Tahun 2013, Mbak Indah memulai harinya sebagai SPG alat dapur kelas menengah ke atas. Sistem kerjanya door to door, targetnya besar, dan tiap pekan selalu ada briefing yang terasa seperti pengadilan kecil: siapa yang gagal, dipanggil, ditanya, lalu dipermalukan di depan banyak orang.
Mbak Indah bukan tidak berusaha. Ia sudah mencoba berbagai cara, tapi harga produk yang mahal membuat banyak calon pembeli mundur. Bulan pertama gagal, bulan kedua tetap seret, sampai bulan ketiga pun tidak ada perubahan. Pada akhirnya ia menyerah—mengundurkan diri dan pulang ke rumah dalam keadaan kosong dan lelah.
Masalahnya, Mbak Indah bukan hidup sendirian. Ia tulang punggung keluarga: ada orang tua, ada kebutuhan kontrakan, ada obat rutin karena ibunya sakit-sakitan. Satu bulan menganggur membuat napasnya pendek. Di kepalanya, hidup terasa seperti dikejar dari belakang.
Di masa itulah teman lamanya, Eka (nama disamarkan), datang menawarkan “locker”: kerja sebagai LC di tempat karaoke. Mbak Indah awalnya tidak paham dunia itu, tapi tekanan hidup membuatnya menelan rasa takut dan menerima. Ia berangkat dengan satu alasan yang ia akui jujur: kebutuhan.
Hari pertama kerja, Mbak Indah langsung dipilih tamu. Sistemnya per jam dan ada uang tip di luar hitungan jam. Malam itu ia pulang dengan nominal tip yang bagi dirinya terasa “tidak masuk akal” dibanding kerja SPG bulanan. Dari situ ia mulai merasa, mungkin inilah jalan cepat yang selama ini ia cari.
Tiga bulan pertama berjalan mulus. Ia laris, hampir tiap hari dapat tamu, dan uang terasa mengalir deras. Namun masuk bulan keempat, grafiknya turun drastis. Pernah seminggu ia tidak dapat tamu sama sekali. Ia mulai duduk di pojok ruangan, menahan malu, sambil menghitung kebutuhan yang terus jalan.
Seorang rekan LC bernama Bunga (nama disamarkan) mendekatinya. Kalimatnya menusuk tapi terdengar seperti pertolongan: “Jangan polos. Kalau mau laris lagi, ada caranya.” Bunga menyebut biaya sekitar dua juta, dan Mbak Indah—yang sudah terpojok—mengangguk.
Malam Kamis, mereka berangkat. Mobil melaju ke arah yang makin gelap, melewati jalan tanpa penerangan, hanya ditemani lampu kendaraan dan suara serangga. Mereka berhenti jauh dari tujuan, lalu berjalan kaki dengan penerangan HP menuju gubuk kecil yang bau kemenyan dan melati bercampur jadi satu. Mbak Indah mulai merinding, tapi Bunga hanya berkata, “Santai.”
Di gubuk itu mereka bertemu seorang “Mbah” tua berjubah hitam. Lantai rumah masih tanah, beralas tikar. Mbak Indah memilih jalur “instan” seperti yang ditawarkan: sesuatu yang disebut Susuk Jala Sukma. Tiga benda bening seperti berlian dipasang pada tiga titik: jidat, bibir, dan dada. Rasanya, kata Mbak Indah, sakitnya bukan main—seolah ditarik dari dalam.
Sebelum pulang, Mbah menyebut susuk itu harus “dicas” setiap bulan, dengan biaya yang sama. Mbak Indah juga diberi pantangan: tidak boleh makan pisang raja, tidak boleh makan sate langsung dari tusuknya, dan tidak boleh melewati jemuran. Tiga hal sepele yang kelak jadi sumber bencana.
Besoknya Mbak Indah kerja. Efeknya langsung terasa: tamu memilihnya tanpa jeda. Dalam sehari, uang tipnya bisa menembus jutaan. Selama sebulan, pola itu terus berulang, dan Mbak Indah seperti kembali jadi pusat perhatian di ruangan karaoke.
Bukan cuma kerja yang berubah. Mbak Indah mulai menerima banyak “pemberian”: motor, gadget, sampai mobil. Ada tamu yang menganggap semua itu setara dengan “dibuat senang” semalam—sebuah transaksi yang membuat Mbak Indah sadar, hidupnya sedang bergerak di jalur yang licin.
Namun setelah beberapa kali “ngecas”, Mbak Indah mulai melihat sesuatu. Di kaca, muncul sosok perempuan berkemben merah, memakai mahkota, cantiknya tidak wajar, tapi matanya merah menyala. Awalnya hanya menatap dan tersenyum. Lama-lama sosok itu memanggil-manggil, seolah mengundang Mbak Indah mendekat.
Mbak Indah mencoba mengabaikan. Tapi teror itu makin rutin, terutama menjelang subuh sepulang kerja. Ia bertanya ke Mbah, dan jawabannya dingin: “Itu yang ngejagain kamu.” Mbak Indah ingin percaya, tapi nalurinya bilang itu bukan penjaga—itu pemilik tali.
Di titik tertentu, Mbak Indah bermimpi (atau merasa benar-benar terjadi) bahwa sosok berkemben merah itu berbicara langsung: susuk yang dipakai Mbak Indah adalah “miliknya”. Dan karena Mbak Indah sudah “membayar”, ia tidak akan dibiarkan pergi begitu saja—ia akan mengikuti ke mana pun Mbak Indah melangkah.
Masalah lain muncul: perubahan sikap. Mbak Indah mengaku jadi lebih berani, lebih agresif, lebih mudah meledak—bahkan terhadap orang tua. Ia tidak lagi hangat, tidak lagi menanyakan “sudah makan belum,” yang ada hanya uang dan uang, seolah empati perlahan dicabut dari dalam dirinya.
Lalu pantangan itu dilanggar. Suatu hari Mbak Indah melewati jemuran karena terburu-buru. Dampaknya cepat: tubuh lemas, dada sesak, kepala terasa ketarik-ketarik, dan teror makin menekan. Ia panik dan akhirnya kembali ke Mbah untuk “menambal” lagi, walau baru sebentar ngecas sebelumnya. Sejak itu, Mbak Indah merasa hubungan mereka bukan lagi bantuan—melainkan kewajiban.
Saat Mbak Indah mulai lelah, seorang pria bernama Adi (nama disamarkan) muncul sebagai sosok yang konsisten mendekatinya. Ia bukan tipe yang menuntut, hanya hadir dan sabar. Ketika Mbak Indah akhirnya jujur soal susuk, Adi tidak menghakimi—ia hanya bilang, kalau Mbak Indah tidak nyaman, lebih baik dilepas.
Kalimat itu jadi kunci. Mbak Indah sadar ia kaya di luar, tapi batinnya tidak bahagia. Ia merasa dikejar sesuatu yang tidak kelihatan. Akhirnya ia memutuskan: susuk harus dicabut.
Proses pelepasan jauh lebih menyakitkan daripada pemasangan. Jidat terasa seperti ditarik paksa, bibir seperti disobek, dan bagian dada seperti dicabik-cabik. Setelah selesai, Mbak Indah lemas seperti habis dipukul gelombang. Bahkan saat hendak pulang, mobil sempat susah distarter dan pintu serasa terkunci—seolah ada yang tidak rela ia benar-benar pergi.
Setelah susuk lepas, hidup Mbak Indah tidak langsung jadi mudah. Ia menganggur sekitar dua bulan karena harus fokus pada operasi ibunya. Barang-barang pemberian yang dulu ia banggakan ia jual satu per satu—motor, mobil, dan lainnya—untuk biaya keluarga. Yang ia pertahankan hanya rumah kecil yang ia beli dari hasil menabung uang tipnya sendiri, bukan dari pemberian.
Mbak Indah akhirnya menikah dengan Adi. Ia memilih hidup lebih tenang, lebih sederhana, dan tidak lagi bergantung pada “jalan instan” yang membuatnya seperti kehilangan kendali atas diri sendiri.
Di ujung cerita, Mbak Indah berkata makainya memang “enak”: uang cepat, perhatian banyak, hidup seolah naik kelas. Tapi semuanya tidak benar-benar tinggal—hilang satu per satu, menyisakan luka, rasa takut, dan penyesalan. Baginya, kalau bisa memilih lagi, ia memilih tidak pernah memakai susuk, karena jalan instan selalu punya tagihan—dan tagihannya sering datang saat kita merasa paling aman.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
