiki lewat WhatsApp sekitar Maret–April 2025: ia minta maaf belum bisa mampir ke kedai karena kondisinya belum pulih. Setelah itu tidak ada kabar lagi—hidup atau meninggal pun Mbak Kiki tidak tahu pasti.
Mbak Kiki menutup kisah ini dengan penyesalan yang berat. Kalau bisa diulang, ia tidak akan mengantar Tante Lin mencari jalan pintas. Baginya, lebih baik mencari modal, mengatur ulang bisnis, atau memulai dari kecil—daripada naik cepat lewat perjanjian yang ujungnya mengembalikan semuanya secara brutal: lewat teror, sakit, dan harta yang habis terkuras.
Karena pada akhirnya, “penglaris” yang terlihat bekerja seperti mukjizat, sering kali hanya memberi waktu singkat untuk merasakan puncak—sebelum tagihannya datang pelan-pelan, lalu merampas semuanya tanpa sisa.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
