Mas Roni masih mengingat tahun 2011 sebagai titik ketika hidupnya nyaris selesai. Waktu itu ia baru saja kehilangan pekerjaan di pabrik mebel tempatnya bekerja lebih dari setahun. Order sepi, perusahaan mengurangi tenaga kerja, dan ia termasuk yang harus angkat kaki. Pesangon yang ia terima tidak seberapa—cukup untuk bertahan beberapa bulan—lalu habis perlahan tanpa ampun.
Tiga bulan menganggur membuat Mas Roni seperti orang kehilangan arah. Ia ingin usaha, tapi tidak punya pengalaman. Mau kerja lagi, belum ada panggilan. Menjelang puasa dan Lebaran, pikiran makin sesak karena ia merasa tak punya apa-apa untuk dibawa pulang—padahal keluarga berharap, minimal ada bekal untuk kebutuhan rumah.
Di tengah kegelisahan itu, Mas Roni bertemu teman lama bernama Kipli (disamarkan). Kipli menawari pekerjaan merantau ke Jawa Tengah: jualan cowet dan ulekan. Sistemnya sederhana—tidak perlu modal besar, hanya tenaga. Ambil barang, keliling kampung, tawarkan dari gang ke gang. Keuntungan kecil-kecil, tapi kalau telaten katanya bisa besar. Mas Roni yang sudah kepepet akhirnya mengiyakan.
Mas Roni pamit ke orang tua dan istrinya. Istri sempat ragu karena Mas Roni belum pernah merantau dan belum terbiasa berdagang, tapi pada akhirnya mengizinkan—karena di kampung memang tidak ada pekerjaan yang bisa langsung menyambung hidup. Dengan bekal seadanya, Mas Roni berangkat.
Hari-hari awal di Jawa Tengah terasa berat. Ia ikut Kipli dulu supaya belajar cara nawar. Dalam seminggu pertama, paling laku satu-dua, kadang kosong. Uang hasil jualan hanya cukup buat makan, rokok, dan kopi. Sebulan berlalu, Mas Roni mulai stres karena keluarga menunggu kiriman, sementara ia sendiri masih keteteran.
Sampai suatu hari, Mas Roni masuk ke desa yang lapangnya tidak biasa. Ia keliling berjam-jam tanpa hasil, lalu istirahat di pos kamling. Di dekat situ ada toko besar yang sangat ramai. Mas Roni awalnya lewat saja karena sungkan, tapi tiba-tiba ia dipanggil oleh seorang ibu berjilbab model kupluk, memakai kalung bertumpuk dan gelang di kedua tangan. Ibu itu bilang mau memborong semua cowet dan uleg yang Mas Roni bawa—untuk dijual lagi. Mas Roni kaget, tapi senang bukan main.
Transaksi pertama itu seperti pintu yang dibukakan. Ibu tersebut meminta nomor ponsel Mas Roni, lalu mulai memesan rutin: “Besok kirim lagi ya.” Setiap Mas Roni mengirim, barangnya selalu diambil habis. Ia merasa menemukan “langganan emas” yang menyelamatkan hidupnya.
Namun sejak pengiriman pertama, keanehan mulai muncul di malam hari. Sekitar jam 00.30, Mas Roni sering merasakan angin berputar di depan teras kontrakan seperti pusaran kecil yang bikin tengkuk dingin. Di malam lain, ia melihat sosok mirip manusia di atas rangka atap—tapi kakinya ganjil: satu kaki manusia, satu kaki seperti tunggak bambu. Sosok itu menoleh, lalu seperti menerjang tubuh Mas Roni sampai ia teriak dan dibangunkan Kipli.
Kipli tidak percaya. Ia menganggap Mas Roni kebanyakan halu karena capek. Tapi Mas Roni yakin itu bukan mimpi. Apalagi gangguan makin beragam: nenek-nenek membawa tampah dari bambu lewat sampingnya lalu tembus tembok, kerikil seolah dilempar ke genteng, terdengar suara “nguk-nguk” seperti monyet, sampai penampakan pocong berwajah hitam yang membuat Mas Roni lari balik ke kamar mandi tanpa berani menoleh lagi.
Anehnya, gangguan itu selalu terasa kuat setiap habis Mas Roni mengirim barang ke toko si ibu. Pesanan datang dua-tiga hari sekali, dan malamnya hampir selalu ada kejadian. Mas Roni mulai takut, tapi kebutuhan hidup membuatnya tetap bertahan. Dalam logikanya, selama dagangan dibayar dan keluarganya bisa makan, ia tahan dulu.
Menjelang mudik, Mas Roni menawarkan stok terakhir—sekitar 50 set—kepada ibu itu. Ibu tersebut mengiyakan, bahkan menyuruh Mas Roni duduk dulu, minum kopi, dan menunggu uang. Setelah pembayaran beres, ibu itu memberi bingkisan tambahan: sebuah amplop yang ia sebut THR untuk keluarga. Mas Roni sempat heran—baru kali itu ia berdagang lalu diberi THR oleh pembeli. Tapi ia tetap menerimanya karena menganggap rezeki.
Begitu sampai kontrakan, Mas Roni membuka amplop itu dan kaget: isinya tebal, pecahan ratusan ribu, total sekitar Rp1,5 juta. Ia simpan rapi, berniat memakainya untuk kebutuhan Lebaran. Di kepalanya, mudik tahun itu akan terasa “bahagia” karena ia bisa belanja baju anak, beli beras fitrah, dan tidak pulang dengan tangan kosong.
Yang membuat Mas Roni semakin merasa janggal: Kipli—yang juga ikut mengirim barang—tidak diberi THR atau bingkisan apa pun. Hanya Mas Roni yang diberi. Saat itu Mas Roni belum paham, tapi rasa “dipilih” itu diam-diam sudah seperti tanda.
Mas Roni pulang kampung. Uang dagang ia serahkan pada istri, sementara uang THR ia simpan untuk pegangan selama libur. Hari pertama di rumah masih normal: sahur, belanja, suasana Lebaran mulai terasa. Tapi malamnya, badan Mas Roni meriang hebat. Ia minum obat dan tertidur di depan TV.
Sekitar jam 11.30 malam, ia terbangun karena suara benda jatuh. Di depan matanya berdiri dua sosok tinggi besar berbulu, mata merah menyala, gigi bertaring panjang. Kanan-kiri membawa senjata—rantai dan gada. Lalu lewat sosok kecil berkepala botak, kuping panjang, berjalan sambil tertawa. Mas Roni mau teriak tapi tubuhnya terkunci. Dua jam ia tidak bisa bergerak, hanya istigfar dalam hati sampai suara orang sahur membangunkan kampung dan sosok-sosok itu memudar perlahan.
Kejadian itu tidak sekali. Besok sorenya, panasnya kembali. Tenggorokan seperti dicekik, haus luar biasa. Ia memaksakan minum meski masih puasa. Malamnya, ia kembali mengalami kelumpuhan yang sama—kali ini sosok berbulu itu memutar rantai seperti mau melilit. Ada juga sosok perempuan compang-camping melayang melewati tubuhnya, tembus tembok, lalu disusul sosok laki-laki dengan aura yang sama mengerikan. Mas Roni kembali terkunci sampai azan sahur terdengar dan semuanya menghilang.
Pada malam ketiga, gangguannya berubah lebih ekstrem. Ia mendengar kerikil dilempar ke genteng, suara burung dan suara rantai bergesek. Lalu dua sosok berbulu itu muncul lagi. Kali ini Mas Roni seperti “ditarik” masuk ke kegelapan total—sebuah kondisi yang tidak ia tahu apakah mimpi atau nyata. Saat ia “sadar” dalam gelap itu, ia melihat Bu Haji dan Pak Haji—pemilik toko yang selama ini membeli cowetnya—datang menjemput. Mereka bilang, “Udah ikut aja.”
Mas Roni dibawa melewati terowongan bercahaya menuju dunia yang terasa seperti neraka kerja paksa. Ia melihat manusia dicambuk, diinjak, dipaksa mengangkut batu, membuat tanggul, dilempar ke lubang saat tidak kuat lagi. Ia melewati desa-desa aneh, penghuninya manusia berkepala hewan—monyet, buaya, ular, babi—dan sosok-sosok kurus yang jalannya mundur. Semuanya menatap Mas Roni seperti menunggu giliran korban baru.
Di ujung perjalanan, Mas Roni dibawa ke semacam istana besar. Di sana ada sosok raja kera berbulu hitam, memakai mahkota dan memegang tongkat. Bu Haji dan Pak Haji berdiri di sampingnya dengan senyum datar. Mas Roni baru paham: ia sedang dibawa sebagai tumbal. Ia bahkan melihat wajah Bu Haji dan Pak Haji muncul di tubuh kera-kera lain, seperti wujud mereka di dunia itu bukan lagi manusia seutuhnya.
Mas Roni tidak punya kekuatan melawan. Tangan-kaki sempat dirantai, lalu ia ditinggal di area kerja paksa. Ia berlari mencari jalan pulang, sampai ada suara memanggil namanya: “Roni… ayo pulang.” Ia mengikuti suara itu ke sebuah pohon besar dengan titik cahaya. Di sana, seorang ustaz berpakaian koko putih dan sarung menariknya masuk ke lubang pohon itu—dan bersamaan dengan itu, Mas Roni mendengar azan dan takbir Idul Fitri menggema keras di telinganya seperti memecahkan kepala.
Mas Roni terbangun di rumah, dikelilingi keluarga, tetangga, dan suara ngaji. Ustaz yang menyelamatkannya berkata Mas Roni sudah tiga hari tidak sadar. Selama tiga hari itu, warga dan keluarga bergantian mengaji, azan, dan memanggil namanya di waktu magrib—sebagai ikhtiar agar Mas Roni “pulang.”
Ustaz lalu bertanya: Mas Roni pernah diberi apa oleh Bu Haji? Mas Roni teringat THR. Amplop itu diambil, dan ustaz langsung menegaskan uang itu “uang makan korban”—uang pengikat tumbal. Mas Roni mengaku baru memakai Rp300 ribu untuk tiket dan makan di jalan, sisanya Rp1,2 juta masih utuh. Ustaz meminta uang itu diserahkan untuk diinfakkan ke masjid sebagai bentuk memutus ikatan. Mas Roni ikhlas.
Pesan ustaz tegas: segera kabari Kipli agar tidak lagi mengirim barang ke toko itu. Karena jika Mas Roni selamat, besar kemungkinan target berikutnya adalah orang yang masih rutin masuk ke lingkaran “toko tersebut.” Mas Roni akhirnya cerita semuanya ke Kipli, termasuk fakta bahwa hanya Mas Roni yang diberi THR, sementara Kipli tidak—seolah pemilihan tumbal sudah ditentukan sejak awal.
Sebulan setelah Lebaran, Kipli kembali ke Jawa Tengah dan mendapati toko itu tutup. Warga sekitar bilang pemiliknya kecelakaan sekeluarga dan meninggal. Kipli pun memilih pindah lokasi jualan. Mas Roni sendiri memutuskan tidak merantau lagi—istri melarang keras, dan trauma itu terlalu dalam untuk diulang.
Di ujung cerita, Mas Roni menyimpulkan satu hal yang terasa sederhana tapi tajam: hati-hati menerima uang “cuma-cuma” dari orang asing, apalagi ketika bentuknya tidak wajar dan datang tanpa alasan yang masuk akal. Kadang, uang seperti itu bukan hadiah—melainkan umpan. Dan ketika umpan itu termakan, yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar nasib dagangan… melainkan nyawa.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
