Mas Awang awalnya hanya karyawan biasa di sebuah perusahaan kontraktor dan developer. Ia mulai dari bagian logistik, lalu karena dinilai loyal dan rapi, ia dipercaya naik jadi pengawas lapangan. Hubungannya dengan pimpinan—Pak Bram (samaran)—bukan sekadar atasan-bawahan; Mas Awang sudah dianggap seperti keluarga, bahkan kebutuhan sekolah anak dan urusan rumahnya banyak terbantu dari perusahaan itu.
Masalah besar muncul ketika perusahaan mulai krisis. Pak Bram memanggil Mas Awang empat mata dan akhirnya mengaku: perusahaan mengalami kerugian hingga Rp15 miliar. Saat itu karyawan sudah habis, tinggal Pak Bram dan Mas Awang saja yang masih bertahan. Mas Awang diminta “mencari jalan keluar”, apa pun bentuknya, selama bisa menutup lubang besar itu.
Beberapa hari kemudian, Pak Bram mengajak Mas Awang bertemu rekan bisnis lain—Pak Boy (samaran). Di sebuah tempat ngopi yang jauh dari keramaian, Pak Boy menawarkan solusi yang terdengar “aman”: bukan pesugihan, katanya, hanya ngalap berkah—puasa, salat malam, zikir, melek tiga hari tiga malam di tempat khusus. Mas Awang yang memang terbiasa ibadah merasa sanggup, apalagi ada perjanjian pembagian hasil: 40% untuk Pak Bram, 60% untuk Mas Awang kalau “berhasil”.
Mas Awang berangkat malam hari naik bus menuju perbatasan Jawa Tengah–Jawa Timur. Ia bertemu juru kunci sekitar dini hari, membayar mahar, lalu dibekali logistik sederhana: indomie, beras, kembang tujuh rupa, dan satu lilin. Dari situ, ia diantar seorang pemandu naik ojek menembus jalur setapak, turun gunung, melewati kali, sampai mendekati lokasi yang membuatnya kaget—tujuannya bukan masjid, melainkan gua di atas jurang, bahkan jalurnya melewati jembatan papan yang diikat akar pohon.
Sore hari ketika sampai, Mas Awang heran karena azan terdengar sangat keras dari arah yang tidak jelas. Ia melihat beberapa orang lain juga sedang tirakat di sana. Malam pertama terasa biasa—ia salat dan zikir seperti rutinitasnya. Namun malam kedua, suasana berubah. Saat rakaat terakhir salat hajat, segerombolan tikus datang bergerombol mendekati sejadahnya, seolah menguji nyali. Setelah itu, gangguan lain muncul—suara, bayangan, dan penampakan yang membuatnya nyaris lari, tapi ia sadar: pintu keluar cuma satu dan di belakangnya jurang.
Di puncak ketegangan itulah Mas Awang melihat “cahaya” dari ujung gua seperti lampu yang menyala satu per satu. Lalu muncul sosok perempuan seperti ratu, bermahkota, mengenakan busana hijau ala kerajaan, didampingi kakek-nenek dan para dayang. Dalam sekejap, gua yang gelap terasa berubah jadi istana megah: dinding emas, pohon emas, dan tumpukan emas batangan ada di sekelilingnya. Sosok itu menatap Mas Awang dan menyebutnya bohong—ia tidak datang untuk silaturahmi, melainkan “mengais emas”. Namun anehnya, ia juga berkata “tidak ada rezeki kamu di sini” dan memerintahkan Mas Awang pulang serta tidak kembali lagi. Begitu sosok itu pergi, cahaya mati satu per satu, dan gua kembali gelap.
Mas Awang pulang dan menceritakan semua pada juru kunci. Bukannya menyuruh berhenti, juru kunci justru mengatakan Mas Awang harus kembali karena “rezekinya sudah diperlihatkan”. Ia diminta menunggu Selasa Wage, bahkan diberi kayu kecil untuk disimpan di lemari rumah yang harus dikosongkan selama tujuh hari. Mas Awang bimbang, tapi tekanan dari Pak Bram—yang sudah terlilit masalah—membuatnya akhirnya berangkat lagi.
Ritual kedua lebih berat. Pada malam kedua, sosok ratu itu muncul lagi, dan “istana emas” kembali terlihat, bahkan lebih nyata. Kali ini sang ratu berkata, rezeki itu bisa dibawa pulang—dengan satu syarat: “ayam jantan.” Mas Awang bingung, karena ia tidak memelihara ayam. Ia menolak, tapi ratu itu bersikeras: Mas Awang “punya” ayam jantan. Esoknya Mas Awang menceritakan syarat itu pada juru kunci, dan di situlah kalimat yang membuatnya seperti tersambar: “ayam jantan” bukan hewan—melainkan anak laki-laki.
Mas Awang langsung berontak. Anak laki-lakinya satu-satunya, baru sekitar enam tahun. Ia menolak menukar nyawa anaknya dengan emas dan uang. Ia memutuskan berhenti, pulang, dan menutup semua perjanjian itu. Namun kepalanya sudah terlanjur kacau—di terminal, saat menyeberang jalan, ia tertabrak mobil tangki dan pingsan. Ia sadar di rumah sakit dengan kaki seperti “digerus”, dokter bahkan sempat memberi kemungkinan amputasi… tapi setelah rontgen, tulangnya ternyata tidak hancur—hanya luka luar.
Setelah pulang, keluarga memanggil sosok yang ia anggap orang tua sekaligus guru spiritual (bapak angkat/Abah). Abah menyuruh Mas Awang melakukan salat tobat, lalu membawakan dua galon air: satu untuk diminum, satu untuk mandi sekeluarga. Mas Awang menjalankan semuanya, dan perlahan tubuhnya terasa lebih ringan. Dalam tujuh hari, rasa berat dan sisa gangguan seperti terlepas satu per satu. Abah menegaskan: tanpa sadar Mas Awang sudah masuk jalur pesugihan, meski awalnya dikemas sebagai “ngalap berkah.”
Tak lama, Pak Bram datang menanyakan hasil. Mas Awang menjawab jujur: tidak ada hasil karena ia diminta “ayam jantan”. Abah keluar dan menjelaskan langsung pada Pak Bram bahwa ini pesugihan, jalannya menyimpang, dan risikonya bukan main. Pak Bram akhirnya minta maaf pada Mas Awang dan keluarganya. Setelah itu hubungan mereka putus—Mas Awang bahkan mendengar rumah Pak Bram sudah dijual dan orangnya menghilang, seolah semua runtuh dan selesai dengan cara yang tidak indah.
Mas Awang menutup kisahnya dengan satu penekanan: pintu itu sering dibuka lewat kedok “ikhtiar”, “tafakur”, atau “ngalap berkah”. Tapi saat yang diminta sudah menyentuh tumbal—apalagi anak—di situlah ia sadar, jalan itu bukan pertolongan, melainkan jebakan. Dan bagi Mas Awang, kecelakaan yang nyaris merenggutnya justru jadi alarm paling keras agar ia pulang: bertobat, memutus semuanya, dan kembali meminta hanya pada Tuhan—bukan pada tawaran emas yang ujungnya menagih nyawa.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
