Tahun 2008, Mas Hadi didatangi seorang bapak bernama Pak Herman (nama samaran) yang datang bersama anaknya, Adi. Mereka datang bukan untuk sekadar silaturahmi—melainkan meminta Mas Hadi mengantar Pak Herman ke seseorang yang katanya “bisa menyelesaikan masalah hidup” yang sudah membuatnya putus asa.
Pak Herman dulunya pengusaha transportasi di Jawa Barat. Ia punya banyak armada elf dan angkot yang berjalan dan sempat jadi sumber hidup yang lumayan stabil. Sampai satu hari ia tergiur investasi yang katanya bisa menguntungkan berlipat-lipat—dan di situlah semua mulai runtuh. Uang yang ditanam hilang, usaha ikut ambruk, sementara cicilan dan tanggungan justru membengkak tak terkendali.
Di hadapan Mas Hadi, Pak Herman mengaku total beban utangnya sekitar 12 miliar. Yang paling mencekik: tiap bulan ia harus setor sekitar 1,2 miliar ke bank, dan waktu tersisa untuk melunasi tinggal sekitar 10 bulan. Semua aset sudah dijual untuk menutup cicilan bulan-bulan sebelumnya, tapi untuk cicilan berikutnya ia benar-benar gelap—tidak ada sumber lagi.
Pak Herman sebenarnya sudah mencoba “jalan lurus” dulu. Ia mengaku memperbaiki ibadah, puasa Senin-Kamis, salat lima waktu, tahajud, hajat, bahkan puasa penuh Ramadan. Namun karena merasa pertolongan yang ia harapkan tidak datang sesuai bayangannya, kecewa itu berubah jadi putus asa. Dari putus asa itulah ia memilih mencari jalan instan—meski sadar risikonya besar.
Pak Herman bilang ia tahu tempat di Galunggung dari anaknya, Adi, dan ia tahu Mas Hadi pernah ke sana. Akhirnya Mas Hadi setuju mengantar, dengan batas tegas: hanya mengantar, tidak ikut andil dalam ritual. Mereka berangkat berdua ke kaki Gunung Galunggung, parkir di lahan warga, lalu berjalan naik sampai ke rumah seorang “Abah” yang dikenal sebagai perantara ritual.
Di rumah Abah, Pak Herman memohon agar ada cara untuk menyelesaikan utang. Abah menjawab ada—tapi caranya bukan pinjaman bank, melainkan proses “nikah batin” dengan makhluk gaib. Abah menjelaskan: pernikahan batin itu akan berjalan sampai utang Pak Herman lunas, namun syaratnya berat—harus ada mas kawin, dan harus ada izin dari istri.
Abah lalu menunjukkan sebuah kamar khusus dengan botol-botol tertata rapi di atas meja—sekitar sepuluh botol—yang masing-masing berisi “nominal” berbeda. Pak Herman diminta memilih botol sesuai mahar yang sanggup ia bayar. Kisaran yang disebut Mas Hadi, dari 15 juta sampai puluhan juta. Pak Herman memilih mahar sekitar 30 juta—sesuai uang yang ia bawa diam-diam.
Pak Herman masuk kamar sendirian, tanpa didampingi Mas Hadi. Sekitar 20 menit kemudian ia keluar bersama Abah. Abah menyatakan “pembukaan” sudah dilakukan, tinggal prosesi lanjutan di rumah Pak Herman: menyiapkan satu kamar khusus, menyediakan buah tujuh rupa yang harus diganti setiap malam, dan ritual akan dilakukan pada malam tertentu (disebut malam Rabu, dekat weton kelahiran Pak Herman). Pak Herman meminta Mas Hadi membantu menyiapkan buah-buahan dan kamar, karena ia benar-benar buta tata cara. Mas Hadi akhirnya mengiyakan untuk membantu yang teknis, bukan ikut ritualnya.
Setelah Ramadan selesai, mereka menyiapkan kamar ritual di lantai dua rumah Pak Herman. Pak Herman mengaku istrinya “sudah mengizinkan”—namun belakangan terbukti itu bohong. Malam pertama ritual dimulai sekitar jam 10. Mas Hadi menunggu di luar kamar di lantai atas. Di atas jam 12, ia mulai mencium aroma minyak bercampur bau busuk, lalu terdengar suara ombak dari dalam kamar, suasana yang tadinya terasa normal berubah menekan.
Pagi harinya Pak Herman bercerita: dari kepulan asap putih muncul sosok perempuan cantik berambut panjang, memakai semacam lingkaran kuning di kepala. Sosok itu meminta Pak Herman “melayani layaknya suami istri”. Pak Herman mengaku setelah dipeluk, ia tidak sadar, dan sadar-sadar sudah pagi—di atas kasur ada satu koper besar. Saat koper dibuka, isinya uang pecahan 100 ribu penuh. Uang itu disetor ke bank, dan hasil hitungan untuk malam pertama sekitar 3 miliar rupiah.
Minggu kedua, kejadian terulang. Koper yang sebelumnya disimpan rapi mendadak hilang, lalu muncul lagi setelah ritual selesai. Uang kali ini tidak sebanyak malam pertama, tapi tetap besar. Ketika mereka hendak menyetor ke bank, Pak Herman menemukan istrinya berubah drastis: tubuh kurus kering mendadak, seperti sakit berat tanpa sebab jelas. Istrinya dibawa ke rumah sakit, tetapi hasil lab disebut tidak menemukan penyakit apa pun. Uang dari minggu kedua tetap disetor dan terhitung sekitar 2,5 miliar.
Di situlah Mas Hadi mulai mencium masalah inti: ritual ini tidak pernah direstui istri, bahkan istrinya tidak tahu persis apa yang dilakukan Pak Herman. Pak Herman akhirnya mengaku ia memaksa, marah-marah, dan tetap menjalankan ritual tanpa izin. Ia takut kalau anak-anaknya tahu, ritualnya kacau dan utangnya tak lunas.
Minggu ketiga, suasana lebih mencekam. Mas Hadi mendengar suara benda seperti panci jatuh, meja dibalik, kursi bergeser keras—tetapi saat dicek, semua rapi. Bau busuk makin menyengat, suara angin menggulung, dan Pak Herman mengaku kali ini sosok yang datang tidak lagi “sepenuhnya manusia”: bagian bawahnya buaya. Setelah disetor, hasil minggu ketiga disebut sekitar 2 miliar. Di saat yang sama, kondisi istri Pak Herman makin mengerikan—seperti tinggal kulit membungkus tulang.
Minggu keempat menjadi puncak. Mas Hadi melihat lima sosok besar di bawah, seperti bayangan tanpa wajah memegang tombak. Dari dalam kamar terdengar suara kereta kuda, ombak, angin, dan aura rumah seperti ditindih. Pagi-pagi sekali Pak Herman keluar—tidak seperti biasanya. Ia mengaku malam itu ia sadar penuh saat “berhubungan”, dan sosok itu memperkenalkan diri sebagai Ibu Ratu Dewi Ningrat Putih, setengah buaya setengah manusia, mengaku berasal dari Segoro Selatan. Ia menyebut Pak Herman sudah “menanam benih” dan kelak Pak Herman harus mengurus keturunannya. Lalu sosok itu meninggalkan satu koper dan satu kantong plastik besar berisi uang. Total uang terakhir yang diakui Pak Herman sekitar 4,5 miliar.
Mas Hadi yang panik kembali ke Abah di Galunggung untuk minta jawaban. Abah menegaskan: kesalahan utama Pak Herman adalah tidak mendapat izin istri. Jika istri mengizinkan, maka “benih” itu justru akan dialihkan ke istrinya—bukan ke makhluk gaib—dan dampaknya tidak akan seperti ini. Karena tidak ada izin, istri Pak Herman menjadi korban paling awal: kesehatannya “diambil” sampai akhirnya meninggal.
Benar saja, istri Pak Herman meninggal pada hari Kamis siang. Anak-anaknya marah besar karena ibunya sakit tidak pernah diberi tahu; mereka baru tahu saat ibunya sudah wafat. Konflik keluarga pecah, dan Pak Herman mulai hidup dalam rasa bersalah—tapi utangnya sudah lunas.
Belum berhenti di situ, beberapa hari kemudian Pak Herman datang ke Mas Hadi memperlihatkan kakinya: dari pergelangan hingga sekitar belasan sentimeter, kulitnya berubah jadi sisik buaya. Mas Hadi kembali membawanya ke Abah. Jawabannya dingin: itu konsekuensi perjanjian, tidak bisa ditarik. Abah bahkan menyebut Pak Herman juga akan “diambil” seperti istrinya.
Dua minggu setelah istrinya meninggal, Pak Herman menyusul wafat. Mas Hadi yang mengurus pemakaman mengaku kondisi Pak Herman sudah sangat aneh—bahkan sebelum meninggal ia sudah berpesan agar kematiannya jangan disebarluaskan karena ia merasa “akan dijemput” dan berubah. Pemakaman berlangsung sederhana, hanya beberapa orang, dan anak-anaknya pun datang dengan hati campur aduk: marah, kecewa, tapi juga terpaksa menerima kenyataan.
Mas Hadi kemudian meminta anak Pak Herman menyiapkan buah tujuh rupa di kamar ritual selama beberapa bulan, sekadar “menutup” jejak dan menghindari gangguan yang menurut Abah masih bisa datang. Anak Pak Herman menjalankan itu sambil menahan luka karena semua ini berawal dari kebohongan ayahnya sendiri tentang “izin istri”.
Di ujung cerita, Mas Hadi mengaku menyesal karena ikut mengantar. Bukan karena ia ikut ritual, tapi karena ia merasa gagal membaca bahaya sejak awal—terutama ketika Pak Herman berbohong soal restu istri. Baginya, pelajaran paling pahit adalah ini: perjanjian yang terlihat “cuma untuk melunasi utang” ternyata tetap menagih mahal, dan tagihannya tidak selalu berupa uang—sering kali justru keluarga sendiri yang pertama kali tumbang.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
