Mas Sugi bercerita, tahun 2018 ia sempat tinggal di Bali dan dikenal sebagai terapis sekaligus herbalis. Suatu hari ia dihubungi temannya—sebut saja Yanto—yang terdengar panik karena keluarganya jatuh sakit berkepanjangan, sudah bolak-balik medis maupun “orang pintar” tapi tetap buntu. Mas Sugi akhirnya berangkat, menempuh perjalanan panjang, dan diminta tinggal di rumah Yanto karena sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
Di rumah itu, Mas Sugi baru paham kalau sakit keluarga hanyalah permukaan. Malam-malam, Yanto mulai membuka masalah utama: bisnis ternak ayamnya sedang megap-megap, cuaca dan produksi tidak menentu, sementara ia terjerat pinjaman bank yang jumlahnya—menurut pengakuannya—sudah menyentuh lima miliar rupiah. Ia sempat menggadaikan tanah keluarga mertua, tapi tetap belum menutup lubang hutang yang keburu membesar.
Dua hari setelah obrolan itu, Yanto datang lagi—kali ini dengan “jalan keluar” yang ia sebut paling masuk akal di kondisi terpojok. Ada seorang kenalan yang menawarkan pesugihan “tanpa tumbal” memakai media boneka: boneka arwah. Deskripsinya panjang: bisa melindungi rumah, melancarkan usaha, bahkan menolak penyakit—pokoknya terdengar seperti paket lengkap untuk orang yang sudah mentok.
Mas Sugi mengaku langsung menolak mentah-mentah secara logika. Baginya, urusan pesugihan tidak pernah benar-benar “tanpa bayaran”. Tapi Yanto sudah seperti orang yang pasang badan: istrinya katanya siap, ia sendiri siap, dan yang paling mengganggu—ia seperti tidak punya ruang lagi untuk mundur. Pada titik itu, Mas Sugi hanya bisa memperingatkan: sekali melangkah, biasanya tidak ada tombol kembali.
Mereka pun menyiapkan dana perjalanan sekitar lima juta rupiah untuk menemui kuncen yang disebut-sebut bisa “mengurus” ritual ini. Tujuannya Banyuwangi. Setiba di sana, rumah kuncen tampak biasa saja: sederhana, dihuni pasangan tua (kuncen sekitar 70-an, istrinya sekitar 60-an). Dari luar tidak ada tanda-tanda apa pun—yang bikin merinding justru ketenangannya, seolah semuanya sudah disiapkan jauh sebelum mereka datang.
Malam pertama, Mas Sugi mengalami kejanggalan yang pertama: ia tidak diperbolehkan salat. Ia mengaku bingung—sebagai muslim, itu perintah yang terasa “menyimpang”—tapi Yanto meminta ia mengikuti saja dulu. Di ruang tamu, ia melihat dupa, kemenyan, suguhan, dan atribut yang membuatnya semakin tidak enak hati.
Keanehan berikutnya datang saat mereka hendak tidur. Mas Sugi dan Yanto mendengar suara anak kecil berlarian dan tertawa di dalam rumah, seperti ada beberapa bocah sedang bermain petak umpet. Rumahnya tidak besar, tapi suara itu terasa “penuh”, membuat keduanya sulit memejamkan mata.
Pagi-pagi, Mas Sugi nekat salat subuh diam-diam. Namun ia justru ditegur keras—seolah kuncen sudah “tahu” apa yang ia lakukan. Teguran itu membuat Mas Sugi makin yakin: ini bukan perjalanan biasa, dan mereka sedang masuk ke wilayah yang menuntut ketaatan pada aturan-aturan gelap.
Mereka lalu belanja perlengkapan: bunga tujuh rupa (melati dan kantil lebih dominan), ayam jago, dan anakan ayam. Menjelang malam setelah isya, ritual dimulai. Di meja dan tampah: buah, kopi, teh, susu, dupa, kemenyan; anakan ayam kecil kakinya diikat kain putih seperti kain kafan—detail yang menurut Mas Sugi membuat tengkuknya langsung dingin.
Yanto dimandikan dengan air kembang, masih basah ketika diminta duduk. Kuncen kemudian mengeluarkan beberapa boneka dengan ukuran berbeda—boneka perempuan, rambut dikepang, tubuhnya sudah diberi rajah di bagian-bagian tertentu. Lalu Yanto diminta “merasakan” boneka mana yang paling nyambung, karena boneka itu disebut akan mewakili arwah yang kelak “diangkat anak” dan dibawa pulang.
Yanto akhirnya memilih boneka sekitar 50 cm. Ia diminta menimang anakan ayam, lalu—menurut kesaksian Mas Sugi—terdengar suara anak kecil memanggil “ayah” sampai tiga kali. Setelah itu, anakan ayam diganti dengan boneka dan ritual berlanjut. Mas Sugi mengaku dadanya sesak, kepalanya berat, dan ia melihat kemunculan sosok-sosok arwah dengan wujud berbeda-beda, seolah diperlihatkan “calon” yang bisa dipilih.
Pilihan jatuh pada arwah yang “mati karena sakit”, bukan yang tampak seperti korban kecelakaan atau tenggelam. Tetapi kuncen mengatakan ritual belum selesai—mereka harus bertemu “orang tua” dari arwah itu. Tujuan berikutnya: Pelabuhan Ratu. Yanto bahkan memaharkan boneka itu, disebut bernilai tiga juta rupiah, sebelum mereka berangkat muter hampir seharian.
Sepanjang perjalanan, Mas Sugi merasa seolah ada yang menghalangi ia beribadah: musala terkunci, air keran tidak keluar, hal-hal kecil yang berulang sampai ia menyerah. Ia sendiri menafsirkan itu sebagai “tanda” bahwa mereka sedang diseret ke fase kontrak yang menuntut penundukan total.
Di Pelabuhan Ratu, mereka dijemput sosok yang disebut “Nyai”. Rumahnya sebagian tembok, sebagian bilik bambu. Ruang ritualnya menyimpan patung dan atribut yang dikaitkan dengan Nyi Roro Kidul: foto, tombak, keris, suasana yang membuat kata-kata terasa lebih berat ketika diucapkan. Nyai lalu bertanya, siapa yang akan jadi “bapak angkat”. Yanto maju, membawa boneka itu.
Malam di sana, Mas Sugi mengalami mimpi yang terasa bukan mimpi: ia seperti berjalan di pantai, digandeng anak kecil, kakinya sampai terasa basah seperti benar-benar menginjak air. Ia dibawa ke bukit berkarang, dekat pohon beringin besar, lalu melihat sosok berambut panjang, kuku panjang, berpakaian putih—bukan sekadar “penampakan”, melainkan seperti peringatan yang bikin anak kecil itu buru-buru menariknya pulang. Nyai menenangkan: itu bagian dari proses, “anaknya” memang sedang diperkenalkan.
Ritual puncak dilakukan di pantai: Yanto diminta kungkum dari magrib hingga tengah malam. Setelah itu mereka berjalan menuju bukit; suara ombak terdengar seperti ledakan meski posisi mereka tidak tepat di bibir air. Nyai menyatakan Yanto sudah diterima dan diizinkan membawa pulang “anak” tersebut. Lalu anakan ayam kecil yang sejak awal dibawa akhirnya dipotong, dilempar ke arah laut namun jatuhnya ke area bukit. Di momen itu Mas Sugi melihat “mata merah besar” di sekitar beringin, dan kembali terdengar suara anak kecil: “Ayah ayo pulang.”
Mereka diminta tidak langsung pulang; menunggu sampai malam Jumat Kliwon. Selama sekitar seminggu, Mas Sugi merasa rumah itu tidak pernah benar-benar sepi—selalu ada suara anak-anak seperti bermain. Yanto pun kerap mengigau, seolah sedang bercakap dengan bocah yang hanya ia yang paham. Ketika akhirnya pulang, mobil terasa “berat” seperti membawa beban; bahkan saat menyeberang ferry, hanya kapal mereka yang diguncang ombak besar sampai air masuk ke dalam.
Sampai di Bali, Yanto membuat semacam “rumah” untuk boneka itu—dari kayu cendana dan kaca. Setiap hari boneka diberi suguhan jajanan anak: permen, biskuit, susu kotak. Dan di sinilah bagian yang membuat orang mudah tergoda: pesanan telur dan daging melonjak, order dari restoran datang bertubi-tubi sampai Yanto kewalahan memenuhi permintaan.
Namun “bayaran” mulai datang lewat pintu lain. Tiga bulan berjalan, satu keluarga dalam satu area (kakak-adik, anak yang sudah menikah, semuanya masih satu lahan) mendadak sakit berjamaah. Setelah seminggu, Yanto justru berkata hutangnya sudah bisa dibayar, seolah sakit itu hanya “tiket masuk” yang memang sudah dihitung.
Tumbal pertama, menurut Mas Sugi, justru bukan keluarga inti—melainkan teman yang sering nongkrong di rumah Yanto, meninggal karena serangan jantung. Setelah itu usaha Yanto makin besar, kandang bertambah, sampai disebut mencapai puluhan ribu ekor ayam. Lalu pola aneh berulang: keluarga sakit lagi, beberapa bulan berselang ada lagi orang yang jatuh sakit dan meninggal—jenisnya macam-macam, tapi ujungnya sama-sama mengarah ke kondisi berat, sesak, komplikasi, sampai gagal jantung.
Yang paling membuat Yanto runtuh bukan cuma kematian itu, melainkan mimpi-mimpi: orang-orang yang sudah pergi datang dengan amarah, seolah menagih alasan kenapa mereka harus tumbang demi kekayaannya. Saat hutang sudah lunas, Yanto akhirnya ketakutan sendiri dan minta jalan untuk memutus perjanjian—ia mengaku tidak sanggup lagi melihat teman-temannya mati bergantian.
Mas Sugi lalu menghubungi temannya yang paham jalur “pemutusan”, bernama Hamid. Setelah video call dan melihat boneka itu, Hamid menegaskan: yang jadi korban bukan keluarga yang “memegang”, tapi orang-orang lain di sekitar yang keburu dianggap dekat—seakan-akan siapa pun yang terlalu sering hadir, otomatis masuk daftar. Semua keluarga dikumpulkan, lalu dilakukan proses pemutusan dengan melibatkan pemangku setempat.
Puncaknya adalah “ngaben kecil” untuk boneka itu. Menjelang dibakar, boneka sempat hilang—dicari ke mana-mana—dan ternyata bersembunyi di kamar Yanto, di bawah selimut. Saat dibakar, suasana makin gila: keluarga kesurupan, anak-anak mengeluh sakit perut, kaki kaku, dan terdengar teriakan kencang dari suara anak kecil: “Ayah jahat… ayah jahat.” Malam itu Mas Sugi mengalami teror lain: tubuh tak bisa bergerak, dan ia melihat sosok berambut panjang dengan kuku tajam seperti menginjak dadanya.
Teror itu tidak berhenti satu malam. Mas Sugi menyebutnya berlangsung 41 hari: kecelakaan sering terjadi dekat tempat ia tinggal, orang mengaku melihat “ular besar melilit”, ada yang melihat sosok tinggi bertaring membawa kepala, ada juga yang mengira melihat anak kecil menyeberang sehingga pengendara kehilangan fokus. Setelah hitungan pemangku, sisa ritual harus dilarung ke pantai.
Saat dilarung, teriakan “ayah jahat” terdengar lagi, lalu ombak seolah “menyambut” dengan hantaman keras seperti hendak menarik sesuatu. Pantainya bukan pasir landai, melainkan karang lebih dulu—tapi air bisa menghajar sampai jauh, membuat semua yang hadir merasa seperti sedang diperingatkan.
Dan benar saja, efeknya seperti badai dibuka. Keesokan paginya telur-telur banyak yang busuk, kandang ambruk, warung mendadak sepi, dan—yang paling telak—ribuan ayam mati dalam semalam (Mas Sugi menyebut sekitar tiga ribuan ekor). Ia menatap Yanto dan berkata itulah akibat ketika seseorang mencoba “mengakali” jalan yang sejak awal sudah menuntut bayaran.
Di akhir kesaksian, Yanto justru berkata ia ikhlas. Baginya, lebih baik rugi harta dan memulai dari nol, daripada terus melihat orang-orang di sekelilingnya tumbang satu per satu. Setelah pemutusan itu, usaha Yanto pelan-pelan dibangun lagi—tidak secepat “ledakan” dulu, tapi lebih tenang, lebih manusiawi, dan (setidaknya menurut Mas Sugi) tidak lagi dibayangi suara anak kecil yang memanggil “ayah” di malam-malam yang terlalu sunyi.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
